Arti Pengangguran

Agar dapat memahami arti pengangguran, maka harus dipahami dahulu arti bekerja. Bekerja dapat didefinisikan keadaan seseorang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan atau keuntungan minimal satu jam dalam satu minggu sebelum dilakukan pencacahan.  Artinya, apabila seseorang bekerja, namun jumlah jam kerja dalam satu minggu kurang dari 35 jam, maka dia dapat dikategorikan sebagai pengangguran.

Sedangkan menurut sensus penduduk tahun 2000, bekerja adalah orang yang melakuukan kegiatan untuk mendapatkan penghasilan atau keuntungan minimal satu jam dalam satu minggu sebelum pencacahan. Artinya batasan bekerja atau tidak bekerjanya seseorang adalah lamanya seseorang untuk mendapatkan penghasilan minimal satu jam dalam satu minggu, jika seseorang tidak sanggup memperoleh keuntungan tersebut kurang dari satu jam, maka dia dikategorikan sebagai pengangguran.

Meskipun demikian tidak salah jika pengangguran didefinisikan sebagai orang yang tidak mempunyai pekerjaan atau yang sedang mencari pekerjaan.

Pengangguran tidak dirasakan sebagai masalah bagi orang yang menganggur. Sebab dia tidak merasa berbuat kesalahan dan tidak merasa merugikan orang lain. Dampak pengangguran akan sangat dirasakan oleh negara dan lingkungan di sekitar para pengangguran. Pengangguran tidak hanya menjadi masalah bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga negara-negara maju seperti Amnerika Serikat dan Inggris.

Tingkat pengangguran yang tinggi akan menjadi beban bagi kelangsungan pembangunan di suatu negara. Adanya pengangguran telah menyebabkan sumber daya tenaga kerja sebagai salah satu modal dasar pembangunan nasional telah terbuang sia-sia. Selain itu, adanya pengangguran yang tinggi dapat menyebabkan pendapatan masyarakat merosot dikarenakan kemampuan daya beli yang rendah.

Dampak Buruk Pengangguran

Tingginya tingkat pengangguran akan memberikan beberapa dampak negatif bagi kelangsungan pembangunan nasional sebagai berikut:

1. Menurunnya tingkat pendapatan nasional dan pendapatan per kapita

Angka pengangguran yang tinggi akan menurunkan nilai upah yang diterima oleh para pekerja, sehingga akan berakibat kepada mengecilnya tingkat pendapatan nasional, sekaligus menurunkan tingkat pendapatan nasional. Tinggi rendahnya pendapatan perkapitan suatu penduduk dapat menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu negara.

2. Penerimaan negara

Salah satu sumber kas negara adalah pendapatan pajak. Dengan tingginya angka pengangguran akan menurunkan pendapatan dari pajak, dikarenakan berkurangnya jumlah orang yang membayar pajak. Akibatnya jumlah penerimaan negara dari sektor pajakpun menjadi berkurang. Apabila hal tersebut terus dibiarkan maka dapat mengganggu proses pembangunan nasional. Karena berbagai macam sektor pembangunan dibiayai oleh pendapatan dari pajak.

3. Beban psikologis

Sebelumnya telah disinggung bahwa seorang yang menjadi pengangguran tidak merasa rugi dan dirugikan. Namun jika hal tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, maka dapat menimbulkan beban psikologis bagi yang bersangkutan. Lama-kelamaan ia akan merasa jenuh, malu, merasa tertekan, bahkan stress sehingga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi perilakunya sehari-hari. Seseorang yang mempunyai beban psikologis akan merasa minder untuk bergaul sehingga cenderung untuk menutup diri dengan lingkungannya.

4. Meningkatnya biaya sosial

Tingginya angka pengangguran memiliki kencenderungan dengan meningkatnya angka kriminalitas dan masalah sosial lainnya seperti stress dan kecenderungan berprilaku menyimpang. Akibatnya, pemerinta harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Seperti membayar biaya penyuluhan, mengeluarkan biaya untuk menjaga stabilitas keamanan, munculnya biaya konseling, dan lain-lain.

5. Meningkatnya angka kemiskinan

Tingginya angka pengangguran akan berakibat buruk kepada kemampuan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat akan menurun, sehingga tingkat kesejahteraan pun menurun. Kondisi masyarakat yang miskin akan berkorelasi positif dengan merebaknya perumahan kumuh, anak jalanan, dan angka kriminalitas.

