Menelaah keadaan bangsa Arab pada masa pra-Islam adalah hal yang perlu diketahui oleh setiap penikmat sejarah. Memahami bagaimana kondisi sosial, geografis, serta agama yang dianut oleh bangsa Arab sebelum kedatangan Islam akan membuat kita dapat memberikan penilaian objektif terhadap pengaruh Islam dan perkembangannya kelak bagi bangsa Arab.

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw kepada manusia, keadaan bangsa Arab kala itu sudah cukup maju dalam bidang ekonomi dan budaya. Wilayah jazirah Arab yang memiliki posisi strategis telah membuat kemajuan ekonomi, dan budaya. Hal ini pulalah yang nantinya akan membuat perkembangan Islam menjadi sedemikian pesat. Disamping itu, keberadaan kerajaan-kerajaan di jazirah Arab seperti Saba’, Himyar, Quutban, dan Maa’in juga ikut menjadi alasan penting tersebarnya Islam dengan cepat dan pesat.

Keadaan Geografis Bangsa Arab Pra-Islam

Menjelang diutusnya Nabi Muhammad saw kepada manusia, wilayah jazirah Arab terletak di antara dua kekuatan rakasasa, yaitu Kerajaan Romawi Timur yang membentang di sebelah jazirah Arab dari wilayah barat hingga sampai di lautan Adriatik. Kedua kekuatan rakasasa yang mengepung jazirah Arab ini ternyata memiliki hegemoni tersendiri di kawasan Asia Timur Kuno saat itu.
Namun, secara menakjubkan jazirah Arab tidak terpengaruh sedikit pun dengan budaya dan berbagai hal dari kedua keukutan tersebut, tentunya ada juga beberapa wilayah subur yang secara khusus mendapatkan pengaruh dari dua kubu tersebut, seperti daerah Yaman, serta daerah-daerah yang berada di sekeliling Teluk Persia. Beberapa daerah yang berada di sekitar Teluk Persia sebenarnya merupakan wilayah Persia.

Oleh sebab itulah, maka jazirah Arab, tempat di mana Islam diturunkan, tidak terpengaruh oleh inviltrasi budaya manapun. Baik dari segi politik, bidaya, maupun sosiokultural. Begitu pun dengan agama Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad saw tidak mendapatkan pengaruh apapun dari agama-agama, kekuasaan politik, keadaan sosial, serta budaya apapun.

Keadaan geografis dari Jazirah Arab, jika dicermati dari peta adalah kawasan yang memiliki bentuk persegi panjang yang memiliki sisi tidak sejajar layaknya jajaran genjang. Pada bagian barat dibatasi oleh Laut Merah, sedangkan pada bagian sebelah dibatasi oleh Laut Arab, bagian sebelah timur terdapat Teluk Arab yang merupakan daerah Persia.

Adapun sebelah utara maka terdapat gurun pasir Syria serta Irak. Jazirah Arab merupakan daerah yang didominasi oleh gurun-gurun pasir, padang pasir luas, serta beberapa kawasan yang ternyata tidak berpenghuni. Sedangkan pada sisi di sepanjang lautan adalah daerah-daerah yang memiliki tanah subur, dan hasil kebun yang cukup melimpah.

Daerah yang termasuk di dalamnya adalah daerah Oman, serta Bahrain. Sedangkan pada bagian tengah Jazirah Arab terdapat kawasan yang jarang dihuni oleh manusia, oleh karena itulah kawasan di tengah Jazirah Arab ini disebut sebagai Rub al-Khaali.
Asal katan dari Jazira Arab adalah dua nama yang terambil dari bahasa Arab. Jazirah memiliki arti pulau, sedang Arab adalah nama kawasan. Beberapa pakar dan ahli sejarah di Indonesia menyebutkan Jazirah Arab sebagai Syibhul Jazirah yang memiliki arti sebagai semenanjung. Agar dapat menggambarkan bagaimana secara jelas bentuk dari Jazirah Arab, maka kita harus mengetahui batasan-batasan yang mengelilingi Jazirah Arab.

Pada sebelah selatan, Jazirah Arab dibatasi oleh Lautan Merah, sedangkan pada bagian timur dibatasi oleh Teluk Arab. Jazirah Arab berbatasan dengan Gurun Irak serta Gurun Syam pada bagian utara, adapun batas di bagian selatan di kelilingi oleh Samudera Hindia.

Jazirah Arab terbagi menjadi dua kawasan yang mendominasi, yaitu daerah tengah serta bagian tepi. Setiap kawasan yang terdapat di Jazirah Arab memiliki bentangan alam yang unik, serta berkarakteristik tersendiri. Di kawasan tengah, Syibhul Jazirah ini memiliki daerah dengan karakteristik pegunungan panjang, serta jarang mendapatkan siraman hujan.

