Tahukah Anda istri-istri Nabi Muhammad Saw? Mereka adalah wanita-wanita mulia yang pernah merasakan didikan langsung dari Rasulullah saw. Mereka menerima ajaran agama dan menyaksikan langsung teladan akhlak mulia dari Rasulullah Saw. Mereka juga berinteraksi dan berkomunikasi dekat dengan Rasulullah Saw. Ketika mereka salah, Rasulullah sendiri yang menegur. Ketika mereka lupa, Rasulullah sendiri yang mengingatkan. Ketika mereka belum tahu, Rasulullah sendiri yang mengajarkan.

Profil 10 Istri Nabi Muhammad

Istri-istri Nabi Muhammad saw adalah pribadi-pribadi wanita mukminah yang pantas menjadi teladan bagi wanita-wanita mukminah lainnya. Alasannya, keimanan, akhlak, dan ibadah mereka sudah terbentuk di bawah bimbingan manusia paling mulia, yaitu Rasulullah Saw.

Nah, siapa sajakah mereka? Berikut ini profil dari sepuluh istri Nabi Muhammad saw.

1. Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai saudagar wanita kaya raya di Jazirah Arab pada masanya. Khadijah merupakan putri dari Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Qurasyiyyah Al-Asadiyyah. Khadijah lahir dan dididik dalam keluarga yang terhormat. Ia tumbuh menjadi wanita cerdas, bercita-cita tinggi, dan memiliki budi pekerti luhur. Inilah yang membuatnya menjadi tokoh wanita yang dihormati pada masanya.

Ketika menikah dengan Nabi Muhammad Saw, Khadijah adalah seorang janda. Sebelumnya, ia sudah pernah menikah dua kali, yaitu pertama dengan Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi. Dari pernikahan ini, ia dikarunia seorang putra dan seorang putri. Abu Halah kemudian meninggal dan setelah itu, Khadijah kemudian menikah lagi dengan Atiq bin A’idz bin ‘Abdullah Al Makhzumi. Pernikahan keduanya ini tidak berlangsung lama karena mereka kemudian berpisah.

Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad sebelum Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul. Sebagai istri Nabi Muhammad Saw, Khadijah menjadi teladan paling agung dan paling mengagumkan sebagai sosok seorang istri yang mencintai suaminya. Potret keluarga Nabi Muhammad Saw dan Khadijah merupakan potret keluarga dakwah yang ideal.

Banyak pelajaran positif yang bisa kita ambil dari sosok Khadijah sebagai seorang istri. Kita tahu, Khadijah merupakan satu-satunya istri nabi yang mendampingi beliau pada masa-masa sulit perjuangan awal dakwah Islam di Makkah. Khadijah-lah yang menenangkan Nabi Muhammad Saw saat menggigil ketika kembali dari menerima wahyu di Gua Hira.

Khadijah juga yang menguatkan Rasulullah Saw di awal-awal dakwah islam. Khadijah juga yang telah membantu perjuangan dakwah nabi dengan harta dan kekayaannya. Dari Khadijah juga, Nabi Muhammad Saw mendapatkan keturunan. Khadijah juga yang ikut merasakan penderitaan ketika umat Islam berada dalam tekanan, teror penyiksaan, dan pemboikotan dari kaum kafir Quraisy.

Setiap langkah hidup Khadijah merupakan refleksi dari firman Allah berikut.

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)

Wajarlah jika kemudian Nabi Muhammad Saw sangat menghormati dan memuliakan Khadijah. Bahkan setelah kepergiannya, Nabi Muhammad Saw masih sering menyebut-nyebut namanya dan memuliakan para sahabat dan kerabatnya.

Khadijah wafat tiga tahun sebelum hijrah, tepatnya enam bulan setelah berakhirnya masa pemboikotan terhadap kaum muslimin oleh kaum kafir Quraisy. Sebelumnya, paman Nabi, Abu Thalib, juga telah terlebih dahulu wafat sehingga tahun tersebut dikenal sebagai “Tahun Kesedihan” atau “Tahun Duka Cita”.

Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah hidup Siti Khadijah.

  • Sebagai istri, jadilah orang pertama yang menenangkan suami ketika suami berada dalam tekanan atau kesulitan. Jangan menambah beban suami dengan keluhan-keluhan dan masalah kita.
  • Jadilah pendukung utama dan pertama dalam perjalanan dakwah suami. Bantu setiap manuver dakwah suami dengan semua potensi yang kita miliki.
  • Sabar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan. Tetap optimis dan berbaik sangka kepada Allah Swt.
  • Tulus, ikhlas, dan setia mendampingi suami dalam situasi sulit ataupun senang.

