Letak astronomis yang berada pada 6ºLU-11ºLS dan 95ºBT-141ºBT menyebabkan negara Indonesia beriklim tropis. Selain dilewati oleh garis khatulistiwa, Indonesia juga merupakan tempat pertemuan dua rangkaian pegunungan muda, yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Kondisi ini menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang memberi efek tanah subur.

Dilihat dari letak geografisnya, Indonesia berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia. Lagi-lagi, hal ini menguntungkan kita karena Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Dilihat dari penyebaran flora, Indonesia terbagi atas empat macam wilayah yaitu daerah hutan hujan tropis, daerah hutan musim, daerah sabana, dan padang rumput (stepa). Luas wilayah Indonesia yang hanya sekitar 1,3% dari luas bumi (Mittermeier et al, 1997), 17 hingga 25% flora dan faunanya tersebar di Indonesia. Bahkan, Indonesia kaya akan spesies endemik (makhluk hidup yang hanya ditemukan di daerah tertentu). Misalnya, Rafflesia arnoldi di Sumatra.

Indonesia bagian barat terdiri atas Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Wilayah ini termasuk paparan Sunda. Puluhan abad yang lalu, paparan Sunda pernah bersatu dengan daratan Benua Asia. Berdasarkan pendekatan biogeografi, kekayaan hayati Indonesia dibagi atas dua kelompok, yaitu Indo-Malayan dan Indo-Australian. Daerah peralihannya ditandai dengan garis Wallace dan garis Lydekker. Kelompok Indo-Malayan meliputi tanaman yang ada di Indonesia Barat, yaitu Sumatera, jawa, Kalimantan, dan Bali. Sedangkan kelompok Indo-Australia meliputi tanaman yang ada di kawasan Indonesia Timur, yaitu Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Menelisik biodiversitas di Indonesia bagian barat

Flora dan fauna di Indonesia bagian barat

Karakteristik flora di Indonesia Bagian Timur dan Flora di Indonesia Bagian Barat juga memiliki perbedaan. Berikut ini adalah karakteristik flora dan fauna di Indonesia bagian Barat. Karakteristik flora di Indonesia bagian barat.

- Terdapat banyak jenis pohon meranti.
- Terdapat banyak jenis rotan.
- Tidak adanya hutan kayu putih.
- Sedikitnya jenis tumbuhan matoa (Pometia pinnata).
- Sedikitnya jenis tumbuhan sagu.
- Banyaknya jenis nangka.

Seperti halnya flora, fauna di Indonesia bagian barat juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik fauna di Indonesia bagian timur. Berikut ini adalah karakteristik fauna di Indonesia bagian Barat.

Karakteristik fauna Indonesia bagian barat.

- Mempunyai tipe fauna asiatik. Yaitu mirip dengan Negara-negara yang ada di Asia, seperti orang utan, monyet proboscis, badak, harimau, rusa, burung heron, dan burung merak.

- Kesamaan tipe hewan meliputi wilayah Sumatera, kalimantan, Jawa, dan Bali.

- Terdapat banyak jenis fauna yang menyusui dan berukuran besar.

- Terdapat banyak jenis kera dan ikan air tawar serta tidak banyak memiliki jenis burung berwarna.

Garis Wallace dan Alfred Russel Wallace

Daerah persebaran hewan di bagian barat Indonesia dibatasi oleh garis Wallace. Penamaan batas penyebaran fauna ini dilakukan oleh Alfred Russel Wallace yang datang ke Indonesia pada tahun 1850.

Alfred Russel Wallace adalah seorang ahli alam Inggris yang lahir pada 8 January 1823. Dia ahli dalam banyak bidang. Misalnya saja adalah petualang ulung, ahli geografi, antropologi, dan juga biologi. Dalam dunia ilmu pengetahuan, Wallace dikenal sebagai salah seorang ahli yang mengajukan teori evolusi berdasarkan seleksi alam. Untuk membuktikan hal ini, dia bertualang ke seluruh pelosok dunia.

