Apa itu dumping? Mendengar istilah dumping, sebagian dari Anda pastinya sudah tidak lagi asing. Dalam perdagangan internasional, dumping merupakan sebuah kebijakan yang dilakukan oleh suatu negara untuk menjual barang lebih murah di luar negeri dan menjual barang dengan harga mahal di dalam negeri.

Pasti Anda juga semakin penasaran apa keuntungan suatu negara dengan mengeluarkan kebijakan dumping tersebut? Apakah tidak semakin menyengsarakan masyarakat dalam negeri dan menyejahterakan negara lain dengan penawaran harga yang lebih rendah?

Ternyata kebijakan dumping tersebut mempunyai beragam motif yang pastinya akan menguntungkan negara pengekspor. Meskipun negara pengekspor memberikan harga yang lebih murah kepada negara tujuan ekspor, namun ternyata hal tersebut belum tentu terjadi terus-menerus. Belum tentu negara pengirim memberikan harga yang murah selamanya. Pihak produsen menunggu hingga beberapa tahun ke depan ketika negara tujuan ekspor tersebut sudah bergantung dengan negara pengekspor.

Dalam sebuah perdagangan internasional, kebijakan yang terkadang merugikan negara tujuan ekspor dalam jangka panjang memang sering kali dijumpai. Sehingga kegiatan ini tak jarang menimbulkan berbagai spekulasi pada masyarakat.

Jenis Dumping

Dumping dibedakan menjadi dua jenis. Keduanya memiliki kebijakan yang berbeda. Berikut penjelasannya untuk Anda.

1. Predatory dumping

Dumping jenis ini merupakan dumping yang bersifat sementara. Dumping tersebut dilakukan ketika produsen negara pengekspor melakukan persaingan harga dengan negara lain. Sehingga setelah produsen negara pengekspor mampu memenangkan persaingan tersebut, secara otomatis harga barang akan dinaikkan oleh produsen negara pengekspor.

Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa predatory dumping hanya digunakan sebagai strategi produsen untuk mendapatkan pangsa pasar di negara lain dan untuk mematikan negara pengekspor lain.

2. Persistent dumping

Persistent dumping memiliki perbedaan dengan predatory dumping. Dumping jenis ini dilakukan secara terus-menerus. Hal tersebut bisa kita lihat dari pedagang Cina yang mampu menjual barang dengan harga murah secara terus menerus.

Menanggapi hal ini, beberapa kebijakan yang berkaitan dengan dumping pun muncul. Saat ini, dumping sudah dilarang secara internasional. Kegiatan ini dilarang secara besar-besaran. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi kelancaran perdagangan internasional.

Dumping, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh WTO, organisasi perdagangan dunia. secara tegas memberlakukan pelarangan terhadap transaksi dumping, karena hal tersebut dapat mengarah pada perdagangan yang tidak sehat dan bisa membahayakan kelangsungan perdagangan dalam negeri.

Proses dari dumping tersebut bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Misalnya saja pada sebuah negara tanpa dumping, sebut saja negara A, negara tersebut menjual barang dengan harga sebesar $10, dan negara B yang mengenakan kebijakan dumping menjual barang yang sama kepada negara A seharga $5, hampir bisa dipastikan negara tujuan ekspor dalam hal ini negara A akan lebih memilih menggunakan produk dari negara B dibandingkan dengan negara A itu sendiri. Oleh karena itu bisa terlihat adanya persaingan yang kurang sehat antara negara A dan negara B.

Dengan semakin banyaknya kerugian yang berasal dari dumping tersebut, untuk saat ini pihak internasional melakukan pelarangan terhadap kebijakan dumping tersebut. Pelarangan terhadap dumping diberlakukan semata-mata agar tidak ada pihak yang dirugikan dari adanya praktik dumping ini. Untuk lebih memahami praktik dumping tersebut, akan diuraikan secara mendalam mengenai tujuan dari kebijakan dumping tersebut.

Tujuan Dumping

Jika dilhat dari tujuannya, pemberlakuan dumping tersebut memiliki tujuan antara lain:

1. Menguasai pasar luar negeri

Tujuan paling utama dari kegiatan dumping adalah digunakan untuk menguasai pasar luar negeri. Negara pengekspor rela untuk menjual barangnya dengan harga yang lebih rendah kepada negara tujuan ekspor, dan tega untuk menjual barangnya lebih tinggi di dalam negeri.