2. Saudah binti Zam'ah

Saudah binti Zam’ah berasal dari Suku Quraysi. Saudah adalah wanita cerdas dan berperawakan tinggi besar. Saudah adalah seorang janda. Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia pernah menikah dengan Sakran bin ‘Amr.

Saudah dan suaminya termasuk golongan awal yang menerima dakwah Nabi Muhammad Saw. Ia bersama suaminya ikut berhijrah meninggalkan rumah dan harta mereka menuju negeri Habsyi untuk menyelamatkan akidah. Berbagai siksaan dan tekanan mereka rasakan karena penolakan mereka terhadap kesesatan dan kemusyrikan. Ketika kembali dari pengasingan (negeri Habsyi), Saudah kembali disambut dengan cobaan lain, yaitu cobaan sebagai janda karena suaminya meninggal dunia.

Kondisi Saudah diceritakan oleh Khaulah binti Hakim kepada Rasulullah. Mendengar penderitaan dan kesabarannya dalam mempertahankan akidah, hati Rasulullah tersentuh. Kemudian, beliau melalui Khaulah melamar Saudar menjadi pendamping hidup beliau.

Ketika menikah dengan Rasulullah, Saudah merupakan janda tua yang sudah tidak menarik lagi. Namun, Saudah mampu menempatkan diri dengan baik di rumah Rasulullah. Ia kemudian merawat putri-putri Rasulullah. Tutur katanya yang lembut mampu menenangkan dan menghibur hati Rasulullah.

Selama menjadi istri Rasulullah, Saudah selalu meniatkan setiap apa yang dilakukannya dalam rumah tangga hanya untuk memperoleh keridhaan suaminya. Ia mendampingi Rasulullah dengan penuh keridhaan, ketenangan, dan rasa syukur. Hal ini juga yang mendorong Saudah sering memberikan jatah gilirannya kepada ‘Aisyah demi menyenangkan hati Rasulullah.

Saudah terus mendampingi Rasulullah dengan semua kemuliaan dan kesederhanaan yang dimilikinya. Saudah tutup usia pada akhir Kekhalifahan ‘Umar bin Khattab. Semoga Allah merahmatinya.

Berikut ini pelajaran positif yang bisa kita ambil dari kehidupan Saudah.

  • Kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi setiap ujian di jalan Allah.
  • Ketulusan dalam berbakti kepada suami.
  • Kasih sayang dalam merawat anak-anak suaminya.

3. Aisyah binti Abu Bakar

‘Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Rasulullah yang menjadi tempat bertanya para sahabat tentang hukum-hukum agama dan akhlak Rasulullah. Ia merupakan perempuan cerdas yang sangat memperhatikan manfaat kebersamaannya secara langsung dari Rasulullah. Ia menguasai berbagai ilmu dan fasih berbicara sehingga menjadi rujukan bagi para sahabat untuk menguasai hadis, sunnah, dan fikih.

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata:

“Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku menemukan seorang pun yang kepandaiannya melebihi ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Quran yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, berbagai permasalahan yang ditanyakan padanya, hari-hari yang digunakan di tanaharab, nasab, pengobatan dan hukum. Aku pernah bertanya padanya: ‘Wahai Bibi, dari manakah engkau memahami tentang ilmu pengobatan?’ Aisyah menjawab: ‘Aku sakit, lalu aku diobati dengan ramuan tertentu, ada orang sakit juga diobati dengan ramuan tertentu dan aku juga sering mendengar dari orang banyak. Sebagian dari mereka mengobati dengan ramuan lain. Dari pengalaman itu aku mengetahui dan menghafalnya.”

Demikianlah gambaran kecerdasan ‘Aisyah dalam pandangan para sahabat-sahabat Rasulullah. Ia adalah guru bagi para laki-laki sekaligus guru bagi setiap wanita sepanjang masa Tempat bertanya tentang berbagai hal oleh para sahabat. Para sahabat-sahabat senior Rasulullah juga diketahui sering bertanya tentang Ilmu Faraidh (Ilmu Waris) pada ‘Aisyah ra.

Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah, ‘Aisyah dikenal sebagai istri yang berjiwa mulia, dermawan, dan sangat sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah. Kedermawanannya ini pernah diceritakan, yaitu suatu ketika ‘Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Oleh ‘Aisyah uang tersebut langsung dibagi-bagikan kepada fakir miskin hingga tidak bersisa sekeping pun di tangannya. Padahal pada saat yang sama ia tidak memiliki apa-apa di rumahnya untuk dimakan, sementara ia sedang berpuasa.

