Ceteris paribus sering didengar pada hukum ekonomi, yaitu hukum penawaran dan permintaan. Mungkinkah suatu kondisi akan berada pada ceteris paribus ataukah hal tersebut hanya sebatas teori belaka?

Ceteris Paribus pada Hukum Permintaan

Hukum permintaan berbunyi, “Bila harga naik, jumlah barang yang diminta akan turun. Sedangkan, bila harga turun, jumlah barang yang diminta akan naik.”

Pernyataan di atas baru bisa berlaku bila faktor- faktor yang juga bisa memengaruhi jumlah permintaan (selain harga) adalah tetap atau ceteris paribus. Jadi, dengan kata lain, hanya harga yang berubah.

Apa saja faktor- faktor yang “harus” tetap agar hukum permintaan berlaku:

1. Pendapatan

Meskipun harga naik, tapi bila pendapatan masyarakat naik, jumlah barang yang diminta pun akan ikut naik. Pun sebaliknya, meskipun harga tetap, tapi bila pendapatan turun, jumlah barang yang diminta pun bisa turun. Jadi, agar hukum ekonomi bisa berlaku, pendapatan masyarakat haruslah tetap dari waktu ke waktu.

2. Selera

Selera masyarakat bisa memengaruhi jumlah permintaan barang. Misalnya saja selera musik. Di tahun 90an, boyband asal benua Amerika dan Eropa lebih banyak digandrungi remaja daripada boyband asal Asia. Akibatnya, di era tersebut jumlah permintaan segala macam pernak- pernik yang berhubungan dengan boyband asal dua benua tersebut sangat banyak. Dua dekade lebih berlalu, apakah selera remaja masih tetap sama? Ternyata tidak. Kini, boyband asal negeri gingseng lebih disukai daripada benua putih. Otomatis, dengan kondisi tersebut jumlah permintaan pernak- pernik boyband barat menurun. Jadi, bila ingin hukum permintaan berlaku, selain pendapatan, selera masyarakat juga harus tetap.

3. Barang substitusi

Kondisi ceteris paribus hukum permintaan juga berlaku untuk barang substitusi atau pengganti. Selama ada barang substitusi, kenaikan harga menjadi tak terlalu berpengaruh karena konsumen bisa beralih ke barang yang sama walau beda merk. Hukum permintaan baru bisa berlaku bila barang substitusi tidak ada dan hanya barang tersebutlah yang ada (hanya satu jenis).

4. Perkiraan di masa depan

Pakar ekonomi, pengamat, dan masyarakat umum biasanya suka memprediksi kondisi barang- barang tertentu di masa depan. Dasar prediksi tersebut di antaranya berdasarkan kondisi saat ini, prospek barang tersebut ke depan, dan kondisi masyarakat. Misalnya BBM, kebutuhan masyarakat saat ini terhadap BBM masih sangat besar, sementara jumlah penduduk semakin meningkat. Hal tersebut juga “diperparah” dengan belum adanya bahan bakar pengganti yang pas dan murah. Maka, berdasarkan beberapa analisis tersebut, pakar dan pengamat ekonomi bisa menyimpulkan bahwa BBM pada lima tahun ke depan akan menjadi barang langka (misalnya). Karena prediksi tersebut, banyak masyarakat yang sudah galau sejak sekarang. Kenaikan harga BBM “terpaksa” diterima dan jumlah permintaannya tetap sama bahkan meningkat. Mau bagaimana lagi, suka atau tidak, BBM adalah bahan baku. Prediksi kelangkaan BBM di masa depan justru membuat masyarakat pada masa sekarang (mungkin) berlomba- lomba untuk menikmati BBM selagi bisa. Dengan kondisi tersebut, hukum ekonomi tak berlaku lagi.

5. Kekayaan

Dengan asumsi kekayaan masyarakat akan tetap (tidak berkurang atau bertambah), maka hukum permintaan akan berlaku. Namun, apakah benar kekayaan masyarakat pasti tidak berubah? Jawabannya adalah tidak. Kekayaan masyarakat akan selalu mengalami perubahan, entah itu berkurang atau bertambah.

6. Intensitas dan jenis kebutuhan

Dengan asumsi juga bahwa intensitas dan jenis kebutuhan masyarakat adalah tetap, maka hukum ekonomi akan berlaku. Kenyataannya? Lagi- lagi tidak, intensitas dan jenis kebutuhan ekonomi masyarakat selalu berubah. Contohnya, dulu netbook termasuk barang langka, sehingga peminatnya masih jarang. Masyarakat baru akan membeli netbook, mungkin setelah harga barang tersebut benar-benar turun drastis. Sekarang? Netbook sudah seperti nasi, hampir semua orang membutuhkannya. Sehingga, sekalipun harga netbook tidak bersahabat, jumlah permintaannya “terpaksa” naik karena kebutuhan.

