Melalui satelit, maka muka bumi akan terlihat lebih eksotis lagi dan apat terlihat dengan diselimuti oleh biru bercampur kehijauan. Bumi mempunyai bentuk bulat dari kejauhan, namun memiliki bentuk yang tak beraturan. Bentuk permukaan bumi yang dilihat dengan lebih dekat lagi akan terlihat tak beraturan yang menonjol. Itulah yang disebut dengan relief. Tentu saja hal ini dipengaruhi oleh tinggi rendahnya permukaan bumi dan faktor tenaga yang dihasilkan oleh tekanan bumi tersebut.

Tenaga yang Menyebabkan Permukaan Bumi Terlihat Memiliki Relief

Berikut beberapa tenaga yang menyebabkan permukaan bumi terlihat memiliki relief.

a. Faktor Endogen

Dari nama endogen inilah sudah diketahui, kekuatan ini bersumber dari dalam. Faktor tenaga endogen bersifat membangun/mengangkat tenaga dari dalam ke permukaan bumi. Misalnya, terjadinya gempa vulkanis, tektonis, maupun vulkano tektonis. Pernahkah bertanya mengapa tektonis disebut tenaga endogen yang membangun? Padahal di dalam kehidupan masyarakat kita dianggap bencana alam. Maksud dari kata membangun ini karena mampu merubah muka bumi, dari bentuk sebelumnya. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa karena hal ini disebabkan oleh adanya desakan dari dalam bumi.

Tektonis ialah tenaga dari dalam bumi yang menyebabkan pergerakan bebatuan, baik vertikal maupun horizontal. Tektonis terjadi karena adanya desakan aliran konveksi yang tak terlihat dari dalam bumi. Aliran konveksi inilah yang menyebabkan lempeng kulit bumi mengalami perpecahan. Pecahan inilah yang akan menabrak dengan lempengan lain dan ada pula lempengan yang saling menjauhi jalur retakan, yang disebut dengan patahan.

Patahan merupakan fenomena umum pada batuan. Patahan yang normal memerlukan proses lipatan yang monoklinal yang terdiri atas graben dan bentuk host. Perlu diingat bahwa batuan memiliki massa yang berbeda, ada yang memiliki massa padat dan homogen. Seperti yang kita lihat komposisi bumi kita tidak terdiri dari tanah semata, tetapi terdiri bebatuan yang bermacam-macam. Kekuatan batuannya pun juga ada yang kuat dan ada yang mudah patah. Pergerakan lempeng yang menohok pada lapisan bebatuan tertentu inilah yang menyebabkan terjadinya tsunami, gempa bumi, tanah anjlok dari permukaan, bahkan dapat membentuk gunung-gunung.

Ingatkah dengan peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 silam? Gempa bumi yang disertai oleh gelombang pasang yang sangat besar. Mengapa air laut bisa tinggi? Saat terjadi tektonis di dasar laut, lempengan yang terpecah tersebut akan bertabrakan dan ada pula lempengan yang menjauh. Dampaknya perpecahan lempeng tersebut akan membentuk retakan di dasar, sehingga air laut yang masuk ke dalam retakan. Pada akhirnya lempengan itu bergerak lagi – retakan tersebut membentuk ke bentuk semula efek dari gesekan itu – air laut pun yang masuk dari dalam akan bergerak dan mengakibatkan terjadinya gelombang pasang.

Gambar 1 : Penyebab terjadinya tsunami karena adannya patahan.

Vulkanis merupakan bentuk gejala awal yang ditimbulkan oleh aktivitas tingkat gunung api. Tektonis dapat menyebabkan munculnya aliran terhadap gunung api. Kita mencoba menilik ke belakang. Susunan bumi kita berada di bawah tanah ada bebatuan dan unsur-unsur lainnya, hingga di tengah-tengah bumi kita terdiri dari magma yang sangat panas. Ketika di dasar terjadi patahan yang dasyat akan menyebabkan lipatan pada bebatuan. Ketika patahan itu berbentuk vertikal maka permukaan tanah lebih tinggi (membentuk gunung).

Getaran seisme bersumber pada getaran gempa bumi. Getaran seisme akan memicu perubahan bentuk pada permukaan bumi dari bentuk asalnya. Misalnya, dari bentuk dataran menjadi bentuk berbukit atau sebaliknya. Terbagi menjadi beberapa jenis gempa bumi, yaitu gempa bumi guguran (runtuhan), gempa bumi vulcanik, dan gempa bumi tektonik.

Gempa bumi identik dengan getaran dan terdapat tiga getaran/gelombang, yaitu gelombang primer (longitudinal), gelombang sekunder (transversal), dan gelombang panjang atau gelombang transversal. Gelombang primer memerlukan kecepatan rambat sekitar 7-14 km/detik. Kecepatan rambat yang hampir sama dengan gelombang longitudinal memerlukan kecepatan kurang dari 4-7km/detik dan itu disebut dengan gelombang transversal. Sementara itu, gelombang panjang merambat dipermukaan bumi dengan kecepatan 3-4 km/detik.

