Sebelum lebih jauh membahas tentang Corporate Social Responsibility (CSR), ada baiknya Anda simak terlebih dahulu pemaparan berikut. Setelah itu, barulah kita sama-sama bahas tentang apa yang dinamakan CSR.

Dalam perspektif lingkungan, ada istilah CO2 (Carbondioxide) yang jika melebihi ambang batas bisa dikategorikan sebagai pencemaran.. CO2 ini banyak ditimbulkan oleh aktifitas industri yang banyak menggunakan bahan bakar fosil. Banyaknya kandungan CO2 di udara tidak dapat segera terurai karena hutan yang selama ini ‘bertugas’ menetralisir kandungan udara semakin jarang.

Begitu pula yang terjadi dalam kegiatan perusahaan dalam perspektif ekonomi. Jika kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan termasuk dalam kategori tidak sehat, maka bisa menyebabkan pencemaran terhadap aktifitas ekonomi yang bisa berujung terhadap terjadinya krisis ekonomi.

Jika ditelaah lebih lanjut, krisis ekonomi global yang beberapa kali terjadi, sering diakibatkan oleh adanya krisis financial. Sejarah mencatatat telah beberapa kali terjadi krisis ekonomi, sebut saja great depression 1930, krisis ekonmi tahun 1997/1998 serta krisis keuangan pada tahun 2008.

Krisis ekonomi yang terjadi berkali-kali bisa mengindikasikan perlunya rasa tanggung jawab dalam berbisnis. Kita ambil contoh krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008. Krisis ini dipicu oleh subprime mortgage yang ada di Amerika. Krisis ini meruntuhkan banyak lembaga keuangan besar di Amerika.

Misalnya Lehman Brothers, Washington Mutual Bank dan juga American International Group (AIG). Ada banyak pendapat terkait dengan penyebab krisis ini. Lehman Brothers sebagai lembaga keuangan besar dipandang ceroboh dalam melakukan aktfitas bisnisnya. Kecerobohan ini mengakibatkan kerugian yang besar, tidak hanya dalam masyarakat Amerika sendri, tetapi juga masyarakat internasional.

Kecerobohan dalam berbisnis tidak hanya dilakukan oleh Lehman Bothers, tetapi juga sering dilakukan oleh banyak perusahaan lainnya. Oleh karena itu, aktifitas bisnis yang sehat sangat digalakkan sebagai bagian dari perwujudan tanggung jawab sosial. 

Apa Itu Corporate Social Responsibility (CSR)?

Ada banyak pengertian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang disampaikan oleh banyak pihak. Secara umum, CSR diartikan sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan terkait dengan kehidupan sosial. Dengan kata lain, CSR merupakan sekumpulan kebijakan serta praktek yang berhubungan dengan pihak stakeholder yang terkait dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta hukum yang berlaku dan berkomitmen untuk memajukan pembangunan yang berkelanjutan.

Di Indonesia konsep serta pelaksanaan dari CSR ini sesuai dengan pasal 74 UUPT (Undang-Undang Perseroan Terbatas) yakni UU Nomer 40 tahun 2007. Dengan adanya UU ini maka pihak perusahaan harus melakukan kewajibannya dimana kewajiban yang dimaksud tidak bersifat memberatkan.

Karena seperti diketahui, bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi bagian tanggung jawab yang harus dipikul oleh perusahaan atau golongan industri. Dengan kapasitasnya, maka perusahaan memiliki andil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik dengan tetap memperhatikan faktor-faktor lingkungan. 

Keberadaan CSR juga dimaknai sebagai upaya untuk memperkuat hubungan yang terjalin antara aktiftas perniagaan yang dilakukan oleh perusahaan disatu pihak serta masyarakat sebagai bagian dari entitas sosial di pihak lain.

Departemen Sosial (2005) mengartikan bahwa CSR adalah wujud komitemen dan kemampuan dunia usaha untuk melakukan kewajiban sosial kepada lingkungan sekitar yang dtujukan untuk memajukan aspek masyarakatnya serta menjaga kesimbangan dari sisi ekosistemnya.

WBCD (The World Business Council for Sustainable Development) pada tahun yang sama mendefinisikan CSR sebagi bentuk komitmen dalam mendukung serta berperan aktif dalam memajukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable). Perusahaan tidak hanya bekerja dengan para pegawainya, tetapi juga bekerja dengan keluarga serta lingkungannya sehingga diharapkan terjadi peningkatan kualitas hidup. 

Sejarah Adanya CSR

Jika merunut sejarah, adanya konsep CSR sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970. Teori CSR pada saat itu muncul ke permukaan melalui sebuah tulisan yang dibuat oleh Milton Friedman. Dalam tulisannya, Milton Friedman menegaskan bahwa perlu adanya bentuk tanggung jawab (responsibility) dari aktifitas bisnis terhadap lingkungan sosial.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa sejatinya penerapan dari konsep CSR ini sudah terjadi sejak berdirinya berbagai perusahaan untuk pertama kalinya yang ada di Inggris. Pada saat itu dipahami bahwa perusahaan harus membantu pemerintah untuk memberikan pelayanan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.

