Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna leksikal biasa disebut leksical meaning, semantic meaning, dan external meaning, adalah makna dari kata yang berdiri sendiri baik dalam bentuk dasar maupun dalam bentuk kompleks (turunan). Maknanya pun tetap atau seperti deskripsi yang sesuai di kamus.

Makna dasar adalah makna ‘asli’, orisinil, dan belum mendapat ‘polesan’ dalam sebuah kalimat. Artinya makna leksikal lebih familiar disebut sebagai makna asli. Baik dalam kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuan depan, tengah, belakang), maupun kata yang digabungkan dengan kata lain dalam kalimat. Karena itu makna leksikal lebih identik disebut sebagai makna kamus.

Berikut contoh yang bisa dijabarkan:

  1. Makan
  2. Memakan

Contoh yang pertama (a) merupakan kata dasar atau kata yang belum mengalami perubahan atau afiksasi. Berdasarkan kamus, makan adalah memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Contoh dalam kalimat bisa dijabarkan sebagai berikut.

  • Kucing makan ikan asin.
  • Hari ini saya makan buah tiga kali.
  • Makan kalau lapar, jangan hanya mengeluh.

Sedangkan contoh kedua (b) adalah kata kompleks atau kata turunan. Artinya kata yang sudah tidak asli lagi atau sudah mengalami afiksasi atau penambahan imbuhan. Makan sebagai kata dasar, bisa berubah menjadi kata turunan menjadi memakan, dimakan, makanan, termakan, namun tidak semua imbuhan bisa masuk ke dalam kata asal makan ini. Misalnya permakan, karena kata asli dalam kata turunan itu bisa jadi berasal dari kata ‘permak’.

Dalam contoh (b), memakan adalah aktivitas makan. Karena imbuhan me- adalah imbuhan yang membuat sebuah kata asal lebih menekankan diri menjadi kata kerja. Sebab kata ‘makan’ sendiri sudah menjadi kata verbal. Contoh kalimat turunan dari makan ini bisa dimasukkan ke dalam deretan kata berikut ini.

  • Biasanya kalangan perkotaan memakan roti berselai sebelum berangkat beraktifitas di pagi hari.
  • Rino memakan kepingan cokelat batangan dalam sekali lahap.
  • Anjing itu memakan makanan kucing.

Sementara makna gramatikal adalah makna yang muncul akibat dari kata yang digabungkan dengan kata lain dalam suatu kalimat. Padu padan kalimat ini bisa memunculkan sebuah makna baru atau yang berbeda dari makna leksikal. Makna gramatikal juga dapat timbul dari proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Berikut contoh kata dalam kalimat yang bermakna gramatikal.

  • Seperti tidak pernah makan bangku sekolahan, sikapnya tidak sopan dan santun.
  • Buka puasa ini diawali dengan acara makan-makan sebelum kami semua menunaikan salat magrib berjamaah.
  • Rosa adalah tipikal teman yang mudah termakan bujuk rayu lelaki tampan.
  • Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini membuatku ingin makan hati.

Dalam contoh (a), makan dalam kalimat itu berarti tidak pernah menyenyam pendidikan di sekolahan. Makan bangku sekolah bukan berarti seseorang yang gemar mengemut-emut bangkus seperti halnya rayap. Makna gramatikal dari makan ini terjadi karena beradaptasi dengan kata bangku dan kata sekolahan.

Dalam contoh (b) kata dasa ‘makan’ sudah melebur menjadi proses reduplikasi atau pengulangan. ‘Makan-makan’ berarti acara makan yang dilakukan bersama-sama.

Dalam contoh (c) kata ‘termakan’ merupakan kata dasar yang sudah berimbuhan depan. Yakni imbuhan ter- dan kata dasar makan. Sehingga, artinya pun menjadi berbeda, termakan memiliki makna ‘menjadi korban’ atau ‘kena tipu daya’. Kalimat yang lebih jelas bisa pula dicontohkan menjadi:

  • Ikan kecil itu termakan induknya sendiri yang lebih besar.

Kata ‘termakan’ dalam kalimat di atas berarti ‘tidak sengaja dimakan’. Artinya, contoh (c) memiliki contoh makna leksikal yang terjadi karena kata dasar yang sudah berimbuhan.

Dalam contoh terakhir (d), kata ‘makan hati’ merupakan hasil dari komposisi sehingga menimbulkan susunan kata berbau ungkapan. Makan hati bukan berarti mengonsumsi hati, melainkan bisa dimaknai sebagai ‘penderitaan yang tidak kunjung habis’ atau ‘rasa sakit yang tidak berujung’.