Gelombang gempa bumi dari ketiga di atas masih dipengaruhi oleh dalam atau dangkalnya hiposentrum. Dikatakan gempa bumi dalam apabila hiposentrum berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. Hiposentrum dengan kedalaman antara 100-300 km di atas permukaan bumi disebut gempa sedang (intermedier). Sementara itu, dikatakan gempa dangkal apabila hiposentrumya terletak kurang dari 100 km di atas permukaan bumi.

Belajar dari kasus tragedi gempa bumi pada 27 Mei 2006 di Yogyakarta yang telah menewaskan ribuan orang. Tidak hanya orang yang meninggal, tetapi terjadi perubahan tanah. Tepatnya di desa Sengir banyak rumah-rumah warga yang anjlok hingga beberapa meter, hanya terlihat atap gentingnya saja saat itu. Hal ini menunjukkan adannya petahan lempeng ke bawah, sehingga merubah tekstur bentuk fisik tanah. Coba perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 2 : Salah satu dataran yang terjadi di desa Sengir saat terjadi gempa bumi 27 Mei 2006.

Bencana gempa pada 27 Mei 2006 tersebut menyebabkan banyak kehancuran. Kini, Desa Sengir mendapat bantuan rumah. Bantuan tersebut merupakan bantuan yang sangat berarti dari pemerintah. Kini masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat wisata.

b. Faktor Eksogen

Kebalikan dari tenaga endogen ialah tenaga eksogen, tenaga ini merupakan tenaga yang bersumber dari luar bumi yang sifatnya lebih mengarah pada kerusakan permukaan bumi seperti adanya glatser, cuaca, dan air yang mengalir. Angin merupakan tenaga eksogen karena angin dapat memiliki kekuatan deflasi dan korosi. Dikatakan deflasi karena terjadinya proses pengangkutan material satu tempat ke tempat yang lain. Pernahkah ke pantai Parangtritis di Yogyakarta? Sekilas gunung pasir ini memang mengantarkan kita ke tempat padang pasir yang ada di Mesir. Gunung pasir saat ini semakin sedikit dan itu tidak sebanyak 20 tahun yang lalu. Berkurangnya pasir-pasir tersebut dampak bukti adanya deflasi. Sementara itu, ada korosi yang disebabkan karena terjadinya gesekan dan benturan material, lagi-lagi angin yang menyebabkan benturan dan gesekan itu.

Cuaca dan air yang saling bersinergi secara tidak proporsional juga akan menyebabkan terjadinya tenaga eksogen. Salah satu contoh angin yang besar akan memengaruhi bergerak mengikuti angin. Terjadinya ombak karena adannya gerakan pada air. Tentu saja semakin kuat angin berembus, menandakan semakin besar gelombang tersebut. Faktor eksogen juga dapat disebabkan oleh air yang mengalir. Pernahkah mengamati kenapa air mengalir dengan berbelok-belok? Karena air yang lurus memiliki sifat statis. Sungai berperan penting dalam proses eksogen karena memiliki kekuatan yang dapat membentuk muka bumi. Tentu saja air yang mengalir mengangkuat material yang akan mengikis permukaan tanah. Hasil dari erosi dan korosi tersebut akan diendapkan pada cekungan di muka bumi.

Siklus geologi yang ditimbulkan oleh tenaga eksogen dan endogen inilah yang menyebabkan pembentukan dataran berupa relief-relief. Sebelum mengulas dataran yang ada di Indonesia, kita ulas tiga perbedaan proses siklus geologi. Tahap pertama disebut orogenesa, yakni terbentuknya gunung maupun pegunungan yang tentu saja dalam hal ini terjadi pengangkatan lapisan bumi ke permukaan. Kedua ialah dengan proses pemerataan gunung-gunung disebut siklus gliptogenesa. Terakhir tahap ketiga disebut siklus Litogenesa, terjadinya pembentukan batuan sedimen pada dataran rendah, dalam jangka lama akan diendapkan membentuk orogenesa.

Macam-macam Daratan

Terjadinya proses geologi dari pembentukan unsur-unsur tersebut muncul beberapa dataran di bumi. Terdiri atas beberapa dataran, yaitu dataran pantai, dataran rendah, dataran tinggi, maupun perbukitan dan gunung. Banyak dataran yang terbentuk di bumi, kita bahkan sudah sering menjajakinya. Termasuk ke dalam dataran manakah Anda tinggal? Untuk mengetahui berada di kategori dataran seperti apa, mari kita mengenal macam-macam dataran.

Dataran Rendah

Dataran rendah disebut juga dengan alluvial yang memang banyak diminati oleh kebanyakan orang. Pepohonan yang tumbuh di dataran rendah selalu subur karena hasil dari sedimentasi, begitu juga dengan hasil perkebunan di dataran rendah sangat melimpah. Hal ini dikarenakan dekat dengan perairan seperti sungai dan laut. Secara geografis, letak dataran rendah lebih banyak di kawasan ini, ada dataran rendah yang jauh dari air, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Dataran rendah di Indonesia sering ditemui, mayoritas kepadatan penduduknya lebih ramai dibandingkan di dataran tinggi. Kategori dataran rendah apabila ketinggian sekitar 0-200 meter di atas permukaan laut. Mungkin karena medan dataran rendah lebih mudah dijangkau dataran rendah selalu menjadi pusat strategis.

