Pantai merupakan tepian laut yang biasanya digunakan sebagai tempat rekreasi. Di pantai juga terdapat ekosistem pantai yang berlangsung. Secara umum, pantai didefinisikan sebagai daerah perbatasan antara laut dan ekosistem darat serta daerah pasang surut air laut. Ekosistem pantai paling besar dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut karena langsung berhubungan dengan daerah sekitar.

Saat terjadi peristiwa hempasan gelombang atau hembusan angin laut, maka pasir yang berada di pantai membentuk gundukan. Setelah terjadi gunungan pasir tersebut, secara tidak langsung lama kelamaan akan terbentuk hutan pantai. Di daerah pasang surut air laut dapat terbentuk hutan. Satu-satunya hutan yang dapat terbentuk di daerah ini, yakni hutan bakau.

Hutan bakau memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Hutan bakau dapat melindungi pantai sehingga tidak terjadi pengikisan. Selain itu, di bawah pohon bakau juga terdapat aneka hewan laut. Pohon bakau tumbuh pada pasang surut yang berlumpur. Oleh karena itu, pohon bakau memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah yang berlumpur sehingga dapat terus hidup walaupun kekurangan oksigen. Akar napas mempunyai banyak fungsi. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar napas pun dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang.

Ada bermacam-macam tumbuhan yang hidup di hutan bakau, di antaranya Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera. Jika tanah pasang surut air laut tidak terlalu basah, ada beberapa pohon yang sering tumbuh di antaranya Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

Selain hutan bakau, juga terdapat hutan pantai. Tumbuhan yang ada di hutan pantai cukup beragam. Tumbuhan di hutan pantai tersebut tumbuh bergerombol membentuk kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan habitatnya. Suatu kelompok vegetasi yang terbentuk karena habitatnya disebut dengan formasi. Setiap formasi yang terbentuk diberi nama sesuai dengan spesies tumbuhan yang paling dominan tumbuh di sana. Semua organisme yang hidup di pantai mempunyai adaptasi yang bersifat struktural sehingga dapat melekat erat walaupun di daerah yang keras.

Ekosistem pantai dibedakan menjadi beramacam-macam. Ekosistem pantai yang terbentuk berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi daerah atas dan daerah tengah. Ekosistem pantai daerah atas merupakan daerah yang hanya terendam saat pasang naik tinggi, sedangkan pada saat pasang rendah, wilayah ini tidak terendam air laut. Pada daerah atas tersebut dihuni oleh beberapa jenis tanaman seperti ganggang, moluska, dan remis.

Tamanan-tanaman tersebut menjadi konsumsi utama bagi kepiting dan burung pantai. Daerah tengah pantai merupakan daerah yang terendam air laut saat pasang tinggi ataupun pada saat terjadi pasang rendah. Jadi, pada daerah ini, tinggi rendahnya air laut tidak berpengaruh banyak. Di daerah tengah tersebut dihuni oleh beberapa jenis hewan juga tumbuhan seperti ganggang, kepiting, landak laut, bintang laut, ikan-ikan kecil, porifera, anemon laut, remis, kerang, dan yang lainnya. Terakhir, daerah pantai dalam. Daerah pantai yang terdalam merupakan daerah yang terendam pada saat air pasang maupun air surut. Daerah pantai dalam dihuni oleh bermacam-macam jenis hewan invertebrata, ikan, dan rumput laut.

Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan yang ada di pantai dapat dibedakan menjadi dua, yakni formasi pres-caprae dan formasi baringtonia. Formasi pres-caprae adalah formasi tumbuhan dengan tumbuhan dominan, yakni ipomeea pres-caprae. Selain itu, ada juga jenis tumbuhan vigna, rumput angin, canavalia maritime, euphorbia atoto, pandan, bakung, scaevola frutescens. Sementara itu, formasi baringtonia, yakni pohon baringtonia atau disebut dengan pohon butun. Tumbuhan lain yang tumbuh pada formasi ini adalah Callophylum inophylum atau nyamplung, Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus atau waru laut, Terminalia catapa atau ketapang.

Berikut ini berbagai ekosistem pantai menurut jenis pantai.

1. Ekosistem Pantai Batu

Ekosistem pantai batu, yakni ekosistem yang terbentuk dari bongkahan-bongkahan batu granit. Bongkahan batu granit tersebut adalah bongkahan batu yang besar atau juga bisa berupa batuan padas. Batuan padas sendiri terbentuk dari proses konglomerasi atau proses berkumpul dan menyatunya batu-batu kecil dan kerikil dengan tanah liat atau tanah kapur. Ekosistem pantai batu tersebut biasanya didominasi vegetasi dari tananam jenis Sargassum atau Eucheuma. Ekosistem pantai batu sendiri mempunyai beberapa ciri, di antaranya daerah yang berpasir sehingga menyebabkan daerah tersebut memiliki karakteristik yang minim hara karena tanahnya berpori-pori besar dan mempunyai permeabilitas tanah sangat baik.

