Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Artinya, Islam sangat mengakomodasi akal dan ilmu pengetahuan sebagai bagian yang menyatu dan mewarnai kehidupan keagamaan seseorang. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi sekelompok hamba yang hanya bisa menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan sambil menunggu keajaiban tanpa melakukan apa pun. Islam mengajarkan gerak aktif untuk menuju puncak-puncak dunia.

Ilmu pengetahuan menempati posisi yang sangat terhormat dalam Islam. Sejak awal kelahirannya, Islam menekankan umatnya untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat jelas dengan turunnya Surah Al ’Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama. ”Iqra” yang artinya bacalah, pelajarilah dengan nama Tuhanmu yang telah mengajarkan dengan pena. Wahyu ini telah menjadi bukti tanda dilantiknya Muhammad menjadi utusan Allah.

Ayat tesebut memberikan pesan yang sangat kuat bahwa Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam bukan hanya menghargai ilmu pengetahuan, tapi secara aktif  menyuruh, memerintahkan pemeluknya untuk memperhatikan alam sekitar dan mempelajarinya dengan mempergunakan akal yang dikaruniakan Allah Swt.

Ayat ini dimulai dengan satu  perintah Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu  "Qul, katakanlah (kepada umatmu, hai Muhammad)! Perintahkan kepada umatmu wahai, Muhammad.”

Lalu, apa isi dari perintah itu? Isinya adalah perhatikanlah olehmu sekalian (wahai umat Muhammad) apa yang ada di langit dan apa pula yang ada di bumi!
Langit dan bumi adalah makhluk Allah Swt. Penciptaannya disebut Allah Swt sebagai lebih hebat dari penciptaan manusia. Sebutan ini tidak mengherankan jika kita melihat betapa luas langit dan rumit kehidupan yang terbentang di Bumi ini.

Seperti kita ketahui, langit adalah sebutan untuk ruang yang terletak di atas kita. Membentang dari beberapa meter di atas kepala kita hingga jarak yang sulit bayangkan. Menurut pengetahuan terkini, lebar langit sama dengan lebar alam semesta, yaitu 30 miliar tahun cahaya. Artinya, cahaya yang per detiknya mampu melaju sejauh 300 ribu kilometer membutuhkan waktu 30 miliar tahun untuk  melintasi tepi alam semesta ke tepi yang lain. Di dalamnya terdapat bermiliar bintang  yang berjalan menurut rutenya sendiri-sendiri.

Ada apakah di langit yang luas itu? Inilah yang diperintahkan Allah Swt kepada kita untuk memperhatikannya. Sedikit lebih dekat, kita memiliki satu bintang berukuran sedang jika dibandingkan dengan bintang lainnya. Bintang itu adalah matahari. Bintang ini merupakan pusat tata surya kita. Bersama bumi terdapat tujuh planet mengelilingi matahari. Nama Pluto yang dahulu termasuk dalam daftar planet saat ini telah dihapus dari daftar oleh para astronom karena dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi planet. Di antara sekian planet tersebut hanya bumi yang diketahui memiliki kehidupan.

Bagaimanakah hal ini dapat terjadi? Apakah keistimewaan bumi sehingga dapat menjadi tempat manusia berdiam? Adakah keadaan ini berhubungan dengan matahari? Allah Swt menyuruh kita memperhatikan hal ini.

Dari pengamatan tentang langit muncullah berbagai cabang keilmuan seperti astronomi, astrofisika, dan ilmu    quantum. Setelah melihat    ke atas menuju langit, marilah kita arahkan pandangan ke sekeliling. Kita perhatikan yang ada di bumi. Apa yang kita lihat di bumi? Manusia dan masyarakatnya yang beraneka ragam. Manusia menjadi pemeran terpenting drama kehidupan di muka bumi. Allah Swt menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Allah pun menyebar manusia di seluruh penjuru muka bumi. Keadaan ini menyebabkan setiap manusia dan kelompok masyarakat memiliki keunikan tersendiri.
Dalam Surah Yunus ayat 101 secara tidak langsung Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan makhluk bumi paling istimewa, yaitu manusia dengan segala gerak kehidupan dan kepentingan mereka. Dari pengamatan terhadap manusia, muncullah ilmu sosiologi, ekonomi, dan berbagai ilmu sosial lain.

Tidak hanya manusia, penghuni bumi ini juga terdiri atas segala macam hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuhan mengisi setiap sudut muka bumi ini, mulai puncak gunung tertinggi hingga di palung terdalam lautan. Perhatikanlah mereka! Amatilah mereka dengan seksama.

Demikian pula dengan bentang alam yang sangat menakjubkan. Gunung tinggi, lautan luas, ngarai, lembah, bukit, permukiman, hutan, bagaimanakah semua itu terbentuk? Bagaimanakah mereka semua saling mengisi dalam kehidupan yang harmonis selama jutaan tahun? Siapakah yang merusak keindahan itu dan bagaimana pula memperbaikinya?

Pelajaran penting dari ayat ini adalah Islam agama ilmu pengetahuan. Allah Swt menyuruh kita untuk senantiasa belajar dan mempelajari alam ini beserta seluruh isinya. Pengetahuan  yang  kita  peroleh  dari  pengamatan  itu  selanjutnya  dikembangkan dalam dua tujuan utama.

Pertama, untuk menunjang kehidupan kita di dunia ini. Dengan tujuan ini, mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bentuk praktik teknologi yang tepat guna dan berhasil guna merupakan kewajiban setiap muslim. Kedua, sebagai sarana menemukan Allah Swt dan meningkatkan keimanan kita kepada-Nya.

