Otak merupakan organ yang paling rumit pada manusia dan merupakan organ paling vital. Dianggap vital karena fungsi semua organ dalam tubuh manusia diatur dan dijalankan atas perintah otak. Otak juga berfungsi menerima rangsangan dari kelima panca indera kita. Berbagai rangsangan itu selanjutnya diteruskan ke pusat-pusat pennerjemah di otak.

Terdapat dua bagian otak yaitu, otak kiri dan otak kanan. Pada otak manusia sebenarnya telah terjadi suatu lateralisasi. Lateralisasi adalah kejadian lokalisasi fungsi bahasa pada salah satu belahan otak. Proses lateralisasi merupakan karakteristik biologis bagi manusia, tidak bagi hewan. Pada saat lahir, perbedaan fungsi-fungsi hemisfer kanan dan kiri itu sangat sedikit. Akan tetapi mulai pada umur dua tahun, salah satu hemisfer semakin berfungsi dominan. Proses tersebut berlangsung sampai masa dewasa. Ada juga yang mengatakan bahwa proses itu berlangsung hanya sampai umur lima tahun. Ini merupakan isu penting karena lateralisasi juga dihubungkan dengan periode umur kritis pemerolehan bahasa.

Pada permulaan abad ke-20, Ferdinand de Saussure (1964) seorang ahli linguistik bangsa Swiss, telah berusaha menjelaskan apa sebenarnya bahasa itu dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Begitu pula Lenneberg berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan biologis yang khusus untuk memperoleh bahasa yang tidak dimiliki oleh hewan. Alasan Lenneberg untuk membuktikan hal itu adalah sebagai berikut:

  • Terdapat pusat-pusat yang khas dalam otak manusia;
  • Perkembangan yang sama bagi semua bayi;
  • Kesukaran yang dialami untuk menghambat pertumbuhan bahasa pada manusia;
  • Bahasa tidak mungkin diajarkan kepada makhluk lain;
  • Bahasa itu memiliki kesemestaan bahasa (Language Universal)

Periode Kritis

Periode kritis merupakan periode pada saat pemerolehan bahasa berjalan dengan mudah karena saraf-saraf otak masih sangat plastis atau dengan definisi lain perode kritis merupakan periode pertama atau masa anak-anak. Menurut Christian dan kawan kawan, bahwa yang dimaksud dengan hipotesis periode kritis adalah suatu periode pada saat penguasaan bahasa terjadi secara alami tanpa membuang tenaga. Penfield dan Roberts (1959) berpendapat bahwa usia maksimum untuk penguasaan bahasa biasanya berkisar antara sepuluh tahun pertama dari kehidupannya (maksudnya usia efektif untuk menguasai suatu bahasa adalah dari dua sampai sepuluh tahun).

Hipotesis periode kritis mengasumsikan bahwa terdapat hubungan antara pertumbuhan biologis manusia dengan tingkat akuisisi bahasa. Dardjowijojo (1982:8) menulis, pada dasarnya hipotesis ini berbunyi penguasaan bahasa tumbuh sejajar dengan pertumbuhan bilogis, dan sesudah masa puber, akuisisi bahasa secara alamiah sudah tidak terjadi lagi.

Hipotesis periode kritis yaitu periode waktu terbatas dan khusus untuk memperoleh bahasa (Lightbown dan Spada, 2001: 19). Bahwa pemanfaatan secara maksimal dan optimal pada masa itu akan mempermudah pemerolehan bahasa anak.

Gangguan Berbahasa

Gangguan berbahasa akan memiliki dua dampak, yang pertama yaitu lambat dalam pemerolehan bahasa, contohnya, seharusanya anak usia empat tahun sudah memiliki kemapuan untuk membuat kalimat yang terdiri dari 4-5 kata, mampu menanyakan arti kata dan sudah mampu menghitung sampai 20, tetapi pada kenyataanya kemampuan anak tersebut setara dengan kemampuan anak berusia dua tahun yang hanya mampu membuat kalimat yang terdiri dari dua kata. Sedangkan yang kedua, menyimpang di bentuk baku pada anak yang memperoleh bahasa dengan urutan proses yang berbeda dengan anak kebanyakan. Bisa juga dikatakan anak tersebut memilki kemampuan berbahasa yang sangat berbeda dengan penutur asli bahasanya sendiri.

