Hadits ahad adalah hadits yang tidak terkumpul padanya syarat-syarat mutawatir. Dengan kata kain, semua hadits yang jumlah perawi tidak mencapai jumlah perawi hadits mutawatir disebut hadits Ahad. Baik perawi itu seorang, dua orang, tiga orang, empat, lima dan seterusnya yang tidak memberikan pengertian dengan jumlah tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir, baik bilangan-bilangan tersebut terdapat pada semua generasi atau thabaqatnya maupun dari sebagian thabaqatnya saja.

Pembagian Hadits Ahad

Hadits Ahad itu dapat dibagi menjadi dua, yakni:

1.    Hadits masyhur
2.    Hadits ghairu masyhur yang meliputi hadits ‘aziz dan hadits gharib/ hadits fard.

1. Hadits Mahsyur

Hadits masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir.

Hadits masyhur juga dapat disebut dengan hadits mustafidl. Sebagian ulama’ memberikan pengertian hadits mustafidl yakni dari awal sampai akhir sanad diriwayatkan oleh orang yang jumlahnya tidak kurang dari tiga orang perawi. Sedangkan, hadits masyhur lebih bersifat umum dari itu, artinya meski sebagian dari thabaqat jumlah perawi yang meriwayatkan kurang dari tiga orang, thabaqat tersebut masih dapat disebut hadits masyhur. Sebagian ulama’ lagi memberikan pengertian hadits mustafidh sebagai muradif (sinonim) dari hadits mutawatir.

Hadits masyhur tentu saja ada yang bernilai shahih, hasan dan ada pula yang bernilai dlaif, karena nilai dari suatu hadits tidak hanya didasarkan oleh jumlah perawi yang meriwayatkan.

Hadits masyhur yang bernilai shahih contohnya adalah hadits:

Sementara itu,  contoh hadist masyhur yang bernilai dlaif  ialah:

Dari Anas r.a. berkata: telah bersabda Rasulullah SAW:
Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.” (HR. Ibnu Majah Ahmad, Albaihaqy dan selain dari kedua beliau tersebut, menganggap hadits itu dlaif).

2. Hadits ‘Aziz

Menurut bahasa, ‘aziz adalah sama dengan asy syarif atau al qawiyyu yang sama dengan artinya adalah ‘yang mulia atau yang kuat.’ Sedang menurut pengertian, hadits ‘aziz dalam disiplin ilmu hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang dari dua orang.

Menurut Ibnu Hibban, hadits ‘aziz sebagaimana definisi tersebut di atas tidak ada wujudnya sama sekali. Oleh karena itu Ibnu Hajar memberikan pengertian hadits ‘aziz dengan mengatakan:

Hadits ‘aziz yaitu hadits yang tidak diriwayatkan oleh orang yang jumlahnya kurang dari dua orang dari dua orang."

Dengan defenisi tersebut di atas berarti bahwa di antara thabaqat dapat lebih dari dua orang misalnya tiga orang.

Umumnya contoh dari hadits ‘aziz ialah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas dari Nabi SAW, sebagai berikut:


 

“Telah menceriterakan kepada kami Ya’kub bin Ibrahim, ia berkata telah menceriterakan kepada kami Ibnu ‘Ulaiyyah dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari Anas r.a. dari Nabi SAW dan telah menceriterakan kepada kami Adam, ia berkata: telah menceriterakan kepada kami Syu’bah dari Qotadah dari Anas ia berkata: telah berkata Nabi SAW: “Tidak aman seseorang dari kamu, hingga aku (Rasul) lebih dicintai olehnya daripada dirinya, ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari).

Hadits tersebut di atas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui sanad yang hampir sama yang ‘Abdul ‘Aziz memberitakan kepada ‘Abdul Warits.

3. Hadits Gharib

Menurut bahasa, gharib berarti: yang jauh dari tanah air atau yang sukar dipahami. Sedangkan Ibnu Hajar menjelaskan pengertian hadits gharib dalam kitab Nukhbatul Fikr adalah hadits yang sendirian saja seorang perawi meriwayatkan dan kesendiriannya itu terletak di mana saja dalam sanad.

Hadits gharib dapat pula disebut hadits fard, kebanyakan ulama’ hadits mengatakan:

“Gharib dan fard adalah keduanya muradif baik dari segi bahasa maupun dari segi istilah.”

Hadits gharib atau fard terbagi menjadi dua macam yakni:

  • Gharib Mutlaq atau Fard Mutlaq

Apabila keghariban itu terletak pada asal sanad (asal sanad adalah tabi’i), gharib tersebut disebut gharib mutlaq atau fard mutlak, walaupun setelah tabi’I itu banyak yang meriwayatkannya. Contoh hadits yang termasuk hadits gharib mutlaq yakni hadits  yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, yang berbunyi:

“Kerabat dengan jalan perbudakan sama dengan kerabat dengan jalan keturunan, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan.”

