Jika disebutkan kata modern, kira-kira apa yang tergambar di benak Anda? Umumnya kita akan menggambarkan modern sebagai suatu kondisi yang maju dan bersifat baru. Lawan dari kata modern adalah klasik atau terbelakang. Karenanya, modern dapat diartikan sebagai suatu kondisi baru yang tercipta karena kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi maupun kebudayaan suatu peradaban.

Penggambaran serupa akan kita dapatkan ketika memahami periode sejarah perkembangan Islam di masa modern. Pada masa ini, Islam dilihat dari perkembangan peradabannya dicitrakan sedang bangkit kembali dari kemunduran masa-masa sebelumnya. Islam mulai setahap demi setahap mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang dari peradaban lain, khususnya peradaban Eropa. Meninggalkan pola pikir atau kebiasan lama dan menggantinya dengan sesuatu yang bersifat baru atau maju. Sehingga masa modern Islam sering juga disebut sebagai masa pembaruan Islam.

Akan tetapi berbeda dengan masyarakat Eropa, pembaruan dalam masyarakat Islam bukan dimaksudkan untuk mengganti tatanan lama dengan hal baru (modernisme). Sebaiknya, pembaruan dalam Islam dijiwakan semangat untuk membangkitkan kembali (revival) kemurnian ajaran Islam seperti masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya (kaum salaf), baik dalam pemahaman keagamaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ajaran yang pada masanya telah mengantarkan masyarakat Islam menuju puncak kegemilangan. 

Islam Masa Modern

Para sejarawan membagi sejarah perkembangan Islam ke dalam tiga masa. Yaitu masa klasik (650-1250 M), masa pertengahan (1250-1800 M), dan masa modern (1800 M-sekarang). Setiap masa mempunyai karakteristik atau cirinya masing-masing. Bila pada masa klasik, masyarakat Islam menjadi pusat peradaban dunia, kemudian mengalami kemunduran pada masa pertengahan, maka masa modern adalah zaman kebangkitan (revival) peradaban Islam.

Islam pada masa ini (modern) mencoba untuk membawa umat Islam pada kejayaannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dua bidang yang dianggap telah tertinggal jauh dari peradaban lain. Termasuk juga dalam bidang pemahaman keagamaan yang disadari banyak terjadi penyimpangan. Islam masa modern berupaya membimbing umat untuk kembali beribadah seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Memurnikan ajaran-ajaran dalam Islam dan menegakkan izzah atau harga diri umat.

Pembaruan dalam bidang pemahaman keagamaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan menjadi ciri khas perubahan yang terjadi pada masa modern. Sebagian umat Islam meyakini bahwa peradaban Islam menjadi tertinggal dan mengalami kemunduran karena bidang-bidang tersebut tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

Umat dan kepemimpinan Islam (khilafah) lebih banyak disibukkan hal-hal remeh-temeh dan terbuai kemajuan yang pernah dicapai Islam pada masa jaya. Namun, dikuasainya Mesir, India dan banyak wilayah Islam lain yang jatuh ke tangan negara-negara Barat, memberikan fakta bahwa kekuatan khilafah Ustamaniyah telah melemah. Dengan kata lain, peradaban Islam tidak lagi sedigdaya seperti masa-masa sebelumnya. Timbul pula kesadaran bahwa telah muncul peradaban lain yaitu peradaban Barat yang lebih maju dan jadi ancaman bagi umat Islam.

Untuk itu, muncul beragam gerakan pembaruan yang diusung para ulama atau cendekiawan muslim di berbagai wilayah Islam. Pemikiran dan ruang lingkup upaya mereka terfokus pada bidang pemahaman keagamaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kota-kota di daerah Turki, Mesir, India, dan Arabia menjadi pusat bagi berkembangnya gerakan pembaruan ini.

Pembaruan Pemahaman

Pembaruan dalam bidang pemahaman keagamaan diawali dari kesadaran bahwa sebagian besar umat Islam telah jauh meninggalkan nilai-nilai utama dalam ajaran mereka. Salah satu nilai utama itu adalah tauhid. Yaitu keyakinan untuk mengesakan Allah. Bahwa Allah hanya satu-satunya sembahan (tuhan) dan meniadakan illah atau tuhan-tuhan lain.

Paham ini (tauhid) dalam tataran praktik menuntut seorang muslim untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah saja. Jika ia berharap sesuatu atau menghindari sesuatu yang merugikan dirinya (musibah), maka permintaan itu langsung ditujukan kepada Allah SWT. Seorang muslim yang murni tauhidnya akan menjadikan setiap amal ibadah dilandasi niat karena Allah. Melakukan atau menerima sesuatu karena Allah dan menolak sesuatu pun karena Allah SWT.

