Peradaban India kuno merupakan salah satu tempat munculnya peradaban tertua di dunia. Daerah India sebelah utara mengalir sungai Indus, Gangga, Yamuna, dan Brahmaputra. Dari daerah itu muncul peradaban awal di Asia, yaitu peradaban lembah Sungai Indus dengan bangsa Dravida sebagai pendukungnya dan lembah sungai Gangga dengan bangsa Arya sebagai pendukungnya.

Peradaban Lembah Sungai Indus

Peradaban lembah Sungai Indus berlangsung pada 2800 SM hingga 1800 SM. Peradaban kuno ini ada di sepanjang Sungai Indus dan Sungai Ghaggar-Hakra (sekarang letaknya di Pakistan dan India bagian barat). Sungai Indus sendiri merupakan sungai yang panjangnya 2.900 kilometer. Airnya berasal dari mata air di Tibet, dan mengalir melalui Pegunungan Himalaya. Sisa peradaban Sungai Indus bisa dilihat dari peninggalannya yang sangat mengagumkan, yaitu kota Mohenjodaro dan Harappa. Oleh sebab itu, peradaban Sungai Indus sering juga disebut peradaban Harappa.

Peradaban Sungai Indus juga dikenal dengan peradaban Sungai Sarasvati. Sebab, dahulu mengalir Sungai Sarasvati di dekat Sungai Indus, tapi diperkirakan mengering pada akhir 1900 SM. Kota Mohenjodaro dan Harrapa dihuni oleh bangsa Dravida, yang memiliki ciri fisik bertubuh pendek, hidung pesek, kulit hitam, dan rambut keriting hitam. Bangsa inilah pendukung utama peradaban lembah Sungai Indus.

Bangsa Dravida bermatapencaharian utama sebagai petani gandum dan kapas. Hal ini dibuktikan dengan temuan arkeologis berupa cangkul, kapak, dan patung dewi kesuburan. Selain sebagai petani, bangsa Dravida juga berjiwa pedagang. Mereka melakukan kontak perdagangan dengan bangsa Sumeria yang ada di Mesopotamia. Seorang arkeolog Inggris, Sir John Marshal, merupakan orang yang berhasil meneliti peradaban ini.

Dari bukti-bukti arkeologi, penduduk Mohenjodaro dan Harappa sudah mengenal adat istiadat. Di sana ditemukan benda-benda sebagai azimat. Benda tersebut diduga dimanfaatkan sebagai kalung. Ada pula ditemukan benda semacam materai yang berbahan tanah liat. Benda-benda tersebut terdapat tulisan-tulisan pendek dalam huruf piktograf (tulisan yang bentuknya mirip gambar).

Beragam periuk belangga yang dibut memakai teknik tinggi, porselin dari Tiongkok, patung-patung kecil, juga banyak ditemukan di sana. Penduduk kota kuno itu juga sudah bisa membuat alat-alat berbahan logam dengan teknik yang mumpuni, semisal piala emas, perak, timah, perunggu, dan tembaga. Tapi, peralatan senjata, semisal tombak dan pedang mutunya sangat rendah.

Persenjataan yang mutunya rendah ini diindikasikan penduduk Mohenjodaro dan Harappa cintai damai, dan bangsa yang tidak suka berperang. Selai artefak-artefak tadi, mereka juga mengenal tari-tarian yang diiringi gendang. Tata kota mereka juga sudah sangat baik. Mereka sudah mengenal sistem sanitasi, tempat pemandian umum, saluran air, dan tangki air yang ada di atas perbentengan jalan. Metode mengubur jenazah pun sudah dikenal. Namun, di Mohenjodaro, ada beberapa tradisi yang tidak menguburkan jenazah, tapi dibakar dan abunya disimpan dalam sebuah tempayan khusus.

Apa kepercayaan masyarakat kuno ini? Mereka menyembah dewa-dewi. Semisal tokoh Mother Goddess yang banyak ditemui di belanga, jimat, dan materai. Ada pula sosok dewa bermuka tiga dan bertanduk. Pada 1500 SM, diperkirakan peradaban Mohenjodaro dan Harappa runtuh. Para ahli memperkirakan, ada banyak faktor yang menyebabkan peradaban di lembah sungai Indus ini terhenti. Bencana alam gunung meletus atau gempa bumi diprediksi sebagai penyebabnya. Ada pula yang menyebutkan kalau bencana kekeringan yang sangat panjang pelaku utamanya. Selain itu, ada yang menyebutkan jika wabah penyakitlah yang menjadi aktor keruntuhan peradaban. Tapi, sebagian besar ahli percaya biang keladi utama runtuhnya peradaban lembah sungai Indus ini akibat serangan bangsa Arya.

Meskipun begitu, peradaban lembah Sungai Indus meninggalkan banyak sekali warisan yang menjadi aset dunia modern kini. Jika disimpulkan, warisan tersebut, yakni pelajaran penataan kota yang begitu apik, pembangunan jalan dan fasilitas umum yang terkonsep, adanya saluran air dan sanitasi yang baik, dan karya seni berupa olahan logam.

