Siapa Itu Bertil Ohlin?

Nama lengkap pria yang mengetengahkan salah satu teori dalam perdagangan internasional adalah Bertil Gotthard Ohlin. Dia lahir di Klippan, sebuah kota di Swedia, pada 23 April 1899 dan meninggal pada 3 Agustus 1979 di negara yang sama di usianya yang ke-80.

Kecermelangan Ohlin di Bangku Pendidikan

Harvard University dari dulu hingga kini dikenal memiliki tradisi melahirkan alumni yang masuk dalam kategori high quality dalam setiap bidang yang ditekuninya. Dalam bidang ekonomi, sudah banyak alumnus dari kampus ini yang menjadi sosok hebat. Sebut saja Robert Solow yang menerima nobel tahun 1987, Alvin E. Roth yang menerima nobel tahun 2012, termasuk juga Bertil Ohlin ini.

Setelah lulus dari Lund University dengan gelar Bachelor of Arts pada tahun 1917, Ohlin melanjutkan pengembaraan akademiknya di Harvard Univerity pada 1923 dan berhasil meraih Master of Arts. Satu tahun berikutnya, Ohlin menjadi doktor dari Stockhlom Univerity, Swedia. Satu tahun berikutnya lagi, dia berhasil mencapai jenjang tertinggi dalam dunia akademik, yakni menjadi professor di University of Copenhagen. Dengan bertambahnya gelar akademiknya yang terjadi hampir setiap tahun menunjukkan bahwa dia memang sosok pembelajar yang istimewa.  

Ohlin sekali lagi menunjukkan sebagai sosok terpelajar yang luar biasa dengan dibuktikannya melalui berbagai tulisannya. Sepanjang hidupnya, Ohlin sudah mempublikasikan lebih dari 1200 artikel.

Ohlin dikenal sebagai seorang tokoh dalam beberapa bidang sekaligus. Dia adalah seorang ekonom terkenal dengan teorinya tentang Model Heckscher-Ohlin. Atas kecemerlangannya dalam kajian ekonomi, membuat Royal Swedish Academy of Sciences menganugerahinya hadiah nobel pada tahun 1977. Nobel adalah sebuah penghargaan prestisius yang dirindukan banyak ilmuwan dalam beberapa bidang. Dengan mendapatkan nobel, reputasi dan kapabilitasnya diakui. Ini yang terjadi pada Ohlin.

Karier Politik Ohlin

Selain menjadi ekonom, Ohlin juga dikenal sebagai seorang sejarawan dan juga politikus di negara asalnya, Swedia. Menurut sebuah sumber, sepanjang karir politiknya, Ohlin  pernah menjadi pimpinan Partai Rakyat Liberal selama kurag lebih 23 tahun. Waktu yang sangat lama untuk sebuah jabatan di ranah politik. Dari lamanya masa menjabat Ohlin menunjukkan bahwa dia bukan politikus sembarangan. Pengaruhnya terhadap perjalanan politik di negerinya pasti lumayan besar. Sebagai pucuk pimpinan partai, ‘suaranya’ cukup didengar ketika dia getol mendukung adanya reformasi sosial serta menolak kebijakan nasionalisasi terhadap industri yang ada di Swedia.

Pada tahun 1944, disamping menjabat sebagai ketua partai, dia juga menempati posisi sebagai pembantu presiden, tepatnya untuk jabatan Menteri Perdagangan. Untuk posisi ini, Ohlin tidak menjabat dalam waktu lama, hanya 1 tahun.   

Ohlin dan Teori Perdagangannya

Pada awal 1930-an tepatnya 1033, Bertil Ohlin mengeluarkan sebuah teori perdagangan internasional. Sebenarnya Bertil Ohlin bukan orang pertama yang mengeluarkan teori ini, tapi Eli Heckscher-lah pionernya. Dalam kasus ini, Ohlin berposisi sebagai penerus untuk mengembangkannya. Karena keterlibatannya yang besar dalam pengembangan teori ini, maka di kemudian hari teori itu dinamakan sebagai teori Heckscher-Ohlin (H-O). Sebuah julukan yang berasal dari penggabungan nama para penemunya.

Jika tenaga kerja dianggap satu-satunya faktor produksi, sesuai dengan asumsi David Ricardo, maka keunggulan komparatif hanya akan terjadi jika ada perbedaan dalam produktivitas antarnegara. Demikian yang disampaikan oleh Paul Krugman dalam bukunya yang berjudul International Economics. Secara teori seperti itu. Tapi, dalam versi dunia nyata, selain karena faktor tenaga kerja, hubungan dalam perdagangan internasional juga menandakan adanya perbedaan-perbedaan dalam hal kepemilikan sumber daya antara satu negara dengan negara lainnya.

Misalnya, mengapa Kanada mengeskpor hasil hutannya ke Amerika Serikat? Jawabannya bukan karena semata-mata penebang pohon di Kanada lebih produktif dibanding Amerika, tetapi karena penduduk di Kanada relatif lebih sedikit dengan hutan per kapitanya yang lebih luas dari Amerika. Dengan kelimpahan sumber daya yang ada, maka Kanada lebih produktif dalam menghasilkan kayu atau hasil hutan lainnya. Oleh karena itu, dalam perspektif hubungan perdagangan internasional, harus dimasukkan faktor-faktor terkait sumber dayanya, seperti modal, tanah dan sumber mineral lainnya.

