Sebagai sebuah karya yang tidak terlepas dari faktor-faktor eksternal yang mempengaruhinya, sastra juga merupakan sebuah maha karya manusia yang tidak terlepas dari nilai-nilai dan ideologi, baik ideologi dari si pengarang, ataupun ideologi-ideologi luar yang mempengaruhi perkembangan karya sastra itu sendiri. Salah satu fungsi dari karya sastra adalah sebagai alat untuk penyampai ideologi, pengetahuan, dan nilai-nilai sosial. Jonathan Culler dalam bukunya bahkan menuliskan bahwa karya sastra berfungsi untuk mendidik masyarakat yang membacanya, dan salah satu unsur-unsur pendidikan dalam karya sastra tersebut adalah nilai-nilai ideologi.

Faktor lain yang mempengarruhi perkembangan kesusastraan adalah politik, pengarang dengan pandangan politik tertentu biasanya juga menyalurkan ideologi ideologi politiknya kedalam karya sastra yang dihasilkannya. Ideologi dan politik dalam kesusastraan tidak hanya terangkum dalam karya sastra lewat sentuhan dari penulis kesusastraan tersebut, namun ada kalanya pengaruh dari ideologi dan politik itu datang dari luar dengan memberikan batasan-batasan terhadap karya karya sastra apa saja yang bisa dipublikasikan.

Contoh nyata hubungan antara politik ideologi dan karya sastra terdapat dalam kesusastraan indonesia dapat kita lihat pada sejarah sastra Indonesia angkatan balai pustaka. Angkatan kesusastraan balai pustaka lahir dalam masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia. Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda mau tidak mau mempengaruhi perkembangan kesusastraan yang terdapat di Indoneia. Dengan memegang kendali terhadap penerbitan yang dilakukan oleh pihak kolonial, maka karya sastra yang dihasilkan hanya berupa karya-karya yang mendukung idelogi kolonial seperti yang terdapat dalam roman Siti Nurbaya dan roman lainnya yang dipublikasikan pada masa itu yang mengangkat tema-tema hampir sama antara satu dengan lainnya.

Selain angkatan balai pustaka, angkatan-angkatan kesusastraan Indonesia lainnya juga ada beberapa yang terbentuk akibat perubahan kondisi sosial politik bangsa Indonesia. Seperti angkatan 45 yang lahir akibat perubahan status Negara Indonesia, angkatan 1950 hingga 1960 yang lahir setelah setelah angkatan 45 yang perkembangannya dipengaruhi oleh ide-ide komunis dalam kehidupan sosial dan politik bangsa, angkatan 1966 hingga 1970 yang terbentuk akibat terjadinya pemberontakan terhadap orde lama dan sebagainya. Seperti yang kita lihat pada contoh, kita dapat membayangkan bagaimana hubungan yang terjalin antara sastra, ideologi, dan politik saling berkatian antara satu dengan lainnya.

Sastra dalam hubungannya terhadap politik dan ideologi bisa digunakan sebagai alat untuk penyampaian ideologi tertentu kepada masyarakat sebagai pembelajaran. Namun ada kalanya karya sastra tidak berfungsi untuk menyampaikan ideologi, tapi justru untuk membantah ideologi-ideologi yang ada pada masyarakat, atau bisa juga untuk mengkritik satu kebijakan politik tertentu dengan menggunakan karya sastra sebagai medianya. Sastra sebagai objek yang elastis dapat dengan mudah dipengaruhi oleh politik dan ideologi yang berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat tempat karya sastra tersebut dihasilkan dan disebar-luaskan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kadang karya sastra terbentuk untuk melatarbelakangi suatu keadaan politik tertentu, karya-karya tersebut biasanya disebut sebagai novel politik. Karya-karya tersebut biasanya lebih memfokuskan masalah yang terjadi pada karakternya ke dalam bentuk ketegangan internal.

Seringkali novel-novel yang memiliki nilai-nilai politik dan ideologi tertentu menggunakan perumpamaan dan penyimbolan–penyimbolan yang nantinya mengarah kepada pertentangan politik dan ideologi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti yang terjadi dalam novel Animal Farm, dalam novel tersebut kita tidak menemukan karakter manusia kecuali si pemilik peternakan. Namun, kita dapat melihat bahwa karakter-karakter hewan di sana merupakan perlambangan manusia dengan sudut pandang ideologi yang berbeda antara satu dengan lainnya, di mana dalam satu peternakan terpecah menjadi dua suara yang berbeda yang mengakibatkan perpecahan di antara para hewan yang terdapat dalam peternakan tersebut.

