Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari Kerajaan Gowa dan Tallo berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Kerajaan Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia bagian Timur maupun yang berasal dari Indonesia bagian Barat. Karena memiliki posisi yang sangat strategis yaitu berada di jalur pelayaran (Perdagangan Nusantara).
Wilayah Kerajaan Gowa dan Tallo sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan daerah sekitarnya yang menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dimekarkan menjadi Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya. Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Rebandang dari Sumatera. Pada abad 17, agama Islam berkembang begitu pesat di Sulawesi Selatan.

Kerajaan Gowa dan Tallo kemudian bersatu, Raja Gowa yaitu Daeng Manrabia menjadi raja dengan gelar Sultan Alauddin berkuasa mulai 1593 dan wafat pada 15 Juni 1639. Beliau merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Wilayahnya meliputi sebagian besar Sulawesi dan bagian timur Nusa Tenggara. Sultan Alaudin sangat menentang politik dagang kompeni Belanda yang memonopoli karena kebenciannya itulah, Sultan Alaudin membantu rakyat setempat menentang Belanda, berulang kali melakukan penyerbuan ke Maluku.

Sementara itu, Raja Tallo, yaitu Karaeng Mantoaya sebagai Perdana Menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar. Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama dalam memasuki wilayah Indonesia Timur yang kaya  akan rempah-rempahnya. Kerajaan Makassar atau Kerajaan Gowa dan Tallo memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah Bugis. Para pelaut-pelaut inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Kerajaan Gowa dan Tallo atau disebut juga Kerajaan Makassar.

Setelah Sultan Alaudin meninggal dunia, tahta Kerajaan Gowa dan Tallo diteruskan oleh Sultan Hasanuddin (1654 – 1660). Usaha ayahnya yang menentang politik dagang kompeni Belanda yang memonopoli dilanjutkannya oleh Sultan Hasanuddin. Bahkan, kegigihannya sangat merepotkan Belanda. Oleh karena itu, Sultan Hasanuddin dikenal dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”. Sultan Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan Makassar sampai juga ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan.

Karena merupakan bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur, Sultan Hasanuddin bercita-cita menjadikan Makassar sebagai pusat kegiatan perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini merupakan ancaman bagi Belanda sehingga sering terjadi pertempuran dan perampokan terhadap armada Belanda. Belanda kemudian menyerang Makassar dengan bantuan Aru Palaka, Raja Bone. Bone merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Makassar. Kerajaan Bone dipimpin oleh Aru Palakka (Arung Palakka) menawarkan kerja sama untuk membantu Belanda dalam menghadapi perlawanan Sultan Hasanuddin. Pada 1666, Belanda berusaha mati-matian menduduki Makassar melalui pertempuran sengit di darat dan di laut. Hingga akhirnya, pada 1667, Belanda dapat menghancurkan Makassar. Perlawanan Sultan Hasanuddin berakhir dan Belanda berhasil memaksa Sultan Hasanuddin, Si Ayam Jantan dari Timur itu menyepakati Perjanjian Bongaya pada 1667.

Isi Perjanjian Bongaya ialah Belanda mendapat monopoli dagang di wilayah Makassar, Belanda boleh mendirikan benteng di Makassar, Makassar harus melepaskan daerah-daerah kekuasaannya, dan Aru Palaka harus diakui sebagai Raja Bone. Akhirnya, Sultan Hasanuddin pun turun tahta.

Rakyat Makassar sangat marah dengan keputusan Perjanjian Bongaya. Walaupun perjanjian telah diadakan, tapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap dilakukan. Perlawanan rakyat Makassar makin berkobar dan berlangsung hampir dua tahun. Banyak pejuang Makassar pergi ke wilayah lainnya, seperti Banten, Madura, dan sebagainya untuk membantu wilayah-wilayah yang bersangkutan dalam upaya mengusir Belanda.

Pejuang tersebut di antaranya Karaeng Galesung, Monte Marano yang membantu perjuangan rakyat di Jawa Timur. Sementara itu, Aru Palaka semakin bebas dan leluasa untuk menguasai daerah Soppeng dengan pengawasan dan pantauan dari VOC. Setelah perjuangan rakyat Makassar benar-benar padam, Makassar pun jatuh ke tangan penjajah Belanda secara keseluruhan.
Sebutan Makasar yang terkenal sebagai pusat perdagangan bebas, hilang begitu saja. Sultan Hasanuddin digantikan oleh anaknya yaitu Mapasomba. Belanda berharap Mapasomba dapat bekerja sama, namun sebaliknya Mapasomb tetap meneruskan perjuangan ayahnya. Namun, Mapasomba tidak berkuasa lama karena Makassar kemudian dikuasai Belanda, bahkan seluruh Sulawesi Selatan.

Kehidupan Ekonomi Masyarakat Gowa Dan Tallo

Kerajaan Gowa dan Tallo atau disebut juga Kerajaan Makasar merupakan kerajaan maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Faktor yang menjadikan Makasar menjadi kerajaan Islam yang berkembang dengan pesat adalah letaknya yang begitu strategis di jalur perdagangan internasional, memiliki pelabuhan yang baik. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 menyebabkan banyak pedagang-pedagang akhirnya pindah ke Indonesia bagian Timur.

Sebagai pusat perdagangan, wilayah Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti Inggris, Portugis, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makasar. Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue, sebuah tata hukum niaga dan perniagaan dan sebuah naskah lontar yang ditulis oleh Amanna Gappa.

Dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan. Daerah-daerah taklukkannya di tenggara seperti Selayar dan Buton serta di selatan seperti Lombok, Sumbawa, dan Flores juga merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Semua itu membuat Makasar mampu memenuhi semua kebutuhannya bahkan mampu mengekspor.

Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Gowa dan Tallo

Sebagai negara Maritim, sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Untuk meningkatkan taraf kehidupannya atau perekonomian yang lebih baik, Masyarakat Makasar giat berusaha bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya. Sejak Kerajaan Gowa dan Tallo sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan dengan Ternate yang sudah menerima Islam dari Gresik. Raja Ternate, yakni Baabullah mengajak raja Gowa dan Tallo untuk masuk Islam, tapi gagal.

Baru pada masa Raja Datu Ri Bandang datang ke Kerajaan Gowa dan Tallo agama Islam mulai masuk ke kerajaan ini. Setahun kemudian hampir seluruh penduduk Gowa dan Tallo memeluk Islam. Mubaligh yang berjasa menyebarkan agama Islam adalah Abdul Qodir Khotib Tunggal yang berasal dari Minangkabau. Raja Gowa dan Tallo sangat besar perannya dalam menyebarkan Islam sehingga bukan rakyat saja yang memeluk Islam tapi kerajaan-kerajaan disekitarnya juga menerima Islam, seperti Luwu, Wajo, Soppeg, dan Bone. Wajo menerima Islam pada 1610 M. Raja Bone pertama yang menerima Islam bergelar Sultan Adam.

Walaupun masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut Pangadakkang. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.

Selain norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba sahaya disebut dengan golongan “Ata”. Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.