Bahasa amat penting dalam mobilitas sosial dan kehidupan manusia. Penggunaan bahasa secara nyata memengaruhi tindak sosial masyarakat penggunanya. Tanpa bahasa, tak mungkin seseorang dinyatakan lulus menjadi sarjana atau masuk ke dalam lembaga pemasyarakatan. Penggunaan bahasa yang demikian itu ada dalam situasi komunikasi. Komponen yang berada di dalamnya dapat berupa pendengar atau pembaca, pembicara atau penulis, makna pesan, kode yang berupa lambang-lambang kebahasaan, saluran yang berupa sarana, juga konteks.

Berbicara mengenai fungsi, fungsi penggunaan bahasa dalam komunikasi dapat diidentifikasi. Fungsi bahasa dalam komunikasi bisa dijabarkan berdasarkan tanggapan atau respon mitra tutur. Ini terdiri dari dua macam, yaitu:

1. Fungsi transaksional

Yakni apabila dalam komunikasi terdapat isi komunikasi yang amat dipentingkan. Dengan begitu, bahasa dapat digunakan sebagai penyalur informasi, Contohnya, pidato, deklamasi, ceramah, dan iklan radio (untuk contoh wacana lisan), dan cerpen, makalah, tesis, surat undangan, dan sejenisnya (untuk contoh wacana tulis). Contoh:

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan nikmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini. Pada hari ini, saya akan menyampaikan pidato tentang Narkoba.

Di Indonesia, jumlah pengguna narkoba begitu besar. Hal ini dikarenakan lemahnya penegakan hukum di Indonesia para pengedar internasional dapat bekerja sama dengan warga negara Indonesia dan memperoleh keuntungan yang besar. Penyalahgunaan narkotika dan zat aditif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Dampaknya antara lain perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas dan tindak kekerasan lainnya.

2. Fungsi interaksional

Yakni penggunaan bahasa yang memiliki hubungan timbal balik atau interaksi antara penyapa dan yang disapa/pesapa. Fungsi bahasa ini biasa kita temukan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya secara lisan adalah debat, wawancara, diskusi, dan lain-lain. Sementara, dalam wacana tulis ada surat menyurat, chatting, dan lain-lain. Contoh:

Buruh 1: Kami di sini sudah memberikan yang terbaik dan semaksimal mungkin pada perusahaan ini. Jadi, sudah sewajarnya kamu melakukan hal seperti ini, Pak. Bukannya ada dalam undang-undang tenaga kerja bahwa pekerja berhak mengajukan beberapa permintaan ke tempat dia bekerja jika dia sudah melakukan sesuatu yang sangat maksimal.

Buruh 2: Betul sekali, bukan tanpa dasar hukum yang tidak jelas dan alasan yang tidak masuk akal kami berada di sini. Kami juga membawa data-data bahwa perusahaan ini, dari bulan ke bulan income-nya semakin meningkat 15% dari bulan sebelumnnya.

Perwakilan perusahaan: Tunggu, tapi sadarkah kalian melakukan hal ini pada jam bekerja? Bukannya melakukan konfirmasi melalui jalur birokrasi pada perusahaan saja, itu, kan, lebih dewasa dan elegan. Tidak membuat suasana menjadi kacau dan perusahaan merugi. Saya juga selaku direktur diperusahaan ini telah membuat beberapa kebijakan dengan membuat tunjangan anak dan istri kepada kalian semua, dan mendaftarkan semua serikat pekerja kepada Jamsostek. Pihak manajemen perusahaan cenderung tidak pernah memangkas upah kalian yang menurut kami sudah sesuai UMR (Upah minimum Regional) di kota ini.

Dalam peristiwa komunikasi, bahasa dapat menampilkan fungsi yang beragam. Namun secara umum, bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi, menginformasikan suatu fakta, memengaruhi orang lain, bercerita, mengobrol, dan sejenisnya. Masing-masing fungsi bahasa itu dapat secara langsung dihubungkan dengan salah satu komponen dalam komunikasi. Berikut ini fungsi-fungsi bahasa yang dimaksud.

