Jauh sebelum berkembangnya kebudayaan Cina-India, Asia Tenggara telah memiliki kebudayaan asli yang dikenal dengan kebudayaan Austronesia. Budaya Austronesia dibawa oleh orang-orang Austronesia yang melakukan migrasi ke Asia Tenggara. Pada awalnya, bangsa Austronesia menetap di Asia Tengah. Kemudian, mereka bermigrasi ke Asia Tenggara akibat desakkan bangsa-bangsa lain yang mendiami kawasan Asia Tengah. Setelah menyebar di Asia Tenggara, barulah bangsa Austronesia mengembangkan kebudayaan mereka.   

Kebudayaan Austronesia

Menurut para ahli sejarah, Asia Tenggara adalah kawasan dengan perkembangan kebudayaan yang bersifat dinamis dan menjadi daerah migrasi bangsa yang menempati wilayah daratan Benua Asia Tengah.  Para imigran ini menyebar ke wilayah kepulauan Nusantara, Filipina dan pulau-pulau yang terdapat di Samudera Pasifik.

Awalnya, bangsa Austronesia berimigrasi ke wilayah Asia Selatan, tepatnya di Yunnan. Baru kemudian mulai menyebar ke wilayah Asia Tenggara. Proses migrasi ini berlangsung sampai tahun 2500 SM. Bangsa Austronesia mulai mengadakan pelayaran menuju Taiwan dan Filipina. Mereka pun telah menyebar ke Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau di bagian barat Indonesia.

Menurut ahli sejarah, penyebaran bangsa Austronesia di kepulauan Indonesia berlangsung melalui dua jalur, yaitu jalur selatan yang mengembangkan kebudayaan kapak berbentuk persegi dan jalur utara yang mengembangkan kebudayaan kapak berbentuk lonjong. Bangsa Austronesia juga memperkenalkan kebudayaan Dong-son (kebudayaan perunggu atau seni tuang perunggu). Dong-son merupakan nama sebuah situs kuno di daerah Thanh-hoa, Vietnam. Situs ini dipenuhi artefak-artefak kuno yang terbuat dari perunggu berornamen yang sangat artistik.

Artefak perunggu bercirikan kebudayaan Dong-son juga diketemukan di seluruh kawasan Asia Tenggara hingga kepulauan Timur Indonesia. Artefak- artefak itu, misalnya nekara berornamen, candrasa (kapak yang digunakan saat upacara), moko (sejenis mekara namun berukuran lebih kecil), pedang pendek, bejana, boneka, mata panah, ujung tombak bertangkai, peralatan rumah tangga, perhiasan, dan lainnya.

Kebudayaan Dong-son menyebar di kepulauan Indonesia melalui 2 tahap. Pertama, pada zaman Neolithikum, yaitu zaman batu tulis dan masa kebudayaan kapak persegi. Kedua, pada zaman Perunggu, yaitu zaman perkembangan kebudayaan kapak sepatu, candrasa, dan nekara. Penyebaran kebudayaan Dong-son yang terdiri atas dua tahap seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengakibatkan terjadinya pembagian perkembangan kebudayaan Dong-son di Indonesia. Yaitu, Kebudayaan Proto Melayu (tersebar di masyarakat Dayak bagian Pedalaman) dan Kebudayaan Deutro Melayu (tersebar di masyarakat Bali Aga dan Lombok).

Menurut J.L.A Brandes, seorang ahli sejarah kebudayaan, kebudayaan Dong-son di Asia Tenggara telah memiliki beberapa nilai-nilai masyarakat. Berikut ini beberapa nilai budaya Dong-son yang berkembang di Asia Tenggara.

• Mampu membuat figur manusia dalam bentuk patung atau boneka.
• Telah mengembangkan seni hias ornamen pada perunggu.
• Telah mengenal proses pengecoran logam.
• Melakukan perniagaan dengan sistem barter.
• Mengetahui alat-alat musik.
• Memiliki pemahaman mengenai astronomi.
• Melakukan proses penyampaian pengetahuan melalui lisan.
• Telah mengenal sistem irigasi.
• Mengenal dan mempraktekkan sistem tata masyarakat yang teratur.

Ahli sejarah lainnya, G. Coedes, melakukan kajian yang lebih mendalam tentang kebudayaan Asia Tenggara, misalnya sebagai berikut.

Bidang Sosial Budaya

• Mengenal sistem pertanian dan irigasi.
• Telah berternak kerbau dan sapi.
• Menggunakan alat-alat logam dalam kehidupan sehari-hari.
• Memahami dan menguasai teknik navigasi.
• Menganut sistem matriarki dan memberi penghargaan yang baik pada kaum wanita.
• Rumah tinggal berbentuk rumah panggung.

Bidang Kepercayaan (Religi)

Menganggap tempat-tempat yang terletak di lokasi yang tinggi sebagai tempat keramat dan suci.
• Melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang.
• Melakukan sistem penguburan kedua dengan menempatkan mayat di dalam gentong, tempayan atau sarkopagus.

Perkembangan Kebudayan Cina-India

Asia Tenggara menjadi kawasan pertemuan tiga kebudayaan besar, yaitu kebudayaan Austronesia, Cina, dan India. Para pelaut dan pedagang Cina dan India banyak berinteraksi satu sama lain melalui lautan, selat dan pantai di Asia Tenggara. Maka terjadilah hubungan timbal-balik antara pedagang dan pelaut Cina-India dengan penduduk lokal dari bangsa Austronesia.
Penduduk yang mendiami pulau Jawa, Sumatera, Bali, Semenanjung Malaysia, Singapura (kala itu bernama Tumasik), Champa, Khmer, Myanmar dan Thailand banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya India. Sedangkan budaya Cina lebih mendominasi Laos dan Vietnam ketimbang budaya India. Sedangkan Filipina hanya mendapat sedikit pengaruh budaya Cina-India.

Berdasarkan catatan sejarah, penduduk yang mendiami Filipina Selatan pada akhirnya didominasi oleh kebudayaan Islam pada abad ke 15. Sedangkan penduduk yang mendiami Filipina Utara tetap mengembangkan budaya Austronesia dan pada akhirnya terpengaruh agama Katolik yang dibawa oleh bangsa Spanyol.

Tiga aspek kebudayaan India yang berkembang di Asia tenggara adalah agama Hindu-Budha, sistem aksara Pallava (palawa) yang akan menjadi awal mula pembentukan aksara kuno Asia Tenggara, dan sistem kalender Saka (sistem penanggalan syamsiah-komariah atau candra-surya atau luni-solar).

Pengaruh budaya Cina lebih mendominasi bidang politik. Menurut sumber-sumber sejarah, raja-raja baru di Asia Tenggara biasanya akan mengutus orang untuk menginformasikan kedudukan barunya dan meminta pengesahan atas kepemimpinannya pada kasiar Cina.

Pengaruh Budaya India dalam Bidang Sosial Budaya

Bangsa Austronesia yang bermigrasi ke Asia Tenggara cukup terbuka terhadap kebudayaan lain. Akan tetapi bukan berarti mereka melupakan dan meninggalkan kebudayaan asli mereka. Mereka bersikap fleksibel. Kebudayaan-kebudayaan baru yang muncul selalu disesuaikan dengan tradisi-tradisi yang terkandung dalam budaya Austronesia.

Kebudayaan India yang masuk memperkenalkan sistem kasta (status dan kedudukan) dalam masyarakat. Selain itu, masyarakat telah mengenal tata peraturan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga telah memiliki sistem tata hukum yaitu dengan menerapkan penghukuman terhadap individu yang melakukan pelanggaran terhadap norma dan undang-undang yang diberlakukan dalam masyarakat.

Pengaruh Budaya Cina dalam Bidang Ekonomi

Perkembangan perdagangan di Asia Tenggara tak terlepas dari pengaruh Cina. Seperti yang kita ketahui, Cina telah mengalami kemajuan yang pesat dalam dunia perniagaan melalui jalur Jalan Sutra. Jalur Jalan Sutra ini adalah jalur yang ditempuh melalui daratan dari Cina melintasi Asia Tenggara.

Laut tengah merupakan titik akhir dari Jalan Sutra ini. Selanjutnya, barang-barang komoditi akan dikirim ke Eropa melalui jalur laut. Jalur perdagangan dari Cina lainnya adalah melalui jalur laut melewati kawasan Asia Tenggara. Asia Timur adalah titik akhir dari jalur laut ini. Jalur inilah yang memunculkan kota-kota pelabuhan dan perdagangan seperti Malaka, Kanton, Bandar Abas dan lainnya.

Sejarah mencatat kemahsyuran Malaka sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang megah. Komoditi yang dijadikan barang perniagaan adalah rempah-rempah yang berasal dari Maluku, beras dari Pulau Jawa dan lada yang berasal dari Sumatera. Selain Malaka, dikenal pula pelabuhan penting lainnya seperti Gresik, Banten, Surabaya, dan lain-lain. Kota-kota pelabuhan itu biasanya dikelilingi benteng-benteng untuk melindungi kota. Para pedagang yang datang akan membayar upeti atau pajak kepada penguasa kota.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai kebudayaan-kebudayaan yang berkembang di Asia Tenggara. Peradaban Asia Tenggara merupakan percampuran budaya Austronesia, Cina, dan India. Masing-masing kebudayaan tersebut menyumbangkan sistem dan nilai sosial yang memperkaya satu sama lain. Percampuran ini menghasilkan suatu bentuk peradaban yang khas, yaitu peradaban Asia Tenggara.