Pernahkah kalian membaca buku biografi tentang seorang tokoh yang dikagumi? Setiap orang tentunya mempunyai seseorang yang dikagumi dalam hidupnya. Orang yang dikagumi tersebut mempunyai kelebihan pada dirinya sehingga layak untuk dikagumi. Orang yang bisa dikagumi pun bisa dari berbagai kalangan, artis, sastrawan, penyair, politikus, dan masih banyak yang lain. Yang dikagumi pun bisa dari kehidupan tokoh, kepribadian tokoh, penemuan tokoh, hasil karya, dan masih banyak yang lain. Tentu saja kita ingin mendapatkan informasi dari tokoh melalui berbagai sumber, salah satunya dengan bersumber dari buku biografi.

Buku biografi menyediakan berbagai informasi tentang orang yang kita kagumi tersebut. Dari buku biografu juga kita akan mendapatkan hal-hal yang menarik kemudian mendeskripsikannya. Mendeskripsikan adalah menceritakan kejadian dengan cara menggambarkan, sehingga seakan-akan orang lain tahu dan bisa membayangkan apa yang terjadi, hanya dengan mendengarkan cerita melalui deskripsi.

Untuk mendeskripsikan hal-hal yang menarik dari buku biografi, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.

1. Mencari buku biografi

Banyak buku biografi yang bisa kita jadikan pilihan untuk dibaca dan dideskripsikan hal-hal menarik yang ada pada buku biografi. Banyakknya buku biografi tentu saja tidak menyulitkan untuk mencari dan memperoleh buku biografi. Carilah buku biografi tokoh yang anda kagumi.

2. Membaca dengan teliti

Setelah mendapatkan buku biografi, langkah selanjutnya adalah membaca buku tersebut dengan teliti. Perhatikan setiap bagian dalam buku biografi.

3. Mencatat bagian-bagian penting dalam buku biografi

Dalam buku biografi tentu saja berisikan informasi-infomasi yang penting, untuk itu pandai-pandailah memilih bagian yang dirasa paling penting di dalam buku biografi.

4. Mencatat hal-hal yang menarik dalam buku biografi

Selain hal yang penting, jangan lupa untuk mencatat hal-hal yang menarik dalam buku biografi. Hal yang penting nantinyalah yang akan diceritakan kembali dengan mendeskripsikan.

5. Mendeskripsikan dengan bahasa sendiri.

Setelah semua langkah selesai, langkah yang terakhir adalah mendeskripsikan hal-hal yang menarik dalam buku biografi dengan bahasa sendiri.

Di bawah ini ada contoh buku biografi karya Pramoedya Ananta Toer yang bisa dibaca kemudian dideskripsikan hal-hal yang menarik dari buku tersebut. Hal-hal yang menarik dalam buku biografi bisa meliputi isi dari buku, yakni tema, perjalanan hidup tokoh dalam biografi. Selain dari isi buku bisa juga dari cara penggambaran pengarang dalam menceritakan tokoh.

Judul Buku : Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta

Tahun terbit : 2003

Jumlah halaman : 301

Berikut ini adalah kutipan dari buku biografi “Panggil Aku Kartini Saja”. Bacalah kemudian kemukakan hal yang menarik di dalam buku biografi ini.

Masa Kecil

Kelahiran

21 April 1879 atau tahun Jawa 28 Rabiulakhir 1808, Mayong mendapatkan kehormatan tamu agung: bayi yang bernama Kartini. Siapakah yang memberikan nama itu pada si jabang bayi? Tidak jelas. Mungkin ayahnya. Mungkin ibunya. Tetapi besar kemungkinan ibunya. Cerita-cerita wayang banyak memberi contoh: satria-satria yang meninggalkan nama bagi anaknya, kelak, kalau ternyata anak itu laki-laki; tidak ada nama ditinggalkan buat anak perempuan. Dan cerita wayang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Jawa di masa itu, bahkan merupakan sebagian dari kehidupan itu sendiri, menjadi acuan pemikiran dan moral, menjadi pola kejiwaan. Para pria mencoba menjadi satria pandawa Mahabharata atau satria Ayodya Ramayana, lengkap dengan selir-selirnya.