Peradaban Lembah Sungai Gangga

Setelah serangan bangsa Arya, bangsa Dravida menyingkir ke India Selatan. Tapi, ada pula yang akhirnya berbaur, hingga kemudian melahirkan kebudayaan hinduisme. Bangsa Arya yang berasal dari Laut Kaspia akhirnya menguasai wilayah subur sekitar lembah Sungai Gangga dan Indus. Bangsa Arya termasuk ras Indo-Jerman. Sebelum menaklukkan bangsa Dravida, bangsa Arya dikenal sebagai bangsa yang bermatapencaharian sebagai peternak dan hidup nomaden alias mengembara. Kemudian, mereka menetap di daerah taklukkan dan membangun peradaban baru di lembah Sungai Gangga. Bangsa Arya menyebut daerah yang mereka huni ketika itu dengan sebutan Arya Warta atau Hindustan.

Kasta diciptakan untuk pertama kalinya. Kasta sendiri diciptakan untuk menghindari percampuran ras. Pembagian kasta ada empat, yaitu kasta brahmana, yang merupakan golongan agamawan dan ahli ilmu; kasta ksatria, yaitu golongan bangsawan dan prajurit; kasta waisya, yaitu golongan saudagar dan petani; serta kasta sudra, yaitu golongan buruh dan budak. Bangsa Arya masuk di golongan brahmana dan ksatria.

Ada dua kerajaan besar yang pernah memerintah di sini, yaitu Kerajaan Gupta dan Kerajaan Harsha. Raja Candragupta I merupakan pendiri Kerajaan Gupta. Pusat pemerintahannya ada di lembah sungai Gangga. Ada dua agama yang muncul saat itu, yakni Hindu dan Buddha. Saat Candragupta I memerintah, agama Hindu dijadikan agama resmi negara. Tapi, agama Buddha dibiarkan berkembang. Agama Buddha sendiri disebar oleh Sidharta Gautama. Penyebab utama munculnya agama Buddha adalah ketidakpuasan terhadap sistem kasta di agama Hindu.

Kerajaan Gupta mencapai puncak keemasan di zaman Raja Candragupta II. Saat itu, kebebasan beragama dibuka seluas-luasnya, rakyatnya hidup makmur, dan kesusastraan berkembang pesat. Salah seorang pujangga yang terkenal ketika itu adalah Kalidasa yang mengarang Syakuntala. Seni patung dan pahat pun berkembang. Setelah Candragupta II meninggal dunia, Kerajaan Gupta meredup. India dalam masa kegelapan selama dua abad.

Pada abad ke-7 M, berdiri Kerajaan Harsha. Pusat pemerintahannya di Kanay, dan raja pertamanya bernama Harshawardana. Pada masa pemerintahannya, kesusastraan berkembang. Pujangga yang terkenal saat itu adalah Bana yang menulis Harshacarita. Perkembangan seni sastra tidak begitu mengherankan, sebab Raja Harshawardana pun seorang pujangga. Agama Buddha juga mengalami perkembangan pada masa ini. Harshawardana yang semula beragama Hindu, pindah ke agama Buddha. Peradaban lembah sungai Gangga tidak terlacak lagi setelah abad ke-11 M.

Peradaban lembah sungai Gangga mewariskan berbagai macam produk budaya, mulai dari sastra, seni pahat, seni patung, hingga agama. Tentu saja karya sastra yang terkenal produk peradaban ini adalah Kitab Mahabarata dan Ramayana. Kitab Mahabarata dikarang oleh Resi Wiyasa, mengisahkan tentang keluarga Bharata yang memegang tampuk kekuasaan Kerajaan Hastina. Dua keturunannya, yakni Pandawa dan Kurawa, berebut kekuasaan. Kitab Ramayana dikarang oleh Resi Walmiki, mengisahkan tentang putra mahkota yang bernama Rama. Rama harus berpetualang untuk membebaskan istrinya, Dewi Sinta, dari raja raksasa bernama Rahwana.

Peradaban India mempunyai pengaruh besar bagi dunia. Indonesia pun ikut dikenalkan hasil peradaban India kuno ini. Apa saja itu? Yang paling terlihat tentu saja pengaruh agama Hindu dan Buddha, dikenalnya aksara Pallawa, dan kalender tahun Saka. Aksara Pallawa itu turut andil dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia.

Setelah mengenal aksara Pallawa, kerajaan di Nusantara mendokumentasikan berbagai peristiwa penting di atas prasasti dengan aksara tersebut. Lalu, sejumlah karya sastra yang pernah dihasilkan pun terpengaruh oleh kesusastraan India tadi. Pada perkembangannya, bangsa Indonesia mengadopsi aksara Pallawa dan diinterpretasikan dalam tradisi berbagai suku, yang akhirnya melahirkan aksara Bali kuno, Lampung, Bugis, Batak, Sunda kuno, dan Jawa kuno.