Pernahkah Anda memperhatikan atau menyadari perut seseorang yang kembang kempis dengan cepat? Pada orang-orang yang bagaimanakah Anda melihatnya? Kembang kempisnya perut seseorang berhubungan erat dengan proses pernapasan. Perut yang terlihat kembang kempis dengan cepat biasanya dijumpai pada anak-anak yang sedang sakit atau mengalami gangguan pernapasan, orang-orang yang mengalami kelelahan fisik setelah berolahraga, atau seseorang yang memiliki kelebihan berat badan.

Itu semua adalah faktor pengaruh dari cepatnya kembang kempis perut seseorang. Itu sangat lumrah terjadi, karena suatu sistem pernapasan dalam tubuhnya berjalan dengan lancar.

Faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Pernapasan Manusia

Frekuensi pernapasan pada manusia merupakan intensitas inspirasi dan ekspirasi udara pernapasan pada manusia yang dilakukan setiap menit. Dalam keadaan normal, proses inspirasi dan ekspirasi berlangsung sebanyak 15 sampai dengan 18 kali per menitnya. Akan tetapi, keadaan ini bisa berubah dan berbeda pada setiap orang dikarenakan ada faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses inspirasi dan ekspirasi pada seseorang meliputi:

A. Faktor fisik seperti umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh, dan aktivitas tubuh.
B. Faktor psikologis seperti emosi, kejiwaan, perasaan, energi dan aura, dan kestabilan rohani.

Faktor Fisik

a. Umur

Frekuensi pernapasan yang dilakukan pada anak-anak berbeda dengan frekuensi pernapasan yang dilakukan oleh orang dewasa. Umumnya, frekuensi pernapasan yang terjadi pada anak-anak lebih banyak daripada orang dewasa. Hal ini disebabkan karena adanya proses pertumbuhan yang terjadi pada anak-anak sehingga anak-anak memerlukan energi yang cukup banyak. Pada orang dewasa, frekuensi pernapasan menjadi lebih lambat dikarenakan aktivitas sel-sel di dalam tubuh mengalami penurunan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini frekuensi normal berdasarkan umur adalah sebagai berikut:

1. Usia baru lahir, frekuensi pernapasannya berkisar antara 35-50 kali per menit.
2. Usia 2 sampai 12 tahun, frekuensi pernasapannya berkisar antara 18-26 kali per menit.
3. Usia dewasa, frekuensi pernapasannya berkisar antara 16-20 kali per menit.

b. Jenis kelamin

Pada umumnya dalam keadaan normal, frekuensi pernapasan pada laki-laki lebih banyak daripada frekuensi pernapasan pada perempuan. Hal ini disebabkan karena laki-laki cenderung membutuhkan energi yang lebih banyak daripada perempuan sehingga oksigen yang diperlukan pun menjadi semakin banyak.

c. Suhu tubuh

Suhu tubuh mempunyai hubungan yang erat dengan pernapasan. Semakin tinggi suhu tubuh seseorang, maka dia akan membutuhkan energi yang lebih banyak sehingga kebutuhan akan oksigen pun akan meningkat. Oleh karena itu, frekuensi pernapasan pun akan menjadi lebih sering dilakukan.

d. Posisi tubuh

Posisi tubuh ternyata mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap frekuensi pernapasan. Seseorang yang sedang berdiri, frekuensi pernapasannya akan lebih sering terjadi daripada seseorang yang posisi tubuhnya sedang berbaring. Pada saat kita berdiri, aktivitas otot di dalam tubuh akan lebih sering mengalami kontraksi sehingga oksigen yang dibutuhkan untuk proses oksidasi di dalam tubuh menjadi lebih banyak. Hal ini mengakibatkan frekuensi inspirasi dan ekspirasi menjadi lebih sering dilakukan. Sementara itu, pada saat berbaring, otot-otot di dalam tubuh cenderung erelaksasi sehingga kebutuhan akan oksigen pun tidak sebanyak pada saat tubuh kita berdiri.

e. Aktivitas tubuh

Seseorang yang mempunyai aktivitas tubuh cukup tinggi, seperti seorang petani atau atlet, frekuensi pernapasannya akan lebih tinggi daripada seorang sekretaris yang cenderung melakukan aktivitas pekerjaannya dengan duduk. Hal ini disebabkan energi yang diperlukan oleh seorang petani atau atlet lebih banyak jika dibandingkan oleh seseorang yang beraktivitas dengan cara duduk.

Dari uraian tersebut, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Frekuensi pernapasan dapat berkurang karena bertambahnya usia seseorang.

b. Energi yang dibutuhkan oleh orang yang telah lanjut usia lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang masih muda sehingga oksigen yang dibutuhkannya pun menjadi berkurang.

c. Frekuensi pernapasan pada laki-laki lebih tinggi daripada frekuensi pernapasan pada seorang perempuan.

d. Frekuensi pernapasan pada anak-anak cenderung lebih banyak jika dibandingkan dengan frekuensi pernapasan pada orang tua.

e. Frekuensi pernapasan pada orang yang aktivitas fisiknya lebih tinggi cenderung lebih sering dibandingkan dengan orang yang aktivitas fisiknya rendah.

