Implikatur adalah makna tersirat (implied meaning) atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung, yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosakata secara literal. Pertama kali, konsep implikatur diperkenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memecahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa.

Kata implikatur berasal dari verba to imply. Secara etimologis, to imply bermakna melipat sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Jadi, sesuatu yang diimplikasikan adalah 'dilipat', dan untuk memahaminya harus 'dibongkar'. Dengan demikian, impikatur percakapan adalah sesuatu yang tersirat di dalam pemakaian bahasa yang sebenarnya.

Implikatur juga diartikan sebagai penyiratan atau konsep yang mengacu pada sesuatu yang dimplikasikan (implicated) oleh sebuah tuturan yang tidak dinyatakan secara eksplisit (asserted) oleh tuturan itu. Pertama kali, istilah implikatur dikemukakan oleh Grice (1975) untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur, yang bisa jadi berbeda dengan apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur.

Dalam artikelnya yang berjudul Logical of Conversation, Grice mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan preposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimpilikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan. Artinya, implikatur percakapan adalah implikasi darisuatu tuturan yang berupa preposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan tersebut.

Pemakaian implikatur juga demi memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah. Maka secara implisit, penutur menghendaki agar mesin pendingin di hidupkan atau jendela dibuka. Untuk memperjelas, berikut contohnya dalam bentuk kalimat.

Makanannya sudah tersedia, Pak!

Pada contoh tersebut, kita tentu akan mengatakan bahwa orang yang mengucapkan kalimat itu atau si penutur sedang memberitahukan bahwa makanan telah telah selesai dihidangkan. Yang menjadi persoalan kita adalah bukan selesai tidaknya si penutur menghidangkan makanan. Akan tetapi, apa maksud ucapan itu sebenarnya. Jadi, bisa diartikan bahwa maksud kalimat itu sebenarnya, si penutur sedang mempersilakan lawan bicaranya untuk menikmati atau berbuat sesuatu terhadap makanan yang sudah dipersiapkan/dihidangkan oleh si penutur. Dalam kalimat misalnya kalimat penggantinya adalah:

Nah, sekarang makanannya sudah tersedia. Maka, silakan dinikmati, Pak.

Hal ini karena penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, ucapan yang dikeluarkan oleh pelaku tindak berbahasa atau si penutur mengandung makna lain. Oleh karena itu, pendengar atau lawan bicara/ lawan tutur, harus mampu menetapkan bahwa ada makna atau maksud lain dibalik ucapan yang telah dikeluarkan oleh si penutur. Artinya, pendengar dapat memberi respons atau tanggapan yang sesuai dengan implikator yang muncul. Dengan kata lain, di dalam implikatur, hubungan antartuturan yang sesungguhnya dengan maksud yang tidak dituturkannya itu bersifat tidak mutlak. Inferensi maksud tuturan itu harus didasarkan pada konteks situasi tutur yangmewadahi munculnya tuturan tersebut.

Untuk dapat menetukan apa yang dimaksudkan dalam kalimat penutur, kita memerlukan pengetahuan tentang kaidah pragmatiknya. Artinya, untuk menentukan implikatur suatu ucapan, kita harus memahami apa kaidah pragmatik yang ada.

Jenis-jenis Implikatur

1. Implikatur Percakapan

Asumsi dasar percakapan adalah jika tidak ditunjukan sebaliknya bahwa peserta tuturnya mengikuti maksim-maksim prinsip kerja sama. Maksim adalah pernyataan ringkas yang mengandung ujaran atau kebenaran umum tentang sifat-sifat manusia. Untuk memperjelas, berikut contohnya:

Lisa:  Nanti, kamu bawakan aku kue pelangi dan jus jeruk, ya.

Mona: Oke, aku akan bawakan kamu kue pelangi.

 Pada contoh tuturan di atas, Lisa berasumsi bahwa Mona melakukan kerja sama. Namun, Mona tidak sadar sepenuhnya maksud Lisa tentang maksim kuantitas karena Mona tidak menyebutkan jus jeruk. Jika membawakan jus jeruk, maka Mona akan mengatakannya karena ia ingin memenuhi maksim kuantitas. Lisa seharusnya menyimpulkan bahwa apa yang dia katakan melalui suatu implikatur percakapan. Sebab, penuturlah yang menyampaikan makna melalui implikatur dan sosok yang mengenali makna-makna yang disampaikan lewar inferensi.

Implikatur percakapan (conversational implicature) merupakan konsep yang cukup penting dalam pragmatik karena empat hal, yakni:

  1. Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik.
  2. Konsep implikatur memberikan penjelasantentang makna berbeda dengan yang dikatakan secara lahiriah.
  3. Konsep implikatur dapat menyederhanakan struktur dan isi deskripsi semantik.
  4. Konsep implikatur dapat menjelaskan beberapa fakta bahasa secara tepat.