Jika diklasisifikasikan berdasarkan asalnya, gangguan berbahasa dibagi menjadi dua kelompok. Pertamaa adalah gangguan bahasa yang berkembang, artinya gangguan akibat kelainan yang dibawa semenjak lahir. Sebagian anak ada yang mengalami kesulitan dalam pemerolehan bahasa yang disebabkan oleh kelainan tumbuh kembang. Yang kedua, gangguan bahasa yang diperoleh, yaitu gangguan berbahasa yang disebabkan oleh gangguan akibat operasi, stroke, kecelakaaan ataupun penuan.

Gangguan berbahasa manusia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik itu faktor medis maupun faktor lingkungan. Faktor medis berimplikasi kepada gangguan berbicara, gangguan berbahasa sampai gangguan berpikir. Contoh faktor medis, seseorang yang mengalami pendarahan otak dapat menyebabkan kerusakan pada sistem sarafnya, gangguan psikogenik bahkan gangguan terhadap sistem organ bicaranya.

Jika gannguan terjadi pada sistem saraf, hal itu dapat menyebabkan jaringan antar wilayah auditori dan produksi tutur sehingga pesan ujaran manjadi tidak tersampaikan dengan baik. Gangguan bicara pemanaen sehingga membuat ketidakmampuan berbahasa secara baik dan benar.

Untuk gangguan yang bersifat temporer, menurut. Gletson dan Ratner dicontohkannya dengan apa yang terjadi pada penderita gagap bicara. Ini disebakan oleh pengaruh perasaan afektif sehingga apa yang ada di dalam pikiran dengan apa yang diujarkan tidak tersambung dengan baik, kesulitan dalam melafalkan kata-kata tertentu dan kurang menguasai topik pembicaraan.

Menurut Suharno (1982) mengidentifikasi salah satu gangguan otak yang menimbulkan gangguan bahasa, yaitu CVA (Celebral Vascular Accident) yang berarti ‘kerusakan saluran darah di otak’, merupakan contoh kerusakan lokal otak, dan kerusakan tersebar yang menyerang otak. Kemudian tumor otak tengah yang menyebabkan dysarthria yaitu kesulitan mengartikulasikan atau mengucapkan kata-kata, absces dan trauma.

Gangguan Wicara

Dapat diketahui bahwa pusat bicara bahasa ada di hemisfer kiri. Untuk fungsi berbicara secara aktif, pusatnya di depan atau (anterior) dan untuk pengertian bahasa terletak di bagian belakang (posterior). Bila pusat Broca di daerah anterior rusak, akan terjadi gangguan bahasa berupa pembicaraan yang nonfluent (tidak lancar). Dengan nonfluent dimaksudkan pembicaraan yang tidak lancar, usaha bicara yang meningkat, tekanan bicara yang rendah, kelainan prosodi, hanya memakai kata benda dan kata kerja dalam kalimat yang pendek.

Sebaliknya kerusakan di daerah posterior (Wernicke) terjadi kelainan wicara yang fluent (lancar), menggunakan kalimat yang panjang bahkan sering berlebihan hingga terjadi Loggorhea dan berbelit-belit (Circumlocution) tetapi ia tidak mengerti maksud pembicaraan orang lain.

Jenis-jenis Afasia

Ada berbagai jenis afasia, bergantung pada daerah mana di hemisfir kita yang kena stroke. Dan jenis yang umum ditemukan.

1. Afasia Broca

Adalah kerusakan yang terjadi pada daerah Broca, karena daerah ini berdekatan dengan jalur korteks motor maka yang sering terjadi adalah alat-alat ujaran, seperti bentuk mulut, menjadi terganggu, kadang-kadang mulut bisa mencong. Afasia ini juga bisa menyebabkan gangguan pada perencanaan dan pengungkapan ujaran. Kalimat-kalimat yang dihasilkan terpatah-patah. Disebabkan karena alat penyuara juga terganggu, maka seringkali lafalnya tidak jelas.

Kata-kata dari kategori sintaktik utama seperti nomina, verba, dan adjektiva memang tidak terganggu, tetapi pasien kesukaran dengan kata-kata fungsi. Pasien bisa mengingat dan mengucapkan nomina bee atau nomina witch, tetapi juga kesukaran mengingat dan mengatakan be atau which. Kalimat-kalimat yang diujarkannya pun banyak yang tanpa infleksi atau afiks.

