Setelah mengetahui definisi dari sastra, berikutnya mari kita melihat jenis-jenis sastra yang mungkin akan kita temukan ketika kita mulai berinteraksi dengan bacaan-bacaan sastra. Sastra memiliki jenis yang beragam, namun kelompok-kelompok utama sastra bisa dibagi menjadi empat kategori, yakni novel, drama, cerita pendek, dan puisi. keempat kategori tersebut merupakan kelompok dasar dari jenis-jenis karya sastra yang dapat kita temukan. Masing-masing kategorinya terbagi menjadi beberapa kelompok kecil yang menjadikan satu karya sastra menjadi unik dari yang lainnya.

Masing-masing tipe karya sastra memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan mereka dari yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut tidak membuat tipe yang satu menjadi lebih unggul dari yang lain, karena masing-masing tipe karya sastra sama-sama membawa fungsi yang sama sebagai sarana berekspresi dan menyampaikan ide-ide oleh si pengarang. Berikut kita akan melihat bagaimana perbedaan antara tipe karya sastra yang satu dengan lainnya, sehingga kita dapat dengan mudah mengklasifikasikan jenis karya sastra tersebut.

Novel

Novel mungkin merupakan jenis karya sastra yang paling panjang di antara karya sastra lainnya. Seperti drama dan puisi, novel juga mungkin merupakan tipe karya sastra yang paling dekat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita, karena novel biasa mengangkat tema-tema yang beragam dengan konflik yang berwarna. Novel tidak hanya didasari oleh cerita fiktif atau imajinasi, ada kalanya pengarang menghasilkan sebuah novel didasari oleh data kenyataan yang ada.

Yang membedakan novel dengan karya sastra lainnya adalah cara penyampaiannya yang naratif atau menceritakan urutan kejadian tertentu, meskipun demikian akan ada kemungkinan dalam sebuah novel kita akan menemukan penggambaran-penggambaran deskriptif terutama ketika si pengarang mencoba untuk menggambarkan suasana atau keadaan suatu situasi tertentu. Novel adalah salah satu karya sastra yang berbentuk prosa, sehingga pemaknaan kata-kata yang terdapat di dalamnya lebih dimaknaai secara leksikal atau pemaknaan yang sebenarnya. Berbeda dengan puisi yang seringkali kita maknai berbeda dengan apa yang disampaikan, dengan melihat penyimbolan-penyimbolan yang terdapat dalam sebuah puisi.

Novel sebagai karya sastra yang bersifat realis, dianggap realis karena novel memungkinkan si pengarang untuk menceritakan kenyataan yang ada. Baik yang berhubungan dengan kehidupan dan pengalaman pribadi si pengarang, ataupun tanggapan-tanggapan dan ide-ide si pengarang terhadap lingkungan sosialnya. Dengan sifatnya yang realis memungkinkan novel bertindak sebagai alat bagi si pengarang untuk mengekpressikan pemikirannya ataupun meuliskan reaksi si penulis terhadap kejadian-kejadian sosial yang terjadi di sekitar pengarang.

Novel juga dapat dibedakan dari unsur-unsur pembentuknya, biasanya kita akan segera mengetahui apakah karya sastra tersebut berupa novel dengan melihat seberapa panjang novel tersebut. Biasanya sebuah novel terdiri atas lebih dari sepuluh ribu kata, hal ini dikarenakan struktur novel yang memang lebih komples dibanding dengan jenis karya sastra lainnya. Kekompleksan dari novel tidak hanya semata-mata terlihat dalam unsur-unsur intrinsiknya saja tetapi juga dari kekompleksan konflik yang terjadi di dalam novel tersebut. Semakin kompleks masalah yang terdapat dalam sebuah novel maka semakin panjanglah penjabaran si pengarang dalam novel tersebut.

Novel terbangun dari beberapa komponen-komponen yang mendukung terjadinya alur cerita, komponen-komponen yang biasa kita temukan dalam novel terdiri atas alur, tokoh dan penokohan, latar, tema, dan amanat. Unsur-unsur dari novel tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, karena dengan adanya unsur-unsur tersebut memungkinkan si pengarang untuk menarasikan konflik pada novel secara mendetail dan mendekati realitas yang ada.