Animal Farm merupakan salah satu dari beberapa bentuk karya sastra lain yang menggunakan karya sastra sebagai alat penyampaian ideologi dengan melakukan penyimbolan-penyimbolan. Dalam menganalisis karya sastra tersebut, kita tidak langsung mengerti bagaimana karya sastra tersebut bisa dilihat merepresentasikan apa yang terjadi dalam masyarakat. Namun, dengan melihat bagaimana pengarang melakukan kritik sambil menanamkan ideologinya, kita kemudian dapat dengan baik memahami maksud dari penyimbolan-penyimbolan yang dilakukan oleh pengarang.

Dengan berkembangnya hubungan antara sastra, politik, dan ideologi, banyak penulis yang kemudian menjadi ketakutan. Karena dengan campur tangan politik pada karya sastra bisa saja mengehambat perkembangan karya sastra itu sendiri. Seperti pada angkatan 1950 hingga 1960, ketika Indonesia sedang mengalami penjamuran ideologi-ideologi komunis oleh pemerintahan orde lama, termasuk dalam dunia kesusastraan. Perkembangan kesusastraan Indonesia menjadi terhambat akibat dibatasinya peredaran kesusastraan luar negeri. Tidak hanya membatasi karya-karya dari luar saja, hadirnya faham komunis dalam masyarakat bahkan ikut mempersempit perkembangan kesusastraan bangsa sendiri, di mana publikasi karya sastra semakin diperketat hanya untuk para penulis yang mendukung ide-ide komunis.

Beberapa pakar kesusastraan yang menyayangkan keterikatan antara ideologi, politik dan sastra beranggapan bahwa hubungan yang terjadi antara sastra dan kedua aspek tersebut menyebabkan kesusastraan menjadi lembaga yang tidak lagi “murni”. Namun jika novel tersebut mampu menelaah perpolitikan dan ideologi dalam kehidupan masyarakat dengan sangat baik, maka akan sangat mudah bagi karya sastra tersebut untuk sukses dan unggul dibanding karya sastra lainnya. Membangun novel politik memang sedikit lebih rumit, karena jika novel tesebut tidak mampu menggambarkan ketegangan dan pergolakan politik yang terjadi dalam karya sastra tersebut maka karya sastra tersebut tidak akan menarik, bahkan dinilai mentah.

Perkembangan novel politik yang mengandung nilai-nilai ideologi sekarang ini memang berkembang pesat, apalagi dengan keadaan politik bangsa yang berubah-ubah. Banyak penulis yang kemudian menjadikan karya sastra sebagai lahan kritik kerhadap kebijakan dan kinarja pemerintah yang dianggap lambat. Seperti karya-karya yang didasari peristiwa lumpur Lapindo atau mengenai fakta-fakta korupsi yang terjadi di Indonesia. Perkembangan mereka semakin hari semakin bertambah dan meluas, namun tidak semuanya mampu menghadirkan karya sastra tersebut sebagai satu karya yang bernilai seni dan politik.

Karya sastra yang memiliki unsur-unsur ideologi dan politik sekarang ini tidak hanya terfokus pada novel saja, namun juga pada bentuk karya sastra lainnya yang disebarkan lewat media baca masyarakat lain yang lebih mudah dijangkau seperti koran, web dan lain-lainnya. Para penulis secara gamblang menyampaikan kritikan politik atau penyampaian ideologi yang dianggapnya benar. Namun sayangnya, perkembangan politik tidak hanya mempengaruhi karya sastra, tetapi juga media yang mengorbitkannya. Jadi, tidak jarang karya-karya sastra yang dihasilkan oleh seorang sastrawan lebih bersifat propaganda politik, bukan lagi sebagai representasi keadaan dan pemahaman politik saja.

Praktik propaganda politik dalam dunia kesusastraan telah lama dikembangkan dalam kesejarahan sastra, bahkan sastra seringkali digunakan sebagai alat untuk memonopoli suatu bangsa tanpa melakukan penyerangan militer. Praktik penyebaran ideologi dengan menggunakan karya sastra sebagai medianya telah lebih dahulu dilakukan oleh Perancis dan Inggris sebagai usaha mereka untuk memantapkan pengaruh mereka terhadap negara-negara yang berada di bawah naungan kekuasaan politiknya. Hal ini terlihat dari beberapa penulis Inggris seperti Kipling dan Conrad yang memang sengaja menanamkan ideologi Eurocentris dalam karya-karyanya untuk mendominasi negara-negara yang berada di bawah kekuasaan negara-negara Eropa pada masa itu.

Loading...