1. Faktor psikologis

a. Emosi

Emosi seseorang berpengaruh pada tinggi rendahnya pernapasan seseorang. Seseorang yang sedang emosi seperti marah, frekuensi pernapasannya akan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang kondisi emosinya stabil atau normal.

b. Perasaan

Perasaan takut pada seseorang akan mempercepat frekuensi pernapasannya, hal ini disebabkan aktivitas denyut jantung yang meningkat sehingga tubuh memerlukan asupan energi yang lebih banyak.

c. Kejiwaan

Kejiwaan berkaitan erat dengan sifat atau karakter seeorang. Seseorang yang mempunyai jiwa periang, cenderung mempunyai aktivitas yang lebih aktif dibandingkan dengan seseorang yang pemalu. Dengan demikian, frekuensi pernapasan pada orang yang periang cenderung akan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang pemalu.

d. Kestabilan rohani

Seseorang yang mempunyai pemahaman yang baik terhadap ilmu agama, kondisi rohaninya cenderung akan lebih baik dibanding dengan orang yang biasa saja. Hati mereka akan diliputi rasa tenang dan tentram sehingga jauh dari rasa cemas dan khawatir yang berlebihan. Keadaan ini akan berpengaruh pada frekuensi pernapasannya. Umumnya, frekuensi pernapasan mereka cenderung stabil dan normal.


b. Volume Udara Pernapasan pada Manusia

Sebelumnya telah diuraikan bahwa frekuensi pernapasan pada setiap orang bisa saja berbeda. Begitu pula dengan volume udara pernapasan. Volume udara pernapasan pada manusia dipengaruhi oleh:

1. Ukuran paru-paru

Seseorang yang mempunyai ukuran paru-parunya besar, akan mempunyai volume udara pernapasan yang besar pula, begitu juga sebaliknya. Hal ini disebabkan pada orang yang paru-parunya besar akan mempengaruhi jumlah dan luasnya alveolus dalam melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida.

2. Kekuatan bernapas

Seorang penyelam cenderung mempunyai kekuatan bernapas yang lebih. Hal ini tentunya ditunjang dengan kapasitas volume udara yang bisa ditampungnya di dalam paru-paru.

3. Cara bernapas

Pada artikel Proses Pernapasan pada Manusia telah dibahas bahwa cara bernapas yang baik adalah bernapas dengan menggunakan hidung. Sebab selain dapat menyaring udara kotor agar tidak masuk ke dalam saluran pernapasan berikutnya, juga dapat memperbaiki ritme pernapasan. Orang yang bernapas menggunakan hidung cenderung membutuhkan volume udara yang relatif sedikit daripada orang yang bernapas menggunakan mulut.

Kita dapat mengetahui seberapa banyak volume pernapasan yang dibutuhkan atau yang biasa digunakan pada pernapasan kita dengan menggunakan alat spirometer.
Volume udara pernapasan dibedakan menjadi:

1. Volume udara tidal

Normalnya, setiap orang menghirup dan menghembuskan udara pernapasan sebanyak 500 cc dalam setiap kali melalukan proses inspirasi dan ekspirasi. Namun dari jumlah tersebut, tidak seluruhnya digunakan dalam proses oksidasi. Udara digunakan untuk proses oksidasi hanya sekitar 350 cc, sedangkan sisanya sebanyak 150 cc hanya sampai pada saluran pernapasan saja.

2. Volume udara komplementer

Volume udara komplementer merupakan volume udara yang masih dapat kita hirup sedalam-dalamnya sebanyak 1500 cc, setelah kita menghirup udara normal sebanyak 500 cc.

3. Volume udara suplementer (cadangan)

Merupakan volume udara yang masih dapat kita hembuskan sedalam-dalamnya sebanyak 1500 cc, setelah kita melakukan ekspirasi normal sebanyak 500cc.

4. Volume udara residu (sisa)

Merupakan volume udara yang tersisa di dalam paru-paru sebanyak 1000 cc setelah kita melakukan ekspirasi sedalam-dalamnya. Adanya volume udara inilah yang menyebabkan kita masih bisa bernapas dalam keadaan kritis.

5. Kapasitas vital paru-paru

Kapasitas vital paru-paru merupakan jumlah udara inspirasi dan eskpirasi yang dihembuskan sekuat-kuatnya sebanyak 3.500 cc.

6. Kapasitas total paru-paru

Kapasitas total paru-paru merupakan keseluruhan jumlah udara yang masuk ke dalam paru-paru yaitu sebesar 4.500 cc.
Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan volume pernapasan. Berikut ini istilah yag berhubungan dengan volume pernapasan.

1. Ventilasi pulmonal

Ventilasi pulmonlao, yaitu volume udara tidal dikalikan dengan jumlah pernapasan per menit.
500 cc x 12 = 6.000 mil per menit

2. Ventilasi alveoli

Ventilasi alveoli, yaitu volume udara yang masuk ke alveoli dikalikan dengan jumlah pernapasan per menit.