Bercerita merupakan hal yang menyenangkan. Banyak buku cerita yang dapat kita manfaatkan untuk bercerita kepada orang lain atau kepada adik kita. Selain buku cerita, sekarang ini cerita-cerita anak juga terdapat pada surat kabar harian, yang biasanya dimuat pada hari Minggu. Ketika bercerita, hal-hal yang harus kita perhatikan adalah intonasi atau vokal dalam bercerita selain menggunakan alat peraga. Teknik bercerita akan sangat memengaruhi daya tangkap dari penceritaan kita.

Pengertian Cerita Pendek

Cerita pendek atau kerap disebut dengan cerpen adalah termasuk yang paling populer di kalangan anak-anak, remaja, hingga orang tua. Cerpen paling sering muncul di banyak media dari anak-anak hingga dewasa. Banyak cerpen yang muncul di majalah anak-anak, majalah orang dewasa, hingga koran-koran yang menyediakan rubrik tersebut pada hari-hari tertentu. Meski demikian, puisi dan drama juga tidak kalah terkenalnya.

Cerita pendek atau yang kerap disebut dengan cerpen tidak hanya bisa digunakan untuk bacaan sehari-hari. Namun juga dapat digunakan untuk bercerita kepada orang lain. Isi cerita yang cenderung singkat, dengan sedikit tokoh dan juga sedikit konflik, menjadikan cerpen lebih mudah diingat setiap detail ceritanya. Hal ini pula yang menjadikan cerpen dapat lebih mudah diceritakan kembali dari pada jenis karya sastra lainnya.

Cerita pendek (cerpen) terdiri atas rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat. Rangkaian peristiwa atau alur (plot) cerita tersebut terdiri atas lima bagian, yakni eksposisi (pengarang mengenalkan latar, tokoh, dan masalah), konflik (terjadi perselisihan atau konflik antartokoh), klimaks (konflik antartokoh mencapai puncak dan pengarang mengambil keputusan penyelesaian konflik), resolusi (konflik antartokoh mulai mereda), dan solusi (konflik antartokoh berakhir dengan menyenangkan atau tragis).

Alur cerpen dibedakan menjadi tiga, yakni alur maju (linier), melingkar (sirkuer), dan sorot balik (flash back). Disebut alur maju jika peristiwa dalam cerpen diceritakan secara berurutan dari awal hingga akhir cerita; dikatakan alur melingkar jika peristiwa tidak diceritakan secara berurutan (mungkin dari tengah); dan disebut alur sorot balik jika peristiwa akhir dikisahkan lebih dulu, selanjutnya disusul kejadian awal dan rangkaian peristiwa selanjutnya. Alur dikembangkan dengan sejumlah peristiwa yang dialami para tokoh. Para tokoh memiliki watak yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan konflik. Konflik antartokoh menjadi motivasi munculnya perubahan peristiwa. Melalui peristiwa yang dialami para tokoh, pengarang menyampaikan pesan kepada pembaca.

Secara umum, karya sastra (modern), khususnya prosa terdiri atas dua unsur pokok, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.

1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur karya sastra yang mendukung dari dalam karya itu sendiri seperti yang telah disebutkan di atas. Yang termasuk unsur-unsur instrinsik adalah:

  1. Tema: pokok pikiran pengarang, inti cerita karya sastra itu.

Tema yang merupakan inti atau pokok pikiran pengarang tidak tampak atu tidak dituliskan secara langsung di dalam cerpen. Namun tema cerita gagasan yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Pembaca belum tahu tema yang ada dalam suatu cerita pendek, jika belum membacanya. Karena tema tersebar di seluruh cerpen. Pembaca tidak bisa begitu saja menentukan tema dari cerpen, hanya dari membaca judulnya. Teman cerpen bisa bermacam-macam dan sangat luas. Ada tema perjuangan, persahabatan, percintaan, politik, sosial, kepahlawanan dan masih banyak lagi.

  1. Alur/plot: sambung-menyambungnya suatu cerita dari suatu peristiwa lainnya sehingga menimbulkan cerita yang utuh.

Alur atau plot juga termasuk unsur-unsur yang terdapat dalam cerita pendek. Cerita menjadi satu padu dan dinikmati karena ada alurnya. Cerita yang tidak ada alur yang jelas akan susah untuk dimengerti pembaca.