2. Afasia Wernicke

Afasia ini letak kerusakan ada pada daerah Wernicke, yaitu bagian agak ke belakang dari lobe temporal. Korteks-korteks yang lain yang berdekatan juga bisa ikut terkena. Orang yang menderita afasia ini lancar dalam berbicara, serta bentuk sintaksisnya juga cukup baik. Akan tetapi, kalimat-kalimatnya sulit untuk dimengerti karena disebabkan oleh banyak kata-kata yang tidak cocok maknanya dengan kata-kata lain baik sebelum dan sesudahnya.

Ini disebabkan karena orang dengan afasia ini sering keliru dalam memilih kata-kata fair bisa diganti dengan chair, carrot dengan cabbage. Orang dengan afasia ini juga mengalami gangguan dalam komprehensi lisan. Oleh karena itu, dia tidak dapat memahami apa yang dia ucapkan dengan mudah.

3. Afasia Anomik

Merupakan kerusakan otak pada bagian depan dari lobe pariental atau batas antara lobe parietal dengan lobe temporal. Gangguannya tampak pada ketidakmampuan untuk mengaitkan konsep dengan bunyi atau kata yang mewakilinya. Misalnya, penderita diminta untuk mengambil gunting, maka dia bisa melakukannya, tetapi bila ditunjukkan gunting kepadanya, dia tidak dapat mengatakan namanya.

4. Afasia Global

Adalah kerusakan yang terjadi tidak pada satu atau dua daerah tetapi terjadi di beberapa daerah lainnya dan hal ini bisa menyebar dari daerah broca, lalu ke korteks motor, menuju ke lobe parietal, dan sampai ke daerah Wernicke. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar. Seperti, segi fisik  bisa menyebabkan lumpuh di sebelah kanan, mulut bisa mencong, dan lidah bisa menjadi tidak cukup fleksibel. Segi verbal, bisa menyebabkan kesukaran memahami ujaran orang lain, dan ujaran penderita tidak mudah dimengerti orang lain, dan kata-kata tidak diucapkan dengan jelas.

5. Afasia Konduksi

Merupakan kerusakan otak yang terjadi pada bagian fiber-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobe frontal dengan lobe temporal. Karena hubungan daerah Broca di lobe frontal yang menangani produksi dengan Wernicke di lobe temporal yang bertugas untuk menangani komprehensi terputus, maka penderita afasia konduksi tidak dapat mengulang kata yang baru diberikan kepadanya.

Penderita dapat memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Misalnya, dia akan dapat mengambil pena yang terdapat di atas meja, kalau diperintahkan demikian. Dan juga dapat berkata pena itu di atas meja, tetapi tidak dapat menjawab secara lisan pertanyaan Di mana penanya? Penderita dapat ditanya tentang A, yang dijawab tentang B, atau C.

Gangguan Wicara Lainnya

Selain jenis-jenis Afasia yang telah dijelaskan di atas, masih terdapat bentuk-bentuk gangguan wicara lainnya, seperti :

1. Disartria

Merupakan gangguan yang berupa lafal yang tidak jelas, tetapi ujarannya utuh. Gangguan seperti ini terjadi karena bagian yang rusak pada otak hanyalah korteks motor sehingga mungkin hanya lidah, bibir, atau rahang saja yang berubah.

2. Agnosia atau Demensia

Adalah gangguan pembuatan ide. Orang yang menderita ini tidak dapat memformulasikan ide yang akan dikatakan dengan baik sehingga isi ujaran dapat loncat-loncat ke sana kemari.

3. Aleksia

Merupakan hilangnya kemampuan untuk membaca.

4. Agrafia

Merupakan hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf-huruf yang normal. Gangguan wicara yang disebabkan oleh Aleksia dan Agrafia ini biasa disebut juga dengan disleksia.

Gangguan Berbahasa pada Proses Pembentukan Bahasa

1. Pelafalan ‘R’ Memfosil

Dari hasil observasi ditemukan dua penyebab dasar terjadinya pelafalan ‘R’ memfosil. Pertama, penutur benar-benar menerima kenyataan (takdir) ketika sudah bisa berbicara tetapi tidak bisa melafalkan huruf ‘R’. Yang kedua, penutur sengaja karena terpengaruh pelafalan huruf ‘R’ yang tidak jelas itu sebagai budaya (kebiasaan) turun temurun.

2. Gagap (Stuttering)

Gagap dapat diartikan sebagai ketidak fasihan ujaran karena ketegangan psikologis, cemas, takut, dan sebagainya yang mengakibatkan tidak berfungsinya (secara normal) alat-alat ujaran (speech organs).