Waktu itu ayah kartini menjabat sebagai Asisten Wedana Onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara. Tapi di manakah Kartini lahir? Di rumah ayahnya ataukah di rumah ayah ibunya? Sejarah tidak memberitahukan. Tapi besar kemungkinan lahir di rumah ayahnya. Di dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang pada halaman 10 terpasang dua buah gambar dengan keterangan “Di situlah dahulu rumah R.A Kartini lahir” keterangan pada gambar di bawahnya “Yang dipayungi itu tempat menanam tembuni (ari-ari)”, kemudian ditutup dengan keterangan: ”Foto Bupati Jepara. (R.A.A Sukahar)”, tetapi gambar itu sebagian besar diisi dengan pepohonan. Pada gambar pertama hanya nampak sepotong dinding rumah kecil yang nampaknya dari tembok. Sedang pada gambar kedua nampak gambar sepotong tembok sumur.

Bangunan-bangunan dari batu yang hanya nampak sedikit itu sudah dapat menjelaskan, bahwa Kartini lahir di dalam gedung ke asistenwedanaan, tidak di rumah ayah ibunya, seorang diantara sekian banyak rakyat jelata, yang tidak mampu membuat dinding rumahnya dari tembok, apa pula dinding sumurnya! Hanya saja Kartini tidak dilahirkan di gedung utama sebagaimana kebanyakan saudari-saudarinya yang lebih tua. Dia dilahirkan di bagian bangunan keasistenwedanaan, sebuah rumah kecil dari tembok yang terletak agak jauh dari gedung utama. Gambar pertama R.A.A Sukahar menunjukkan sebuah rumah kecil dari tembok, beratap rendah. Di sanalah Kartini lahir, di bagian tempat tinggal selir atau istri ke sekian dan ke sekian. Rumah kecil itu, dibedakan dari gedung utama perbedaan yang menjelaskan kelainan kedudukan antara penghuninya daripada penghuni gedung utama, sekali pun dipekarangan yang sama.

Siapa yang menjadi bidannya? Tentu saja bukan bidan berijazah, tapi dukun beranak, yang mendapatkan kepandaian dari nenek moyangnya sendiri, dan dengan sendirinya mempergunakan kebiasaan dan upacara-upacara kuno. Pemeliharaan tempat di mana tembuninya ditanam tidak lain daripada kebiasaan lama yang dipercaya, bahwa tembuni adalah saudara tua si jabang bayi. Dan sesuai dengan kepercayaan lama pula, maka tembuni kartini itu pun ditanam bersama selembar kertas yang ditulis dengan abjad jawa dan latin yang indah, agar saudari tua menjadi seseorang yang terpelajar, yang indah tulisannya baik dalam huruf jawa maupun latin, dan dengan sendirinya juga si saudara muda: Kartini. Di samping itu disertakan pula selembar dengan tulisan arab itulah rajah keselamatan.

Sebagaimana denagn bayi-bayi lain di masa itu, beberapa hari setelah kelahirannya, kanak-kanak yang tinggal di kompleks keassistenwedanaan itu, termasuk anak-anak jongos, pembantu rumah tangga, koki, tukang kebun, opas, dan yang juga di luar kompleks ada datang ke situ berkenduru bubur merah putih, sebagai upacara pemberian nama. Demikianlah maka nama kartini menjelma di atas dunia, untuk kelak menjadi abadi dalam sejarah bangsanya, juga sejarah umat manusia. Bocah-bocah yang berkenduri itu bubar kembali sambil tergirang-girang membawa bubur merah putih manis. Dan dengan diam-diam tanpa banyak perhatian, sebagai bocah-bocah lain di masa itu, Kartini pun tumbuh.

Sesuai dengan adat istiadat lama, juga Kartini melewati upacara-upacara cukur rambut dan turun bumi (untuk pertama kali diturunkan di tanah). Bagi orang jawa ada babak-babak yang sangat penting dalam hidup yang tidak boleh dibiarkan tanpa upacara: kelahiran, kedewasaan, perkawinan, dan kematian. Tentu ada upacara-upacara itu dihidupkan puisi di dalam kenangan manusia.