  1. Penokohan/karakteristik: perwatakan tokoh atau pelaku.

Cerita tanpa tokoh sama saja sebuah cerita yang mati dan tidak hidup. Karena tokoh adalah motor penggerak cerita, sama seperti alur. Tanpa tokoh tidak ada yang bisa diceritakan dalam cerpen, dan kalau pun ada, cerita pendek tersebut menjadi tidak hidup. Tokoh di dalam cerita pendek tidak harus manusia, namun juga bisa tumbuhan, hewan, dan juga benda-benda mati. Semuanya mempunyai kesempatan untuk menjadi tokoh, tergantung pada pengarang yang ingin menciptakan karya sastra. Tokoh manusia pun tidak selalu harus dengan nama orang, namun bisa menggunakan kedudukan atau jabatannya untuk menamai tokoh-tokohnya. Begitu pula dengan tanaman atau benda mati yang lainnya.

  1. Latar/setting: tempat terjadinya cerita atau latar belakang cerita.

Latar atau setting di dalam cerita tidak hanya terdiri atas latar tempat,  namun juga latar waktu dan latar suasana. Latar waktu tidak harus menunjukkan jam, namun bisa keterangan posisi matahari yang berada di atas kepala, hal itu sudah menunjukkan waktu sekitar pukul dua belas siang.

  1. Sudut pandang/cara bercerita: dengan cara bagaimana pengarang menceritakan tokoh-tokohnya.
  2. Bahasa: bahasa yang digunakan segar, komunikatif, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang mendukung dari luar karya itu sendiri. Yang termasuk unsur ekstrinsik di antaranya adalah:

  1. Riwayat pribadi pengarang.
  2. Kehidupan masyarakat tempat karya sastra itu diciptakan.

Nilai Moral Cerpen

Sebuah karya sastra umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara langsung maupun tidak langsung. Dalam karya prosa fiksi pesan moral dapat diketahui dari perilaku tokoh-tokohnya atau komentar langsung pengarang lewat karya itu.

Sebelum menceritakan kembali isi cerpen, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yakni:

  1. Membaca dan Memahami Isi Cerpen

Sudah selayaknya, jika kita ingin menceritakan kembali isi cerpen kepada orang lain, kita juga harus paham dan memahami isi dari cerpen. Memahami isi cerpen tidak dapat maksimal jika dilakukan dengan cara mendengarkan dari orang lain, kemudian diceritakan kembali. Hal tersebut karena kita tidak maksimal dalam memahami isi cerpen yang diceritakan. Oleh karenanya, alangkah baiknya, jika kita hendak menceritakan isi cerpen di depan orang lain, kita membaca terlebih dahulu. Membacanya pun tidak hanya cukup sekali, namun berkali-kali, agar kita semakin paham isi dari cerpen tersebut.

  1. Ekspresi

Ekspresi yang tampak dari mimik muka menentukan menarik atau tidaknya suatu cerita. Karena menceritakan kembali isi cerpen berbeda ketika membaca isi cerpen. Dengan membaca cerpen, pembaca dapat mengetahui isi cerpen. Dan ketika kita meceritakan kembali isi cerpen, harus membuat pendengar memahami apa yang kita ucapkan. Kemampuan berekspresi dalam penceritaan cerpen, berupa ekspresi roman muka ketika bercerita harus disesuaikan dengan isi cerita. Seorang pencerita, berperan sebagai tokoh sekaligus sebagai narator cerita. Ekspresi wajah, sorot mata, senyum, dan ekspresi ketika sedih, gembira sangat terlihat dari ekspresi yang diperlihatkan. Jika seorang pencerita memperhatikan ekspresi ketika menceritakan kembali isi cerpen, maka akan membantu keberhasilan bercerita.

  1. Gestur

Gestur juga kerap disebut dengan gerak anggota badan. Gerak anggota badan  juga sangat diperlukan untuk mendukung penyajian lisan ini agar menjadi lebih menarik. Bisa dibayangkan seorang pencerita yang hanya berdiam diri di tengah atau di pinggir tanpa menggerakkan anggota badannya. Tentu saja pendengar akan bosan karena seperti melihat patung yang berbicara. Oleh karenanya diperlukan gestur atau gerakan tubuh untuk membantu menceritakan kembali isi cerita. Semua anggota badan bisa ikut digerakkan. Gerakan tersebut misalnya saja gerapak dengan mengangguk-ngangguk atau menggeleng-gelengkan kepala, memutar tubuh, menggerakkan tangan seperti layaknya orang terbang, dan masih banyak lainnya.