7. Kebudayaan

Yang terakhir dari kondisi ceteris paribus nya hukum permintaan adalah masalah kebudayaan. Hukum permintaan baru akan berlaku bila kebudayaan masyarakat tetap. Kenyataannya? Tidak! Kebudayaan masyarakat bisa atau selalu berubah. Contohnya, di Indonesia bagian timur, beberapa puluh tahun yang lalu, berjualan pakaian di sana tak terlalu laku, toh masyarakat di sana memang tak terlalu membutuhkan pakaian. Namun, seiring dengan meningkatnya kebudayaan masyarakat, pakaian menjadi salah satu hal yang penting, sehingga berjualan pakaian di sana akan menjadi kegiatan yang menguntungkan, tak peduli harganya berapa.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kondisi ceteris paribus untuk hukum permintaan mungkin memang hanya teori. Hukum permintaan dan kurva yang berbunyi, “Permintaan naik bila harga turun atau permintaan turun bila harga naik”, dan wajib diketahui oleh para pembelajar ekonomi mungkin hanya untuk menyederhanakan variabel. Dalam alam nyata, harga bukanlah satu-satunya faktor yang bisa memengaruhi permintaan. Sehingga, bila harga naik atau turun, tak bisa dipastikan bila permintaan juga akan turun atau naik.

Ceteris Paribus pada Hukum Penawaran

Setelah mengenal ketidakmungkinan ceteris paribus pada hukum permintaan, kita akan membahas kondisi ceteris paribus pada hukum penawaran. Masih ingatkah bagaimana bunyi hukum penawaran? Ya, hukum penawaran berbunyi, “Bila harga naik jumlah barang yang ditawarkan naik, sedangkan bila harga turun jumlah barang yang ditawarkan juga akan turun”. Dan, hukum penawaran yang berbunyi seperti itu baru bisa terlaksana bila kondisinya ceteris paribus atau hal-hal lain yang memengaruhi penawaran (selain harga) adalah tetap.

Apa saja hal- hal yang memengaruhi penawaran selain harga?

1. Harga barang substitusi

Agar hukum pernawaran berlaku, harga barang substitusi haruslah tetap. Kenyataannya, apakah bisa harga barang substitusi dikontrol? tidak. Misalnya masalah elpiji dan kompor minyak. Dua jenis barang tersebut bisa saling menggantikan. Dalam hukum penawaran berbunyi, “Saat harga naik penawaran naik,” yang itu artinya saat harga elpiji naik, harusnya jumlah penawaran (jumlah elpiji yang dijual) akan naik. Namun, kenyataannya tidak demikian, karena ada barang substitusi, saat harga elpiji naik, penawaran elpiji justru turun karena para penjual beralih menjual kompor minyak. Dengan demikian, hukum penawaran tak berlaku lagi.

2. Biaya produksi

Biaya produksi juga membuat hukum penawaran tak berlaku lagi. Saat biaya produksi naik, sekalipun harganya saat itu tetap, mengakibatkan jumlah penawaran mungkin turun karena penjual ingin berhemat. Agar hukum penawaran berlaku (ceteris paribus), maka biaya produksi haruslah tetap.

3. Teknologi

Yang terakhir adalah teknologi. Hukum penawaran akan berlaku bila teknologi juda tidak berubah dari waktu ke waktu. Namun, kenyataannya teknologi selalu berubah. Harga boleh saja tetap (misalnya), namun jumlah barang yang ditawarkan bisa saja naik karena sudah ada teknologi canggih yang membantu untuk memproduksinya dengan mudah. Sehingga, hukum penawaran pun hanya sekadar teori.

Kemungkinan Adanya Ceteris Paribus

Setelah melalui penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata ceteris paribus untuk dua hukum ekonomi tersebut hanyalah teori belaka. Kenyataannya, kondisi tersebut tidaklah mungkin bisa terjadi. Hukum penawaran dan permintaan yang hanya menggunakan variabel “harga” yang bisa memengaruhi permintaan dan penawaran dibuat untuk menyederhanakan apa yang terjadi di dunia praktis.

Harga memang berpengaruh pada keputusan seseorang untuk menjual atau membeli. Namun, harga bukanlah faktor satu-satunya. Jadi, bila ditanya kemungkinan adanya ceteris paribus untuk hukum penawaran dan permintaan? Jawabannya adalah iya, namun sangat kecil karena variabel selain harga yang sudah disebutkan di atas tidaklah mungkin bila tetap sepanjang waktu. Pastilah variabel- variabel tersebut berubah sekalipun tidak signifikan.