Allah menciptakan manusia dengan segala fasilitas yang bisa dinikmati. Salah satu contohnya, dengan berlimpahnya bahan makanan baik dari jenis tumbuhan ataupun hewan. Meski banyak hewan yang boleh dimakan oleh manusia, tapi ada juga hewan yang dilarang untuk dikonsumsi. Hukumnya haram apabila hewan tersebut dimakan.

Ada kaidah fiqih yang berbunyi: “Al halalu bayyinun wa alharamu bayyinun” yang berarti ‘masalah yang halal sudah jelas, begitu juga dengan yang haram’. Hewan-hewan yang boleh atau tidak boleh dimakan sudah dipilah-pilah dengan jelas dalam Al-Qur’an dan hadits, sehingga bagi orang-orang yang beriman, bersikap hati-hati dalam mengonsumsi makanan yang diambil dari hewan adalah sebuah keharusan. Meneruskan dari kaidah fiqih lainnya bahwa asal semua perkara dihukumi mubah (boleh) kecuali yang dilarang baik yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun hadits nabi.

Kalau begitu, hewan-hewan apa saja yang termasuk dalam kategori halal dimakan dan juga hewan apa yang termasuk dalam kelompok hewan yang haram dimakan? Artikel berikut akan membahas secara singkat dan jelas. 

Hewan yang Halal Dimakan

Yang dimaksud dengan daging hewan halal dimakan adalah daging hewan yang bisa dikonsumsi manusia terutama bagi orang Islam. Secara garis besar, ada beberapa jenis hewan yang halal untuk dimakan, yakni:

  • Binatang ternak.
  • Binatang yang hidup di laut
  • Binatang yang merupakan hasil dari berburu.

Dasar hukumnya adalah firman Allah Swt yang tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 1 yang berbunyi:

“Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.

Selanjutnya di ayat 96 surat yang sama disebutkan:

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.

Dari ayat ini sudah jelas, hewan-hewan yang seperti apakah yang bisa dan halal dimakan oleh manusia. 

Selain berdasarkan dalil Al-Qur’an, kehalalan mengonsumsi binatang tertentu juga bersumber dari beberapa hadits nabi. Paling tidak ada 5 hadits yang menguatkan tentang kehalalan memakan daging dari hewan tertentu itu.

  1. Dari Abu Musa ra yang berkata berkata, “Aku pernah melihat Nabi Saw makan (daging) ayam.” (HR Bukhari dan Tirmizi).
  2. Dari Asma binti Abu Bakar ra yang mengatakan, “Di zaman Rasulullah Sawa, kami pernah menyembelih kuda dan kami memakannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
  3. Abu Qatadah ra pernah bercerita tentang kisah keledai liar dan nabi memakan sebagian dari daging keledai itu. (Muttafaq ‘Alaih).
  4. Sahabat Anas ra pernah menceritakan tentang seekor kelinci, “Ia (Anas RA) menyembelihnya, lalu dikirimkan daging punggungnya kepada Rasulullah Saw, lalu heliau menerimanya.” (Muttafaq ‘Alaih).
  5. Dari lbnu Abi Aufa ra berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah SAW. Tujuh kali perang. Kami memakan belalang.” (Muttafaq ‘Alaih)

Selain dilihat dari jenis binatangnya, halal haramnya binatang yang dikonsumsi manusia juga bergantung dari cara menyembelihnya. Ini berlaku untuk beberapa jenis binatang yang memang harus disembelih dulu sebelum diolah menjadi makanan, kecuali untuk beberapa jenis hewan tertentu yang tidak perlu melalui proses penyembelihan seperti belalang dan ikan.

Binatang yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang benar, meski asalnya halal dimakan, akhirnya menjadi haram dimakan karena termasuk dalam kategori bangkai.  

Dalam proses penyembelihan hewan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti syarat orang yang menyembelih, alat yang digunakan serta tata cara menyembelih. Ketidaktahuan tentang beberapa hal ini bisa jadi akan menyebabkan hewan yang disembelih menjadi haram untuk dimakan. Apa saja yang harus diperhatikan dalam proses penyembelihan?

Pelaku Penyembelihan

Agar hewan yang disembelih tersebut halal dimakan, maka orang yang menyembelih juga harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Muslim.
  • Tidak gila/mabuk, artinya orang tersebut harus berakal sehat.
  • Mumayyiz. Orang tersebut sudah mengerti dan bisa membedakan benar tidaknya suatu perkara.

Hewan yang Disembelih

Selain dari sisi orang yang menyembelih, agar hewan yang disembelih halal untuk dimakan, maka hewan itu sendiri juga harus memenuhi syarat, yakni:

  • Hewan yang akan disembelih masih benar-benar hidup.
  • Hewan yang akan disembelih termasuk dalam kategori hewan yang memang halal untuk dimakan.