Contoh mudahnya, ketika sedang bercerita tentang seorang anak yang menjadi loper koran dengan mengendarai sepeda. Dapat diperagakan dengan angota tubuh bagaimana anak tersebut mengendarai dan mengayuh sepeda. Selain itu, tempat yang digunakan ketika menceritakan kembali isi cerpen, sebaiknya juga diperhatikan, jangan berhenti pada satu isi ruangan atau panggung, tapi sebaiknya berjalan berpindah mendekati mendengar. Hal ini akan membuat susana semakin hidup, karena pendengar seperti terlibat langsung dengan cerpen.

  1. Bahasa dan pilihan kata

Bahasa dan pilihan kata juga turut membatu keberhasilan bercerita. Sebaiknya menggunakan bahasa cerpen yang mudah dimengerti dan jangan menggunakan istilah-istilah asing yang tidak dimengerti. Mengetahui siapa yang akan mendengarkan kita bercerita, akan membantu kita untuk memudahkan dalam pemilihan bahasa. Karena dengan bahasa yang sederhana, cerita tersebut akan mudah dicerna oleh orang lain, apalagi bila yag ditampilkan adalah cerita yang lucu, dengan menggunakan pilihan kata yang tepat, maka cerita akan terlihat lebih hidup.

Setelah mengetahui unsur-unsur cerpen dan telah mengenal cerpen lebih dekat. Sekarang tentunya bisa menceritakan kembali isi cerpen dengan bahasa sendiri kepada teman atau kepada pendengar yang lain. Jangan lupa untuk memperhatikan unsur-unsur yang harus diperhatikan ketika hendak menceritakan kembali isi cerpen kepada orang lain.

Contoh Cerita Pendek

Di bawah ini adalah contoh cerpen Kompas Minggu karya Timbul Nadeak yang terbit pada  25-07-2010.

Si  Agus  Juara

Oleh Timbul Nadeak

Telah seminggu Agus kesal, teman-teman sekelas mengubah namanya menjadi Agus Kurus. Nama itu sesuai dengan tubuhnya yang kurus.

Di kelas, ada dua anak yang bernama Agus. Satu Agus Hadi, dan yang satu lagi Agus Pratikno. Agus Hadi berbadan gendut, tetapi teman-teman tak menamainya Agus Gendut. Mengapa dia yang kurus dinamai Agus Kurus?

Sebenarnya teman-teman Agus tak bermaksud menyakiti hatinya. Mereka menamai Agus Kurus hanya untuk membedakan saja. Ketika sedang bermain bersama, pernah seorang teman berkata "Si Agus masuk grup kita." Teman yang lain bertanya "Agus yang mana?"

Pernah juga terjadi "Mana si Agus?" Yang ditanya malah balik bertanya, "Agus yang mana?" Akhirnya teman-teman menamainya si Agus Kurus.

Mama diam-diam memerhatikan perubahan yang terjadi pada wajah Agus. Wajahnya cemberut, bibirnya jarang tersenyum.

Perubahan juga terjadi ketika Agus makan. Biasanya, sepiring nasi beserta lauk sudah cukup. Namun, sekarang dua piring habis dilahap Agus. Padahal, tak ada yang istimewa pada masakan itu.

Mama menduga ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Akhirnya Mama bertanya "Ada apa Agus? Mengapa sekarang tiba-tiba kuat makan? Makannya lahap, tetapi cemberut!"

Agus malas menjawab. Perutnya sudah gembung kekenyangan.

"Anak Mama kok diam saja, ada masalah? Ayo ceritakan, nanti Mama bantu menyelesaikan masalahnya."

Setelah termenung sejenak, akhirnya Agus berkata "Teman-temanku menamai aku si Agus Kurus." Mama tersenyum mendengarnya. "Jadi itu sebabnya Agus makan sampai dua piring? Ingin gendut, ya. Kalau sudah gendut, apa suka dinamai Agus Gendut?"

Lalu Mama menasihati, "Makan secukupnya saja, kalau sudah kenyang, berhenti makannya. Biar kurus tetapi sehat. Yang penting sehat!"

"Tidak kurus juga penting, Ma," jawab Agus.

"Kalau Agus tidak suka dinamai seperti itu, berusahalah untuk mengubahnya."

"Caranya bagaimana, Ma?" tanya Agus.

"Menjadi yang terbaik di antara teman-temanmu!"

Agus terdiam sejenak. Dia seperti merenung. Akhirnya kepala Agus mengangguk. Dia mengerti dan berniat untuk menjadi yang terbaik di kelasnya.

