Bila ada yang wafat kemudian meninggalkan harta, pembagiannya tidak bisa dilakukan begitu saja. Dalam Islam, ada aturan yang berlaku dalam pembagian tersebut. Kajian fikih yang membahas aturan tentang pembagian harta yang ditinggalkan disebut dengan faraid.

Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, waris mewarisi antara sesama muslim hukumnya adalah wajib. Allah Swt berfirman:

“Bagi laki-laki ada bagian harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kaum kerabatnya. Dan bagi wanita juga ada bagian yang ditinggalkan kedua orang tua dan kaum kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang ditetapkan.” (QS. An-Nisa: 7)

Rasulullah bersabda:

“Berikanlah bagian-bagian yang telah ditentukan itu kepada orang yang berhak menurut nash, dan sisanya untuk keluarga laki-lai terdekat dengan si mayat.” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap pemiliknya. Karenanya tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Daud)

Sebab-sebab Mendapatkan Harta Warisan

Seseorang berhak menjadi ahli waris disebabkan karena tiga hal berikut.

  1. Faktor keturunan, baik disebabkan oleh hubungan kekerabatan maupun hubungan sanak famili. Dalam hal ini, kekerabatan yang menjadi ahli waris adalah ayah, anak-anak, cucu, kakek, dan sebagainya. Sementara yang dimaksud dengan hubungan sanak famili adalah saudara-saudara beserta anaknya dan paman beserta anaknya. Allah Swt., berfirman, “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib-kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya….” (QS. An-Nisa: 33)
  2. Pernikahan. Pernikahan di sini tidak saja yang sudah melakukan hubungan suami istri. Pasangan yang belum melakukan hubungan suami istri, tetapi dinyatakan sah ijab dan kabul pernikahannya, maka sudah berhak mendapatkan harta warisan. Allah Swt berfirman, “Dan bagimu seperdua dari harta yang ditinggalkan isteri-isterimu....“(QS. An-Nisa: 12). Suami istri masih tetap saling mewarisi semasa idah raj’I dan talak ba-in jika istrinya dicerai pada saat dia sakit yang menyebabkan kematiannya.
  3. Al-Wala’, yaitu memerdekakan seorang budak laki-laki dan budak perempuan sehingga dia menjadi pewarisnya. Untuk saat ini, kasus budak sudah sangat jarang atau bahkan sudah tidak ada lagi.

Penghalang Mendapatkan Harta Warisan

Meski sudah tergolong sebagai orang yang berhak mendapatkan harta warisan, namun tidak serta merta begitu saja. Ia berhak mendapatkan harta warisan jika tidak tergolong dalam kelompok orang yang terhalang mendapatkan harta warisan, yaitu sebagai berikut.

1. Kafir

Orang Islam dilarang mewarisi saudaranya yang kafir. Demikian juga halnya dengan orang kafir tidak dapat mewarisi orang Islam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Orang Islam tidak boleh mewarisi orang kafir, dan orang kafir pun tidak boleh mewarisi orang Islam.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Pembunuh

Pembunuh tidak mendapatkan warisan dari orang yang dibunuh. Bila dengan sengaja membunuhnya, maka ia terkena sanksi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,”Pembunuh tidak mempunyai hak waris apa pun dari yang dibunuhnya.” (HR. Ibnu Abdil Bar)

3. Perbudakan

Seorang budak tidak mewariskan dan tidak diwarisi, baik budak yang sempurna maupun yang tidak sempurna, seperti budak mub’adh, mukatab, atau ummul walad.

4. Zina dan Li'an

Di dalam kitab “Minhajul Muslim”, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mencantumkan zina dan li’an sebagai salah satu penyebab tak mendapatkan warisan. Anak hasil zina maupun li’an tidak mewarisi ayahnya. Anak zina hanya bisa mewarisi dan diwarisi oleh ibunya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Anak menjadi pewaris yang sekasur (suami-isteri yang sah) dan penzina laki-laki tidaklah mewarisi.” (HR. Bukhari Muslim)

Syarat Ahli Waris

Seseorang berhak menjadi ahli waris jika memenuhi tiga syarat berikut.

  • Tidak hal yang menghalanginya mendapatkan warisan.
  • Meninggalnya orang yang memiliki harta dengan yakin ataupun dengan keputusan hakim.
  • Ahli waris hidup ketika yang mewariskan meninggal dunia.

Ahli Waris Laki-laki

Ahli waris laki-laki terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Suami. Suami mendapatkan warisan dari istrinya jika istrinya meninggal. Meski istrinya telah ditalak, iddah-nya belum habis masanya. Namun bila iddah-nya sudah selesai, suami tidak mendapatkan warisan.
  2. Al-Mu’tiq atau orang yang memerdekakan budak.
  3. Kerabat, baik ushul, furu’ maupun hawasy. Pihak yang termasuk kerabat ushul adalah ayah, kakek, dan seterusnya ke atas, sedangkan yang termasuk furu’ adalah anak, cucu, dan seterusnya ke bawah. Hawasy dalam Ilmu Faraid terbagi menjadi dua, yaitu hawasy jauh dan hawasy dekat. Pihak yang tergolong hawasy dekat adalah saudara-saudara laki-laki, anak-anaknya, dan seterusnyanya ke bawah. Sementara yang dimaksud dengan hawasy jauh adalah paman, anak paman, dan seterusnya ke bawah.