3. Latah

Latah terjadi karena ketidaksengajaan penutur mengulang kata-kata terakhirnya sendiri atau kata-kata orang lain akibat dikejutkan atau dikagetkan. Latah ini terjadi secara spontan dengan mengeluarkan atau menirukan ujaran-ujaran secara berulang-ulang tanpa disadarinya terucap bagitu saja oleh penuturnya.

4. Suara Sengau

Suara sengau merupakan gangguan berbahasa yang disebabkan oleh aliran udara dari diafragma paru-paru yang melewati tenggorokan tidak keluar melalui saluran mulut melainkan keluar melalui hidung sehingga bunyi bahasa (suara) terdengar sumbang atau false

Karakteristik Anak dengan Kelainan Bicara dan Bahasa

Bahasa, termasuk patologi yang menyertainya, secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua bentuk dasar, yaitu bahasa reseptif atau kemampuan memahami apa yang dimaksud dalam komunikasi lisan, dan bahasa ekspresif atau kemampuan memproduksi bahasa yang dapat dipahami oleh dan berarti bagi orang lain (Friend & Bursuck, 2002).

Anak-anak dengan kelainan bahasa mempunyai kesulitan dalam mengekspresikan pikirannya atau memahami apa yang diucapkannya. Keterampilan bahasa ekspresif dan kemungkinan kesulitan yang menyertainya, termasuk di dalamnya tata bahasa, struktur kalimat, kefasihan, perbendaharaan kata, dan pengulangan.

Bahasa reseptif kekurangannya biasanya berhubungan dengan menanggapi, mengabstraksikan, menghubungkan, dan menggali pemikiran. Seorang siswa yang tidak mampu mengikuti perintah secara efisien di dalam kelasnya mungkin dia mempunyai kelainan bahasa reseptif. Seorang siswa yang tidak mampu berkomunikasi secara jelas karena tatabahasanya jelek, perbendaharaan katanya kurang, atau masalah produksi seperti kelainan artikulasi dia termasuk mempunyai kelainan bahasa ekspresif.

Anak-anak yang mengalami gangguan ini mempunyai kesulitan mengartikan ucapan orang lain, terutama yang bersifat abstrak. Mereka sering salah mengartikan pertanyaan, komentar, atau cerita yang panjang. Kriteria diagnosis memerlukan intelegensi non-verbal yang normal.. prognosis kurang baik dibandingkan gangguan berbahasa ekspretif.

Pada masa sekolah mereka akan tertinggal oleh teman sebayanya. Karena komprehensi kurang baik, dapat muncul gangguan atensi. Kira-kira 40-60% akan mengalami gangguan fonologi, sedangkan 50% mengalami gangguan membaca. Masalah bahasa, dikombinasi dengan kesulitan membaca atau atensi akan menyebabkan kemampuan akademik yang kurang, rasa percaya diri yang rendah, motivasi yang rendah dan isolasi sosial.

Mereka akan dapat berbicara, tetapi terlambat dibandingkan anak sebayanya. Pada masa dewasa, kemampuan bicara cukup untuk komunikasi sehari-hari, tetapi mereka tetap menunjukan kesulitan bila harus mengartikan atau menceritakan suatu masalah yang kompleks.

Kriteria Diagnostik Gangguan Bahasa Reseptif/Ekspresif Campuran

  • Sulit untuk mengerti kata, kalimat, dan istilah ruang,
  • Terganggu dalam akademik, pekerjaan dan komunikasi sosial,
  • Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan perkembangan pervasif,
  • Jika terdapat MR, defisit motor bicara atau sensorik, kesulitan dalam pemusatan lingkungan, kesulitan bahasa yang akut.

Gangguan berbahasa mempunyai ciri-ciri, yakni tidak mudah didengar, tidak dapat dipahami atau dimengerti, suara tidak nyaman, menyimpang dari bunyi tertentu (konsonan, vokal, dan diftong), bicara dengan susah payah atau gangguan dalam ritme atau tekanan, kualitas nada atau perubahan “pitch”, kekurangan atau “deficiency” dalam linguistik, dan tidak sesuai dengan umur, kelamin, atau perkembangan fisik.

Proses berbahasa pusatnya terjadi di otak. Ketika otak terganggu, kemampuan seseorang untuk berbahasa dalam hal ini berbicara pun akan terganggu. Semoga apa yang disampaikan pada artikel ini bisa membantu Anda lebih paham mengenai gangguan-gangguan berbahasa pada manusia.