Dalam Bahasa Indonesia, di atas tataran kata kita mengenal frasa. Di antara berbagai frasa, dilihat dari kesamaan perilakunya dengan kategori verba dan mengingat kaitannya dengan tulisan ini, berikut ini akan dikemukakan frasa verbal.

Alwi, dkk. menyebut frasa verbal sebagai satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya, tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa.

Contoh:

  • Kesehatannya sudah membaik.
  • Pesawat itu akan mendarat.

Menurut Ramlan, frasa verbal atau frasa golongan V ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari adanya jajaran:

  • Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan.
  • Dua orang mahasiswa membaca buku baru di perpustakaan.

Frasa sedang membaca dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata membaca. Kata membaca termasuk golongan V (kata/frasa verbal), karena itu frasa sedang membaca juga termasuk golongan V.

Dari kedua pendapat di atas, tampak bahwa Alwi, dkk. tidak memperlakukan frasa verbal sebagai klausa, sedangkan Ramlan memperlakukan frasa verbal sebagai klausa.

Di bawah ini akan diuraikan jenis-jenis frasa verbal.

1. Frasa Endosentrik Atributif

2. Frasa Endosentrik Koordinatif

Wujud frasa ini berupa dua verba yang digabungkan dengan memakai kata penghubung, dan, atau.

Contoh

Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belakang.

  1. Pewatas Depan Verba
    • Verba Bantu
      Kata-kata yang termasuk verba bantu adalah akan, harus, boleh, dapat (bisa), suka, ingin, dan mau.

      Contoh:
      1. Yanagisawa akan bermain habis-habisan di piala dunia Jerman.
      2. Mereka harus membawa peralatan yang dibutuhkan.


      Badudu memasukkan kata-kata suka, mau, ingin, dan dapat sebagai kata kerja bantu. Akan tetapi, kata-kata telah, akan, harus, boleh, dan hendak termasuk kata keterangan.

      Samsuri menyebut verba bantu boleh, dapat, harus, sebagai pemadu manasuka yang dapat mendahului Gatra Kerja (GK) yang merupakan predikat Gatra Benda (GB).
    • Aspek
      Aspek dapat bertindak sebagai pewatas depan verba dan dapat bergabung dengan verba Bantu. Kelompok aspek ini terdiri atas dua kata, yakni sudah dan sedang. (kata telah, tengah, dan lagi dianggap varian stilistis dari sudah dan sedang). Aspek sudah dapat mendahului atau mengikuti verba Bantu akan, atau harus.

      Contoh
      1. Kami sudah harus berada di sana sebelum hari sore.
      2. Ayah sudah akan setuju tadi.
    • Pengingkar
      Kaidah umum mengenai pengingkar ialah bahwa pengingkar mengingkarkan kata atau kata-kata yang berdiri di belakangnya, dan tidak di depannya. Kelompok pengingkar terdiri atas kata tidak dan belum. Pengingkar tidak dapat ditempatkan di antara verba bantu, di antara kata aspek, atau di antara keduanya.

      Contoh :
      1. Bayi setan itu tidak akan datang malam ini.
      2. Bayi setan itu akan tidak datang malam ini.
  1. Pewatas Belakang Verba
    Pewatas belakang verba terdiri atas kata-kata lagi (dalam arti ‘tambah satu kali’, bukan ‘sedang’) dan kembali.

    Contoh :
    1. Anjingnya menggonggong lagi.
    2. Kau harus bereskan kembali tempat tidur Anne.

2. Frasa Endosentrik Koordinatif

Wujud frasa ini berupa dua verba yang digabungkan dengan memakai kata penghubung, dan, atau.

Contoh

  • Kami menangis dan meratapi nasibnya.
  • Kamu pergi atau menunggu dulu?

Pewatas depan dan pewatas belakang pada frasa koordinatif seperti di atas, memberi keterangan tambahan pada kedua verba dan bukan pada verba pertamanya saja.

Fungsi Verba dan Frasa Verbal

Jika ditinjau dari segi fungsinya, verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat. Walaupun demikian, verba dapat pula menduduki fungsi lain seperti subjek, objek, dan keterangan (dengan perluasannya berupa objek, pelengkap, dan keterangan).

1. Verba dan Frasa Verbal sebagai Predikat

Verba berfungsi sebagai predikat atau sebagai inti kalimat.

