Mendengarkan dialog interaktif atau aktivitas berbicara/bercakap-cakap dengan terarah dan disertai tujuan, bisa dilakukan di radio atau TV. Di radio, kita hanya bisa mendengar suara karena bersifat audio. Sementara jika menyimak di TV, artinya tak hanya indera pendengaran yang digunakan, namun indera penglihatan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan saat menyimak dialog interaktif di radio maupun di TV. Berikut beberapa poinnya.

  • Tema dialog, atau nuansa, benang merah dari sesuatu yang akan dibicarakan.
  • Orang yang menjadi narasumber, atau orang yang dimintai keterangan atau informasi.
  • Pendapat yang dikeluarkan oleh para narasumber. Artinya narasumber tentu menghasilkan sesuatu yang disebut pendapat lisan.
  • Hal-hal yang penting atau kesimpulan dialog interaktif. Simpulan dalam tayangan talk show biasanya dikemukakan dan diarahkan pembawa acara. Namun secara langsung atau tidak langsung, pendengar/penyimak juga bisa membuat kesimpulan sendiri.

Mengomentari Pendapat dalam Dialog Interaktif

Dalam memberikan komentar, kita harus memperhatikan apa yang akan kita kemukakan. Hal-hal tersebut adalah.

  1. Komentar bisa bersifat obyektif atau tidak memihak narasumber maupun berita. Bisa pula berpendapat dengan unsur subyektif. Atau lebih sering berpendapat secara subytektif-obyektif. Atau mengemukakan hal-hal yang bersifat umum, kemudian mengemukakan pendapat pribadi.
  2. Komentar harus disertai fakta-fakta yang akurat dan meyakinkan. Artinya harus berdasar informasi yang benar sesuati dengan sumber di luar narasumber, yang kita ketahui. Misalnya berkomentar sambil menyinggung misalnya angka kemiskinan yang ada di suatu daerah. Penyebutan persentase kemiskinan itu haruslah berdasar riset yang pernah kita baca. Bukan mengarang. Komentar disertai fakta juga mengacu pada komentar yang jujur dan tidak mengada-ngada. Artinya jika kita berkomentar mengenai contoh pengalaman kita, otomatis haruslah pengalaman kita yang sebenarnya.
  3. Komentar harus disertai alasan yang logis. Artinya masuk di akal. Misalnya berkomentar mengenai pengalaman sejati yang benar-benar dialami. Bukan sejenis mengutarakan hal-hal fiktif dan membual. Alasan logis juga dipahami sebagai alasan umum yang diamini dan disuarakan banyak orang.

Apa saja hal-hal yang perlu dikomentari dalam dialog interaktif? Berikut penjabarannya:

  1. Penting dan tidaknya tema dialog. Artinya seberapa penting tema dialog yang diangkat dalam interaksi sosial atau kehidupan bermasyarakat. Misalnya membahas tema perempuan yang tertindas dalam sebuah novel sastra. Meski membicarakan masalah kehidupan fiksi dalam novel, namun gambaran dalam novel itu bisa sangat jadi merupakan gambaran dalam kehidupan nyata. Artinya tema dialog itu penting untuk dibicarakan karena dianggap memiliki kontriusi terhadap isu gender.
  2. Kemampuan dan penguasaan narasumber terhadap materi yang didiskusikan, bisa membuat kita mengomentari mereka. Kita bisa saja setuju, bisa pula tidak setuju. Karena berbeda pendapat itu adalah lumrah, seseorang bisa berkomentar terhadap pengakuan atau penjabaran informasi dari narasumber.
  3. Relevan tidaknya pertanyaan pembawa acara/penanya kepada narasumber. Artinya tak mungkin seorang penanya menanyakan hal-hal yang berbau koki dan masak memasak secara detil pada narasumbernya yang seorang ahli bangunan.
  4. Benar tidaknya jawaban narasumber terhadap pertanyaan yang diajukan pewawancara, penanya, pembawa acara, maupun wartawan. Benar tidak di sini adalah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan. Tak mungkin menjawab hal-hal yang bersangkutan dengan mudik dari pertanyaan yang berupa jenis takjil favorit selama bulan suci Ramadan.

Contoh Komentar Dialog Interaktif

Contoh fiktif dialog interaktif di TV.

Tema dialog : Presenter Lawak Tak Sehat

Narasumber : Pengamat media, orang yang berprofesi sebagai presenter,

Mediator  : Pembawa acara

Mediator : Banyak pembawa acara di beberapa tayangan hiburan TV yang dianggap mengemukakan candaan yang tidak sehat. Sampai-sampai KPI mendapatkan banyak aduan dari masyarakat. Bagaimana tanggapan Anda sebagai pakar media?

Pengamat media : Menurut saya itulah yang dilakukan media dalam hal ini televisi. Berlomba-lomba membuat program TV yang rendah bujet namun mendapatkan banyak keuntungan dari banyaknya iklan yang masuk. Komersialisme sudah menjadi tradisi di dunia entertainer mereka. Ini dihalalkan karena begitulah industri sebagaimana mestinya.

Mediator : Sebagai pelaku seni, bagaimana tanggapan Anda?

Presenter : Saya hanya berniat untuk menghibur, tidak ada niat untuk menghina orang lain. Kalau ada tanggapan menghina atau sebagainya, itu kan tanggapan orang. Hati orang siapa yang tahu. Janganlah menilai dari luarnya saja.

Mediator : Sampai sejauh ini ada yang mau menanggapi? Silakan.

Penonton Studio : Saya Darsih dari Universitas Pasundan. Saya merasa apa yang dilakukan komedian yang setiap hari tayang di variety show itu tidaklah mendidik. Beberapa presenter cuma mengandalkan lelucon lepas dan menjual spontanitas. Prihatin saya dengan para penikmat tayangan itu.

Mediator : Ada lagi? Satu lagi?

Penonton Studio : Sebaiknya tayangan variety show berbau komedi dibuat secara off air agar penonton bisa lebih menyaksikan tayangan yang sehat.

Simpulan dialog : Untuk meredam aksi spontantas presenter komedian, tayangan TV harus dibuat off air agar bisa diedit sehingga tayangan bisa lebih sehat.

Mendengarkan dialog interaktif terkadang seperti terlihat tidak penting. Padahal dengan mendengarkan dialog, kita bisa mengetahui sebuah berita dari banyak sisi. Hal ini dapat membuat pemikiran lebih berkembang, dan tidak hanya melihat masalah dari satu sisi.