Pihak-pihak yang disebutkan di atas tidak serta-merta semuanya mendapatkan harta warisan. Ada yang tidak mendapatkan harta atau terhijab dengan sebab ada yang posisinya lebih tinggi. Misalnya ayah dapat menghalangi kakek sehingga kakek tidak mendapatkan harta warisan.

Ahli Waris Perempuan

Ahli waris perempuan terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  1. Istri
  2. Al-mu’tiqah (perempuan yang membebaskan budak)
  3. Perempuan yang mendapatkan harta disebabkan kekerabatan, yaitu sebagai berikut.
    • Ushul, yaitu ibu, nenek dari pihak ibu, dan nenek dari pihak ayah.
    • Furu’, yaitu anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan seterusnya ke bawah
    • Hasyiyah qaribah, yaitu saudara perempuan.

Pembagian Harta Warisan (Al Furudh)

Pembagian harta warisan atau Al-furudh yang ditentukan oleh Al Qur’an dalam Surat An-Nisa ada enam, yaitu:

Seperdua atau Setengah

Pihak yang mendapatkan bagian setengah ada lima orang, yaitu:

  • Suami. Syaratnya mendapatkan harta apabila istri meninggal dan belum memiliki anak.
  • Anak perempuan. Syaratnya, jika belum memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan. Artinya, anak perempuan tidak mendapatkan harta warisan seperdua atau setengah kecuali dia sendiri.
  • Cucu perempuan. Cucu perempuan mendapatkan setengah jika ia sendirian dan belum memiliki saudara laki-laki.
  • Saudara kandung perempuan. Saudara kandung perempuan mendapatkan setengah bila ia sendirian. Artinya, ia tidak memiliki saudara laki-laki, tidak mempunyai ayah, tidak ada anak laki-laki, dan tidak ada cucu laki-laki.
  • Saudara perempuan se-ayah. Saudara perempauan se-ayah mendapatkan setengah jika sendirian, yaitu tidak mempunyai saudara laki-laki, tidak ada ayah, dan tidak ada cucu laki-laki dari anak laki-laki.

Seperempat

Pihak yang mendapatkan harta warisan dengan bagian seperempat ada dua orang, yaitu:

  • Suami mendapatkan seperempat jika istri yang meninggal mempunyai anak atau cucu, baik laki-laki atau perempuan.
  • Istri mendapatkan seperempat jika suami meninggal tidak mempunyai anak atau cucu, baik laki-laki maupun perempuan.

Seperdelapan

Pihak yang mendapatkan seperdelapan hanya satu orang, yaitu istri. Jika istri lebih dari satu, harta tersebut dibagikan secara merata di antara mereka. Istri berhak mendapatkan seperdelapan jika suami yang meninggal mempunyai anak laki-laki atau cucu, baik laki-laki maupun perempuan.

Dua pertiga

Ada empat orang yang berhak mendapatkan dua pertiga, yaitu:

  • Dua orang anak perempuan atau lebih jika tidak bersama anak laki-laki.
  • Dua orang atau lebih cucu perempuan dari garis laki-laki jika tidak bersama dengan cucu laki-laki dan tidak dalam kondisi mahjub.
  • Dua orang saudara perempuan kandung atau lebih jika tidak bersama saudara laki-laki kandung.
  • Saudara perempuan seayah jika tidak bersama saudara laki-laki seayah.

Sepertiga

Ada tiga orang yang mendapatkan warisan sepertiga, yaitu:

  • Ibu berhak mendapatkan sepertiga jika tidak ada anak, cucu atau saudara dua orang atau lebih. Selain itu, bisa juga mendapatkan sepertiga sisa di dalam kasus gharrawain, yaitu jika ahli waris yang ada terdiri atas suami/istri, ibu dan bapak.
  • Saudara laki-laki seibu dua orang atau lebih, jika tidak ayah, kakek, anak dan cucu.
  • Kakek, jika bersama saudara kandung atau seayah dan tidak ada ahli waris lain. Kakek dan saudara kandung juga bisa mendapatkanm uqasamah.

Seperenam

  • Ibu. Jika ada anak, cucu, atau dua saudara atau lebih, maka ia mendapatkan seperenam harta.
  • Nenek, jika tidak ada ibu si mayat yang meninggalkan harta dan jika seorang diri. Jika  neneknya lebih dari satu, harta yang seperenam dibagi rata.
  • Ayah, jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki, ia mendapatkan harta seperenam. Selain itu, juga memperoleh seperenam dan menjadi ashabah jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan.
  • Kakek, jika ada anak laki-laki atau cucu laki.  Kakek juga bisa mendapatkan seperenam plus ashabah ketika bersama anak perempuan atau cucu perempuan. Kakek juga bisa mendapatkan seperenam atau bagi rata degan saudara kandung atau seayah.
  • Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan kedudukannya sama. Ia mendapatkan seperenam ketika seorang diri dan tidak ada yang menghalanginya mendapatkan harta warisan, yaitu ketika tidak ada ibu, kakek, anak, dan cucu laki-laki atau cucu perempuan.
  • Cucu perempuan, jika bersama seorang anak perempuan, tidak cucu laki-laki, dan tidak ada yang menghalangi mendapatkan harta warisan.
  • Saudara perempuan seayah, jika bersama saudara perempuan sekandung seorang diri, sebagai pelengkap 2/3 (takmilah li al-tsulusain).
  • Saudara seibu.
  • Cucu perempuan.
  • Saudara perempuan seayah.

Nah, itulah ulasan seputar harta waris dan pembagiannya. Semoga bermanfaat!