Hadits tersebut diterima dari Nabi SAW oleh Ibnu Umar r.a tetapi yang menerima dari sahabat Ibnu Umar ternyata hanya Abdullah Ibnu Dinar, dan Ibnu Dinar tersebut adalah seorang tabi’i.

  • Gharib Nisbi/Fard Nisbi

Jika keghariban terjadi di tengah sanad, yakni sesudah tabi’in, disebut gharib nisby atau fard nisby. Seperti beberapa sahabat meriwayatkan hadits tertentu dan diterima oleh beberapa tabi’in. Namun setelah tabi’in tersebut, seorang perawi saja yang meriwayatkannya. Kebanyakan ulama’ menamakan hadits fard nisby dengan hadits gharib, dan hadits fard mutlaq dengan nama hadits fard. Sedang mengenai fiilnya sama saja artinya:

sama artinya dengan:

Hadits fard nisby ini ada yang hanya dinisbatkan oleh seorang yang tsiqqah (terpercaya) seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi:

 

Hadits ini hanya Dhomroh bin Sa’id yang menerima dari ‘Ubaidillah.

Dan ada pula hadits yang hanya diriwayatkan oleh golongan penduduk tertentu, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Mengenai hadits di atas, Imam Al-hakim berkata bahwa hadits ini gharib, hanya penduduk Mesir yang meriwayatkan dan tidak ada seorang pun selain penduduk Mesir yang meriwayatkannya.

Untuk mengetahui gharib tidaknya suatu hadits, maka ahli hadits harus mengumpulkan berbagai macam sanad kemudian menelitinya. Karena, mungkin hadits yang tampaknya gharib, ternyata mempunyai tabi’ (atau mutabi’) atau kadang- kadang mempunyai syahid. Pengumpulan berbagai macam sanad dan mengadakan penelitian terhadap hadits-hadits yang tampaknya gharib ini disebut I’tibar.

Yang dimaksud dengan tabi’ (mutabi’) ialah perawi yang menyetujui riwayat tersebut, yakni perawi lain yang sama-sama meriwayatkan hadits lain yang diriwayatkan oleh sahabat lain tetapi hadits-hadits itu mempunyai makna yang sama. Untuk jelasnya dalam membedakan antara tabi’ dan syahid, Kitab Nuzhatun Nadlor halaman 22 dan 23 memberikan contoh hadits-hadits tersebut sebagai berikut. Hadits-hadits ini adalah dalam masalah menentukan awal dan akhir bulan ramadhan.

Hadits pertama (I) matannya berbunyi:

“Bulan itu adalah 29 hari. Karena itu janganlah kamu berpuasa sebelum melihat bulan (hilal) dan janganlah kamu berbuka sebelum kamu melihatnya, jika keadaan mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan 30 hari.”

Hadits tersebut pada mulanya disangka bahwa hanya Imam Syafi’i yang meriwayatkannya dari Imam Malik, tetapi ternyata teman-teman Malik/Ash –habul Malik juga meriwayatkannya dengan lafadh:

Hadits kedua (II):

“Maka  jika keadaan mendung maka kira-kirakanlah baginya.”

Dan ternyata pula bahwa hadits tersebut juga mempunyai tabi’ yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang lain dengan kalimat:

Hadits ketiga (III):

“Maka sempurnakanlah olehmu tiga puluh hari.”

Dalam shahih Muslim kalimatnya sebagai berikut:

Hadits keempat (IV):

“Maka taqdirkanlah (kira-kirakanlah) olehmu tiga puluh (hari).”

Hadits I/ IV tersebut semuanya dari sahabat Abdullah bin Umar.

Dan ternyata pula didapatkan hadits yang semakna dengan hadits-hadits tersebut melalui, selain dari Abdullah bin Umar, sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan kalimat berikut:

 


 

“Maka apabila keadaan mendung atas kamu, sempurnakanlah bilangan Sya’ban 30 hari.”

Hadits dari sahabat Abu Hurairah inilah yang merupakan syahid dari hadits-hadits dari Abdullah bin Umar di atas. Sanad dari hadits Abdullah bin Umar tersebut dan letak pertemuan sanad pada perawi yang sama-sama meriwayatkan hadits itu.

Dari sanad Hadits kedua, Abdullah bin Maslamah Al Qa’naby adalah tabi’ taam dari Imam Asy Syafii (E) karena sama-sama bertemu pada Imam Malik (Guru Imam Syafii). Sedangkan ‘Ashim bin Muhammad  dan ‘Ubaidillah bin Umar  adalah tabi’ qashir dari Imam Asy Syafii, karena pertemuan sanad pada sahabat, yaitu Abdullah bin Umar.

Pertemuan sanad pada Abdullah bin Dinar, disebut Tabi’ qashir dari Imam Syafii. Sedang hadits yang kelima, merupakan syahid terhadap hadits I, II, III atau keempat, karena tidak ada pertemuan dalam sanad, baik pada guru atau gurunya guru dan seterusnya ke atas, akan tetapi hadits nomor V tersebut mempunyai persamaan maksud dengan hadits yang lainnya.