Sekarang setiap  hari Sabtu pagi dan Minggu pagi, Agus melatih dirinya berlari cepat di sebuah lapangan sepak bola. Kebetulan lapangan itu sangat dekat dengan rumah. Keringat bercucuran setiap kali ia selesai latihan. Hatinya senang karena dia berlatih menjadi pelari tercepat di kelasnya. Selain itu, tubuhnya menjadi lebih sehat dan segar.

Setelah menunggu selama dua bulan, akhirnya tiba hari yang dinantikan Agus. Dia sangat bersemangat ketika Ibu Guru kelasnya mengadakan perlombaan lari cepat 100 meter.

Anak laki-laki dibagi menjadi beberapa grup. Satu grup terdiri atas 5 orang. Semuanya ada 5 grup. Tepat ketika peluit berbunyi, tubuh Agus melesat cepat. Teman-temannya tertinggal.

Agus berhasil dengan mudah menjadi juara di grupnya. Akan tetapi, perlombaan belum selesai.

Setelah semua grup berlomba, setiap juara dikumpulkan kembali menjadi satu grup. Lalu Bu Guru memberi aba-aba untuk bersiap-siap.

Di garis start, Agus dan teman-temannya membungkuk kembali, tetapi dengan wajah mereka menghadap ke depan. Telapak tangan menapak tanah. Kaki ditekuk berancang-ancang. Ketika peluit berbunyi, tubuh Agus kembali melesat cepat. Teman-temannya tertinggal di belakangnya.

Beberapa detik kemudian, dia mengangkat kedua tangannya setelah jadi pelari pertama yang mencapai garis finis. Agus menjadi juara!

Namun, esok harinya, dia bersedih kembali. Tidak semua teman-temannya menghargainya sebagai juara. Dia tahu hal itu dari salah seorang sahabat.

"Kata mereka, si Agus Pratikno menjadi juara karena tubuhnya kurus. Tubuh kurus, kan ringan. Dibantu tiupan angin, tubuhnya bisa berlari lebih cepat."

Agus sedih dan ingin marah mendengar cibiran seperti itu. Wajahnya kembali cemberut. Apalagi karena dia masih tetap dipanggil si Agus Kurus!

Beberapa kemudian, sambil menangis dia menceritakan kesedihannya kepada Mama.

Mama kembali menasihatinya: "Jangan sedih. Jangan jadi anak cengeng," kata Mama sambil menghapus air matanya.

"Kata Mama, kan menjadi yang terbaik di antara teman-temanmu. Jadi jangan hanya yang terbaik dalam lomba lari 100 meter. Coba berusaha menjadi yang terbaik dalam pelajaranmu. Menjadi anak yang paling pandai di kelas!"

Agus menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar telah mengerti apa yang dinasihatkan Mamanya.

Sejak saat itu dia mengurangi jam bermain sehingga dapat menambah jam belajar. Dia juga tak lagi memaksakan diri untuk makan sebanyak-banyaknya.

Perut yang kekenyangan membuat dia malas bergerak. Lebih baik kurus, tetapi sehat! katanya dalam hati.

Tiga bulan sebelum penerimaan rapor kenaikan kelas, Agus giat belajar. Apabila ada pelajaran yang belum dipahami, tanpa malu-malu dia bertanya kepada Papa atau Mama. Dia sangat senang karena Papa dan Mama ternyata bisa juga menjadi gurunya di rumah.

Di kelas, Ibu Guru juga memerhatikan perubahan pada diri Agus. Diam-diam Ibu Guru mengagumi nilai-nilai pelajaran yang diraih Agus, terutama untuk pelajaran Matematika dan Membaca.

Agus selalu mendapatkan nilai 10 untuk pelajaran Matematika. Nilai 9 untuk pelajaran Membaca. PR yang dikerjakan selalu mendapat angka 10. Dulu dia tidak pernah mendapat angka 9 dan 10.

Agus terus belajar dengan giat. Juga tetap rajin berolahraga. Selain lari cepat, dia juga berhasil menjadi juara lompat jauh. Agus tak peduli walau masih ada beberapa teman mencibir "Si Agus Kurus bisa melompat jauh karena badannya ringan!"

Cibiran seperti itu tidak membuatnya kesal. Dia hanya ingin melaksanakan nasihat Mama. Dia bertekad untuk menjadi yang terbaik.