Surah ini memuat sebuah pernyataan tentang tanda kebesaran Allah Swt. Paling tidak terdapat empat tanda penting yang disebutkan Allah Swt dalam ayat ini, yaitu penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, turunnya air yang menghidupkan bumi, dan perkisaran angin di antara langit dan bumi. Semua tanda ini merupakan pelajaran dan tantangan bagi orang yang mengerti.

Orang yang mengerti dalam hal ini tentu bukan sekadar orang yang memiliki kecakapan ilmu pengetahuan. Orang itu juga dapat menemukan kebenaran Allah Swt dan meningkatkan keimanannya dengan pengetahuan yang diperoleh.

Untuk mengetahui tanda kekuasaan Allah Swt dalam ayat ini, marilah kita telusuri bersama. Dalam Surah Al Anbiya’ ayat 30, Allah bertanya, "Dan apakah orang-orang  yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Selanjutnya dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Pernyataan ini disampaikan Allah Swt empat belas abad yang lalu. Pada saat itu, tidak ada satu pun pengetahuan manusia yang dapat memahami makna yang terkandung dalam ayat ini. Bahkan oleh seorang Muhammad Saw sekalipun.

Ilmu pengetahuan terkini menyebutkan adanya suatu teori yang diterima oleh hampir semua ilmuwan dunia, yaitu teori Big Bang atau Dentuman Besar. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini pada awalnya adalah suatu materi yang sangat kecil dan dikenal sebagai sop kosmos. Oleh karena kecilnya, lebih kecil dari ukuran atom, maka dapat dianggap sebagai tidak ada. Dari materi kecil yang diciptakan Allah itulah, alam semesta ini  terbentuk. Allah Swt memisahkan materi itu hingga terbentuk ruang dan waktu.

Peristiwa ini menurut ukuran ilmu astronomi terjadi sekitar dua belas miliar tahun yang lalu. Tanda kekuasaan Allah yang kedua adalah pergantian siang dan malam. Menurut ilmu astronomi, pergantian siang dan malam terjadi karena peredaran bumi pada porosnya dan juga peredaran bumi mengelilingi matahari.

Tanda ketiga adalah perjalanan laut yang memungkinkan terjadi dengan kapal. Sebagaimana disebutkan bahwa tiga perempat dari bumi adalah air atau laut. Manusia yang pada jamaknya berada di daratan dapat mengarungi lautan. Hal ini tentu berada di luar kebiasaan manusia dan hanya dapat terjadi jika Allah mengizinkannya. Sejak zaman Nabi Nuh, kapal telah dipergunakan sebagai sarana pengangkutan.

Tanda keempat dan kelima yang dapat kita temukan dalam Surah Al Baqarah ayat 164 ini adalah turunnya hujan yang menghidupkan bumi dan kisaran angin di antara langit dan bumi. Tanda ini sudah sering kita temukan bagi kita yang berdiam di wilayah khatulistiwa  yang memiliki  curah hujan relatif tinggi.

Dengan keadaan inilah, asal kita mau memperhatikan, tanda kekuasaan Allah Swt yang satu ini dengan mudah kita pahami. Iklim dua musim yang terjadi di negara kita menyebabkan kita dengan mudah membedakan keadaan saat kemarau dan hujan.

Pada musim kemarau, tanah berubah tandus, tanaman kering dan mati karena kekurangan air. Tanah itu mati. Tidak ada satu pun kehidupan di atasnya. Pada tanah yang mati ini, Allah Swt mengirimkan hujan.

Pertama, Allah angkat air melalui proses penguapan dengan panas matahari. Setelah terkumpul di awan, Allah Swt menggiring awan-awan berisi air tersebut ke arah mana pun yang Dia kehendaki.

Saat Allah Swt. mengirimkan  awan itu ke tanah yang tandus dan menurunkan hujan di tempat tersebut, keajaiban akan terjadi. Pada tahap ini perkisaran angin di antara langit dan bumi memegang peranan yang sangat penting.

Tanah yang semula tandus kering tanpa kehidupan berangsur basah. Sejenak setelah masuknya air ke dalam tanah, tunas-tunas baru muncul. Rerumputan, perdu, hingga pohon berkayu keras pun bersemi kembali.

Tanah yang sebelumnya mati, perlahan tetapi pasti hidup kembali dengan tumbuhan dan pepohonan. Tak berapa lama kemudian, dapat dipastikan berbagai jenis hewan mulai yang terkecil mikroba akar, kumbang, ular, hingga binatang besar pun menghuni tanah yang kembali subur itu.

Air hujan yang turun dapat meresap ke bawah dan kelak akan menjadi telaga. Air yang mengalir menjadi sungai-sungai juga bermanfaat bagi manusia. Sungai dapat dipergunakan sebagai sarana pengangkutan dan tempat mencari nafkah. Ikan dapat hidup dan berkembang biak di sungai sehingga dapat dimanfaatkan manusia untuk   memenuhi kebutuhan protein. Selain itu, air sungai juga dapat dipergunakan untuk mengairi sawah dan ladang agar tanaman yang ditanam tumbuh subur dan menghasilkan hasil panen yang baik.

Air sungai ada yang mengalir ke laut dan akan menguap ke udara kemudian turun lagi menjadi hujan. Semua itu berjalan dengan teratur dan merupakan tanda kekuasaan Allah. Dari manakah asal benih tetumbuhan itu? Dari mana pula asal hewan-hewan yang kemudian muncul di tanah yang kembali subur? Inilah tanda kekuasaan Allah Swt. Keadaan ini menyediakan kajian ilmu pengetahuan yang teramat luas.

Nah, itulah penjelasan mengenai ayat dalam Al Qur’an tentang pengembangan ilmu pengetahuan alam dalam Islam. Semoga info yang disampaikan bermanfaat bagi Anda.