Antara ilmu ekonomi dan sosiologi, pada dasarnya memiliki kajian yang berbeda antara satu sama lainnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika yang ada di tengah masyarakat, kedua ilmu tersebut mampu disandingkan untuk menciptakan perpektif pemikiran baru. Terutama, dalam melihat kajian ekonomi yang dipandang dari sisi manusia yang melahirkan disiplin ilmu sosiologi ekonomi tersebut.

Sosiologi ekonomi memiliki peran dalam melakukan analisa atas berbagai fenomena ekonomi. Khususnya yang berhubungan dengan masalah produksi, distribusi, pertukaran, konsumsi serta berbagai faktor ekonomi lainnya. Dengan adanya kajian sosiologi ekonomi, setiap proses perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat, akan bisa dilihat dari sudut pandang dampak yang ditimbulkannya.

Hal ini mengingat, setiap tahapan pembangunan ekonomi yang terjadi di tengah masyarakat pasti membawa dampak terhadap masyarakat itu sendiri. Mengingat, masyarakat merupakan pelaku serta pencipta setiap kegiatan ekonomi tersebut. Sehingga ketika mereka mengalami perubahan yang disebabkan keberhasilan proses ekonomi, secara langsung berimbas pada sistem kehidupan masyarakat.

Melalui kajian sosiologi ekonomi masyarakat bisa belajar terhadap proses pembangunan yang terjadi di negara maju beserta dampak pada masyarakat di negara tersebut. Dengan demikian, masyarakat di negara lain bisa belajar dan mengetahui dampak yang kemungkinan muncul terhadap setiap proses pembangunan di negara mereka.

Menurut Smelster dan Swedberg, sosiologi ekonomi diartikan sebagai sebuah turunan ilmu dari bidang sosiologi yang berfokus pada kajian tentang analisa pelaku maupun kelompok masyarakat dalam upaya mencukupi kebutuhan hidup mereka. Dari sini terlihat, bahwa bidang kajian ini akan mempelajari ilmu ekonomi dari sudut pandang manusia yang merupakan pusat kajian dari ilmu sosiologi.

Ilmu ekonomi akan memberi asumsi bahwa setiap orang mempunyai pilihan atau prioritas tertentu. Dimana setiap tindakan seseorang yang tujuannya untuk mengoptimalkan kegunaan serta keuntungan yang selanjutnya dikenal dalam bahasa ekonomi sebagai rasionalitas. Namun, pandangan tersebut berbeda dari apa yang ada dalam kajian sosiologi. Dimana dalam bidang sosiologi, tindakan masyarakat tersebut dapat dipilah menjadi tindakan rasional dan tindakan tradisional atau afektual.

Banyak ahli ekonomi yang beranggapan bahwa tindakan ekonomi bisa dilihat dari adanya hubungan antara preferensi selera dengan harga maupun jasa di sisi lain. Sedangkan para ahli sosiologi lebih melihat arti dari aktivitas yang dilakukan manusia, akan disusun dalam sebuah proses yang panjang.

Selain itu, para ahli ekonomi cenderung kurang melihat pada aspek kekuasaan, karena dalam pandangan ekonomi, tindakan ekonomi lebih mengacu pada sekedar proses pertukaran pada dua atau beberapa obyek yang memiliki derajat sama. Sementara para ahli sosiologi, memiliki pandangan yang tidak sama. Karena dalam sudut pandang sosiologi, power atau kekuasaan dianggap sebagai salah satu dimensi utama yang menjadi penentu pada tindakan ekonomi.

Dalam masalah ekonomi, terdapat beberapa proses yang menjadi penghambat bagi terciptanya proses ekonomi. Hambatan tersebut antara lain masalah selera, kelangkaan sumber daya dan juga mengenai terbatasnya penguasaan teknologi.

Untuk melakukan analisa pada kondisi seperti ini, para ahli ekonomi cenderung menggunakan pendekatan yang berdasar pada konsep pemaksimalan pemanfaatan serta proses peraihan keuntungan. Dalam kajian sosiologi, masalah yang tersebut diatas akan dianalisis dengan lebih mendalam. Dimana proses keterbatasan beberapa faktor untuk melakukan tindakan ekonomi tersebut, disebabkan oleh adanya keterbatasan pada beberapa faktor lainnya. misalnya hubungan yang terjadi pada masing-masing faktor, dan yang paling utama adalah keterbatasan sumber daya.

Ekonomi dalam Masyarakat

Dalam berbagai kajian tentang ilmu ekonomi, faktor masyarakat sering tidak dianggap sebagai sebuah faktor yang memiliki dampak langsung terhadap proses ekonomi. Itulah mengapa, kajian tentang masyarakat tidak dibahas dalam teori ekonomi. Sebaliknya dengan kajian ilmu sosiologi. Dalam kajian ini, masyarakat dianggap sebagai sebuah faktor dan sistem sosial serta ekonomi menjadi bagian yang menyatu dengan masyarakat itu sendiri. Dengan adanya kajian sosiologi ekonomi, pusat kajian yang dilakukan menitikberatkan pada beberapa hal, antara lain:

1. Analisa sosiologis mengenai proses ekonomi yang terjadi di tengah masyarakat. Misalnya tentang proses pembentukan harga yang terjadi pada pelaku ekonomi.