Analisis ini menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa satu-satunya faktor penentu terjadinya perdagangan internasional karena adanya perbedaan perbedaan dalam karunia sumber daya. Inilah yang disampaikan oleh Eli Heckscher dan Bertil-Ohlin dalam teorinya yang dikenal masyarakat luas sebagai teori Heckscher-Ohlin (H-O). Dalam teori ini ditekankan bahwa keunggulan komparatif dipengaruhi secara timbal balik oleh adanya perbedaan karunia sumber daya di antara negara-negara.

Gagasan ini merupakan salah satu landasan teori yang paling berpengaruh dalam kajian ekonomi internasional. Dikarenakan teori ini menitikeberatkan kepada pada keterkaitan di antara perbedaan faktor-faktor produksi antara negara satu dengan yang lainnya. Selain itu juga, karena adanya perbedaan proporsi penggunaan untuk menghasilkan berbagai macam barang, mengakibatkan teori ini juga lazim dinamakan sebagai Teori Proporsi Faktor Produksi (factor-proportion theory).

Suatu perekonomian akan menunjukkan performa relatif lebih baik jika negara yang bersangkutan memproduksi banyak barang di mana faktor-faktor produksi yang dimiliki negara tersebut lebih melimpah dibanding yang lain.

Kelimpahan di sini sifatnya relatif. Dikatakan relatif karena membandingkan satu faktor produksi dengan faktor produksi di negara lain sehingga pada kenyataannya tidak ada satupun negara yang memiliki ‘kelimpahan’. Misalnya, di Amerika terdapat 40 juta tenaga kerja dengan luas lahan 100 hektar. Sementara itu, di Kanada memiliki 10 juta tenaga kerja dengan luas lahan sebesar 10 juta hektar. Dari angka ini kita bisa menyimpulkan bahwa Kanada memiliki perekonomian yang padat karya meski secara matematis jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding Amerika.

Dengan berlimpahnya sumber daya, akan menimbulkan keuntungan tersendiri bagi negara yang bersangkutan dalam konteks perdagangan internasional. Sebaliknya negara yang memiliki faktor-faktor produksi yang langka akan mengalmi kerugian dalam kancah perdagangan internasional.    

Sanggahan Terhadap Teori H-O

Berbagai bukti empiris pada umumnya menolak adanya pendangan bahwa perbedaan dalam kepemilikan sumber daya menjadi faktor penentu munculnya pola-pola tertentu perdagangan internasional, baik berupa barang maupun faktor produksi. Dalam realitanya, perbedaan teknologilah yang memiliki peran vital dalam membentuk pola perdagangan dunia. Meskipun seperti itu, kehadiran model Heckscher-Ohlin tetap dipandang mampu memberikan manfaat besar, terutama untuk memahami dampak perdagangan terhadap distribusi pendapatan yang ada.

Kritik dari Ahli Perdagangan Lintas Negara

1. Kritik Linder

Adanya asumsi yang dikemukakan teori H-O bahwa perdagangan internasional terjadi karena kedua negara memiliki selera yang sama dibantah oleh Staffan Brensstam Linder, seorang ekonom pencetus teori Linder dari Swedia. Asumsi yang diusung teori H-O sudah tidak relevan lagi untuk saat ini. Dalam teorinya, Linder mengatakan bahwa selera konsumen disetir oleh tingkat pendapatan.

Adanya selera ini akan menciptakan permintaan. Berbeda dengan teori H-O yang berbicara dari sisi penawaran karena fokusnya ada pada tersedianya sumber daya yang mendorong suatu negara untuk mengahasilkan produk yang diminati. Produk yang dinikmati itu diklaim sebagai cerminan dari selera, sehingga dari sini muncullah ekspor. 

2. Kritik Raymond Vernon

Vernon mengatakan bahwa teori H-O hanya menjelaskan 40% dari volume perdagangan internasional, sedangkan fenomena perdagangan negara maju sebesar 60% belum dijelaskan. Kritik ini akhirnya menimbulkan teori baru bernama teori Siklus Produksi (Product Life Cycle). Sesuai dengan judulnya, teori ini menitikberatkan adanya perubahan pada produk yang menghasilkan produk baru serta pengaruhnya terhadap perdagangan internasional. Dalam teori ini ada 3 tahap siklus prduksi, yakni sebagai berikut.

  • Tahap produksi yang baru sebagai produk perkenalan dan biasanya hanya dinikmati oleh penduduk dalam negeri saja.
  • Tahap pengembangan, di mana produk dibuat selain untuk dikonsumsi sendiri juga dibuat untuk kepentingan ekspor.
  • Dengan alasan skala ekonomi, untuk tahap ketiga justru negara yang menjadi pioner penjualan produk itu mengubah fungsinya dari eksportir menjadi importir. Dari sini dapat dikatakan bahwa teori ini menempatkan comparative advantage yang dinamis karena negara yang menjadi pengekspor melewati tahapan siklus suatu produk.

Demikian penjelasan sekilas dari bografi Berlin Ohlin beserta teori yang diusungnya. Semoga artikel ini ada manfaatnya.