Perkawinan merupakan sunatullah bagi makhluk hidup yang ada di alam dunia ini. Manusia, hewan bahkan tumbuhan melakukan perkawinan. Allah pun telah menjelaskan bahwa ia telah menciptakan makhluk secara berpasang-pasangan. Allah memuliakan manusa dibandingkan dengan makhluk yang lainnya, oleh karena itu terdapat aturan yang jelas dan tidak boleh dilanggar tentang perkawinan manusia. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits nabi yang menjelaskan tentang perkawinan atau pernikahan ini. Misalnya mengenai pengertian pernikahan, tujuan pernikahan dan bagaimana pernikahan itu sah secara hukum Islam. Semuanya telah dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an dan hadits nabi.

Sebelum Islam datang, orang Arab jahiliyah memiliki beberapa adat pernikahan, di antaranya nikah badal atau tukar menukar istri. Seorang laki-laki menawarkan istrinya kepada orang lain dengan syarat istri laki-laki itu untuknya. Juga dikenali nikah istibdha atau nikah untuk mencari bibit unggul dalam melahirkan keturunan, nikah syighar yaitu menikahkan anak perempuannya kepada seorang laki-laki dengan syarat ia dinikahkan dengan anak perempuan calon menantunya tersebut atau dengan perempuan yang ada dalam kekuasaan calon menantunya tersebut. Bahkan ada adat yang membolehkan seorang perempuan menikah dengan beberapa orang laki-laki, dan apabila sang wanita hamil, ia boleh memilih siapa bapak dari anak yang dikandungnya.

Setelah datang Islam, adat pernikahan yang tidak sesuai dengan syariat Islam tersebut dibatalkan karena dalam Islam, pernikahan merupakan ikatan yang sangat suci dan perbuatan yang sangat mulia.  Dengan adanya pernikahan maka akan tercipta ikatan yang kuat di antara dua insan berlainan jenis dan dapat membentengi manusia dari dosa-dosa yang diakibatkan oleh nafsu yang tidak dihalalkan.

Pengertian Pernikahan

Apa sebenarnya pengertian pernikahan? Pernikahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata nikah, artinya ikatan akad perkawinan. Dalam agama Islam, nikah berasal dari bahasa Arab, nakaha-nikaahun, yang berarti menggabungkan atau mengumpulkan. Sedangkan menurut istilah, penikahan adalah suatu akad atau perjanjian yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, saling menolong di antara keduanya dan adanya hak serta kewajiban di antara keduanya.

Dalam Undang-Undang Perkawinan Pasal 1 disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam tentang dasar-dasar perkawinan disebutkan dalam Pasal 2, perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalidzan, untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Berdasarkan pada beberapa pengertian pernikahan tersebut dapat diketahui bahwa pernikahan merupakan suatu akad yang sangat kuat. Dalam pernikahan tidak hanya mengurus masalah biologis semata, yaitu tentang kebolehan dalam berhubungan antara suami dan istri, dalam pernikahan juga diatur tentang tolong-menolong dan hak kewajiban suami istri sehingga ada rasa tanggung jawab dalam pernikahan. Rasa tanggung jawab ini sebagai bentuk dari ketaatan kepada Allah Swt dan rasul-Nya sebagai bentuk ibadah sehingga tercipta kehidupan berumah tangga yang mendatangkan kebaikan untuk dirinya, keturunannya, kerabatnya maupun lingkungan sekitarnya. Dengan demikian pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu, melainkan menyatukan dua keluarga dan melibatkan banyak pihak.

Pernikahan dalam Islam memiliki dasar hukum yang jelas, yaitu terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits nabi. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 3, Allah SWT berfirman yang artinya, “Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagi kamu dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil maka (nikahilah) seorang saja.” Sementara, dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai pemuda-pemuda, barang siapa di antara kamu yang memiliki kesanggupan untuk menikah maka menikahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Selain ayat dan hadits di atas masih banyak ayat dan hadits lainnya yang menjelaskan tentang pernikahan.

Berdasarkan pada dasar-dasar hukum pernikahan, hukum menikah itu berbeda-beda bagi setiap orang. Beberapa ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum asal pernikahan. Ada yang berpendapat bahwa hukum asal pernikahan adalah wajib, namun ada pula ulama yang mengatakan bahwa hukum asal pernikahan adalah mubah. Namun terlepas dari perbedaan itu, hukum nikah dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi setiap orang dan mengacu kepada hukum yang lima (Ahkamul Khamsah), yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.

Seseorang diwajibkan untuk menikah jika ia sudah memiliki kemampuan untuk melaksanakan pernikahan secara lahir dan batin dan ia dikhawatirkan akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah Swt jika tidak segera melaksanakan pernikahan. Jika demikian, wajib baginya untuk melaksanakan pernikahan agar dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah Swt.

Pernikahan sunnah hukumnya bagi seseorang yang memiliki keinginan biologis kepada lawan jenis namun masih bisa menjaga diri dari hal yang dilarang dan ia juga sudah mampu memberi nafkah bagi keluarga. Bagi mereka disunahkan untuk menikah karena ia sudah memiliki kemampuan untuk berumah tangga karena menikah lebih baik daripada hidup membujang.

Sementara, seseorang diharamkan untuk menikah jika ia tahu bahwa dirinya tidak akan mampu melaksanakan kehidupan berumah tangga atau ia memiliki tujuan yang tidak baik dalam pernikahannya, seperti ia menikah dengan niat untuk menyakiti perempuan yang dinikahinya atau memiliki sifat-sifat yang dapat membahayakan pihak lain. Jaiz atau boleh menikah bagi orang yang tidak ada halangan untuk menikah dan belum memiliki dorongan untuk menikah, sedangkan makhruh nikah ditujukan bagi mereka yang tidak mampu memberi nafkah lahir kepada istri dan anak-anaknya atau ia tidak memiliki kesanggupan untuk memberikan nafkah batin kepada istrinya.

Umat Islam yang telah mampu secara lahir dan batin disunahkan untuk menikah karena Islam melarang hidup membujang. Walaupun alasan tidak menikah karena ingin tekun dalam beribadah. Rasulullah Saw dalam sebuah hadits pernah bersabda bahwa tidak ada rahbaniyah (hidup membujang) dalam Islam. Bahkan, Rasulullah Saw tidak suka terhadap orang yang berjanji akan beribadah sepanjang siang dan malam dan tidak akan menikah. Beliau bersabda, “Barang siapa yang membenci sunahku maka ia bukanlah dari golonganku.” Dengan demikian jika seseorang telah memiliki kemampuan secara lahir batin untuk menikah, menikahlah karena dengan menikah berarti telah menyempurnakan setengah dari agamanya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang telah melaksanakan perkawinan, ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk setengahnya lagi.” Maksud dari hadits ini bahwa dengan adanya pernikahan, ia telah membuat benteng sekitar 50% dari dalam dirinya dan 50% lagi ia harus mengupayakannya sendiri dengan bertakwa kepada Allah Swt agar ia benar-benar memperoleh kebahagiaan sejati.

Mereka yang telah menyempurnakan sebagian dari agamanya dengan menikah maka ia telah melaksanakan perjanjian yang sangat kuat dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Jika perjanjian tersebut dilanggar, Allah akan murka dan apabila perjanjian tersebut dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan sunah rasul, ia akan mendapatkan kemulian dari Allah Swt dan akan mendapatkan kasih sayang-Nya sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.