Fungsi Ekspresif

Fungsi ekspresif adalah bahasa yang didayagunakan untuk meluapkan atau menyampaikan ekspresi si penutur kepada diri sendiri atau khalayak ramai dengan maksud dan tujuan tertentu. Fungsi bahasa ini biasanya digunakan untuk mengekspresikan emosi, keinginan, kebahagiaan, kesedihan, penyampai pesan, dan sebagainya. Contoh:

Aduh, perutku mual!

Ya, ampun, dia lucu sekali!

Waw, enak sekali rasa kue pelangi ini!

Dia amat mengecewakanku!

Pada contoh-contoh tuturan di atas, pemakaian fungsi ekspresif mengungkapkan ekspresi rasa sakit dan rasa kagum.

Fungsi Direktif

Fungsi direktif berorientasi pada penerima pesan. Dalam hal ini, bahasa dapat digunakan ntuk memengaruhi orang lain. Baik dari segi emosi, perasaan, maupun tingkah laku. Selain itu, bahasa juga dapat digunakan untuk memberi keterangan, mengundang, memerintah, memesan, mengingatkan, mengancam, dan lainnya. Contoh:

Silakan dimakan.

Ayo, berangkat!

Kalau tidak keberatan, buatkan saya makan siang.

Bantu saya mendorong gerobak ini.

Fungsi direktif pada contoh di atas terlihat pada kata kerja yang memiliki makna perintah.

Fungsi Informasional

Fungsi ini berfokus pada makna dan dapat dipergunakan untuk menginformasikan sesuatu. Misalnya, melaporkan, mendeskripsikan, menjelaskan, dan mengonfirmasikan sesuatu. Contoh:

Saat ini, kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Kucing yang garis keturunannya tercatat secara resmi sebagai kucing trah atau galur murni (pure breed), seperti persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini biasanya dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi.

Fungsi Metalingual

Fungsi ini berfokus pada kode dan digunakan untuk menyatakan sesuatu tentang bahasa. Contoh:

Bahan bakar fosil di antaranya adalah minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Bila dibakar, maka akan menghasilkan SO2 dan NOX sebagai penyebab utama keasaman dalam air hujan. Penghasi SO2 dan NOX terbesar adalah pembangkit tenaga listrik dan industri yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

Pada contoh di atas, unsur lambang bahasanya yaitu SO2 dan NOX. SO2 untuk melambangkan sulfur oksida, dan NOX untuk menyebut nitrogen oksida. Kedua lambang itu mengacu pada zat yang banyak dihasilkan dalam pembakaran. Artinya, kode bahasa ini digunakan untuk melambangkan kode yang lain.

Fungsi Kontekstual

Fungsi konteksual bahasa berfokus pada konteks pemakaian bahasa. Fungsi tersebut berpedoman bahwa suatu ujaran jarus dipahami dengan mempertimbangkan konteksnya. Dengan alasan bahwa suatu ujaran yang sama akan berbeda maknanya apabila berada dalam konteks yang berbeda pula. Salah satu alat bantu untuk menafsirkan berdasarkan konteks adalah dengan mempertimbangkan penanda-penanda kohesi dan acuan (reference) yang digunakan dalam situasi komunikasi. Contoh:

Ini apa?

Letakkan di situ.

Acuan kata ini bisa bergantung pada konteks. Dan kita bisa mengetahui acuannya jika mendengarkan tuturan secara utuh. Begitupun dengan acuan kata ‘di situ’. ‘Ini’ atau ‘di situ’ bisa jadi sebuah objek, sebuah tempat atau lainnya.

Fungsi Puitik

Fungsi puitik bahasa berorientasi pada kode dan makna secara simultan. Artinya, kode kebahasaan dipilih secara khusus agar dapat mewakili makna yang hendak disampaikan si penutur. Biasanya, tuturan akan menimbulkan nilai rasa seni yang unik, menggelitik, berbau metafora, dan lain-lain. Contoh:

Tua-tua Keladi, makin tua makin jadi.

Bentuk ujaran itu lebih menekankan kode kebahasaan dan makna sekaligus. Mengingat setiap penutur bahasa Indonesia yang memunyai kemampuan yang memadai akan memahami arti ujaran itu meski makna ujaran tidak berhubungan dengan bentuk ujaran. Kara-kata yang dipilih tersebut hanya mempertimbangkan rima atau persamaan bunyi semata. Dan bukan kepada makna dari kata-katanya.