Kehidupan dalam masyarakat pasti akan membentuk kebudayaan baru. Dan biasanya hal ini berkaitan dengan periodisasi tertentu. Tentu saja selalu ada perubahan dari masa ke masa, karena tidak ada kebudayaan yang stagnan. Peradaban mengalami perkembangan yang tidak pernah berhenti. Demikian seterusnya hingga kemudian akan menghasilkan kebudayaan yang baru lagi.

Setiap zaman memiliki ciri khas tersendiri. Dari ciri yang tertinggal inilah manusia modern mendapat informasi yang cukup berlimpah. Tentunya, setelah melalui serangkaian penelitian yang panjang dan melelahkan. Namun, demi sumbangan besar kepada sejarah, banyak orang yang akan melakukannya dengan senang hati. Para arkeolog adalah contohnya. Mereka bisa bekerja selama bertahun-tahun untuk melakukan sebuah penggalian.

Berdasarkan tingkat peradaban serta bahan yang digunakan untuk membuat berbagai peralatan, zaman prasejarah terbagai atas dua periode, yaitu zaman Batu dan zaman Logam.

Zaman Batu

Zaman Batu merupakan suatu masa ketika manusia hanya mengenal bebatuan sebagai alat untuk dijadikan beragam benda. Mulai dari peralatan berburu hingga perabotan yang dipakai sehari-hari. Zaman ini dimulai sejak 590.000 Sebelum Masehi. Alat dari batu ini digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan binatang buas serta untuk mengolah makanan. Tentu saja semuanya masih sangat sederhana, sesuai dengan pola pikir manusia zaman itu yang masih sangat sederhana pula.

Untuk membuat peralatan dari batu, biasanya batu dibentuk setelah dipecah-pecah sesuai ukuran yang diinginkan. Barulah kemudian dibentuk menjadi anak panah, pisau, palu, atau tombak. Bangsa Eropa Kuno biasanya menggunakan batu api. Sementara masyarakat kuno di Afrika menggunakan batu yang lebih variatif. Misalnya saja batu obsidian, sedimen, atau batu basal.

Kadangkala masyarakat zaman ini juga menggunakan kayu. Hanya saja, kayu bukanlah pilihan yang ideal karena gampang rusak. Peninggalan tombak kayu yang umurnya sudah mencapai setengah juta tahun ditemukan di Inggris, tepatnya di kota Boxgrove. Manusia prasejarah juga diketahui telah menggunakan alat pelempar tombak sejak tahun 35.000 Sebelum Masehi.
Zaman Batu sendiri masih dibedakan atas tiga periode, yaitu sebagai berikut.

Palaeolithikum

Disebut juga zaman Batu Tua. Jejak dari hasil kebudayaan tertua di masa prasejarah Indonesia ditemukan di dua tempat, Pacitan dan Ngandong. Ahli yang melakukan penelitian bernama M.W. Tweedie pada tahun1835. Beberapa contoh kebudayaan Pacitan adalah kapak genggam atau chopper, kapak perimbas, kapak peneetak, serta pahat genggam.

Sementara hasil dari kebudayaan Ngandong antara lain : serpih bilah atau disebut juga flakes, kapak genggam, pengorek tanah, tombak bergerigi, serta peralatan dari tulang.

Mesolithikum

Zaman ini dikenal juga dengan nama Zaman Madya. Peninggalan yang  ditemukan di zaman ini berada di sekitar sungai, danau, atau pantai. Di saat itu, kegiatan utama masyarakat adalah berburu dan mengumpulkan makanan. Di Indonesia sendiri, zaman Mesolithikum masih dibagi lagi untuk tiga corak kebudayaan yaitu kebudayaan Pebble, Bone, dan Flakes. Yang melakukan pembagian adalah Dr. P. V. van Stein Callenfels (1928 – 1932).

Di kebudayaan Pebble ditemukan sampah dapur, kapang genggam Sumatera, kapak pendek, serta kapak protoneolith. Sementara pada kebudayaan Bone banyak ditemukan peralatan yang terbuat dari tulang serta gua tempat tinggal. Bagaimana dengan kebudayaan Flakes? Alat serpih bilah serta ujung panah dari batu indah.

Neolithikum

Neolithikum disebut juga zaman Batu Muda. Hasil kebudayaannya sudah tersebar di seluruh wolayah nusantara. Di masa ini, masyarakat sudah tidak lagi hidup nomaden. Melainkan sudah tinggal menetap dan mulai belajar bercocok tanam serta beternak.

Alat-alat yang biasa digunakan pun jauh lebih halus karena masyarakatnya sudah mengenal kegiatan mengasah. Berdasarkan peralatan yang ditemukan oleh Von Heine Beldern, Neolithikum terbagi dua.