Petualangan pertamanya adalah ke sungai Amazon dan Kepulauan Melayu. Dalam petualangan itu dia membuat sebuah garis khayal yang memisahkan Kepulauan Indonesia menjadi 2 bagian berdasarkan persebaran faunanya. Menurut Wallace, Fauna di Indonesia terbagi menjadi 2 macam. Macam pertama adalah fauna tipe Asia dan macam kedua adalah fauna tipe Australia.

Indonesia Barat itu meliputi Sumatera, jawa, Kalimantan, dan Bali. Sedangkan kelompok Indonesia Timur meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Kesamaan Indonesia barat dengan wilayah Asia misalnya saja fauna di Indonesia barat yang memiliki ciri khas, seperti mamalia berukuran besar, berbagai spesies primata, hewan endemik, dan burung yang warnanya tidak mencolok. Contoh hewannya adalah orang utan, harimau jawa, harimau sumatra, buaya muara, gajah, macan, badak, kerbau liar, banteng, rusa, tapir, burung rangkong, ikan arwana, dan juga biawak.

Adapun Kesamaan Indonesia timur dengan wilayah Australia misalnya saja adalah kangguru, kuskus, dan juga burung cendrawasih. Garis khayal yang dijelaskan Wallace tersebut kemudian disebut sebagai garis Wallace. Jika dilihat-lihat, secara logika, pembagian dua wilayah penyebaran fauna di Indonesia menurut Wallace itu ada benarnya. Fauna yang ada di Asia memang ada di Indonesia bagian barat. Begitu juga dengan fauna Australia yang ada di Indonesia bagian timur. Pemikiran-pemikiran beliau yang fenomenal juga membuat dirinya semakin dikenal. Jadi tak heran jika sejak itu (di abad kesembilan belas), dia dikenal sebagai bapak biogeografi.

Pengaruh-pengaruh Wallace yang lain di antaranya adalah konsep peringatan akan warna-warna binatang, efek garis Wallace, hipotesis seleksi alam yang berpengaruh pada spesiasi (pembentukan spesies baru) dengan penghilangan penghalang alami melalui hibridisasi.

Sungguh, ide-ide yang dikeluarkan Wallace merupakan ide tak biasa. Selain sebagai saintis, Wallace juga berkontribusi sebagai aktivis kritis di dalam sistem ekonomi Inggris di abad ke-19. Ketertarikannya akan biogeografi menjadi perhatian khalayak banyak dan mempengaruhi kehidupan keseharian. Di abad itu juga, Wallace menulis 2 buku tentang petualangannya ke Indonesia dan Malaysia yang berjudul The Malay Archipelago. Buku itu kemudian menjadi buku yang sangat berpengaruh di dunia.

Dalam perkembangannya, pembagian wilayah Indonesia berdasarkan persebaran fauna ternyata mengalami perubahan. Setelah Wallace, ada juga tokoh lain yang memberi garis khayal di Indonesia sebagai acuan. Garis ini dinamakan garis Weber dengan tokoh pemberi nama bernama Max Weber. Garis ini pada akhirnya membuat Indonesia terbagi menjadi 3 bagian wilayah persebaran fauna. Yaitu fauna Indonesia barat, fauna Indonesia tengah, dan fauna Indonesia timur.

Mengenal biodiversitas di Indonesia bagian timur

Wilayah Indonesia timur, yaitu Lombok, Papua, Maluku, dan daerah lain di timur Indonesia, ditempati oleh flora dan fauna tipe Australia. Wilayah tersebut pernah bersatu dengan daratan Benua Australia sehingga memiliki hewan yang ciri-cirinya mirip dengan spesies hewan di Australia.

Karakteristik flora dan fauna Indonesia timur

Flora di Indonesia bagian timur mempunyai karakteristik sebagai berikut.