Pada daerah inilah suku Badui menetap. Daerah lain yang memiliki jumlah penduduk yang cukup panjang adalah daerah di bagian utara, yaitu Najed. Sedangkan di bagian selatan yang memiliki penduduk jarang adalah derah Al-Ahqaf. Pada daerah di bagian selatan inilah yang tadi kita sebut sebagai daerah kosong atau berpenduduk paling sedikit sehingga disebut sebagai Rub al-Khaali.

Lalu bagian manakah yang memiliki penduduk dengan jumlah paling besar? Jawabannya adalah di bagian tepi Jazirah Arab. Pada bagian tepi ini curah hujan cukup teratur sehingga memungkinkan bercocok tanam.

Adapun pembagian wilayah Jazirah Arab berdasarkan pendapat ahli-ahli sejarah Ilmu Purba menjadi tiga kawasan,  pertama, daerah Arab Petrix merupakan daerah yang berada di bagian barat daya dari wilayah lembah Syam, kedua, Arab Deserta yang merupakan kawasan Syam, dan ketiga, Arab Felix yang merupakan kawasan Yaman.

Keadaan Sosial dan Keagamaan

Berbagai agama dianut oleh kabilah-kabilah di Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam. Oleh karena itulah, ideolgo-ideologi telah mengakar kuat di benak para pengikut agama-agama tersebut. Kepercayaan yang dianut pun bermacam, seperti mangakui adanya Tuhan yang satu yang Allah, sebagaimana kepercayaan Ibrahim as. Musa as. dan Dawud as. namun adapula yang menyembah banyak Tuhan, seperti polytheisme yang dianut oleh orang-orang Yunani Kuno.

Agama yang mensyaratkan banyaknya Tuhan ini disebut pula dengan Watsaniyah. Agama ini menisbatkan penyembahan kepada Tuhan dengan penyembahan kepada benda-benda mati disekitarnya. Seperti, Anshab yang disembah dengan bentuk yang beraneka ragam. Juga Autsa, yang berupa patung dari batu. Sedangkan Asham merupakan patung-patung buatan yang dibuat sedemikian rupa dari bahan dasar kayu, bisa juga dalam bentuk emas murni dan perak.

Patung-patung sesembahan penganut Watsaniyah ini kemudian disebut sebagai berhala. Berhala yang kali pertama dibuat dan disembah adalah Hubal. Lalu masyarakat Arab berinisiatif untuk menciptakan patung-patung berhala lainnya, seperti nama-nama berhala Uzza, Lata, dan lain-lain. Namun, tidak berarti semua penghuni Jazirah Arab menganut agama Watsaniyah sebelum kedatangan Islam.

Ada pula yang menganut agama Yahudi dan agama Masehi. Agama Yahudi adalah agama yang berasal dari salah satu anak Nabi Yakub as. yang bernama Yahuda. Kebanyakan yang menganut agama Yahudi adalah orang-orang daru rumpun bangsa Semit—memiliki nama lain sebagai Samiah.

Sampainya agama Yahudi di Jazirah Arab karena dibawa oleh warga Israel yang memiliki negeri Asyur. Orang-orang Israel ini diusir dari Kemaharajaan Romawi yang memiliki agama Masehi. Sehingga bangsa Asyur ini secara pelan-pelan dan berangsur-angsur kemudian mendiami daerah Yatsrib—disebut juga Madinah nanti pada masa Islam.

Sementara agama Masehi yang kemudian berkembang serta menjadi lebih besar dibandingkan sekte agama Masehi lainnya adalah Sekte Yaqubiah. Sekte ini mensifatkan bahwa Al-Masih memiliki perbuatan dan kehendak yang menisbatkan tabiat ketuhanan. Sehingga kesatuan antara kemanusiaan Al-Masih dan kesatuan Ketuhanan menjadi satu dan lebur. Sebagaimana rokok yang terdiri dari beberapa bagian kemudian menjadi satu jenis.

Beberapa agama yang secara garis besar mendominasi kehidupan sosial bangsa Arab pra-Islam adalah agama Yahudi yang dibawa oleh orang-orang Israel yang datang dan tinggal di Jazirah Arab, kemudian agama Nashara yang tersebar lewat kabilah-kabilahnya, seperti kabilah Ghassaniah dan kabilah Al-Munadzirah. Ada pula agama yang menisbatkan persembahan kepada api dan dianut oleh sebagian kecil penghuni Jazirah Arab, yaitu agama Masehi.

Demikian halnya dengan Paganisme yang menyembah banyak berhala sebagai Tuhan. Namun, diantara agama-agam tersebut masih ada sebagian masyarakat Jazirah Arab yang menganut agama yang menyembah Tuhan yang satu, dan tetap melaksanakan ajaran agama hanif seraya menunggu diutusnya nabi kepada mereka.

Demikianlah keadaan sosial budaya, dan geografis dari bangsa Arab pra-Islam. Mengenali dan menggalinya akan lebih memudahkan kita untuk mencermati bagaimana agama, keadaan sosial, dan geografis Timur Tengah di masa kini.