Pertama, kebudayaan kapak persegi. Bukti-buktinya ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Peralatan yang digunakan kala itu antara lain : pacul berukuran besar,  tarah, dan chalsedon. Kedua, kebudayaan kapak lonjong. Peralatan di zaman itu adalah kapak lonjong berukuran kecil, perhiasan, tembikar, dan pakaian.
        
Megalithikum

Kebudayaan Megalithikum (Zaman Batu Besar) ditandai dengan dihasilkannya bangunan dari batu berukuran besar. Permukaan batu tersebut biasanya hanya diratakan saja, supaya bisa mendapatkan bentuk yang diinginkan. Sampai saat ini, kebudayaan Megalithikum masih bisa ditemukan di Pulau Nias, Flores, atau pulau Sumba.

Di Indonesia, kebudayaan ini diteliti oleh Van Heine Berderen dan Dr. Von derHoop. Hasil kebudayaan Megalithikum, di antaranya peti kubur batu, arca-arca, meja batu tempat persembahan atau dolmen, peti mati, punden berundak, juga menhir.

Zaman Logam

Zaman Logam ditandai dengan penggunaan peralatan yang terbuat dari logam. Di masa itu, manusia sudah hidup menetap. Mata pencaharian pun lebih beraneka karena sudah mengenal jual beli. Zaman Logam sendiri masih dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut.

Zaman Tembaga

Zaman Tembaga ditandai dengan penggunaan benda-benda yang bahan bakunya berasal dari tembaga. Pembuatan tembaga mulai dikembangkan di Mesopotamia yang berlokasi di Timur Tengah. Namun, di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara tidak ditemukan peralatan yang terbuat dari tembaga.

Zaman Perunggu

Untuk membuat perunggu, orang mencampurkan timah ke dalam tembaga. Jumlah timahnya tidak lebih dari 10% saja. Daerah yang mula-mula menggunakan perunggu adalah Balkan, Timur Dekat, dan Asia Tenggara. Perunggu menghasilkan peralatan yang lebih keras dibanding tembaga.

Ketika kemudian terjadi kelangkaan timah, mulai terciptalah perdagangan jarak jauh dan pembukaan tambang pertama. Tambang yang dimaksud didirikan di kota Cornwall, Inggris. Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, pembuatan pedang perunggu yang sangat indah sudah diciptakan di Eropa dan Asia Barat.

Hasil terpenting kebudayaan ini di Indonesia antara lain kapak corong dan nekara. Kapak corong kadang disebut juga kapak sepatu. Mungkin karena bentuknya sekilas mirip sepatu. Kapak ini ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar, serta sekitar Danau Sentanu, Papua.

Nekara sendiri mirip dengan dandang. Benda ini banyak ditemukan di Jawa, Sumatera, Roti, Selayar, Bali, serta Kepulauan Kei. Sebuah patung kereta perang kecil dari perunggu ditemukan di Tell Agrab, Irak. Diperkirakan patung tersebut berasal dari tahun 3000 Sebelum Masehi.

Zaman Besi

Manusia terus berkembang sehingga mulai mengenal peleburan bijih besi. Benda tambang ini kemudian dicetak menjadi berbagai peralatan yang dibutuhkan. Namun, peleburan bijih besi membutuhkan suhu yang sangat tinggi dalam prosesnya. Seiring dengan itu, barang yang dihasilkan menjadi lebih sempurna. Dahulu, orang yang ahli membuat besi disebut Celt. Kala itu mereka mendominasi Eropa bagian utara.

Bangsa Cina mengembangkan teknik tersendiri agar dapat melebur bijih besi dalam jumlah besar. mereka menggunakan puput besar dengan tujuan untuk menambah suhu pembakaran. Benda-benda yang terbuat dari besi tidak terlalu banyak ditemukan, baik di dunia maupun di Indonesia.

Diduga, banyak peralatan berbahan baku besi yang mengalami kerusakan dan kehancuran karena karat. Namun, ada segelintir peralatan yang bisa diselamatkan, seperti sabit, kapak, pisau, tongkat, pedang, tembilang, serta cangkul. Daerah yang menjadi tempat penemuan benda-benda tersebut adalah Bogor, Besuki, Ponorogo, serta Wanasari. Zaman Besi juga dianggap sebagai masa-masa terakhir zaman prasejarah. Selanjutnya, manusia memasuki zaman sejarah, yaitu masa ketika tulisan mulai dikenal.

Begitulah periodisasi perkembangan bidaya di zaman prasejarah. Semoga memberikan tambahan informasi yang dibutuhkan oleh pembaca.