- Sedikitnya jenis pohon meranti.
- Sedikitnya jenis rotan.
- Adanya hutan kayu putih.
- Banyaknya jenis tumbuhan matoa (Pometia pinnata).
- Banyaknya jenis tumbuhan sagu.
- Tidak ada tumbuhan jenis nangka.

Adapun fauna Indonesia timur itu mempunyai karakteristik sebagai berikut.

- Mempunyai tipe fauna australis.
- Mencakup wilayah kepulauan Aru dan Papua.
- Banyak ditemukan binatang menyusui yang berukuran kecil
- Banyak ditemukan binatang berkantung.
- Contoh fauna di Indonesia timur misalnya saja adalah kanguru, burung cendrawasih, kakatua, nuri, kasuari, walabi, merpati berjambul, kangguru pohon, kuskus, biawak raksasa, dan buaya irian.

Daerah persebaran hewan di bagian timur Indonesia dibatasi oleh garis Weber. Fauna di wilayah Indonesia timur memiliki ciri khas berupa burung-burung berwarna mencolok, mamalia berkantung, mamalia berukuran kecil, dan tidak ditemukan adanya primata.

Garis Weber dan Max Weber

Garis  Weber merupakan penentu persebaran flora dan fauna di Indonesia timur. Garis ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli Jerman-Belanda yang bernama Max Weber. Jika didefinisikan, garis Weber adalah sebuah khayal pembatas antara dunia flora dan fauna di paparan sahul (Indonesia timur) dan di bagian lebih barat Indonesia. Garis Weber membujur dari utara ke selatan antara kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dengan Australia.

Max Weber yang bernama lengkap Carl Wilhelm Weber atau Max Wilhelm Carl Weber merupakan seorang ahli hewan (zoologis) dan biogeografi berkebangsaan Jerman-Belanda. Weber sangat tertarik sekali dengan Indonesia bagian timur sehingga bertahun-tahun, dia habiskan hidupnya untuk meneliti laut berserta flora dan fauna yang ada di sekitar Pulau Bali dengan Pulau Lombok.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kondisi fauna di kepulauan Indonesia Timur, mulai dari Celebes dan Maluku, fauna Asia dan Australia tidak ada. Dan semakin menuju ke arah timur, fauna bercirikan Asia semakin berkurang, dan sebaliknya, fauna yang bercirikan Australia semakin banyak. Sejak saat itulah, dikenal adanya Garis Weber. Garis Weber sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Paul Pelseneer di tahun 1904.

Uniknya biodiversitas di daerah peralihan

Pada daerah peralihan antara Indonesia bagian barat dan timur, yang dibatasi oleh garis Wallace di bagian barat dan garis Weber di bagian timur, terdapat hewan-hewan dengan ciri khas yang tidak terdapat di kawasan barat dan timur. Daerah peralihan itu termasuk Pulau Sulawesi bersama pulau-pulau di Nusa Tenggara (disebut juga kawasan Sunda kecil).

Flora dan Fauna di Daerah Peralihan

Wilayah peralihan meliputi pulau-pulau di wilayah Indonesia bagian tengah yang terdiri atas Pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Timor, dan Kepulauan Maluku. Flora dan fauna yang ada di daerah ini berbeda dengan flora dan fauna di Indonesia bagian barat maupun dengan flora dan fauna di Indonesia bagian timur. Hampir semuanya khas, endemik, dan hanya ada di wilayah itu saja.

Contoh flora yang ada di daerah peralihan misalnya saja adalah cempaka hutan (Elmerrillia ovalis), pohon eboni (Diospyros celebica), kayu cendana (Santalum album), anggrek serat (Dendrobium utile), dan masih banyak lagi. Adapun contoh fauna yang ada di daerah peralihan misalnya saja adalah babi rusa, anoa, komodo, tarsius, maleo, dan masih banyak lagi.