Pengertian Hadis Mauquf

Mauquf menurut bahasa berarti ‘barang yang dihentikan, atau barang yang diwaqafkan’. Sedang menurut pengertian ahli hadits adalah:

“Yang disandarkan kepada sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan atau semacam itu, baik sanadnya itu bersambung-sambung ataupun sanadnya itu terputus-putus.”

Hadits mauquf tidak dapat dipakai hujjah, kecuali kalau ucapan-ucapan itu dihukumi marfu’ dengan syarat-syarat yang sudah dijelaskan di atas. Atau kalau tabi’i yang meriwayatkan perkataan/perbuatan sahabat itu dibangsakan kepada nabi.

Contoh hadits mauquf adalah perkataan Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

“Sabar dibandingkan dengan iman adalah seperti kepala dengan tubuh, tidak ada tubuh bila tidak ada kepala maka demikian pula tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai kesabaran.”

Perkataan tersebut adalah perkataan Sayidina Ali, ia tidak menghubungkannya kepada Nabi SAW dan tidak ada tanda-tanda bahwa perkataan itu datangnya dari nabi. Jadi hanya merupakan hasil ijtihad dari Sayyidina ali. Demikian pula khutbah Abu Bakar tatkala dibai’at menjadi khalifah.

Jadi antara ucapan sahabat dan hadits marfu’ hukmi memerlukan penyelidikan.

Misalnya matan sebagai berikut:

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa matan tersebut dapat dihukumi marfu’ (marfu’ hukman). Tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan bukan hadits nabi. Imam Al Laknawi menyatakan hadits itu mauquf hingga Ibnu Mas’ud.

Imam Ali berkata: “Saya tak pernah mendapatkan hadits itu marfu’ kepada Nabi SAW di dalam kitab- kitab yang mu’tabar, dan tidak pula dengan sanad yang dhaif. Sudah lama saya periksa dan banyak saya selidiki, nyatalah hadits itu bukan hadits nabi tetapi mauquf hingga sahabat Ibnu Mas’ud r.a.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Pengertian Hadis Mauquf

Di dalam disiplin ilmu hadits, hadits mauquf dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Hadits Mauquf Qauli

Contoh hadits mauquf qauli seperti,

“Ibnu Umar r.a. berkata begini, atau Ibnu Mas’ud berkata begitu.”

  • Hadits Mauquf Fi’i

Contoh hadits mauquf fi’li seperti,

 

Hukum Hadis Mauquf

Apabila suatu hadis mauquf berstatus hukum marfu’ dan berkualitas shahih atau hasan, maka hukumnya adalah sama dengan hadis marfu’ shahih dan hasan, yaitu dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam penetapan hukum.

Akan tetapi, jika perkataan atau perbuatan sahabat tersebut berstatus marfu’, maka para ulama berbeda pendapat tentang kehujjahannya. Jika perkataan atau fatwa sahabat tersebut didukung dan diterima oleh para sahabat lainnya (tidak ada yang tidak setuju), pendapat tersebut dapat dipakai kehujjahannya.

Jika ada pendapat seorang sahabat, lalu ada juga sahabat yang lain tidak setuju dengan pendapat tersebut, para ulama berbeda pendapat dan terbagi kepada kelompok:

Kelompok pertama, menyatakan bahwa pendapat sahabat tersebut dapat dijadikan dalil hukum. Bahkan pendapat sahabat tersebut lebih didahulukan dari qiyas, baik pendapat tersebut senada dengan qiyas atau tidak. Para ulama yang berada di kelompok pertama ini adalah, Imam Malik dan sebagian ulama Hanafiyah.

Dalil yang menjadi penguat pendapat pertama adalah sabda Rasulullah SAW,

“Sahabatku adalah seperti bintang, siapa saja yang kamu ikuti di antara mereka, kamu akan memperoleh petunjuk).”

Kelompok kedua,  Mereka berpendapat bahwa pendapat seorang sahabat Rasulullah SAW tidak dapat dijadikan sumber hukum atau dalil hukum. Yang berada di kelompok ini adalah, ulama Hanafiyah, Abu Al-Hasan al-Karkhi, para ulama Asy’ariyyah dan Muktazilah.

Yang menjadi dasar mereka berpendapat demikian adalah, firman Allah SWT pada surat 59 ayat 2, “Ambillah pelajaran, Wahai orang-orang yang melihat.” Artinya, bahwa siapa saja boleh berijtihad, tidak mesti mengikut sahabat. Bagi kelompok ini, yang menjadi sumber hukum adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Kelompok ketiga, mereka berpendapat bahwa fatwa sahabat adalah hukum dan dalil yang mengikat, apabila fatwa tersebut tidak sejalan dengan qiyas. Yang berpegang dengan kelompok ketiga ini adalah, Abu Hanifah. Ia berpendapat bahwa fatwa sahabat mesti didahulukan dari qiyas.