Dataran Tinggi

Plato (plateau) adalah nama lain dari dataran yang terletak di antara gunung-gunung yang tingginya di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Terbentuknya dataran tinggi karena hasil dari erosi dan sedimentasi, namun beberapa tempat dengan dataran tinggi terbentuk karena adannya bekas kaldera yang tertimbun material lereng gunung di sekelilingnya. Apa Anda pernah ke dataran tinggi Dieng yang berada di Jawa Timur? Konon kabarnya Dieng ini terbentuk karena adanya proses kaldera.

Gunung

Adapun istilah gunung berapi yang menggambarkan dataran tinggi, tentu dengan serangkaian dari gunung-gunung yang mempunyai ketinggian yang berbeda. Ketinggian gunung terbagi menjadi beberapa gunung, yaitu pegunungan rendah dengan ketinggian 200 sampai 500 meter. Pegunungan menengah dengan ketinggian 500 sampai 1.500 meter. Sementara itu, dikatakan pegunungan tinggi apabila ketinggiannya lebih dari 1.500 meter.

Ada dua bentuk gunung, yaitu gunung yang berupa pegunungan-pegunungan dan gunung berapi. Gunung berapi menurut bentuknya dibedakan menjadi bentuk kerucut, prisma, dan corong. Dalam gunung api sering memiliki magma yang sering dikeluarkan karena adanya proses tekanan. Proses keluarnya magma gunung berapi dari dalam perut bumi yang disertai bahan-bahan cair, padat, dan gas disebut erupsi. Atau pernahkah mendengar suara keras yang menggelegar dari sumber gunung berapi? Suara keras itu disebut Eksplosi, sedangkan letusan gunung berapi yang lemah disebut Effusi.

Dataran Pantai

Daerah yang termasuk dataran pantai adalah dataran pada batasan antara daratan dan lautan. Hidup di dataran pantai akan banyak ditemui pasir karena memang pasir yang mendominasi wilayah tersebut. Tercatat garis pantai di Indonesia mencapai 95.181 km dan itu berhasil mengalahkan wilayah Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada. Ketinggian dataran pantai kurang lebih di antara angka 200 meter di atas permukaan laut. Seperti yang terlihat, kehidupan dataran pantai ini masih berkaitan dengan air laut itu sendiri. Penduduk yang hidup di dataran panta rata-rata perekonomiannya menggantungkan diri pada hasil tangkapan ikan karena sebagian besar bekerja sebagai nelayan.

Wilayah Bebatuan

Bahasan selanjutnya ialah mengenati wilayah bebatuan. Pada dasarnya, batuan dapat mengindikasikan masa yang sudah lampau. Sangat menarik sekali untuk diteliti. Namun, sering terjadi salah persepsi antara batu dengan bebatuan. Jangan salah, batu dan bebatuan memiliki arti yang berbeda. Batuan memiliki jenis seperti batuan beku, batuan pasir, gamping, dan andesit. Tentu saja batuan ini memiliki agresi partikel mineral.

Jika gemar jalan-jalan di tempat-tempat wisata alam, Anda akan menemukan bebatuan yang unik-unik tentunya. Pada dasarnya, bebatuan terbagi menjadi beberapa, batuan beku, batuan sedimen, dan batuan malihan. Tentu dari tiga batuan ini memiliki keunikan tersendiri. Bahkan batuan tersebut dapat diketahui kapan terbentuknya. Batuan beku salah satu batuan yang terbentuk akibat proses pendinginan batuan cair magma yang berasal dari perut bumi, biasanya gunung berapi yang melahirkan bebatuan ini turun ke muka bumi. Pembekuan batuan beku ini juga terjadi di dalam magma (batuan plutonik), perjalanan dari lubang menuju keluar dari mulut gunung (batuan Intrusif), maupun terjadi saat di luar permukaan bumi (batuan ekstrusif).

Batuan sedimen terjadi karena terjadinya proses pengendapan yang memakan waktu yang lama. Kemudian terjadilah pengendapan berlapis-lapis di tempat lain akibat dari gaya erosi dan transportasi, baik lewat media air sungai dan hujan. Setelah terjadi pengerasan inilah yang disebut sebagai proses membatu. Prinsip pembentukan batuan sedimen ini hampir sama dengan pembentukan stalaktit dan stalaknit.

Batuan malihan merupakan batuan yang sangat jarang ditemui. Proses terjadinya batuan malihan terbentuk adannya tekanan yang berat, tentu saja dengan tidak sembarang temperatur. Batuan ini akan mengalami proses metamorphosis dan memerlukan waktu hingga berabad-abad lamanya. Salah satu contohnya ialah pada batu tulis. Batu tulis (slate) ini terbentuk dari batu lempung yang sudah mengalami metamorphosis.
 
Semoga bermanfaat!