Makna Referensial dan Nonreferesial

Makna referensial adalah makna yang memiliki hubungan langsung dengan kenyataan dan memiliki acuan atau referen. Makna referensial ini biasa disebut sebagai makna kognitif karena memiliki acuan atau merujuk pada suatu kenyataan. Dalam makna referensial, terdapat sebuah hubungan dengan konsep mengenai sesuatu yang telah disepakati secara umum atau kolektif oleh masyarakat pengguna bahasa. Misalnya gelas, telah disepakati sebagai kata untuk menyebut perabotan makan atau wadah untuk air minum. Kursi sebagai salah satu alat perabotan rumah tangga untuk diduduki di kala istirahat, menjamu tamu, atau atribut di kantor atau sekolah.

Sementara makna referensial dalam sebuah kalimat bisa ditelisik dari contoh kalimat berikut:

  • Manusia itu menginjak manusia.

Kata ‘manusia’ dalam kalimat di atas mengacu pada makna yang sama yaitu orang. Meskipun dua manusia dalam kalimat di atas memiliki posisi yang berbeda. Manusia pertama disebut sebagai pelaku, superior, dominan, atau agentif karena melakukan perbuatan. Sementara manusia kedua disebut sebagai korban, inferior, minoritas karena menjadi orang yang mengalami perbuatan dari manusia pertama (diinjak). Meskipun berbeda kategori makna, namun makna referensialnya sama.

Lalu, apa yang dimaksud dengan makna nonreferensial? Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak memiliki acuan atau referen. Misalnya kata preposisi dan konjungsi. Kata preposisi dan konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi, artinya tidak memiliki makna. Karenanya, banyak kata yang disebut kata-kata deiktis, seperti kata dia, saya kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu, dan sebagainya.

Berikut contoh kata nonreferensial pada preposisi atau kata depan.

  • Aku makan di sana.
  • “Kemarau sedang melanda di sini,” ujar walikota Bandung.
  • Di sana, di Amerika, hal itu sudah jadi biasa.

Pada kalimat (a), ‘di sini’ bisa saja sebuah rumah makan, restoran cepat saji, atau sudut ruangan. Dalam kalimat (b) ‘di sini; bisa saja kota yang dia tinggali yakni Kota Bandung, tapi bisa pula di Bogor. Sementara contoh terakhir ‘di sana’ bisa jadi mengacu pada seluruh wilayah di Amerika. Artinya tiga contoh tadi memiliki makna yang berbeda, maka hal tersebut biasa disebut nonreferensial.

Makna Konotatif dan Makna Denotatif

Perbedaan makna berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata terbagi menjadi dua golongan. Yakni makna konotatif dan makna denotatif. Sebuah kata bisa bisa dikatakan konotatif jika menimbulkan sebuah nilai rasa baik bernada positif maupun negatf. Untuk lebih memahaminya, simak contoh berikut ini:

  1. Jono adalah pria yang taat dan saleh.
  2. Jono adalah laki-laki yang taat dan saleh.
  1. Silvia hanyalah wanita biasa.
  2. Silvia hanyalah perempuan biasa.
  1. Dia baru saja dirumahkan dari pekerjaannya.
  2. Dia baru saja dipecat dari pekerjaannya
  1. Miki adalah seorang tunarungu yang berprestasi.
  2. Miki adalah seorang tuli yang berprestasi.

Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan jika semua contoh (a) memiliki makna yang bersifat konotatif. Kata pria dan lelaki secara denotatif, bermakna seorang manusia dengan gender lelaki yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda dengan lawan jenisnya. Sementara secara konotatif, contoh kalimat (a) adalah contoh konotatif halus. Sebab kata pria lebih dianggap sopan ketimbang kata lelaki. Untuk itulah kenapa contoh kata lelaki dalam kalimat (b) memiliki makna berkonotasi kasar.

Begitu pula dengan kata wanita yang dianggap lebih halus dari kata perempuan, kata dirumahkan lebih bernilai rasa halus ketimbang kata dipecat. Dan kata tunarungu dianggap lebih sopan ketimbang kata tuli.

Beberapa contoh kata lainya adalah

Kata Berkonotasi Halus

  • Saya
  • Pukul
  • Tinja
  • Buang air
  • Bodoh
  • Mengandung
  • Istri
  • Tunagrahita
  • Pramuwisma

Kata berkonotasi kasar :

  • Gua
  • Hajar
  • Tahi
  • Berak
  • Goblok
  • Bunting
  • Bini
  • Gila
  • Babu

Makna Kata dan Makna Istilah

Berdasarkan keumuman dan kekhususan bidang penggunaannya, terdapat makna kata (umum) dan makna istilah (khusus). Penggunaan secara umum maksudnya tidak dibatasi pada bidang tertentu. Sebaliknya pemakaian secara khusus adalah penggunaan kata dalam bidang tertentu.

Dalam penggunaan secara umum, makna kata bersifat umum dan tidak spesifik Misalnya kata ‘tidur’ bisa dimaknai sebagai aktivitas beristirahat makhluk hidup setelah kelelahan melakukan aktivitas sehari-hari. Namun secara istilah, tidur bisa dimaknai sebagai ‘istirahat’, ‘lembek’, ‘tidak tegas’, dan lain-lain. Dalam paparan kalimat, bisa digambarkan sebagai berikut:

  • Budi tidur siang pukul 1 siang sehabis salat Dzuhur.
  • Bunga sudah tidur dari pekerjaannya sebagai sekretaris.

