Sudah sering terdengar di telinga kita ihwal seseorang menghibahkan hartanya. Namun, tak semua memahami apa pengertian hibah, hukumnya hingga proses penulisan hibah. Umumnya, orang memahami bahwa pemberian hibah dilakukan atas dasar kasih sayang dan dilatarbelakangi oleh rasa iba atau kasihan untuk pengembangan ekonomi yang diharapkan dari hibah yang diberikan.

Pengertian dan Syarat Hibah

Hibah adalah sedekah yang dilakukan dengan harta atau barang mubah yang dimilikinya. Dari definisi hibah inilah, dipahami bahwa di dalam hibah terdapat dua syarat, yaitu sebagai berikut.

  • Ijab, yaitu jawaban pemberi hibah kepada orang yang meminta sesuatu kepadanya dan memberi dengan kerelaan dirinya.
  • Qabul, yaitu penerimaan orang yang diberi hibah atas sesuatu yang dihibahkan. Misalnya dengan mengatakan, “aku terima apa yang telah engkau hibahkan kepadaku,” sambil berjabat tangan. Di dalam Islam, sudah diatur bahwa seorang muslim menyerahkan suatu pemberian atau melaksanakan hibah kepada seseorang dan orang yang bersangkutan tidak menerimanya sampai pihak yang memberi meninggal, maka barang tersebut menjadi bagian hak ahli waris pemberi. Orang yang diberi tidak lagi mempunyai hak apa pun karena hilangnya syarat, yaitu qabul. Sekiranya pemberian tersebut diambil, dengan cara apa pun, maka sesuatu yang diberikan tersebut sudah ada miliknya.

Hukum Hibah

Hukum hibah sama dengan hukum hadiah, yaitu sunnah. Artinya, dikerjakan dapat pahala dan bila tidak dikerjakan tidak akan mendapatkan dosa. Hibah dikategorikan sunnah karena mengandung kebaikan yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Inilah salah satu ibadah yang dianjurkan berlomba-lomba untuk melakukannnya.

Sesuai dengan apa yang dianjurkan Allah Swt, yaitu:

“Kamu tidak akan sampai pada kebaikan sehingga kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu senangi.…” (QS. Ali Imran: 92)

Firman Allah Swt yang lain juga menyebutkan:

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 2).

Plus ditopang dengan firman Allah Swt lainnya, yaitu:

“… Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya.…” (QS. Al-Baqarah: 177)

Rasulullah saw. bersabda, “Saling memberi hadiahlah kamu, saling mencintailah kamu, dan saling bersalamanlah kamu. Yang demikian itu akan menghilangkan keburukan di sisimu.”

Di dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. juga bersabda, “Orang yang meminta kembali sesuatu yang telah dihibahkannya seperti orang yang memakan muntahnya kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah bin Abu Bakar, isteri Rasulullah juga mengatakan, “Nabi Muhammad Saw menerima hadiah dan beliau membalasnya.”

Hal-hal yang Berhubungan dengan Hibah

Di dalam kitab “Minhajul Muslimin” disebutkan bahwa ada beberapa hal yang berhubungan dengan hibah, yaitu sebagai berikut.

  1. Jika hibah tersebut diberikan kepada salah seorang anak, disunatkan untuk memberikan hal yang sama kepada anak lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Tidak boleh mengambil barang yang sudah dihibahkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Orang yang meminta kembali sesuatu yang telah dihibahkannya seperti orang yang memakan kembali muntahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Perlu menjadi catatan bahwa hibah orangtua kepada anaknya boleh diambilnya kembali, karena anak beserta hartanya adalah miliki orangtuanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Tidaklah halal bagi seseorang yang telah memberikan sesuatu pemberian kemudian memintanya kembali, kecuali orang tua terhadap apa yang diberikannya kepada anak-anaknya.” (HR. Tirmidzi)
  4. Makrum hukumnya memberikan sesuatu dengan harapan mendapatkan balasan karenanya. Seorang muslim dilarang memberikan seseuatu kepada orang lain dengan harapan agar dibalas dengan lebih banyak. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt: “Dan riba (tambahan) yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka riba tersebut tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Rum: 39)
  5. Orang yang diberi hadiah dibolehkan untuk memilih: menerima atau menolaknya. Jika menerimanya, wajib atasnya memberkan balasan yang sama atau yang lebih baik. Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw sebagaimana yang diterangkan Aisyah ra: “Nabi Muhammad Saw menerima hadiah dan beliau membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  6. Ada juga dua hadist Rasulullah Saw yang secara langsung menjelaskan perilakunya tersebut. Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang berbuat kebaikan kepadamu, balaslah dengan yang serupa atau yang lebih baik.” (HR. Ad-Dailami). Sabda Rasulullah Saw. yang lain: “Siapa yang mendapatkan kebaikan dari seseorang, maka hendaklah dia mengatakan, “Semoga Allah memberi pahala kebaikan kepadamu (jazakumullah khairal jaza’). Sungguh (yang demikian itu) telah sampai kepada pujian (penghargaan).” (HR. An-Nasa-i)

