Salah satu cabang dari ilmu linguistik adalah Linguistik Historis Komparatif yang dalam bahasa Inggris disebut Historical Comparative Linguistics. Linguistik Historis Komparatif biasa disebut linguistik bandingan yang mempelajari dan menelaah perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain. Linguistik Historis Komparatif juga mengamati cara bagaimana bahasa-bahasa mengalami perubahan juga mencari tahu sebab akibat dari berubahnya sebuah bahasa.

Linguistik Historis Komparatif merupakan bidang kajian linguistik yang memiliki peran sangat besar dalam memberikan kontribusi berharga bagi pemahaman, cara kerja, dan perkembangan bahasa- bahasa di dunia. Sementara, tugas utama dari linguistik historis komparatif yakni menganalisis dan memberikan penjelasan mengenai hakikat sebuah perubahan bahasa. Sesuatu dikatakan hakikat bahasa jika mempunyai struktur atau memiliki dimensi sinkronis, dan kenyataan bahwa bahasa selalu mengalami perubahan atau memiliki dimensi diakronis.

Secara sinkronis, bahasa mempelajari bahasa-bahasa pada suatu masa tertentu yang memiliki struktur dan unsur bahasa yang disebut fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan lain-lain. Sementara analisis bahasa secara diakronis berarti mempelajari bahasa secara keseluruhan, yakni menganalisis juga bagian perkembangan bahasanya. Ini karena bahasa yang kita pakai sekarang tentulah memiliki bahasa awal, dan dengan menggunakan analisis diakronik inilah kita bisa mengetahui bentuk leksiko atau semantik dua bahasa yang sama namun memiliki arti yang juga sama atau mirip (istilah ini disebut kognat). Sementara pseudokognat adalah bentuk leksiko dua bahasa yang sama tetapi memiliki arti yang berbeda.

Dalam mempelajari bahasa, kita juga mengenal metode kuantitatif yang dapat digunakan untuk menganalisis bahasa dari segi dimensi sinkronis dan diakronis, namun juga dapat digunakan dalam kajian linguistik tipologi dan linguistik kontrasif. Linguistik tipologi dengan metode komparatif digunakan untuk mengkaji bahasa secara struktural berdasarkan dimensi sinkronis.

Tujuan linguistik tripologi adalah  untuk mengamati persamaan dan perbedaan tipe bahasa-bahasa di dunia berdasarkan kajian struktural berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis. Sedangkan linguistik kontrasif dengan metode komparatif bertujuan untuk membandingkan bahasa-bahasa berdasarkan kajian struktur berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis. Hal ini ditujukan untuk tujuan didaktis tertentu dalam rangka mencapai keberhasilan pengajaran bahasa.

Linguistik diakronik (Linguistik komparatif) untuk menentukan hubungan kekerabatan bahasa yaitu dengan menggunakan tiga metode yaitu metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik dan teknik grotokronologi, metode kualitatif dengan teknik rekonstruksi dan metode sosiolinguistik. Metode kualitatif dengan teknik grotokronologi digunakan untuk menentukan waktu pisah antara bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa awal.

Sejarah Linguistik Historis Komparatif

Sejarah perkembangan linguistik historis komparatif berlangsung selama empat periode. Penjelasannya akan dipaparkan sebagai berikut:

Periode pertama dimulai pada 1830 sampai 1860. Bermula ketika seorang tokoh ilmu perbandingan bahasa bernama Franz Bopp, membandingkan akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa Sansekerta, Yunani, Latin, Persia, dan Jerman. Laporannya itu diterbitkan tahun 1816.

Pada 1818, Rasmus Kristian Rask menerbitkan buku tentang asal-usul bahasa Eslandia. Ia membandingkan bahasa German, terutama German Utara dengan bahasa Baltik, Slavia, dan Keltik, serta dimasukkan bahasa Baskia dan Finno-Ugris. Penemuannya yang terpenting adalah Pertukaran Bunyi (Lautverschiebung) antara bahasa Jerman dan bahasa Latin-Yunani.

Pada 1819, Jakob Grimm menyempurnakan hubungan-hubungan bunyi dalam bukunya yang berjudul Deutsche Grammatik.

Pada 1808 Friedrich Vonschlegel berhasil menetapkan bahasa Sansekerta, Yunani, Latin, Persia, dan Jerman menjadi bahasa Fleksi .Sisanya, F. Pott dalam periode ini mengadakan penyedilikan estimologis kata-kata dengan metode yang lebih baik. Sedangkan, Wilhelm Von Humboldt mengemukakan klasifikasi bahasa di dunia menjadi bahasa isolatif, fleksi, aglutinatif, dan inkorporatif.

Periode kedua terjadi pada kurun waktu 1861 sampai dengan 1880. Bermula ketika August Schleicher dalam bukunya Compendium der vergleichenden Grammatik mengemukakan pengertian baru Ursprache (Proto Language) yaitu bahasa tua yang menurunkan bahasa kerabat. Sementara, Curtius berhasil menerapkan metode perbandingan untuk filologi klasik, khususnya bahasa Yunani.

Pada 1861, Max Muller berhasil memperluas horizon pengetahuan ilmu bahasa lewat bukunya Lectures in the Science of Language (1861). Ia memperkenalkan analisis dan sintesis untuk bahasa isolatif dan fleksi, sedangkan D. Whitney menambahkan polisintesis untuk bahasa inkorporatif.

Periode ketiga berlangsung sejak 1889 sampai akhir abad XIX. Bermula ketika K.Brugmann, Osthoff, Leskien merupakan kelompok tata bahasa yang menamai dirinya Jungrammatiker yang muncul setelah tahun 1880, mereka tertarik dengan kaidah bunyi Jakob Grimm. Aliran ini bergerak di Leipzig, salah satu muridnya adalah Leonard Bloomfield yang menjadi linguis Amerika.

Selain itu, J. Schmidt mencetuskan sebuah teori baru yang disebut Wallentheorie. Ia kemudian melahirkan Hukum Verner. Dan pada1880, Hermann Paul menerbitkan buku Prinzipien der Sprachgeschichte (1880). Ahli lainnya bernama H. Steinthal mencoba membagi bahasa dengan landasan psikologi. Dan Fr. Muller menerbitkan bukunya Grundriss derSprachwissenschaft (1876-1888).

Periode terakhir muncul di abad XX ketika fonetik berkembang menjadi studi ilmiah dan munculnya cabang linguisrik seperti psikolinguistik dan sosiolinguistik. Muncul pula aliran Praha sebagai reaksi terhadap studi bahasa individual atau idiolek.

Tujuan Linguistik Historis Komparatif

Linguistik Historis Komparatif memilikit tujuan-tujuan tertentu demi memberikan keilmuan di bidang kebahasaan untuk pengguna bahasa di dunia. Tujuan Linguistik Historis Komparatif dapat dipaparkan sebagai berikut:

  1. Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang- bidang yang digunakan untuk memperbandingkan ialah fonologi dan morfologi.
  2. Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada pada saat ini, pada bahasa purba atau berusaha menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa-bahasa modern.
  3. Mengadakan pengelompokkan (sub-grouping) bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa.
  4. Menemukan pusat-pusat penyebaran bahasa proto dari bahasa kerabat, serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi pada masa lampau.