Pengertian Haji

Haji adalah salah satu perintah Allah SWT yang tercantum dalam rukun Islam ke lima yaitu menjalankan ibadah haji bagi yang mampu.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

Ibadah haji diartikan sebagai pelaksanaan serangkaian ibadah di tanah suci Mekah Al Mukaromah. Berhaji adalah wajib bagi setiap manusia yang mampu melakukannya. Baik kemampuan secara fisik, psikis, dan tentu saja secara keuangan.

Allah SWT berfirman, yang artinya:

Ibadah haji tidak wajib dilakukan setiap tahun karena dikhawatirkan umat muslim tak akan mampu melakukannya. Tetapi apabila keadaan memungkinkan sungguh baik untuk melakukannya setiap tahun.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, yang artinya:

 

Syarat-syarat Haji

  • Beragama Islam

Haji atau umroh wajib dilakukan oleh mereka yang beragama Islam. Sebab haji atau umroh mereka yang beragama selain Islam atau tidak melaksanakan syahadat adalah tidak sah. Hal ini dipertegas dengan ketentuan dari pemerintah Saudi Arabia yang melarang orang selain Islam untuk masuk ke wilayah kota suci Mekkah dan Madinah. Barangsiapa yang tidak beragama Islam tidak disyaratkan untuk berhaji.

  • Telah Baligh atau Dewasa

Syarat wajib haji adalah telah memasuki masa akhil baliq. Meskipun haji anak-anak tetap diterima dan mendapatkan pahala namun syarat wajib haji adalah seseorang yang telah dewasa. Ketika seseorang belum dewasa, pendampingan dari orangtua saat melakukan ibadah haji sangat diperlukan.
Rasulullah Muhammad SAW  bersabda, yang artinya:

Meskipun sudah melaksanakan haji saat anak-anak, hal tersebut tidak berarti ia tidak wajib haji ketika dewasa. 

Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya:

  • Berakal Sehat

Umat muslim yang wajib melaksanakan ibadah haji adalah umat muslim yang memiliki akal sehat. Umat muslim yang akalnya terganggu baik karena gila, down syndrome, maupun amnesia telah gugur kewajibannya untuk berhaji atau berumroh. Dengan memiliki akal sehat, ibadah haji dan umroh yang merupakan ibadah menyeluruh antara ibadah fisik, mental, dan harta menjadi bisa terlaksana dengan baik.

  • Merdeka (Bukan Seorang Budak)

Kewajiban melaksanakan ibadah haji dan umroh tidak dikenakan pada budak atau umat muslim yang belum merdeka. Meskipun demikian budak yang telah menjalankan ibadah haji tetap mendapatkan pahala sebagaimana haji anak-anak. Hanya memang nantinya ketika si budak telah merdeka, wajib baginya untuk berhaji kembali. Saat ini memang sudah tidak ada perbudakan, karena pembantu bukanlah budak mereka adalah orang yang merdeka.

  • Istita’a atau Mampu

Syarat haji berikutnya adalah memiliki kemampuan. Seseorang yang tidak mampu tidak diwajibkan untuk berhaji. Sedangkan kemampuan sendiri terdiri atas beberapa hal yaitu:

a. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani. Dalam hal ini apabila seseorang telah sangat tua dan sangat lemah namun ingin berhaji, hajinya bisa diwakilkan atau istilahnya dihajikan oleh ahli waris/anaknya. Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya:

b. Memiliki cukup biaya bagi dirinya dan keluarga yang ditinggalkannya selama masa berhaji. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Cukuplah seseorang (dianggap) berdosa dengan menelantarkan orang yang berada dalam tanggungannya.” (HR Abu Dawud dan Al-Irwa’).

c. Situasi dan kondisi yang memungkinkan, di antaranya adalah faktor keamanan perjalanan dan keadaan di tanah air serta di tanah suci.

  • Bagi Perempuan, Harus Disertai Muhrimnya

Seorang perempuan yang ingin berhaji harus disertai oleh muhrimnya. Pada madhzab Hambali dan Hanafi, muhrim diartikan sebagai muhrim yang sebenarnya. Jadi seorang perempuan yang berhaji harus ditemani oleh suaminya, ayahnya, atau anaknya. Sedangkan bagi madhzab Syafi’i  dan Maliki, berhaji boleh dilakukan oleh seorang perempuan yang telah memperoleh izin dari suaminya dan memiliki seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaganya.

Ada sebuah kisah tentang haji seorang perempuan di zaman Rasulullah Muhammad SAW:

Rukun Haji

  • Ihram

Ihram adalah niat untuk masuk atau mengerjakan ibadah haji maupun umroh dengan menghindari hal-hal yang dilarang dalam berihram. Hal yang dilakukan dalam berikhram  yaitu memakai pakaian ihram.

Pakaian ihram bagi laki-laki dan perempuan memiliki beberapa perbedaan. Bagi laki-laki pakaian ihram terdiri atas dua lembar kain, satu lembar kain dipergunakan sebagai sarung dan satu lembar kain lagi sebagai selendang dengan digeraikan di bahu. Sedangkan bagi perempuan, pakaian ihram merupakan pakaian biasa yang menutupi seluruh badan tetapi terbuka bagian muka dan kedua telapak tangannya. Telapak tangan yang terbuka dari pergelangan sampai ke ujung jari.

Sedangkan hal-hal yang dilarang ketika berihram adalah:

  1. Menutup kepala dan mengenakan pakaian berjahit untuk laki-laki.
  2. Menutup mata kaki dan tumit bagi laki-laki.
  3. Menutup muka atau masker bagi perempuan.
  4. Mengenakan kaos tangan sehingga menutup telapak bagi perempuan.
  5. Memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum berniat umroh atau haji.
  6. Memotong kuku, mencabut rambut, dan bulu badan lainnya.
  7. Membunuh dan menganiaya binatang dengan cara apapun kecuali yang membahayakan. Tetapi membunuh binatang untuk dimakan diperbolehkan.
  8. Menikah, dinikahi, menikahkan atau meminang perempuan untuk dinikahi.
  9. Mendekati dan melakukan hubungan suami-istri.
  10. Mencaci maki, bertengkar, atau mengucapkan kata-kata kotor.
  • Wukuf

Wukuf yaitu berdiam diri, dzikir dan berdo'a di wilayah Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

  • Tawaf Ifadah

Tawaf ifadah yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.

  • Sa'i

Sa'i yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali. Sa’i dilakukan sesudah tawaf ifadah.

  • Tahallul

Tahallul yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan sa'i.

  • Tertib

Tertib yaitu mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal.
Ibadah haji merupakan salah satu rukun imam, artinya, wajib bagi umat Islam untuk menunaikannya. Namun, Allah SWT Maha Baik, Dia hanya mewajibkan haji bagi umat-Nya yang mampu. Baik mampu fisik, maupun keuangan. Semoga suatu saat kita semua bisa menjadi tamu-Nya, di tanah suci, Mekkah.