Al-Umra’ dan Ar-Ruqba

Di dalam Islam, pemberian kepada orang lain yang mirip seperti hibah ada dua.

1. Al-Umra’

Al-Umra’ adalah hak guna pakai. Contoh kasusnya jika seorang muslim mengatakan kepada saudaranya, “Aku izinkan kamu mengambil manfaat kebunku selama kamu masih hidup.” Hukum al-Umra’ adalah boleh berdasarkan perkataan Jabir ra., “Sesungguhnya al-umra’ yang dibolehkan Rasulullah saw. adalah seperti ucapan seseorang: “Ini menjadi milikmu dan keterunanmu.” Sedangkan bila dikatakan: “Ini menjadi milikmu selama kamu masih hidup,” maka ia harus dikembalikan kepada pemiliknya.” (HR. Muslim)

2. Ar-Ruqba

Ar-Ruqba adalah jika seseorang mengatakan kepada saudaranya, “Jika aku meninggalkan sebelum kamu, maka rumahku menjadi milikmu. Sedangkan jika kamu mati lebih dahulu daripadaku, maka rumahku menjadi milikku.” Atau, jika ada yang mengatakan, “Ini menjadi milikmu sepanjang hidup, sedangkan jika kamu mati lebih dahulu dariku, maka barang itu harus dikembalikan kepadaku.”

Ar-ruqba hukumnya adalah makruh, karena Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kamu melakukan ar-ruqba. Siapa melakukan ar-ruqba mengenai sesuatu, maka dia seperti orang yang mencari jalan untuk mendapatkan warisan.” (HR. Ahmad)

Proses Penulisan Hibah

Di dalam kitab Minhajul Muslim, dijelaskan proses hibah yang sesuai ajaran Islam. Berikut ini contoh penulisan hibah.

Si Ahmad yang telah baligh, dalam kondisi sehat dan berakal, memberikan rumah kepada Ibrahamin yang diketahui kedua belah pihak berdasarkan hukum syara’, Ini suatu hibah yang tidak harus diganti dan tanpa harus dibalas. Hibah ini dilakukan secara sah dengan ijab dan qabul.

Dengan demikian, pihak pemberi dan yang diberi tidak terikat lagi menurut hukum syara’. Penerima hibah tersebut menjadi wajib dan hibahnya menjadi milik serta hak orang yang diberi. Hal ini ditetapkan pada tanggal 29 Oktober 2012.

Namun tetap menjadi catatan, bila hibah yang diberikan kepada anak yang masih kecil, maka penghibah masih menjadi kewajibannya memelihara harta yang dihibahkannya hingga anak tersebut menjadi dewasa. Ini umumnya terjadi pada orangtua yang menghibahkan kepada anaknya yang masih kecil.

Hikmah Hibah

Hibah menurut Islam bertujuan untuk menjalin kerja sama sosial yang baik dan lebih mengakrabkan hubungan persaudaraan sesama manusia. Seseorang yang hendak menghibahkan hartanya perlu memahami hikmah hibah ini sehingga hibah yang diberikannya bukan untuk membanggakan dirinya, tetapi untuk mengakrabkan hubungan persaudaraan.

Semoga bermanfaat!

Loading...