Kebalikan dari tauhid adalah syirik dan pelakunya disebut musyrik. Nah, prinsip Islam paling utama ini telah tercampur-baur dengan ajaran-ajaran tarekat yang banyak tersebar di masyarakat Islam sejak abad ke-13 M. Ajaran-ajaran dari tarekat membuat penganutnya lebih menempatkan para pemimpin tarekat (syekh atau wali) sebagai sumber pertolongan, bukan Allah. Ada juga tarekat yang berkeyakinan bahwa melalui perantara syekh atau wali yang sudah meninggal, maka doa atau permintaan mereka akan dikabulkan Allah SWT. Keyakinan ini dinamakan tawasul.

Akibatnya, banyak umat bertawasul kepada syekh atau wali yang dianggap sebagai orang suci dan menjadi jalan terkabulnya doa-doa mereka. Seiring berkembangnya keyakinan tersebut, marak pula ritual ziarah kubur ke makam syekh atau wali yang mereka tawasuli. Padahal di dalam ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, keyakinan seperti ini termasuk syirik, dan gerakan pembaruan berusaha mengikis keyakinan syirik yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Islam.

Selain tauhid, gerakan pembaruan juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjauhi sikap taklid (patuh tanpa reserve) kepada para ulama. Sumber keyakinan dan pengetahuan seorang muslim adalah pada Qur’an dan Sunnah (hadits nabi). Jadi, perkataan atau fatwa para ulama boleh diikuti sepanjang tidak bertentangan dengan kedua sumber tersebut. Sebaliknya jika bertentangan, jangan dipatuhi dan harus ditolak karena fatwa ulama bukanlah sumber kebenaran.

Pintu ijtihad dibuka kembali setelah pada abad-abad sebelumnya dinyatakan telah tertutup. Ijtihad sebagai salah satu upaya kreatif dalam menjawab permasalahan yang secara eksplisit tidak ada di Qur’an dan Sunnah, diperlukan agar umat Islam selalu dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Begitu pula dengan konsep kekhilafahan. Paham kesatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan diangkat kembali sebagai reaksi atas berkembangnya paham nasionalisme (kebangsaan). Paham yang dibawa dan disebarkan oleh negara-negara Barat ini pada abad ke-18 dan ke-19 M terbukti efektif memecah persatuan umat Islam. Mulai banyak berdiri negara yang melepaskan diri dari Kekhilafahan Ustmaniyah karena pengaruh paham tersebut, yang pada akhirnya membuat kekhilafahan Islam terakhir itu runtuh pada awal abad ke-20 M. Umat Islam pun tidak lagi memiliki pemimpin yang menyatukan seluruh muslim di dunia dalam satu kepemimpinan.

Pembaruan Ilmu

Sejak masa klasik Islam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang pesat hingga mencapai masa keemasannya. Para ulama Islam selain piawai dalam ilmu keagamaan, juga dikenal andal dan memiliki minat besar terhadap ilmu pengetahuan. Dari tangan-tangan merekalah, warisan pengetahuan dari peradaban Yunani dan Persia dapat tumbuh lestari dan terus berkembang. Sebut saja nama-nama seperti Ibnu Sina (1031 M), Ibnu Rusyd (1198 M), al-Ghazali, al-Farabi, al-Kindi yang dikenal dunia sebagai pemikir atau ilmuwan besar Islam.

Berkembangnya daya kreatif ini karena didukung oleh ajaran Islam yang memang menempatkan akal atau rasionalitas sebagai bagian penting dalam keimanan seorang muslim. Alih-alih menolaknya seperti umat nasrani pada zaman pertengahan, umat Islam memadang akal manusia sebagai potensi dari Allah yang harus dioptimalkan. Apalagi banyak ayat suci Qur’an yang menempatkan orang berilmu/berpengetahuan luas (alim) lebih tinggi derajatnya daripada orang yang rajin beribadah (abid).

Namun, memasuki masa pertengahan Islam, sedikit demi sedikit bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam mulai tidak lagi terlalu diperhatikan. Sebagian besar kompenen masyarakat lebih disibukkan oleh hiruk-pikuk kekuasan (politik) dan perdebatan teologis yang tidak jarang melahirkan konflik sosial. Apalagi setelah ada kebijakan dari sebagian umat Islam yang menganggap bahwa ijtihad tidak lagi diperlukan. Kebijakan ini menutup daya kreasi umat Islam dalam menjawab tantangan zaman. Pada akhirnya menjadi salah satu sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam mengalami stagnansi dan kemunduran.