Unsur alur dalam sebuah novel berfungsi untuk menderetkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah novel. Dalam alur terdapat konflik-konflik atau masalah-masalah yang menjadi pokok utama dalam pembentukan cerita pada novel. Tokoh dalam novel berfungsi sebagai subjek yang melakukan tindakan atau yang mengahadapi masalah-masalah yang membangun alur cerita. Sedangkan penokohan lebih berkaitan dengan penggambaran watak dari tokoh-tokoh yang terdapat di dalam cerita yang berkembang mengiringi konflik. Unsur penting novel lainnya adalah latar, dengan fungsi dasarnya untuk mendeskripsikan di mana cerita itu berlangsung, waktu dan suasana yang dihadirkan oleh si pengarang. Sedangkan amanat merupakan nilai-nilai moral yang berusaha disampaikan oleh si pengarang kepada pembacanya.

Drama

Drama merupakan salah satu karya sastra yang unik, karena menikmatinya tidak hanya dengan cara membacanya, tetapi juga dengan menampilkannya di atas pentas dan menjadikannya sebagai sebuah pementasan langsung. Karena drama merupakan karangan yang dipertunjukkan dengan menggunakan mimik dan tingkah laku. Ketika kita bandingkan antara naskah drama dan novel, maka kita akan melihat perbedaan nyata antara kedua karya sastra tersebut. jika novel terdiri atas paragraf-paragraf, maka naskah drama bentuknya lebih berupa dialog antara karakter.

Jika dibagi berdasarkan masanya, drama dibagi menjadi drama baru/modern dan drama lama atau klasik. Sedangkan jika melihat drama berdasarkan kandungan drama tersebut, maka drama bisa diklasifikasikan menjadi drama komedi, tragedi, tragedi komedi, opera, lelucon, operet, tablo, passie, wayang.  Selain tipe-tipe drama tersebut kita juga akan menemukan pantomim, yang cukup berbeda dengan jenis drama yang lain. Pantomim pada umumnya tidak memiliki dialog seperti drama pada umumnya karena penampilannya hanya mengandalkan tingkah laku dan mimik dari si pelakon.

Drama diutamakan untuk dinikmati tidak lewat membacanya, tapi dengan menyaksikannya, karena drama memiliki unsur-unsur yang sedikit berbeda dari pembentuk karya sastra yang lain. Dalam drama yang ada bukan lagi karakter, tetapi pemeran cerita tokoh yang akan mewakili karakter yang ada di dalam naskah drama. Dialog-dialog yang dilakukan oleh tiap-tiap pemeran cerita tokoh ditampilkan secara lisan, bukan lagi tulisan seperti yang terdapat dalam karya prosa lainnya. Hal ini karena drama menitikberatkan penampilan para tokohnya dalam mimik, gerak dan suara yang dihasilkan oleh pemeran tokoh. Jika novel dibagi menjadi tiap-tiap bab, maka drama dibagi menjadi babak dan adegan. Selain itu, drama juga biasanya dilengkapi dengan gambaran panggung, suara latar, dan properti.

Puisi

Puisi seringkali digunakan oleh pengarang sastra sebagai alat untuk mengekspresikan perasaannya, karena bentuknya yang lebih ringkas dan penggunaan simbol dan perumpamaan yang berfungsi sebagai representasi tidak langsung dari perasaan si pengarang. Puisi dibangun dengan memikirkan penggunakan pilihan bahasa tertentu untuk menghasilkan efek bacaan yang indah. Beberapa ahli sastra bahkan beranggapan bahwa puisi adalah susunan kata terindah dalam susunan terindah. Meskipun demikian, tidak hanya lantas ditafsirkan bahwa puisi adalah susunan kata-kata-indah saja, karena salah satu poin yang menjadi unsur utama dalam sebuah puisi adalah makna yang tersirat dalam puisi tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa penyair seringkali mengimplikasikan suatu makna tersembunyi dalam karya yang dibuatnya.