Alat yang Digunakan

Dari segi senjata yang digunakan untuk menyembelih, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan, yakni:

  • Alat untuk menyembelih tajam, tidak tumpul.
  • Tidak terbuat dari bahan-bahan tertentu seperti gigi, tulang atau kuku tapi terbuat dari besi, batu, baja, bambu atau dari kaca. Hal ini sesuai dengan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim: “Sesuatu yang dapat mengucurkan darah dan yang disembelih dengan menyebut nama Allah maka makanlah, kecuali dengan menggunakan gigi dan kuku.”

Proses Penyembelihan

Dalam proses penyembelihan, ada beberapa hal yang disunnahkan untuk dikerjakan selama proses menyembelih, antara lain:

  • Menyembelih dengan menghadap ke arah kiblat.
  • Mempercepat proses penyembelihan. Tidak dibuat main-main atau mengulur waktu.
  • Melepas tali pengikat yang membelit hewan tersebut langsung setelah proses penyembelihan selesai.
  • Melakukan proses penyembelihan dengan cara yang baik, tidak lamban dan juga tidak bersikap kasar. Ini merupakan tuntunan langsung dari nabi yang tertuang dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah menetapkan supaya berbuat baik terhadap sesuatu. Apahila kamu memhunuh, bunuhlah dengan baik. Apabila kamu hendak menyembelih, sembelihlah dengan baik, dan hendaklah mempertajam pisaunya serta memberikan kesenangan terhadap binatang yang disembelih.” (HR Muslim)
  • Dalam menyembelih hewan, titik terbaik yang dikenai benda tajam adalah di bagian leher karena ini merupakan tempat urat nadi berada, selain juga tempat untuk makan, minum serta bernafas. Tetapi, ada beberapa kondisi tertentu, yakni kondisi binatang tersebut sulit untuk disembelih di bagian lehernya, mungkin karena sulit ditangkap atau lainnya. Jika hal itu terjadi, diperbolehkan untuk menyembelihnya melalui bagian selain leher yang sekiranya dengan melukai bagian tersebut, hewan itu cepat mati. Pengecualian ini didasarkan pada hadits nabi. Dari Abu Usvra, dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah Saw ditanya: “Apakah tidak ada tempat menyembelih selain di kerongkongan dan di leher” beliau bersabda, “Kalau kamu tusuk pahanya. niscaya memadailah itu.” (HR Tarmidzi).

Hewan yang Haram Dimakan

Ada beberapa kriteria yang menjadi dasar bahwa binatang tersebut haram untuk dimakan. Kriterianya seperti yang ada di bawah ini:

  • Binatang yang haram dimakan karena ketentuan dalam Al-Qur’an serta hadits. Contoh dari binatang yang masuk dalam kelompok ini adalah: babi, keledai (khimar yang jinak), binatang yang memiliki taring atau yang berkuku tajam atau juga memiliki paruh yang kuat seprti pada burung serta binatang yang makanannya sebagian besar adalah kotoran (binatang jalalah). Babi termasuk dalam kelompok binatang yang haram dimakan, sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi: “Diharamkan bagi kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi.” Sedangkan khimar jinak dasar ditetapkannya menjadi hewan yang haram dimakan berasal dari sabda nabi yakni: Dari Jahir bahwa: “Nahi Muhammad Saw telah melarang memakan daging khimar jinak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Berkaitan dengan binatang jalalah ini, nabi bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwasanya, dari Umar RA. Ia berkata: “Rasulullah Saw. melarang memakan binatang jalalah (binatang pemakan kotoran) dan melarang pula meminum susunya.”
  • Hewan yang haram dimakan karena menjijikkan. Binatang yang termasuk dalam kelompok ini adalah belatung, pacet, lintah serta cacing.
  • Hewan yang haram untuk dikonsumsi karena ada perintah untuk membunuhnya, seperti ular, burung gagak, elang, anjing gila serta tikus. Nabi pernah bersabda: “Lima macam binatang yang semua merusak dan hendaklah dibunuh, baik di tanah halal maupun di tanah haram; (yaitu) ular, burung gagak, tikus, anjing gila, dan burung elang.” (HR Muslim)
  • Hewan yang haram dimakan karena dilarang membunuhnya, misalnya lebah madu, semut, burung hud-hud, serta burung suradi.
  • Hewan yang haram dimakan karena prosesnya yang salah meski asal hukum dari hewan tersebut adalah halal. Misalnya binatang itu disembelih tanpa menyebut asma Allah, tertabrak kendaraan, karena diterkam binatang buas, mati terjatuh dan sebagainya. Dasar hukum dari ketentuan ini adalah firman Allah yang termaktub dalam Al Quran Surat Al-Ma’idah ayat 3: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”

Demikianlah penjelasan secara singkat tentang hewan-hewan yang halal atau haram untuk dimakan. Semoga ini bisa menjadi rambu-rambu bagi kita agar tidak ceroboh dan sembarangan mengonsumsi daging hewan tanpa memperhatikan ketentuan-ketentuan yang menyertainya.