Para pembaru di masa modern menyerukan umat Islam untuk kembali memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan perkembangan kebudayaan mereka. Berbagai upaya dilakukan seperti penerjemahan berbagai literatur pengetahuan modern, perombakan sistem pendidikan tradisional, mendirikan berbagai perguruan tinggi dalam bidang teknologi, kedokteran dan militer, studi banding atau mengunjungi pusat-pusat peradaban di Eropa, menggalakkan kembali penelitian serta penemuan ilmiah, termasuk pula pembenahan taktik dan peralatan militer umat Islam yang sudah kuno. 

Kebudayaan Islam dalam bidang arsitektur, seni kaligrafi, dan sastra yang dahulunya bernilai tinggi namun kemudian terlupakan, kini diangkat kembali. Berbagai fasilitas penunjang bagi berkembangnya bidang-bidang tersebut, dibangun dan dioptimalkan sebaik mungkin. Termasuk upaya penghargaan terhadap para arsitektur, seniman dan ahli sastra yang hasil karyanya memberikan warna bagi keagungan kebudayaan Islam.

Tokoh Pembaru

Sepanjang rentang masa modern, peradaban Islam telah banyak melahirkan para tokoh pembaru, yaitu mereka yang dengan gagasan dan aksi nyatanya berupaya membawa umat untuk bangkit dari ketertinggalan dan keterpurukan. Upaya mereka berbuah positif. Terlihat dari jumlah pengikut yang banyak dan pengaruhnya bertahan hingga sekarang (abad ke-21 M).

Berikut ini beberapa tokoh pembaru yang sumbangsihnya telah menginspirasi muslim di seluruh dunia, khususnya dalam bidang pemahaman keagamaan, ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, serta kebudayaan Islam.

1. Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M)

Kelahiran Nejed, Saudi Arabia, Muhammad Abdul Wahab dikenal sebagai pembaru dalam bidang pemahaman keagamaan. Ia menyoroti masalah tauhid umat Islam yang ketika itu telah tercampur dengan kemusyrikan. Upaya yang dilakukannya dengan mendirikan suatu aliran keagamaan yang di kemudian hari dikenal sebagai aliran Wahabiyah. Aliran yang kini dominan di Negara Saudi Arabia.

2. Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 M)

Kontribusi penting yang diberikan oleh pembaru kelahiran Iran ini adalah ideologi Pan-Islamisme. Sebentuk pemikiran politik yang menekankan kesatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan (kekhilafahan) dan menentang kolonanialisme (penjajahan) bangsa Eropa kepada negara-negara Islam di kawasan Asia dan Afrika.

3. Muhammad Abduh (1849-1905 M) dan Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M)

Muhammmad Abduh adalah seorang pemikir Islam dari Mesir dan merupakan salah seorang tokoh pembaru yang sangat berpengaruh. Ia berkeyakinan bahwa selain ilmu agama, ilmu pengetahuan (sains) juga penting dipelajari.

Adapun Muhammad Rasyid Ridha adalah intelektual muslim asal Suriah (Syria). Ia mengembangkan gagasan modernisme Islam (pembaruan dalam Islam) yang awal mulanya digagas oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani.

Pengaruh pemikiran kedua tokoh intelektual muslim ini sangat luas hingga sampai ke nusantara. Beberapa gerakan Islam di nusantara seperti Muhammadiyah dan Sarekat Islam adalah contoh gerakan pembaruan yang terinspirasi dari kedua tokoh tersebut.

4. Ahmad Khan (1817-1898 M)

Tokoh intelektual muslim kelahiran India ini memiliki gagasan yang serupa dengan Jamaluddin al-Afghani, yaitu mengajak umat Islam (khususnya di India) untuk bersatu dalam kepemimpinan tunggal Islam (Pan-Islamisme). Termasuk seruan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Ini dikarenakan Ahmad Khan percaya ada kekuatan di balik penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang bisa digunakan untuk melawan kebodohan dan kemunduran peradaban Islam.

5. Muhammad Iqbal (1873-1938 M)

Ia adalah seorang penyair dan pemikir besar Islam kelahiran Punjab, Pakistan. Karya-karya pemikirannya banyak tersebar di berbagai buku yang ia tulis, seperti ‘The Reconstruction of Religious Thought in Islam’ (1930 M) yang menjadi masterpiecenya. Muhamad Iqbal juga termasuk salah seorang tokoh penting di balik berdirinya negara muslim Pakistan pada awal abad ke-20 M.

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan, kita dapat menarik simpulan bahwa umat Islam pada masa modern telah menyadari kemunduran dari peradaban mereka. Kondisi ini kemudian menimbulkan upaya untuk membangkitkan peradaban Islam dari keterpurukan. Melalui tokoh-tokoh pembaru, upaya tersebut mendapat tanggapan positif dari umat Islam. Berbagai tindakan pembaruan dalam pemahaman keagamaan, ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi dan kebudayaan jadi ciri khas Islam pada masa modern yang pengaruhnya berlanjut hingga masa sekarang.