Bila dipikir-pikir kebijakan tersebut pastilah akan memberatkan masyarakat dalam negeri. Akan tetapi coba Anda lihat kebijakan tersebut selama 10 tahun atau 20 tahun mendatang. Ketika suatu negara sudah bergantung kepada produk asing, harga yang diberikan oleh negara pengekspor bisa dinaikkan secara bertahap. Sedangkan harga dalam negeri bisa diturunkan dengan mudah.

Kondisi tersebut terjadi karena hal yang paling dicari oleh negara pengekspor adalah mencari seorang konsumen dari negara tujuan ekspor. Jika di awal penjualan saja negara pengekspor sudah mengenakan harga yang tinggi, hal tersebut pastinya membuat konsumen dari negara tujuan ekspor tersebut tidak tertarik untuk membeli barang ataupun bergantung dengan barang ekspor tersebut dalam jangka panjang.

Sehingga dumping semata-mata digunakan sebagai strategi untuk menarik minat konsumen tujuan ekspor. Dan di kemudian hari, konsumen dari negara tujuan ekspor akan bergantung kepada produk dari negara pengekspor. Pada akhirnya, masyarakat negara tujuan ekspor tersebut tetap mau membeli meskipun harga barang dinaikkan sesuai keinginan negara pengekspor.

2. Mencapai Target Penjualan Suatu Barang

Hal lain yang melatarbelakangi terjadinya dumping adalah adanya target penjualan dari produsen negara pengekspor yang harus dicapai. Dengan tujuan tersebut, produsen akan melakukan apa saja untuk pencapaian target penjualan.

Upaya yang dilakukan oleh negara pengekspor adalah dengan mengenakan dumping. Dengan menggunakan strategi dumping tersebut diharapkan konsumen negara tujuan ekspor akan semakin tertarik untuk membeli barang karena harga yang ditawarkan lebih murah daripada harga pasar pada umumnya. Dengan begitu konsumen akan berbondong-bondong membeli barang. Hasilnya, target penjualan dari produsen negara pengekspor pun akan lebih mudah tercapai.

Akan tetapi dari kondisi ini, negara tujuan ekspor harus ekstra hati-hati. Karena meskipun harga yang ditawarkan lebih rendah, kondisi tersebut akan membahayakan pasar dalam negeri. Dengan barang yang sama dan harga yang jauh lebih murah, hal tersebut dalam jangka panjang bisa menghancurkan pasar domestik. Jika dibiarkan, pasar local pada sebuah negara bias hancur.

3. Menghabiskan Sisa Barang

Selain kedua poin di atas tujuan lain dari pemberlakuan dumping adalah untuk menghabiskan sisa barang produksi. Dengan adanya dumping, produsen negara pengekspor bisa menjual barangnya ke luar negeri secara mudah, sehingga mereka bisa segera menghabiskan sisa barang yang mereka miliki untuk kemudian membuat model barang yang baru.

Jika dihitung-hitung biaya gudang yang harus dikeluarkan oleh produsen untuk menempatkan barang produksi lumayan besar. Oleh karena itu bukanlah hal yang salah jika produsen lebih memilih untuk melakukan dumping. Keuntungan yang mereka peroleh selain persediaan barang sisa mereka habis, adalah juga kebergantungan pihak konsumen terhadap mereka.

Setelah mengetahui beragam jenis dumping dan tujuan dari adanya kebijakan dumping tersebut, maka secara umum sudah bisa Anda pahami dampak negatif dari pemberlakuan dumping tersebut. Memang di satu sisi dumping akan memberikan keuntungan bagi negara pengekspor, namun di sisi lain dumping akan merugikan produsen lokal negara tujuan ekspor, karena tidak mampu bertahan dari serangan barang dari luar negeri yang menawarkan harga murah.

Sebagaimana yang diulas di awal, dengan mengetahui beragam kerugian yang timbul dari kebijakan dumping tersebut, maka WTO secara tegas melakukan pelarangan dari praktik dumping tersebut.

Dengan adanya pelarangan praktik dumping dari WTO tersebut diharapkan perdagangan internasional dapat berjalan secara profesional dan tanpa merugikan pihak manapun. Sehingga perdagangan internasional tidak lantas membunuh produsen dalam negeri dan memberikan keuntungan bagi produsen asing. Bahwa kegiatan ini, perdagangan internasional, diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak.