Sejak dahulu, orang tua atau orang dewasa mempunyai kebiasaan bercerita kepada anak-anak mereka maupun kepada orang yang lebih muda. Cerita sudah menjadi bagian dari kesehariaan mereka hingga sekarang ini. Banyak waktu yang bisa digunakan untuk bercerita, entah cerita orang tua kepada anak, atau bercerita antarsesama teman. Contoh yang paling sederhana orang yang suka bercerita adalah sebelum tidur orang tua kerap menceritakan kepada anak-anaknya tentang cerita-cerita yang berkembang di sekitar masyarakat.

Kebiasaan itu muncul sebelum adanya sastra tulis dan baru ada sastra lisan. Ceritanya pun hanya dari mulut ke mulut, belum ada alat untuk membukukan cerita-cerita tersebut. Melalui kebiasaan bercerita tersebut biasanya para orang tua ingin menyampaian pesan kepada anak-anaknya, pesan-pesan itu juga kadang berwujud larangan pada suatu hal, misalnya saja larangan untuk tidak pergi bermain pada sore hari, atau larangan untuk tidak berani kepada orang tua, karena dapat menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

Zaman dulu memang cerita salah satu hiburan untuk anak-anak dan anak-anak merasa terhibur. Karena Anak bisa diibaratkan sebuah kertas kosong yang putih bersih belum ternoda. Anak bisa menerima segala sesuatu yang bersifat positif atau negatif. Anak dalam masa perkembangannya banyak menerima selain juga mengeksplorasi hal-hal baru. Dalam tahap itulah kertas kosong yang putih lama kelamaan akan terisi oleh berbagai macam warna dan berbagai macam bentuk pula, hal tersebut tergantung pada apa yang akan diberikan oleh anak. Orang tua atau orang dewasa mempunyai andil besar dalam hal ini. Karena orang tualah, orang pertama yang dekat dengan anak.

Semakin berkembangnya teknologi, hal tersebut juga berpengaruh terhadap pola bercerita orang tua terhadap anaknya. Apalagi sekarang sudah ada media cetak yang membantu orang tua bercerita terhadap anaknya. Orang tua semakin mudah untuk menceritakan cerita-cerita anak dengan media tersebut. Tidak hanya media, alat peraga pun bisa digunakan ketika hendak bercerita.

Seiring perkembangan teknologi, cerita bukan lagi sekadar cerita yang hanya diceritakan kepada anak ketika hendak tidur. Bercerita sudah semakin meluas cakupannya. Media televisi juga radio kerap menayangkan dan menjadikan bercerita sebagai salah satu acara. Acara bercerita di televisi yang dapat dilihat dan didengar, kadangkala menggunakan alat peraga untuk membuat cerita semakin menarik untuk dilihat. Sedang bercerita yang dilakukan di radio, hanya dapat dinikmati dengan alat pendengar.

Salah satu hal yang membuat bercerita menjadi lebih menarik adalah alat peraga. Alat peraga bisa membuat pendengar semakin terfokus pada cerita. Namun yang perlu diperhatikan, ketika bercerita dengan menggunakan alat peraga, tidak boleh bercerita sambil membaca teks. Dengan kata lain, orang yang hendak bercerita harus paham terlebih dahulu isi cerita. Hal yang dapat dilakukan untuk memahami cerita adalah dengan membaca berulang-ulang hingga paham dengan keseluruhan isi cerita. Ketika bercerita tidak perlu menghapalkan sama seperti yang ada di dalam teks naskah cerita, namun dapat menggunakan bahasa sendiri. Ketika mencari alat peraga untuk bercerita, jangan terlalu dibuat pusing dengan alat peraga.

Alat peraga dapat menggunakan alat-alat yang terdapat di sekitar rumah ataupun di sekolah. Alat peraga juga berfungsi untuk menvisualisasikan apa yang telah diceritakan. Jika teman bercerita tentang bunga dan pot bunga yang berteman baik, maka untuk memvisualisasikan cerita tersebut bisa menggunakan pot bunga yang sudah berisi bunga. Bunga tidak harus bunga dan pot sungguhan, namun dapat juga pot yang berupa mainan, atau bahkan bisa membuat pot dan bunga dari kertas berwarna-warni. Alat peraga juga bisa membuat sang pencerita semakin pintar menemukan ide, alat apakah yang akan dia gunakan nantinya untuk bercerita. Untuk membuat suasana menjadi lebih hidup, bisa juga membuat suasana atau setting tempat seperti tempat terjadinya peristiwa. Bila cerita tersebut terjadi di taman, suasana tempat bercerita tersebut dapat disulap menjadi seperti taman dengan bunga-bunga dan kupu-kupu buatan.

Bacalah cerita anak di bawah ini. Kemudian tentukan alat-alat apa sajakah yang dapat digunakan sebagai alat peraga. Yang perlu diperhatikan ketika akan menentukan alat peraga yang digunakan dalam bercerita adalah latar tempat terjadinya cerita dan aktivitas tokoh cerita, apakah tokoh dalam cerita tersebut memegang atau melakukan sesuatu. Cerita ini dimuat dalam Koran kompas minggu pada tanggal 27 Juni 2010.

Kue Ulang Tahun untuk Ibu

Oleh: Abu Fajar

Dede baru tiba di rumah. Ia dari sekolah. Ibu sedang sibuk di dapur menyiapkan beberapa jenis penganan jajan pasar. Kue nagasari, lontong isi, dan putri noong. Kue-kue itu untuk dijual esok harinya. Kue itu dititipkan di beberapa warung sekitar rumah.

Ayah Dede sudah lama meninggal. Ibu Dede bekerja keras menghidupi keluarga. Dede adalah anak lelaki tunggal. Ia masih duduk di kelas empat sekolah dasar.

"De, bantu Ibu dong!" panggil Ibu.

Dede saat itu sedang melamun sambil menonton acara berita selebriti di televisi. Dia heran melihat seorang bintang sinetron sedang diteploki kue tar oleh teman- temannya.

"Ah, sayang, kue mahal kok dibuang-buang," pikir Dede. "Padahal masih banyak orang berkekurangan yang sedang menonton mereka."

Dede lalu membantu Ibu. Tangannya sudah terampil membungkus adonan nagasari untuk dikukus. Sementara tangannya sibuk, pikirannya masih melayang. Ia membayangkan kembali tayangan di televisi itu.

Dede jadi teringat, besok Ibu juga ulang tahun. Tidak ada kebiasaan di keluarganya merayakan ulang tahun.Tetapi besok, Dede ingin memberi hadiah kue ulang tahun untuk Ibunya. Dede ingin memberi kejutan, tetapi dia tidak punya uang. Dede  berdoa, semoga besok menemukan cara untuk melaksanakan niat baiknya itu.

Esok harinya cuaca mendung dan hari agak gelap. Ibunda Dede berdiri memandang keluar jendela. Hujan deras mulai turun. Ia cemas, anaknya belum pulang dari sekolah. Ia khawatir Dede basah kuyup karena kehujanan, lalu sakit. Baginya, ke puskesmas dan membeli obat adalah barang mewah.

Terlalu lama menunggu, Ibu akhirnya mandi. Baru saja Ibu masuk kamar mandi, Dede sampai di depan pintu. Dede mengendap mengintip ke dalam rumah. Ibu pasti marah kalau tahu ia seperti tikus kecebur sungai. Terdengar gedebur air di kamar mandi.

"Ah aman," bisik Dede di dalam hati.

Pelan-pelan dibukanya pintu dan berjingkat masuk. Tas sekolah ditaruhnya di kursi. Sementara sebuah bungkusan plastik dibawa ke dapur kemudian ditaruh di bawah tudung saji, di atas meja makan. Lalu disambarnya kain pel.Cepat-cepat dikeringkannya ceceran air bekas tetesan bajunya yang basah itu.Tergesa ia masukkamar,mengeringkan badan dengan handuk. Digantinya baju dengan yang kering. Baju basah dibungkus plastik dan disimpan di bawah tempat tidur.

Ada rasa geli dan agak gatal di badannya. Seharusnya dia mandi dulu, baru ganti baju. Apa boleh buat, Ibu belum selesai mandi. Tapi itu lebih baik, jadi Ibu tidak memergokinya dalam keadaan basah kuyup.Dede segera berbaring di tempat tidur, berselimut kain sarung.

Sekarang baru terasa badannya menggigil kedinginan, giginya gemeletuk. Ditahannya gemetar tubuhnya. Dia berusaha tenang meskipun hatinya gelisah takut Ibu memarahinya.

Ibu selesai mandi dan berjalan menuju kamarnya. Telapak kakinya merasakan lantai agak licin karena sedikit basah. Sementara di beberapa tempat masih ada ceceran air.

Agaknya Dede terlalu tergesa-gesa waktu mengelap lantai tadi. Ibu yang bijak itu segera tahu apa yang terjadi. Pasti Dede pulang hujan-hujanan. Ia segera masuk kamar anaknya.

"Kenapa kamu De, hujan-hujanan ya? Kamu bandel, Ibu bilang kalau hujan, tunggu sampai reda baru pulang," kata Ibu.

Ibu agak cemas dan meraba dahi Dede, yang masih sedikit basah. Dahi Dede terasa agak panas.