Ekosistem ini juga mempunyai air tanah yang dangkal. Selain itu, letaknya juga berdekatan dengan laut sehingga menyebabkan ekosistem pantai batu mempunyai udaranya cukup lembab dan mempunyai kadar garam tinggi. Tumbuhan berbiji pada ekosistem pantai yang hidup di daerah ini dapat beradaptasi pada habitat tanah yang berpasir dan dengan porositas tinggi. Selain itu, tanaman tersebut berada pada ketinggian 1 - 10 meter di atas permukaan air laut. Ekosistem pantai batu mempunyai curah hujan yang rendah. Pada ekosistem ini, dapat ditemukan kurang lebih 170 jenis flora. Sebanyak 170 jenis flora tersebut terbagi ke dalam 42 ordo dan juga terbagi ke dalam 61 famili. Ekosistem pantai batu ini dapat dijumpai di wilayah pesisir berbukit yang mempunyai berdinding batu.

2. Ekosistem Pantai Lumpur

Ekosistem pantai lumpur, yakni ekosistem yang terbentuk dari pertemuan endapan lumpur sungai. Ekosistem ini membentuk habitat dengan tumbuhannya ricemia, skeratia, dan rumput laut atau juga disebut dengan enhalus acoroides. Selain tumbuhan tersebut, ada binatang-binatang yang hidup dalam ekosistem pantai lumpur. Binatang-binatang yang hidup pada ekosistem pantai lumpur tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dijual.

Ekosistem pantai lumpur juga mempunyai muara. Muara tersebut terdapat di muara yang juga mendapat sebutan sebagai monsun estuaria. Habitat pantai lumpur yang hidup adalah berbagai jenis biota seperti ikan gelodok. Ekosistem pantai lumpur biasanya dapat mudah kita jumpai di pantai-pantai yang mempunyai pulau yang  cukup besar. Pulau tersebut mempunyai sungai-sungai lebar cukup lebar dan volume air yang besar seperti yang terdapat di Pulau Kalimantan, Irian Jaya, Sumatera, dan Jawa.

Ciri-ciri Ekosistem Pantai

Ekosistem pantai juga mempunyai ciri-ciri. Salah satu ciri ekosistem pantai yaitu tumbuhan yang memiliki akar napas sebagai adaptasinya karena di daerah pasang surung air laut yang berlumpur. Fauna ekosistem pantai adalah jenis fauna seperti udang, kepiting, burung laut, moluska, atau kerang-kerangan. Selain itu, juga terdapat bintang laut dan hewan seperti siput, keong, landak laut, dan ikan-ikan kecil. Oleh karena itu, jika menemukan hewan serta tumbuhan-tumbuhan tersebut, dapat dipastikan bahwa hewan-hewan tersebut berasal dari ekosistem pantai.

Fungsi Ekosistem Pantai

Ekosistem pantai sangat bermanfaat bagi kehidupan. Fungsi ekosistem pantai di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Areal Tambak Garam

Indonesia memiliki wilayah laut yang lebih luas daripada dataran sehingga memungkinkan beberapa wilayah Indonesia yang terletak dekat dengan pesisir pantai dapat digunakan sebagai area tambak garam. Area tambak garam mudah dilakukan jika sudah mempunyai alat-alat karena bahan baku berupa air laut sudah tersedia secara melimpah dan tidak ada habisnya. Tambak garam tersebut dijadikan oleh masyarakat pesisir sebagai mata pencaharian penduduk. Jika area ini dibudidayakan secara maksimal dan terarah, garam yang dihasilkan pun menjadi komoditas bernilai jual dan berkualitas.

2. Daerah Pertanian Pasang Surut

Wilayah pasang surut air laut juga bisa digunakan sebagai daerah pertanian. Warna masyarakat yang berada di daerah Kulon Progo memanfaatkan area pantai untuk berladang atau bertani. Hasil dari bertani tersebut dapat dijadikan mata pencaharian.

3. Wilayah Perkebunan Kelapa dan Pisang

Pohon pisang dan kelapa merupakan dua tanaman yang mudah tumbuh di mana pun sehingga dua jenis tanaman ini dapat ditanaman di pantai.

4. Objek Wisata

Wilayah pantai paling banyak dijadikan sebagai objek wisata. Seluruh pesisir pantai yang ada di Indonesia dan dapat dijangkau dengan mudah sehingga dapat dijadikan sebagai objek wisata seperti pantai Baron, Kukup, dan Krakal yang ada di Gunung Kidul Yogyakarta.

5. Pengembangan Kerajinan Rakyat Khas Pesisir Pantai

Hewan-hewan laut seperti kerang dapat dijadikan sebagai kerajinan tirai pintu, gelang, kalung, dan masih banyak yang lain.

Nah, itulah penjelasan mengenai ekosistem pantai. Semoga penjelasan tersebut bermanfaat bagi Anda.