Siapa yang mengasuh pertama-tama

Sejarah tidak menyampaikan secara jelas bagaimana kehidupam Kartini semasa kecil. untuk pertama kali pasti ibu kandungnya sendiri yang mengasuhnya. Ibu kandung sendiri dan disebabkan ibu Kartini bukan seorang saja di gedung Keasistenwedanaan pula. Kediamannya di situ tidak dapat diragukan lagi, karena setiap lelaki, setiap kali dapat saja pulang ke rumah “membawa perempuan lain” sedang istri-istri sebelum ini “harus mengakui perempuan itu sebagai istri lakinya yang sah, harus diterima jadi saingannya”. Sudah tentu dalam persaingan ini istri tua, atau ibu tua Kartini, lebih suka tidak ikut campur dengan pengasuhan. Memang tidak mungkin! Bukanlah menurut Kartini sendiri, ibu tuanya seorang feudal keturunan ratu Madura? Sedang ibunya sendiri seorang anak rakyat kebanyakan, anak seorang mandor pabrik gula? Sudah sejak jabang bayi Kartini menerima diskriminasi sosial yang tidak adil, dan semua tanpa sekehendak hatinya sendiri. Sejak bayi ia sudah merasai perbedaan antara gedung utara dan rumah luar, tempat di mana ia dilahirkan.

Beberapa waktu setelah kelahirannya, mungkin sekali ibu kartini keluar dari gedung Keasistenwedanaan buat selama-lamanya, karena setelah kelahirannya tiada lagi bayi yang dilahirkan oleh ibu kandungnya. Adik-adiknya dilahirkan dari ibu yang lain, dan tidak kurang dari 6 orang.

Bila benar ibu kandungnya keluar dari gedung Keasistenwedanaan, pastilah pengasuhan itu kemudian dilakukan oleh seorang babu, yang ditugaskan khusus untuk itu. Menurut Nyonya marie C. Van Zeggelen, pengasuh atau emban Kartini sejak kecil adalah Rami. Dalam Door Duisternist tot Licht tidak pernah disebutkan tentang emban itu. Mungkin sekali Nyonya Van Zeggelen melakukan penyelidikan sendiri untuk penyusunan roman Kartini. Bahwa Kartini tidak pernah menyebut nama Rami dalam tulisan-tulisannya dapatlah dipahami, karena ia memang jarang nama orang-orang terkecuali orang-orang yang benar dirasanya patut dikemukakan karena suatu persoalan di dalamnya.

Tapi kalau benar tulisan Marie C. Van Zeggelen itu, maka Rami ini pulalah yang setiap saat menjaga keselamatan dan kesehatan Kartini, bukan saja sewaktu Kartini masih jabang bayi, tapi pun sampai jauh di kemudian hari: Malam itu Kartini sakit. Dan ketika fajar menyingsing, dan ayam mulai berkokok, Rami, embannya, yang tiap malam tidur di atas tikar di depan kamar R.A Kartini, dengan gugup mengetuk pintu kamar Rukmini. Sehingga emban ini bukan hanya sebagian hidup Kartini saja, tapi telah menjadi sebagian dari tubuhnya.

Sejarah belum pernah melaporkan kepada kita tentang ibu kandung kartini. Mudah sekali dipahami mengapa demikian. Karena di masa penjajahan Belanda, dengan feodalisme pribumi yang mendukungnya, orang akan merasa segan mengemukakan seorang wanita biasa dari kalangan rakyat jelata, mungkin juga masih buta huruf, yang hanya mempunyai satu hal yang menyebabkan ia dibedakan dari rakyat jelata lainnya: kecantikan dan keindahan tubuhnya. (Ananta Toer, 2003: 51-54)

Kutipan di atas adalah kutipan dari buku biografi R.A Kartini. Bacalah dan kemudian deskripsikan hal-hal yang menarik dalam kutipan tersebut. banyak hal yang menarik yang bisa dideskripsikan dalam kutipan biografi di atas, misalnya saja informasi-informasi tentang R.A Kartini yang sebelumnya tidak banyak dibahas dan dibedah oleh buku-buku lain tentang R.A Kartini.

Selain itu, teknik analisis yang digunakan oleh pengarang dalam menulis buku biografi R.A Kartini ini juga mejadi daya tarik tersendiri. Pembaca tidak hanya diajak membaca, tapi diajak mendalami dan menyelami Kartini dengan menganalisis keadaan sekitar Kartini. Seperti yang digambarkan pada waktu Kartini lahir.