"Kamu sakit, De!" suara Ibu bernada cemas. "Kamu harus minum sirop obat panas, tetapi makan dulu ya. Biar Ibu ambilkan makanan. Kebetulan Ibu buat sup masih hangat."

Dede diam saja dan terus memejamkan mata. Meskipun nada suara Ibu marah bercampur cemas, tetapi wajahnya sangat teduh dan sinar matanya memancarkan kasih.

Sementara Ibu pergi ke dapur, hati Dede makin deg-degan. Ibu pasti menemukan bungkusan plastik yang ditaruh di bawah tudung saji tadi. Ibu masuk membawa semangkuk kecil sup. Di tangan yang lain dia membawa bungkus plastik.

Sementara Dede melahap sup hangat, Ibu membuka bungkus plastik itu. Ternyata bungkus itu berisi kue tar mini di dalam kotak plastik bening yang cantik. Kue tar itu seperti kue ulang tahun tapi ukurannya  kecil, cukup hanya untuk satu orang.

"Dari mana kue ini, De?" kata Ibu keheranan. "Ini kan kue mahal. Dari mana?" kata Ibu sambil menatap tajam.

"Itu kue hadiah ulang tahun Ibu," jawab Dede.

Mata Dede menatap piring sup. Dia tidak berani membalas tatapan Ibu. Dede sudah bertekad untuk merahasiakan bagaimana dia memperoleh kue itu.

Dia rela berhujan-hujanan mengojek payung bersama temannya waktu pulang sekolah tadi. Kalau hari hujan, beberapa temannya biasa ngojek payung. Tempatnya di pelataran parkir terbuka sebuah gedung pusat belanja. Hari itu, temannya berbaik hati meminjamkan payung untuk itu. Dari uang bagiannya, Dede membeli kue.

Jumlah uang itu tidak cukup untuk membeli kue ulang tahun yang besar. Tetapi kue tar dari cetakan sebesar gelas minum itu, cukuplah untuk kejutan ulang tahun Ibu. Dede menanti komentar Ibu. Ibu tidak bertanya dari mana Dede mempunyai uang. Ia percaya Dede tak akan berbuat yang tidak baik. Ibu yakin Dede rela sakit untuk menyenangkan hatinya.

Tiba-tiba Ibu merasa terharu, lalu mengalihkan tatapan dari Dede yang berusaha mencuri pandang. Ibu tidak mau Dede melihat matanya berkaca-kaca.

"Habiskan sup itu, De. Kalau sudah habis, minum satu sendok obat itu. Terus tidur, biar cepat sembuh."

Kemudian Ibu keluar kamar. Tangannya sedikit gemetar membawa kue hadiah dari Dede. Sekilas Dede melihat Ibu menyeka matanya.

Kini Dede merasa tenang. Dibetulkan selimutnya dan bersiap-siap tidur. Ada perasaan bahagia yang menjalar di hatinya. Biasanya Dede merasa bahagia kalau permintaannya dikabulkan atau kalau ulangannya mendapat nilai bagus.

Ini kebahagiaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Walau sekarang agak demam, ia tidak mau mengeluh seperti biasanya kalau sakit.

Ia bahagia karena dengan uang hasil jerih payahnya dapat menyenangkan Ibu. Sambil menikmati kantuk pengaruh obat demam, di dalam hati Dede berbisik, "Terima kasih Tuhan, terima kasih Ibu, aku sayang Ibu."

Setelah membaca cerita di atas dan memahami cerita di atas, kemudian sudah dapat mengetahui alat peraga apa saja yang digunakan untuk bercerita. Kemudian mulai bercerita di depan orang lain atau di depan umum dengan alat peraga tersebut. Setelah membaca cerita di atas, alat yang dapat digunakan adalah payung, kue mainan atau pun kue sungguhan, kemudian mangkup sup yang dibawa ibu dan tas sekolah yang digunakan dede ketika pulang dari sekolah.

Alat-alat tersebut dapat digunakan secara bergantian, sesuai dengan alur cerita. Namun bila hanya ada satu atau dua alat yang bisa digunakan, maka hal tersebut tidak masalah, karena dengan alat peraga yang ditemukan, ketika bercerita dapat memberi cerita lebih banyak. Misalnya saja hanya adapt ditemukan alat peraga payung. Maka payung dapat digunakan dengan cerita yang lebih banyak. Misalnya diperagakan bagaimana Dede mondar-mandir menggunakan jasa payung untuk mencari uang yang akan digunakan untuk membeli kue ulang tahun untuk ibu. Semua itu tergantung kreativitas sang pencerita yang sedang bercerita dengan alat peraga.

Loading...