Contoh :

  • Kaca jendela itu pecah.
  • Pemerintah akan mengeluarkan peraturan moneter baru.

Verba pecah berfungsi sebagai predikat, sedangkan verba akan mengeluarkan adalah frasa verbal.

2. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek

Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti, tanpa pewatas depan atau pewatas belakang. Jika verba ini memiliki unsur lain seperti objek dan keterangan, unsur itu menjadi bagian dari subjek.

Contoh :

  • Membaca telah memperluas wawasan berpikirnya.
  • Bersenam setiap pagi membuat orang itu sehat.

Verba membaca dan frasa verbal bersenam setiap pagi berfungsi sebagai subjek.

3. Verba dan Frasa Verbal sebagai Objek

Kalimat berikut merupakan verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek.

Contoh :

  • Dia sedang mengajarkan menari pada adik saya.
  • Dia mencoba tidur lagi tanpa bantal.

Verba menari dan frasa verbal tidur lagi berfungsi sebagai objek dari predikat sedang mengajarkan dan mencoba.

4. Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap

Verba dan frasa verbal dapat berfungsi sebagai pelengkap.

Contoh:

  • Risa sudah berhenti merokok.
  • Mertuanya merasa tidak bersalah.

Verba merokok dan frasa verbal tidak bersalah berfungsi sebagai pelengkap dari predikat berhenti dan merasa.

5. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan

Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal berfungsi sebagai keterangan.

Contoh:

  • Ibu sudah pergi berbelanja.
  • Paman datang berkunjung minggu yang lalu.

Dari kedua contoh di atas, tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan. Yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan.

6. Verba sebagai Atribut

Verba (bukan frasa) dapat bersifat atribut, yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina. Dengan demikian sifat itu ada pada tataran frasa (frasa nomina).

Selanjutnya, Sugono, dkk. mengatakan bahwa verba yang dapat menjadi atribut dalam frasa nomina itu tidak hanya dari satu macam bentuk verba, seperti verba bentuk ber-, tetapi dapat juga verba bentuk ter- ataupun me(N)-. Verba seperti mendesak, belajar, dan bersenjata, merupakan atribut yang dapat berfungsi sebagai penjelas unsur inti pekerjaan, kegiatan, dan pengawal, seperti terlihat pada contoh kalimat di bawah ini.

  • Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan mendesak.
  • Yang wanita, menurut Thi dulu pernah sama-sama kuliah dan seangkatan, tapi ketinggalan dan sekarang menghentikan sama sekali kegiatan belajar.
  • Seorang di antara pengawal bersenjata itu bercerita bahwa di simpang sana baru saja terjadi pelemparan granat oleh orang-orang tak dikenal.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan ini ialah bahwa konstruksi frasa itu mempunyai unsur-unsur yang tidak hanya terdiri atas nomina dan verba, tetapi hubungan antar konstituen dalam konstruksinya dapat dinyatakan secara eksplisit dengan kata yang, untuk, atau dengan kata yang lainnya. Dengan demikian, frasa pada ketiga kalimat di atas jika dieksplisitkan akan menjadi konstruksi sebagai berikut.

  • pekerjaan yang mendesak.
  • Kegiatan untuk belajar.
  • Pengawal yang bersenjata.

Bentuk-bentuk yang secara eksplisit ditandai oleh pemarkah yang dan untuk dapat memperjelas hubungan inti dan atributnya.

Penelitian tentang verba berderet dalam hal ini untuk menemukan unsur inti dalam sebuah verba yang letaknya berderet. Juga adanya verba bantu (kata bantu predikat) yang menyertai verba. Fungsi sintaksis yang digunakan adalah fungsi P yang mengandung verba berderet.

Pola atau Peran Sematik Verba Berderet

1. Pendapat Ahli Bahasa Tentang Verba Berderet

Ada beberapa ahli bahasa yang menyebut verba berderet sebagai predikat serial dan predikat kompleks. Salah satu pembeda verba adalah ketransitifan. Verba transitif biasanya dapat diikuti oleh Frasa Nomina (FN) sebagai pemerlengkapan (objek).

Contoh:

  • Dia mencoba membereskan buku-bukunya.
  • Dia pergi membereskan buku-bukunya.

Verba mencoba termasuk verba transitif, sedangkan verba pergi termasuk verba intransitive.

