Pengertian Dosa

Dosa adalah satu tindakan yang disamakan dengan melanggar perintah Allah dan mendekati larangan Allah Swt. Dosa kepada Allah disebutkan bahwa seseorang melakukan kesalahan sehingga tidak sesuai dengan jalan yang ditunjukkan oleh Allah Swt. melalui rasul-Nya. Perilaku atau perbuatan dosa bisa dilakukan oleh siapa saja, oleh setiap manusia dalam kadar yang berbeda-beda. Sudah menjadi fitrah bahwa manusia adalah tempat salah dan dosa. Hanya saja bagaimana cara seseorang untuk terlepas dan terbebas dari dosa tersebut yang nantinya membawa ke dalam suatu kebutuhan untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah Swt.

Dari berbagai ayat dalam Alquran dan Hadis, telah kita ketahui awal mula manusia melakukan dosa, yaitu saat penciptaan Nabi Adam as dan Hawa istrinya. Iblis yang merasa lebih terhormat karena terbuat dari api tidak mau bersujud atau menghormat kepada Adam as yang akan dijadikan sebagai khalifah di muka bumi. Iblis dilaknat oleh Allah dan dia bersumpah akan mengajak Adam as dan anak keturunannya untuk berbuat dosa agar bisa menemani iblis di neraka. Akhirnya dosa pertama terjadi pada manusia, yaitu pada saat Adam as dengan sengaja melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah yang dinamai oleh iblis sebagai khuldi.

Setelah melanggar itulah, kemudian Allah menurunkan Adam dan Hawa ke bumi dan tak lagi hidup di surga. Dari sinilah, masa lalu sampai sekarang iblis tetap berusaha keras untuk menyesatkan keturunan Adam as, termasuk kita untuk berbuat dosa.

Berbagai macam dosa telah dilakukan oleh umat manusia atas bujuk rayu iblis. Tak seorang pun yang melakukan dosa merasa telah ditemani oleh iblis padahal mereka ada di sekitarnya. Mengajak dengan kenikmatan dunia tanpa mengindahkan bahwa kenikmatan tersebut sesungguhnya menipu dan menjerumuskan ke dalam dosa kepada Allah Swt. Iblis dapat menjelma menjadi harta, benda, kedudukan, pangkat, penghormatan, wanita cantik, laki-laki gagah, dan semua hal yang terlihat indah secara kasat mata di dunia. Tak sadar terkadang seseorang lupa dengan hakikat diri yang sesungguhnya sebagai hamba Allah Swt. Hamba yang seharusnya menyembah Tuhan tanpa kenal lelah dan tanpa mengeluh. Menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Demikian manusia bergaul dengan dosa dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Akan tetapi, untunglah Allah Swt selalu menerima tobat setiap hamba-Nya. Ketika seseorang menyadari kesalahan atau dosanya, kemudian ingin kembali ke jalan Allah Swt., yakni dengan melakukan tobat nasuha. Apa itu tobat nasuha? Melakukan janji untuk tidak mengulang kesalahannya lagi serta menjadi seseorang dengan keimanan yang lebih berkualitas. Maka di sanalah jalan ampunan dari Allah Swt telah terbuka lebar.

Pada dasarnya, dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa kepada Allah Swt dan kepada sesama manusia. Namun, kedua dosa tersebut biasanya saling terkait. Suatu dosa yang dilakukan sebenarnya merugikan diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya.

Namun, di antara berbagai dosa yang dilakukan oleh manusia, semua itu memiliki tingkatannya. Ada dosa yang tergolong dosa besar dan dosa kecil. Meskipun sama-sama perlu dihindari, namun dosa besar benar-benar harus diwaspadai agar jangan sampai kita lakukan. Apabila terlanjur melakukannya, semoga ada hidayah untuk bertobat dan kembali kepada jalan kebenaran yang telah dituntunkan oleh Allah Swt. Meskipun begitu, dosa kecil pun tidak boleh dengan semena-mena dilakukan.

Dosa Besar yang Patut Dihindari

1. Syirik kepada Allah Swt

Syirik adalah menyekutukan Allah. Syirik kepada Allah Swt merupakan dosa terbesar yang sebisa mungkin untuk dihinsari. Allah sebagai Zat pencipta langit dan bumi, pencipta segala yang diinginkan-Nya tak pantas rasanya untuk diduakan, dibandingkan, dan disejajarkan dengan lainnya. Padahal yang selain Allah adalah makhluk-Nya sama sebagaimana manusia, yakni sebagai makhluk Allah Swt.

Beberapa bentuk syirik kepada Allah Swt, di antaranya:

  • Menyekutukan atau menyamakan Allah Swt dengan yang lainnya, padahal yang lain itu adalah makhluk-Nya. Hanya Dia Sang Khalik Yang Maha Pencipta segala yang ada di langit dan bumi.
  • Beribadah atau menyanjung dan hormat secara berlebihan selain kepada Allah Swt.. Memuliakan yang lain lebih tinggi atau sejajar dengan Allah padahal tak ada yang lebih mulia dibandingkan Dia.
  • Meminta pertolongan, rezeki, dan perlindungan selain kepada-Nya. Padahal hanya Dia yang memiliki rezeki, pertolongan, dan perlindungan bagi hamba-Nya.
  • Berharap kepada selain Allah Swt. untuk mengabulkan keinginan dan memperoleh rahmat. Padahal hanya Allah Swt yang bisa mengabulkan segala keinginan hamba-Nya dan memberikan rahmat-Nya.
  • Melampaui batas dalam mengejar dunia sehingga melupakan Allah Swt bahwa hanya Dialah Zat yang pantas dikejar dan dicintai.
  • Menyembelih hewan atau menyiapkan makanan untuk makhluk lain yang diyakini memiliki kekuatan gaib padahal kekuatan yang sebenarnya hanyalah milik-Nya.
  • Meminta keselamatan dan keinginan lain di kuburan.