Demikianlah kemuliaan hati ‘Aisyah. Dia adalah wanita yang selalu menjaga harga diri. Ia tiada merasa sengsara dengan kemiskinan dan tidak pula merasa lalai dengan kekayaan. Kekayaan dunia baginya hanyalah hal yang remeh, bisa datang dan pergi tanpa dihiraukannya. ‘Aisyah wafat pada bulan Ramadhan tahun 57 Hijriah dan bertepatan dengan malam selasa.

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah hidup dan kepribadian ‘Aisyah, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Kecerdasan dan semangatnya untuk terus menggali ilmu dan hikmah dari mana saja, terutama dari Rasulullah, sang pembawa risalah.
  • Kesabaran dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah.
  • Kedermawanan dan kecintaannya pada fakir miskin.

4. Hafshah binti Umar

Hafsah adalah putri dari Umar bin Khattab, salah seorang sahabat terdekat Rasulullah saw dalam memperjuangkan Islam. Hafsah merupakan seorang janda. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Hafsah pertama kali menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisyi.

Khunais merupakan salah satu sahabat yang ikut dalam dua kali hijrah, yaitu hijrah ke Habsyi dan ke Madinah. Ia juga ikut menguatkan pasukan mujahid dalam Perang Badar dan Uhud. Pada perang Uhud, Khunais mengalami luka-luka dan akhirnya wafat di Madinah, sehingga Hafsah kemudian menjadi seorang janda.

Pernikahan antara Hafsah binti Umar dan Rasulullah saw terjadi pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriah. Ia disebut oleh Jibril as sebagai wanita berpendirian teguh dan termasuk istri Nabi Muhammad Saw di surga.

Pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Hafsah merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad Saw yang dipercaya untuk memelihara dan menyimpan Mushaf Al-Quran. Hafsah kemudian mengisi sisa hidupnya dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. Hafsah tutup usia pada masa Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

5. Ummu Salamah

Nama aslinya adalah Hindun binti Umayyah. Ia berasal dari suku Quraisyi dan ayahnya termasuk salah satu pemuka Quraisyi yang terkenal dengan kedermawanannya. Ummu Salamah pertama kali menikah dengan Abu Salamah, yaitu seorang sahabat yang pernah ikut dua kali hijrah (ke Habsyi dan ke Madinah).

Ummu Salamah adalah istri yang cantik, cerdas, dan pandai menciptakan suasana rumah tangga yang damai dan tenteram sehingga suaminya merasa tenang dan betah berada di rumahnya. Ia juga merupakan tipe istri yang setia mendampingi suaminya dan rela menanggung penderitaan bersama suaminya.

Ummu Salamah dan suaminya (Abu Salamah) termasuk golongan sahabat yang paling pertama menyambut seruan hijrah. Mereka termasuk golongan orang-orang yang pertama berhijrah ke Habsyi dan juga termasuk yang pertama kali masuk ke Madinah.

Tidak hanya itu, Abu Salamah juga termasuk salah satu sahabat nabi yang bersegera menyambut panggilan jihad. Ia ikut terjun dalam berbagai peperangan dalam membela Islam. Pada Perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka-luka yang cukup parah. Luka-luka ini kemudian kambuh saat ia sudah berada di rumahnya dan akhirnya ia wafat di tempat tidurnya.

Kondisi Ummu Salamah yang menjanda kemudian mendorong Rasulullah untuk meminang mukminah yang tulus, setia, dan penyabar ini. Hingga kemudian masuklah Ummu Salamah dalam kalangan Ummahatul Mukminin.

Ummu Salamah dikenal sebagai wanita yang berpikiran cemerlang dan memiliki daya tangkap tajam. Hal itu dibuktikannya ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah. Pada waktu itu, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutnya setelah ditandatanganinya perjanjian damai dengan utasan para kafir Quraisy.

Namun, para sahabat tidak mematuhinya, karena mereka kecewa dengan keputusan Nabi menandatangani perjanjian tersebut. Menurut logika dan penalaran mereka, banyak dari isi perjanjian tersebut yang merugikan kaum muslimin.

Rasulullah mengulangi perintahnya hingga tiga kali. Namun, tidak satu pun di antara para sahabat yang mau mematuhinya. Rasulullah sedih dengan sikap para sahabat. Beliau kemudian masuk ke dalam kemah dan menemui Ummu Salamah dan menceritakan kesedihannya terhadap sikap para sahabat.