Makna tidur dalam (a) adalah tidur bermakna kata, artinya memiliki makna sesuai kamus. Sementara tidur dalam kalimat (b) bersifat istilah atau berbau kiasan.

Makna Konsep dan Makna Asosiasi

Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas asosiasi atau hubungan apapun. Misalnya makna dari kata hati adalah salah satu organ paling penting yang ada dalam tubuh manusia. Namun dalam arti lain, hati juga bisa disebut perasaan. Berikut contohnya dalam sebuah kalimat:

  • Hati sapi ini enak sekali diolah menjadi makanan lezat.
  • Hati Rani sakit sekali menerima perlakuan seperti itu.

Dalam kalimat (a), hati adalah organ dalam manusia. Sementara dalam kalimat (b), hati adalah perasaan atau jiwa seseorang yang sensitif dan rapuh. Artinya, contoh kalimat (a) bermakna konsep. Karena hati memiliki konsep makna secara denotatif atau leksikal. Dengan demikian, hati diasosiasikan menjadi perasaan, maknanya berubah menjadi makna yang lebih asosiatif.

Sementara, makna asosiatif disebut juga makna kiasan atau pemakaian kata yang tidak sebenarnya. Makna asosiatif adalah makna yang dimilki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata kucing berasosiasi dengan makna orang nakal atau orang yang melacurkan diri. Berikut contohnya dalam sebuah kalimat:

  • Bunglon adalah binatang yang bisa mengubah warna kulitnya sewarna dengan wilayah yang ditempatinya.
  • Dia seperti bunglon saja mengatakan hal baik- baik di depan dan mengatakan kebalikannya di belakang.

Dalam kalimat (a), bunglon adalah salah satu hewan yang bisa menyesuaikan warna kulit. Sementara dalam kalimat (b), bunglon adalah perumpamaan untuk seseorang yang tak bisa berpendirian teguh atau bermuka dua. Jadi bunglon sudah diasosiasikan menjadi kata sifat untuk seseorang.

Makna Idiomatik dan Peribahasa

Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur pembentuknya.

Dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk idiom yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalamnya masih terdapat unsur yang masih memiliki makna leksikal. Berikut beberapa contoh idiom:

Idiom penuh:

  • Utangnya yang sangat banyak menyebabkan ia hidup di bawah ketiak orang. Artinya, menggantungkan hidup pada orang lain.
  • Dalam pembentukan suatu kabinet, kita sering mendengar politik dagang sapi antara formatur dengan wakil- wakil partai. Artinya politik curang.
  • Bahasa menunjukkan bangsa, jadi berhati- hatilah dengan ucapan yang kau utarakan. Artinya apa yang kita utarakan adalah cerminan dari tempat yang kita tinggali.
  • Tangan di atas lebih baik dengan tangan di bawah. Tangan di atas artinya pemberi dan tangan di bawah artinya penerima.
  • Kemal baru saja diberhentikan dari pekerjaannya, itu berarti dapur tidak berasap lagi di rumahnya. Artinya tidak bisa lagi atau kurang bisa lagi menghidupi kehidupan pokok seperti memasak.

Idiom Sebagian :

  • Piring terbang itu pernah kulihat di kawasan Puncak, Bogor. Artinya UFO atau pesawat asing/ alien.
  • Ladang emas hijau yang dianggap petani Bali, kabarnya memberi keuntungan lebih besar daripada menanam cengkeh. Hasan sedang dilindungi dewi fortuna sehingga ia berhasil memenangkan perlombaan novel. Artinya faktor keberuntungan.
  • Meminjam uang kepada rentenir selain dikenai bunga yang tinggi, juga diwajibkan memberi uang angus kepadanya. Artinya uang tambahan.
  • Anaknya yang pertama dilahirkan dengan cara bedah Caesar. Artinya persalinan dengan pembedahan/operasi.
  • Ibu sedang membaca tajuk rencana pada surat kabar yang dibacanya pagi ini. Artinya topik berita pada sebuah Koran.
  • Rani sudah memberi lampu hijau untuk Reno agar pertunangan segera dilakukan. Artinya: sudah siap.
  • Kata-katanya amat menyejukkan hati. Artinya membuat ketenangan dalam jiwa atau menimbulkan perasaan senang.
  • Aku adalah anak semata wayang orangtuaku. Artinya anak satu-satunya.
  • Temanku sedang naik daun dan berhasil membeli rumah ratusan juta rupiah. Artinya sedang berada di puncak karier.

Semoga informasi tentang jenis makna di atas, bermanfaat untuk Anda. Jadi, Anda mulai paham bahwa kata yang diucapkan kadang memiliki dua makna, untuk itu perlu mempertimbangkan lingkungan serta konteks pembicaraan dan aspek-aspek yang mendukung itu semua terjadi.