Puisi juga mungkin diartikan sebagai sebuah pemikiran muskial, di mana si penyair harus memperhatikan kosa kata yang akan digunakannya dan juga bunyi-bunyiannya yang merdu. Bicara soal puisi kita tidak hanya akan membahas soal tema dan rasa yang berusaha diangkat oleh si penyair ke dalam karya yang dituliskannya, tetapi kita juga akan melihat bagaimana tone atau nada pada puisi tersebut yang akan membentuk ritme. Salah satu keunggulan puisi lainnya adalah hubungannya yang sangat dekat dengan penyimbolan-penyimbolan, majas-majas, dan bahasa kiasan.

Bila dibandingkan dengan karya sastra lainnya, biasanya puisi merupakan bentuk karya sastra yang paling singkat. Berbeda dengan bentuk karya sastra lain yang dibentuk menjadi per paragraf dan dialog, puisi sengaja dibentuk berdasarkan bait-bait yang terdiri atas barisan-barisan puisi. Bentuknya yang lebih pendek dibandingkan dengan jenis karya sastra lainnya, tidak berarti pengerjaannya lebih mudah. Banyak di antara penulis sastra yang merasa sedikit kesulitan dalam menyampaikan idenya ke dalam sebuah puisi, karena puisi memiliki aturan yang mengikat sesuai dengan jenis puisi yang dibuat guna menghasilkan susunan kata yang indah.

Cerita Pendek

Cerita pendek mungkin memiliki unsur-unsur pembentuk yang sama dengan novel, dalam cerita pendek juga terdapat karakter, setting, alur, dan amanat dari si pengarang. Yang membedakan cerita pendek dengan novel adalah panjang ceritanya, jika novel rata-rata memiliki panjang lebih dari sepuluh ribu kata maka cerita pendek jauh di bawah itu. Seringkali cerita pendek hanya diceritakan sepanjang dua atau tiga halaman saja yang terdiri atas 750 sampai 1000 kata saja meskipun idealnya cerita pendek baiknya ditulis sebanyak 3000 hingga 4000 kata.

Yang menjadikan cerita pendek lebih ringkas jika dibandingkan dengan novel adalah konflik yang lebih sederhana. Masalah yang dibawa oleh cerita pendek tidaklah serumit konflik-konflik yang ada pada novel, pada umumnya cerita pendek hanya mengangkat satu konflik dominan yang kemudian diceritakan secara singkat, namun tidak mengurangi alur cerita yang ada. Tidak hanya konfliknya saja yang sifatnya tunggal, dalam pembentukan cerita pendek juga plot, sudut pandang, dan settingnya juga harus diungkapkan dengan jumlah karakter yang terbatas.

Cerita pendek meskipun ringkas dan terbatas, namun keberadaannya tetap mendukung unsur-unsur ekstrinsik yang sama dengan novel. Cerita pendek juga dipengaruhi oleh nilai-nilai moral yang berusaha disampaikan oleh si pengarang, latar belakang dari kehidupan si pengarangnya itu sendiri, dan juga keadaan sosial ketika karya tersebut dibuat. Ringkasnya, cerita pendek seringkali menjadi pilihan utama para penikmat sastra yang ingin membaca satu kesatuan cerita yang utuh dalam waktu yang terbatas. Pendeknya, halaman dalam cerita pendek tidak kemudian membuatnya menjadi lebih kurang diminati, bahkan seringkati para penulis besar yang kemudian menghasilkan novel-novel kanon memulai karir mereka dengan menulis cerita pendek.

Secara umum, sastra memang dibedakan menjadi empat tipe dasar, yakni drama, novel, puisi dan cerita pendek. Masing-masing jenis dasar sastra tersebut kemudian tebagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil seperti gurindam, hikayat, operet, fiksi kilat dan lain-lainnya. Keragaman bentuk sastra membuatnya menjadi berwarna, dengan begitu kita akan tau bahwa seni yang terdapat di dalam karya sastra sangatlah berharga. Sastra tidak hanya seni bahasa saja, tetapi lebih kepada penyampaian dari pengarang untuk menghasilkan efek-efek tertentu kepada pembacanya.