Pada hari pembagian rapor kenaikan kelas, Agus datang ke sekolah dengan Mama. Hatinya berdebar-debar ketika giliran Mama masuk ke dalam kelasnya. Dia merasa Mama sangat lama berbicara dengan Ibu Guru. Ketika Mama akhirnya muncul dari balik pintu, Agus segera berlari menghampiri. Mama langsung memeluknya dengan terharu. Walau berbisik, suara Mama jelas terdengar "Agus menjadi juara pertama di kelas!"

Agus melompat-lompat kegirangan sambil jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V. Huruf tanda kemenangan. Dia baru berhenti setelah menyadari Bu Guru berdiri di sebelah Mama.

"Selamat ya Agus. Tetapi, kamu harus tetap belajar dan berolahraga. Pertahankan prestasimu," kata Ibu Guru sambil menyalaminya.

"Ya Bu," jawab Agus sambil tersenyum bangga.

Teman-teman Agus yang melihat kejadian itu turut bergembira. Mereka turut mengacungkan jari tangan yang membentuk huruf V.

Lalu tiba-tiba ada salah seorang teman berteriak "Hidup Agus Juara!" Tak lama kemudian, teman-teman yang lain berteriak "Agus Juara! Agus Juara!"

Dalam pelukan Mama, Agus tersenyum bangga. Sejak saat itu dia dipanggil si Agus Juara.

***

Setelah membaca cerita pendek dengan judul si Agus Juara di atas, coba untuk menceritakan kembali dengan bahasa yang berbeda kepada teman sebangku atau teman sepermainan. Namun yang harus diperhatikan, cerita yang akan diceritakan dengan bahasa sendiri, jangan diubah inti dari ceritanya. Karen jika dirubah, maka cerita yang diceritakan kepada teman tidak lagi mempunyai inti yang sama seperti cerita yang telah dibaca. Cerita pendek yang akan diceritakan kembali kepada teman, tidak harus sepanjang atau sebanyak cerita aslinya. Namun bisa dipersingkat, asal tidak merubah inti dari cerita tersebut. Selain dalam bentuk cerita lisan, juga dapat diceritakan kembali ke dalam sinopsis. Sinopsis berisi garis besar isi cerita beserta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.

Contoh Hasil Menceritakan Kembali Isi Cerita Pendek

Di bawah ini ada contoh hasil penceritaan kembali dari cerita pendek berjudul Si Agus Juara.

Si Agus juara adalah cerpen yang mengambil tema sosial dan pendidikan. Teman sosial karena menceritakan tentang kehidupannya di rumah dan di sekolah, tema pendidikan karena juga menceritakan tentang usaha Agus untuk menjadi sang Juara. Agus adalah siswa yang menjadi ejekan kurus oleh teman-temannya karena memang Agus bertubuh kurus. Sebutan Agus kurus juga dikarenakan di kelasnya, tidak hanya satu yang bernama agus, tetapi beberapa orang. Agus sedih diejek Si Agus kurus, maka dirinya berniat untuk menggemukkan badannya. Agus makan dengan porsi lebih dari biasanya. Mama Agus mengetahui hal tersebut kemudian menyarankan agar Agus berusaha agar dirinya tidak diejek kurus lagi. Agus bisa menjadi juara lari di kelasnya.

Maka semenjak itu, Agus menjadi sering berlatih berlari hingga dirinya menjadi juara satu. Namun ejekan tersebut tetap saja tidak berubah. Kemudian Mama Agus menasehati Agus agar tidak hanya menang di dalam olah raga lari, namun juga dalam mata pelajaran yang lain. Sejak itu Agus menjadi rajin belajar dan dirinya memperoleh juara satu. Sejak saat itu Agus tidak lagi dipanggil dengan panggilan Si Agus Kurus, namun dipanggil dengan panggilan Si Agus Juara. Tentu saja Agus senang dirinya tidak lagi dipanggil Si Kurus lagi. Selain itu Agus juga menjadi juara kelas dan juara di olah raga berkat usahanya sendiri.

Contoh di atas, adalah contoh cerita yang bisa diceritakan kembali kepada teman setelah membaca cerita pendek. Cerita tersebut dapat diceritakan tanpa harus runtut seperti cerita pendek yang diketahui, namun boleh langsung pada pokok cerita. Misalnya saja dapat menceritakan tentang siapa Agus dan bagaimana diejek oleh teman-temannya. ejekan dari teman-temannya tersebut sempat membuat Agus sedih dan ingin menggemukkan badannya. Namun ternyata ejekan tersebut juga membuat Agus semakin bersemangat agar tidak dipanggil kurus, dan menjadi Agus sang juara. Namun yang perlu diperhatikan, pergunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pendengar selain unsur-unsur yang lainnya.