Menurut Verhaar, predikat verbal ada yang tunggal dan serial. Predikat yang tunggal adalah predikat dengan verba utama yang hanya satu, sedangkan predikat serial adalah struktur predikat dengan verba utama yang lebih dari satu dan biasanya dua.

Contoh : Kendaraan keluar masuk.

Predikat kalimat tersebut masuk ke dalam kelompok predikat yang serial. Kata keluar masuk hanya terdiri atas satu predikat, namun terdiri atas dua verba yang dirangkai secara serial.

Hasan Alwi memberikan penjelasan tentang dua verba yang letaknya berurutan. Menurutnya, verba yang pertama sebagai predikat dan verba yang kedua bertindak sebagai keterangan, seperti dalam contoh : Paman  datang berkunjung minggu yang lalu. Pada kalimat tersebut terkandung maksud atau tujuan dari perbuatan yang dinyatakan predikat. Oleh karena itu, sebuah preposisi dapat disisipkan di antara kedua verba itu, yaitu datang untuk berkunjung.

Abdul Chaer menyebut istilah verba berderet sebagai predikat kompleks. Menurutnya, predikat kompleks adalah konstruksi frasa yang setidak-tidaknya terdiri atas dua buah kata, dan salah satunya menjadi unsur inti frasa itu, sedangkan yang lain menjadi unsur tambahan. Konstruksi frasa itu sendiri secara keseluruhan menduduki fungsi predikat di dalam suatu konstruksi predikatif. Contoh : Amin akan membaca buku itu. Verba pertama akan sebagai unsur tambahan, sedangkan verba kedua membaca sebagai unsur inti.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam persoalan verba berderet, para ahli tata bahasa menyebut salah satu verba sebagai predikat inti dan verba yang lainnya sebagai unsur tambahan (atribut). Walaupun istilah yang diberikan bermacam-macam, tetapi tetap mengacu pada hal yang sama, yaitu sebagai sebuah predikat.

Pertalian Antara Dua Kata Kerja

Verba berderet terjadi karena adanya pelesapan subjek klausa komplemen, dan hal ini diketahui setelah ada penyisipan kata tertentu (konjungsi). Dengan penyisipan konjungsi tersebut dapat diketahui hubungan-hubungan apa saja yang dibentuk oleh verba-verba yang letaknya berderet itu. Hubungan-hubungan yang oleh Slametmulyana disebut sebagai ‘pertalian antara dua kata kerja’ itu adalah sebagai berikut.

1. Hubungan yang Menyatakan Maksud atau Tujuan

Ciri-cirinya:

  • proses yang diungkapkan salah satu verba dilakukan untuk   mencapai apa yang diungkapkan verba lainnya.
  • di antara kedua kata kerja itu dapat disisipkan konjungsi akan, untuk, guna, buat, supaya.

Contoh:

  • Anne menyapu membersihkan debu.
  • Dia diperbolehkan meninggalkan tempat tidur.

2. Hubungan yang Menyatakan Sebab Akibat atau Akibat Sebab

Ciri-cirinya:

  • salah satu verba (kelompok verba) merupakan akibat/sebab  dari verba (kelompok verba) lainnya.
  • di antara kedua kata kerja itu dapat disisipkan kata penjelas oleh, karena, sebab, sehingga.

Contoh :

  • Anjing itu terkaing kesakitan.
  • Mereka jatuh saling tindih.

3. Hubungan yang Menyatakan Persamaan Waktu

Ciri-cirinya:

  • kedua verbanya dilakukan pada waktu yang sama.
  • di antara kedua kata kerja itu dapat disisipkan kata penjelas seraya, sambil.

Contoh:

  • Burung gagak terbang berputar di atas menara.
  • Pembantunya berlari membawa payung.

4. Hubungan yang Menyatakan Pemerian

Ciri-cirinya:

  • salah satu verbanya merupakan bagian yang merinci verba lainnya.
  • di antara kedua kata kerja itu dapat disisipkan kata dari atau tidak dapat disisipi kata lain.

Contoh: - Angin ikut-ikutan mengamuk seperti setan.

Setalah membaca artikel ini, pembaca tentu sudah lebih memahami tentang verba, bukan? Dengan demikian, ketika menuliskan ide-ide dalam kalimat-kalimat, kita pun harus memperhatikan kedudukan dan fungsi verba ini agar kalimat-kalimat yang kita tuliskan berterima dan tidak rancu. Kerancuan dalam kalimat dapat membuat hasil karya kita berkurang nilainya.