2. Analisa hubungan antara ekonomi serta lembaga lain yang ada di tengah masyarakat. Sehingga dari analisa ini bisa dikaji dan diketahui hubungan antara ekonomi dengan lembaga sosial seperti lembaga agama, politik, birokrasi maupun lembaga lain yang ada.

3. Analisa tentang dinamika kelembagaan serta parameter budaya yang dijadikan dasar ekonomi dalam masyarakat.

Beberapa dasar kajian tersebut tidak muncul dengan sendirinya dan dilakukan tanpa adanya landasan yang kuat. Terdapat beberapa kajian tentang tindakan pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi yang menitik beratkan pada analisa mengenai bagaimana masyarakat mampu bertahan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya.

Dalam sejarahnya, perkembangan sosiologi ekonomi dimulai dari adanya perkembangan sistem ekonomi modern. Dimana sistem ekonomio modern ini memiliki ciri seperti adanya perkembangan masyarakat industri setelah kehidupan masyarakat agraris. Dimana dalam kehidupan agraris, pokok kehidupan masyarakat bertumpu pada kegiatan ekonomi pertanian.

Sejak tahun 1980an, muncul kajian mengenai sosiologi ekonomi yang dikenal dengan teori Granovetter. Teori ini mengkaji mengenai adanya keterkaitan dalam peletakan jaringan sosial sebagai pusat kajiannya. Teori Granovetter ini kemudian dikembangkan lagi melalui pembahasan tentang pengaruh struktur sosial terutama yang dibentuk melalui jaringan sosial. Khususnya yang pembentukannya dengan didasarkan pada jaringan sosial, terhadap manfaat ekonomi. Terutama yang berkaitan pada masalah kualitas informasi.

Teori Sosiologi Ekonomi

Kajian sosiologi ekonomi, banyak didasari oleh pemikiran dasar sosiologi yang dikemukakan oleh para pengemuka ilmu tersebut. Beberapa tokoh klasik sosiologi yang banyak dikenal antara lain adalah Karl Marx, Emille Durkheim, Max Weber dan Simmel. Pemikiran yang dikemukakan oleh mereka inilah yang kemudian dikembangkan oleh para sosiolog modern untuk menganalisa bidang ilmu lain dari sudut pandang sosiologi, salah satunya adalah sosiologi ekonomi.

Beberapa teori baru dimunculkan oleh para sosiolog tersebut, khususnya dalam mengkaji sosiologi ekonomi tersebut. Beberapa teori yang berkembang dalam pemikiran sosiologi ekonomi antara lain adalah:

1. Teori Pilihan Rasional

Teori ini dikembangkan oleh James S. Coleman. Teori ini berlandaskan pada gagasan yang dikemukkaan oleh Max Weber melalui tindakan rasionalnya. Coleman mengemukakan teori  rasionalitas atau pilihan rasional yang kemudian melahirkan kajian tentang studi kapitas sosial secara khusus serta pewujudan kapital secara umum dengan menggunakan sudut pandang sosiologi ekonomi. Terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan transaksi sosial ekonomi.

Dalam teori Coleman tersebut, setiap tindakan rasional yang dilakukan memiliki beberapa kata kunci yang masing-masing harus saling berhubungan. Menurut Coleman, dirinya tidak menggunakan pemikiran Fungsionalisme Sturktural sebagai acuan atas teori yang dikemukakannya tersebut. hal ini mengingat, adanya kritikan yang timbul pada aliran sosiologi dan aliran ekonomi. Dimana kedua aliran tersebut berusaha memberikan penjelasan kapital sosial sampai tahun 1980an.

2. Teori Jaringan Sosial

Teori ini dikemukakan oleh Granovetter yang menjelaskan tentang pengaruh struktur sosial, khususnya yang dibentuk dengan berdasar pada jaringan sosial. Dimana jaringan sosial ini dilihat posisi yang diberikannya dalam menciptakan manfaat ekonomis, terutama yang berhubungan pada masalah informasi.
Ada empat prinsip utama yang mendasari pemikiran tentang hubungan jaringan sosial dan manfaat ekonomi, yaitu:

a. Norma dan kepadatan jaringan.

b. Nilai manfaat ekonomi yang diperoleh dari jaringan yang lemah.

c. Peran dari lubang struktural yang berada di luar ikatan lemah atau ikatan kuat. Dimana lubang tersebut memiliki peran yang bermanfaat untuk menghubungkan antara individu dengan pihak luar.

d. Aktivitas non ekonomi yang memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi.

3. Teori New Institutinalism

Pemikiran ini dikembangkan pada tahun 2005, oleh Nee. Dalam gagasannya, Nee menjelaskan tentang bagaimana sebuah lembaga berhubungan dengan jaringan sosial serta norma sosial. khususnya untuk mengarah pada berbagai kegiatan yang bersifat ekonomi. Model penjelasan yang dikemukakan oleh Nee ini dikenal dengan model institusional baru dari perspektif sosial ekonomi.

Dalam model tersebut, Nee melihat bahwa mekanisme lembaga mempunyai faktor penyebab yang lebih dominan karana berpengaruh pada insentif. Norma-norma yang timbul, kemudian akan saling berhubungan dan diwujudkan pada kepentingan individu.