Ummu Salamah dengan pikiran cemerlangnya kemudian berkata: “Apakah engkau ingin mereka mematuhi perintahmu? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapa pun hingga engkau menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutmu. “

Nabi Muhammad Saw kemudian menuruti saran Ummu Salamah. Beliau keluar kemah untuk menyembelih hewan kurban dan memanggil orang untuk mencukur rambutnya. Melihat apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, para sahabat kemudian serentak bangkit untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut.

Setelah Rasulullah wafat, Ummu Salamah tetap memainkan peran penting dalam mengawasi berbagai masalah umat. Ia selalu aktif menyeru umat untuk selalu istiqomah dalam jalan kebenaran. Ia dikenal sebagai muslimah yang setia, gigih, dan sabar terhadap berbagai ujian juga cobaan. Ummu Salamah kemudian wafat pada bulan Dzul Qa’dah pada tahun 59 Hijriah.

6. Ummu Habibah

Nama aslinya adalah Ramlah bin Abu Sufyan. Ayahnya merupakan pemuka dan pimpinan kaum kafir Quraisyi sebelum penaklukkan Mekah. Meskipun terlahir dan tumbuh dalam keluarga pemuka kaum kafir Quraisyi, tetapi Ummu Habibah telah beriman semenjak ayahnya masih dalam kekufuran.

Ummu Habibah adalah seorang wanita yang meletakkan keimanan dan akidah di atas ikatan darah. Ia telah memproklamirkan dan membuktikan bahwa loyalitas tertinggi hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Ummu Habibah wafat pada usia 70 tahun. Namun, keteladanan dan ketinggian loyalitasnya pada Allah dan Rasul-Nya akan tetap menjadi teladan bagi umat hingga akhir zaman.

7. Zainab binti Jahsy

Zainab binti Jahsy terlahir dengan nama Barrah. Namun, setelah diperistri oleh Nabi Muhammad Saw, namanya diganti oleh Nabi menjadi Zainab. Pada awalnya, Zainabdipinang oleh Rasulullah untuk dinikahkan dengan anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah. Namun kehidupan rumah tangga mereka kurang harmonis. Menghadapi kenyataan itu, Zaid kemudian menghadap Rasulullah untuk mengadu dan minta izin untuk menceraikan Zainab.

Setelah Zaid menceraikan Zainab, maka turunlah ayat Al Quran yang memerintahkan kepada nabi untuk menikahi Zainab binti Jahsyi, yaitu Al-Quran Surat Al-Ahzab Ayat 37. Konon, pernikahan Rasulullah dan Zainab merupakan bentuk penolakan Islam terhadap hukum dan sistem pengangkatan anak model jahiliyah. Anak angkat dalam tradisi jahiliyah sama kedudukannya dengan anak kandung. Bahkan, termasuk dalam hal waris dan perkawinan, tetapi dalam Islam tidak. Zainab binti Jahsy terkenal sebagai wanita yang dermawan. Ia juga dikenal pandai menyamak dan menyulam. Hasil dari pekerjaannya itu kemudian ia sedekahkan di jalan Allah.

8. Shafiyyah binti Huyay

Shafiyah binti Huyay merupakan salah satu tawanan wanita yang ditawan oleh pasukan muslimin ketika perang Khaibar. Ia dinikahi oleh Rasulullah dengan mahar berupa kemerdekaannya dari status tawanan.

9. Juwairiyah binti Al Harits

Juwairiyah binti Al Harist juga termasuk dalam salah satu tawanan wanita kaum muslimin ketika mengalahkan Bani Musthaliq dalam perang Muraisi. Pernikahan Juwairiyah dengan Rasulullah saw telah membawa berkah bagi kaumnya, keluarga, dan kerabatnya. Melalui pernikahan tersebut, Allah kemudian membebaskan mereka dari perbudakan dan yang lebih mulia lagi membebaskan mereka dari kemusyrikan menuju cahaya Islam.

10. Maimunah binti Al Harits

Maimunah binti Al Harist merupakan saudari kandung Ummu Fadhl, sekaligus Bibi dari Khalid bin Walid. Ia dikenal sebagai wanita keturunan bangsawan yang memiliki keutamaan.

Nah, itulah 10 istri Nabi Muhammad yang sangat mulia dan menjadi teladan bagi seluruh wanita beriman. Semoga bermanfaat!