Umat Islam di seluruh dunia wajib meyakini hari akhir. Hal tersebut termasuk dalam rukun iman yang kelima dari keenam rukun iman yang harus diyakini. Ketika dunia berakhir segala pencatatan amal baik dan amal buruk seseorang akan dihentikan dan seseorang akan menghadapi sebuah kehidupan kekal yang disebut kehidupan di akhirat. Disebut “kekal” atau dalam kata lain “abadi”, karena hal tersebut termaktub dalam firman Allah Swt. QS. Al-An’am ayat 32 yang berbunyi:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”.

Selain pada ayat tersebut, dijelaskan juga pada QS. Al-Ankabuut ayat 64 yang berbunyi, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Maksud dari kalimat senda gurau belaka ini adalah kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah kita terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.

Berdasarkan kedua ayat tersebut, jelaslah maksud Allah adalah bahwa kita tidak boleh mencintai kehidupan dunia ini sampai melupakan kehidupan akhirat. Artinya, Allah memberi kita kesempatan untuk hidup di dunia agar mengumpulkan bekal dalam hal ini “amal” yang banyak untuk kemudian dinikmati di kehidupan  akhirat kelak. Karena di akhirat nanti Allah akan memberikan balasan yang baik bagi orang yang mematuhi perintahnya. Hal tersebut dinyatakan dalam surat Muhammad ayat 36 yang berbunyi, “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Pada hari akhir atau kiamat kelak, keadaan dunia akan sangat mengguncang. Manusia seisinya akan musnah berkeping-keping bagai anai-anai yang beterbangan tertiup angin. Hal tersebut dinyatakan pula dalam salah satu firman Allah Swt. yang berbunyi,  “Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran.”

Kemudian setelah mati di dunia, pada hari kiamat ini manusia dibangkitkan lagi untuk mempertanggungjawabkan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. “Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 16)

Lalu, manusia dibangkitkan dari alam kubur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya semasa hidupnya di dunia. “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 6)

Dan sebagai muslim yang baik yang memahami makna dari beriman kepada hari akhir, kita pasti akan berusaha menjaga segala perbuatan juga tingkah lakunya selama hidup di dunia, dengan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk dan sia-sia. Kita sebagi umat Islam yang percaya dengan hari akhir, pasti akan mempersiapkan dirinya menghadapi hari itu dengan cara banyak mengumpulkan amal baik selama hidup di dunia.

Dalil Terjadinya Hari Akhir

Bukti adanya hari akhir salah satunya terdapat pada QS. Al-Qaari’ah ayat 1-11. yang berbunyi:

“Hari kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.”

Berdasarkan surat tersebut, kiamat dapat diartikan juga sebagai suatu peristiwa yang teramat dahsyat yang akan terjadi di akhir hidup selama di dunia. Pengertian kiamat ini dibagi menjadi dua, yaitu kiamat sughra dan kiamat kubro. Lalu, apakah pengertian dari keduanya?

1. Kiamat Sughra

Kiamat sughra adalah hari akhir permulaan atau kiamat kecil. Hari akhir ini bukanlah akhir dari keberadaan dunia tetapi akhir dari kehidupan sebuah makhluk yang hidup di dunia, yaitu kematian. Seperti tercantum dalam QS. Al-Ankabuut ayat 57, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”.

Jelaslah semua makhluk yang hidup pasti mengalami kematian. Selain kematian, arti dari kiamat sughra merujuk pada berbagai bencana alam yang sering terjadi selama di dunia, misalnya bencana longsor, banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Bencana-bencana tersebut diterjadikan sebagai peringatan dari Allah Swt bahwa kematian bisa terjadi pada siapa saja tanpa diketahui sebelumnya kapan akan terjadi. Oleh karena itu, sebagai umat muslim, wajib bagi kita untuk selalu siap sedia dipanggil Yang Mahakuasa dengan mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya.

2. Kiamat Kubro

Lain halnya dengan kiamat kubro ini. Kiamat inilah yang memiliki arti hari akhir yang merupakan akhir dari kehidupan di seluruh alam semesta. Alam berserta seisinya akan hancur lebur bersamaan dengan ditiupnya sangkakala oleh malaikat Israfil.

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. (QS. Az-Zumar [39] : 68)

Dan dari sini, peralihan dari alam dunia menuju alam akhirat yang lebih kekal dan abadi. Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa kehidupan di dunia hanyalah “numpang lewat” atau hanya sementara. Alam akhirat adalah alam abadi tempat sebenar-benarnya makhluk ciptaan Allah hidup. Maka dari itu, kita sebagai umat Islam berusaha berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik guna mencapai kenikmatan hidup surganya yang abadi.

Hikmah Iman Kepada Hari Akhir

Jika kita sebagai umat Islam memahami benar makna dari iman kepada hari akhir, hikmah yang bisa didapatkan selama hidupnya antara lain sebagai berikut.

  1. Kita bisa memelihara diri dari hal yang buruk. Kita harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk sehingga saat bertindak dan bertingkah laku kita selalu berhati-hati.
  2. Kita akan lebih sadar diri sehingga tidak terlelap oleh kesenangan dunia yang memang sering kali membuat terlena dengan segala godaan kehidupan yang “hedonis”, sedangkan sebagai muslim yang baik, kita haruslah menyeleraskan kehidupan dunia dengan akhirat, karena akhiratlah kehidupan yang hakiki.
  3. Kita bisa meniadakan sifat-sifat yang buruk dan mengantinya dengan sifat-sifat yang lebih baik. Walaupun pada dasarnya untuk mengubah kebiasaan atau sifat yang buruk itu sangat sulit, tetapi dengan usaha dan keyakinan yang kuat Insya Allah bisa mengubahnya menjadi sifat yang baik dan benar menurut Islam.
  4. Iman kepada hari akhir bisa dijadikan penyemangat untuk selalu beribadah lebih baik. Kita tidak boleh merasa tenang bahwa ibadah atau amal sudah cukup sehingga dapat menghantarkan kita ke surga. Rasulullah pun yang “notabene” sudah dijamin masuk surga, beliau selalu berusaha keras untuk beribadah sebaik-baiknya siang malam tanpa lelah.
  5. Dengan perasaan iman kepada hari akhir ini, membuat kita menjadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan ibadah, menjadi lebih disiplin dalam menjalankan segala perintah Allah Swt. dan berusaha menjauhkan dirinya dari segala hal yang dilarang oleh-Nya.

Selain yang sudah disebutkan di atas, tentu masih banyak hikmah lain yang bisa kita dapatkan dari mengimani hari akhir. Dari sini lah kita menyadari bahwa beriman kepada hari akhir akan memecut kita sebagai umat Islam untuk beribadah lebih baik lagi dari hari ke hari karena Allah Swt akan memberikan balasan kehidupan yang nyaman di akhirat kelak, kehidupan di surga.