Allah Swt berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman ayat 13)

Namun demikian, syirik juga tetap bisa mendapatkan ampunan dari Allah Swt sesuai dengan kehendak-Nya. Asalkan tentu saja siapa pun yang melakukannya bertobat dan tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Allah Swt berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa yang di bawah kesyirikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa ayat 48)

Kerugian Syirik

  • Seseorang yang telah menyekutukan Allah atau berbuat syirik maka amalan ibadahnya akan hilang nilainya. Dengan demikian, dapat dikatakan apa yang telah dilakukannya sebagai ibadah kepada Allah Swt. selama ini lenyap karena dia telah menyekutukan-Nya. Allah Swt berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 65: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu: jika kamu mempersekutukan (berbuat syirik) kepada Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
  • Orang yang berbuat syirik tanpa sempat bertobat dan diberikan ampunan oleh Allah Swt. akan menjadi penghuni neraka An-Nar dan kekal di dalamnya. Rasulullah Muhammad Saw. bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan dia berdoa (beribadah) kepada selain Allah (sebagai) tandingan/sekutu (bagi Allah), maka dia akan masuk ke dalam AnNar. (HR. Al Bukhori)

2. Durhaka kepada Orangtua

Dosa besar yang berikutnya ialah termasuk dosa kepada orang lain dan dosa kepada Allah Swt adalah durhaka kepada orangtua. Orangtua adalah orang yang telah menjadi perantara kehadiran kita di dunia. Allah Swt memilihkan bagi kita orangtua yang sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya. Oleh karenanya, berbuat baik kepada orangtua perlu dilakukan sebagai salah satu cara untuk beribadah kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman yang artinya:

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. An-Nisa ayat 36)

Berbuat baik artinya tidak durhaka kepada orangtua. Menyayangi mereka dan memelihara mereka dengan perkataan yang baik, perbuatan yang baik, dan melindunginya di kala tua.

Berikut ini hal-hal yang tidak diperkenankan untuk dilakukan seorang anak kepada orangtuanya:

  • Tidak mengakui salah satu atau kedua orangtuanya.
  • Berpikir buruk tentang kedua orangtuanya.
  • Berkata-kata kasar kepada kedua orangtuanya.
  • Bertindak kasar/aniaya kepada kedua orangtuanya.
  • Berbohong, menipu, dan mengajak orangtua untuk berbuat yang tidak baik.
  • Menerlantarkan kedua orangtuanya.
  • Memutus ikatan silaturahim dengan kedua orangtua.

Durhaka kepada kedua orang tua apa pun bentuknya merupakan perbuatan yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu (yakni orangtua).” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

3. Persaksian Palsu atau Perkataan Dusta

Setiap muslim harus senantiasa untuk berlaku jujur dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Jika tidak bisa berkata baik dan benar hendaknya seorang muslim diam saja daripada apa yang dikatakannya berupa kebohongan atau ketidakbenaran yang belum pasti adanya. Apabila seorang muslim memberikan kesaksian palsu maka hal tersebut termasuk dosa besar kepada Allah Swt. Kesaksian palsu tersebut bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekelilingnya. Kesaksian palsu juga sama dengan mempermainkan ketentuan Allah Swt karena telah berkata dusta tentang hal yang telah ditakdirkan-Nya atau telah terjadi.

Allah Swt. berfirman yang artinya:

“…maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj ayat 30)

Perkataan dusta atau persaksian palsu bisa disamakan dengan berhala yang menghalangi seorang hamba Allah untuk dekat dengan-Nya. Meninggalkan perkataan dusta sama dengan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan meninggalkan kesyirikan lainnya.

Hal-hal buruk yang ditimbulkan dari perkataan dusta, di antaranya:

  • Dusta merupakan amalan yang bisa mengantarkan kepada kejelekan. Kejelekan bukan hanya bagi si pendusta, tetapi bagi orang lain yang ada di sekeliling mereka. Nantinya kejelekan akibat dusta tersebut justru akan mengantarkan seseorang pendusta kepada neraka An-Nar. Rasulullah Muhammad Saw bersabda yang artinya: “Dan sesungguhnya dusta itu bisa mengantarkan kepada kejelekan, dan kejelekan itu bisa mengantarkan kepada An-Nar, dan senantiasa seseorang itu berbuat dusta sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  • Seseorang yang berbuat dusta melanggar prinsip dalam Islam yang selalu diingatkan oleh Rasulullah Saw, yaitu kejujuran. Dengan demikian, seorang pendusta diberi balasan setimpal kelak di hari kiamat dengan masuknya mereka ke neraka.

Demikianlah untuk setiap muslim harus senantiasa berpikir dan menelaah sebelum bertindak agar terhindar dari dosa besar. Apabila kita menahan diri untuk tidak melakukan dosa besar, maka insya Allah kita juga akan lebih mudah menahan diri untuk tidak melakukan dosa-dosa lainnya.