Contoh:

Johan: "Jam berapa sekarang?"

Risal: "Korannya sudah datang."

Tampaknya, kalimat A dan B tidak berkaitan secara konvensional. Sebab hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada masing-masing ujaran. Akan tetapi, makna keterkaitan itu tidak diungkapkan secara harfiah pada ujaran itu. Johan menanyakan jam, tapi Risal menjawabnya dengan Koran yang sudah datang. Hal ini berarti bahwa Risal menjawab dengan suatu lambang. Jika Koran biasa diantarkan loper Koran tiap pukul 7 pagi, artinya ia sudah menjawab pertanyaan Johan. Kalau jawabannya adalah pukul 7 pagi. Simak contoh lainnya:

Ferry: “Kamu masih di sini.”

Dimas: “Angkotnya jarang ada yang lewat.”

Sejenak, kedua ujaran Ferry dan Dimas itu kita tidak memperoleh keterkaitan. Namun, maksudnya bisa dimengerti oleh partisipan (si penutur dan lawan tutur). Ferry menanyakan dengan nada keheranan kenapa Dimas masih berada di tempat yang sama. Dimas pun memberikan alasan bahwa masih beradanya dia di tempat yang sama karena angkutan kota yang ia harapkan belum juga menepi. Artinya, implikatur percakapan adalah menerangkan yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur dapat berbeda dengan yang dikatakan oleh kedua penutur.

2. Implikatur Percakapan Umum

Implikatur percakapan khusus tidak dipersyaratkan untu kmemperhitungkan makna tambahan yang disampaikan, maka disebut implikatur percakapan umum. Contoh:

Pada suatu hari saya duduk di sebuah taman. Sepasang kekasih pun duduk di salah satu bangku taman itu.

Contoh implikatur pada tuturan di atas adalah bahwa taman dan pasangan kekasih bukanlah milik penutur dan tak dikenali penutur. Apabila penutur lebih spesifik menuturkan, maka bisa jadi kebun dan sepasang kekasih yang dimaksudkannya dikenalinya. Misalnya, Pada suatu hari saya duduk di tamanku. Sepasang kekasih yang kukenal pun duduk di salah satu bangku tamanku itu.

3. Implikatur Berskala

Informasi selalu disampaikan dengan memilih sebuah kata yang menyatakan suatu nilai dari suatu skala nilai.Ini secara khusus tampak jelas dalam istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas, seperti yang ditunjukkan dalam sebuah skala, ketika  istilah-istilah itu didaftar dari skala nilai tertinggi ke nilai terendah. Contohnya:

semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit

selalu, sering, kadang-kadang

"Saya sedang belajar ilmu bahasa dan saya telah melengkapi beberapa mata kuliah yang dipersyaratkan."

Dengan memilih kata "beberapa" dalam contoh tuturan di atas penutur menciptakan suatu implikatur. Ini yang disebut implikatur berskala. Implikatur berskala adalah semua bentuk negatif dari skala yang lebih tinggi yang dilibatkan apabila dalam skala itu dinyatakan.

4. Implikatur Percakapan Khusus

Pada sebuah percakapan, implikatur telah diperhutangkan tanda adanyapengetahuan khusus terhadap konteks tertentu. Akan tetapi, seringkali percakapan kita terjadi dalam konteks yang sangat khusus. Inferensi-inferensi yang demikian dipersyaratkan untuk menentukan maksud yang disampaikan menghasilkan implikatur percakapan khusus.

Mira: Apakah kamu suka es krim?

Anton: Apa itu Magnum Gold?

Mira bertanya apakah lawan tuturnya menyukai es krim atau tidak. Akan tetapi, Anton sebagai lawan tutur tidak menjawab ya atau tidak. Namun, keduanya melakukan kerja sama. Mira tidak memerlukan jawaban ya, namun sudah mengerti kalau Anton menyukai es krim karena menyebutkan merek es krim terkenal. Artinya, Anton menunjukkan ketertarikan terhadap es krim.

5. Implikatur Konvensional

Implikatur konvensional tidak didasarkan pada prinsip kerja sama atau maksim-maksim. Implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam percakapan,dan tidak langsung pada konteks khusus untuk mengiterpretasikannya. Implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata khusus dan menghasilkan maksud tambahan apabila yang disampaikan apabila kata-kata itu digunakan. Kata penghubung "tetapi" adalah salah satu kata-kata ini.

Indi menyarakankan warna hitam, tetapi saya ingin warna putih.

Pada contoh di atas, kenyataan bahwa Indi menyarankan warna hitam, bertolak belakang dengan pilihan saya warna putih. Melalui implikatur konvensional 'tetapi'. Hal ini terjadi dalam pemakaian bahasa biasanya terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’.