Meski sudah muncul sejak tahun 1970, tetapi gaung dari aktifitas ini semakin mencuat pada tahun 2000. Sejak tahun 1970, berbagai kegiatan yang digagas serta dilaksankan sebagai bagian dari pemenuhan bentuk tanggap jawab sosialnya dilakukan dengan berbagai bentuk, mulai dari memberikan bantuan keuangan (donasi) hingga memberikan bantuan untuk membangun fasilitas umum terkait dengan pembangunan sumber daya manusia, misalnya gedung sekolah.

Dalam versi lain, CSR pertama kali dicetuskan oleh Howard Rothmann Rowen pada tahun 1953 yang dia tuangkan dalam tulisannya yang berjudul Social Responcibility of the Businesman. Dikatakannya bahwa CSR berasal dari etika yang terdapat dalam internal perusahaan serta yang ada di masyarakat. Etika yang diterapkan dalam lingkup perusahaan merupakan bagian dari budaya perusahaan itu sendiri, sedangkan etika yang diterapkan oleh masyarakat merupakan bagian dari kebudayaan yang ada di masyarakat.

Respon Terhadap CSR

Seperti halnya teori yang lain. Keberadaan teori CSR ini tidak lepas dari adanya pro dan kontra. Yang menjadi perdebatan banyak pihak adalah apakah CSR merupakan sebuah konsep yang wajib dilaksanakan oleh perusahaan atau sifatnya sukarela tanpa paksaan?

Pada awalnya, munculnya CSR dikarenakan adanya semangat filantropi dari perusahaan. Tetapi seiring berjalannya waktu, ditengah tekanan dari masyarakat yang semakin kritis, menjadkan CSR diibaratkan sebagai ijin dari masyarakat untuk melakukan aktiftas bisnis (social lisence to operate).

Kriitk lain terkait konsep  CSR terus bermunculan. Beberapa kritik yang mencuat adalah sebagai berikut.

  • Pelaksanan CSR oleh perusahaan dipandang hanya memiliki pengaruh dalam jangka pendek serta daya jangkaunya terbatas.
  • Program-program yang dilaksanakan yang merupakan bagian dari CSR sering dianggap kurang menyentuh akar permasalahan yang ada di komunitas. Hal ini terjadi karena perusahaan yang berposisi sebagai penyandang dana menganggap dirinya sebagai pihak yang memahami komunitas tersebut. Sedangkan komunitas itu sendiri dipandang sebagai pihak yang lemah yang memerlukan bantuan dari perusahaan. Dari sini diantara kedua belah pihak tidak terjadi dialog dua arah yang memungkinkan terjadinya diskusi untuk menyeleseikan permalahan.
  • Apa yang dlakukan oleh perusahaan terkait dengan pelaksanaan program CSR sering dianggap sebagai aksi pamer untuk menaikkan popularitasnya demi kepentingan perusahaan, bukan melakukan program untuk kepentingan komunitas atau masyarakat dalam jangka panjang.

CSR dan Kelangsungan Hidup Perusahaan

James Collins serta Jerry Poras menyatakan bahwa perusahaan yang terus tumbuh dan berkembang terjadi bukan semata-mata karena terus mencetak keuntungan tetapi perusahaan yang mau berbagi dengan masyarakat sekitar termasuk misalnya dalam hal menjaga lingkungan hidup. Hal ini disampaikan oleh Collins Poras dalam bukunya yang berjudul Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies yang diterbitkan pada tahun 1994.

Pernyataan 2 orang ini didukung oleh John Elkington dalam bukunya yang dia beri judul Cannibals with Fork, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Business. Dalam buku ini Elkington menyatakan bahwa ada resep yang bisa diterapkan oleh perusahaan agar aktifitas bisnis mereka terus berkembang di masa yang akan datang, yakni perusahaan bukan hanya memperhatikan keuntungan (profit) namun juga masuk dan berkecimpung dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) serta terlibat secara aktif dalam upaya untuk melesarikan lingkungan (planet).

Bagaimana Mengukur Keberhasilan CSR?

Diakui bahwa program CSR ini merupakan program yang kasat mata (intangible). Karena bersifat kasat mata maka pengukuran yang dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan juga rasanya sangat sulit dilakukan. Dari sini berkembang upaya untuk mengkuantifikasikan hasil pelaksanaan program CSR dengan menggunakan metode triple bottom line atau yang lebih dikenal sebagai sustainability reporting.

Penghitungan untuk keberhasilan program CSR dilakukan secara terpisah. Untuk bagian penggunaan sumber dayanya, dari sisi ekonomi dihitung menggunakan penghitungan akuntansi sumber daya alam, sedangkan untuk faktor penghematan biaya lingkungan  menggunakan akuntansi lingkungan. Alat ukur yang dipakai salah satunya adalah PROPER.

Demikian penjelasan singkat tentang CSR (Corporate Social Responsibility). Semoga ada manfaatnya terutama yang bergelut dengn dunia usaha.