6. Merosotnya nilai moral

Tingginya angka pengangguran juga ternyata mempunyai hubungan yang signifikan dengan menurunya nilai moral seseorang. Seseorang yang tidak berpendapatan tetap berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidak sedikit orang yang melupakan tentang halal dan haram, tentang baik dan tidak baik sebab pikiran mereka hanya sebatas bagaimana caranya agar hidup terus bertahan. Sehingga sangat wajar sekali jika tempat-tempat prostitusi semakin marak.

Macam-macam Pengangguran

Berdasarkan alasan-alasan terjadinya, pengagguran dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu pengangguran struktural, pengangguran friksional, pengangguran musiman, dan pengangguran konjungtur.

1. Pengangguran struktural

Pengangguran strutural yaitu pengangguran yang mencul dikarenakan adanya perubahan struktur kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam suatu negara. Misalnya, suatu negara yang pada awalnya menitikberatkan kepada sektor pertanian, kemudian mengubahkan ke menjadi sektor industri, maka akan mengakibatkan timbulnya pengangguran dari sektor pertanian.
Sektor industri merupakan salah satu jenis usaha yang mengutamakan padat modal dan padat mesin, sedangkan sektor pertanian merupakan salah satu jenis usaha padat karya. Jika 10 tenaga kerja manusia dapat digantikan oleh 1 buah tenaga mesin, maka tidaklah mengherankan jika angka pengangguran semakin meningkat.

Kendala lain yang ditimbulkan oleh peralihan struktur ekonomi adalah adanya kesenjangan pengetahuan. Menjadi tenaga kerja pada sektor pertanian cenderung tidak memerlukan keterampilan khusus, berbeda dengan menjadi tenaga kerja di industri. Akibatnya tenaga kerja yang berasal dari sektor industri terpaksa harus menganggur karena tidak mempunyai keterampilan untuk dapat bekerja di sektor industri.

2. Pengangguran friksional

Pengangguran friksional adalah merupakan jenis pengangguran yang terjadi karena adanya ketidaksinkronan informasi adanya kesempatan dengan pencari kerja. Pengangguran friksional bukan terjadi akibat ketidakmampuan pencari kerja untuk mengisi suatu posisi di perusahaan, melainkan karena adanya kesenjangan informasi tentang berbagai informasi kesempatan kerja yang lebih baik. Kesenjangan tersebut terjadi dikarenakan adanya beberapa faktor berikut ini:

a. Kondisi geografis

Seorang pencari kerja yang tingga di daerah terpencil ataupun letak lapangan kerja di daerah pelosok yang bergunung-gunung atau diseberang lautan, dapat menjadi salah satu penyebab ketidaksamapaian informasi bagi salah satu pihak.

b. Informasi yang tidak sempurna

Kurangnya sarana komunikasi dapat menjadi penyebab terjadinya pengangguran friksional. Informasi penyebaran tentang terbukanya lapangan kerja atau tersedianya pencari kerja yang kurang lancar dapat menjadi hambatan bagi terjadinya permintaan dan penawaran jasa kerja bagi kedua belah pihak. Untuk menghindari hal tersebut, maka diperlukan adanya jasa tenaga kerja seperti di balai-balai latihan kerja yang terdapat di setiap kabupaten, atau agen-agen penyalur tenaga kerja.

c. Proses perekrutan yang berlarut-larut

Adanya kelambanan dari pihak penyedia lapangan kerja dalam hal perusahaan untuk memutuskan diterima atau tidaknya seseorang di perusahaannya, menyebabkan seorang calon tenaga kerja harus menunggu dalam waktu relatif lama. Hal tersebut tentu saja telah menjadi sebab bagi seorang calon tenaga kerja terkategori sebagai pengangguran friksional.

3. Pengangguran musiman

Pengangguran musiman dapat terjadi dikarenakan adanya perubahan musim. Biasanya pengangguran tersebut terjadi secara berkala setiap tahun. Pengangguran musiman terjadi pada saat jeda waktu dari musim tanam ke musim panen. Pada sektor pertanian, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada saat musim tanam dan musim panen sangat banyak, sehingga pada kedua masa tersebut dapat menyerap tenaga kerja.

Sedangkan jeda waktu dari musim tanam ke musim panen para pengelola sektor pertanian tidak lagi memerlukan tenaga kerja yang banyak. Hal tersebut akan berdapak pada meningkatnya angka pengangguran pada masa sela tersebut. Pengangguran musiman tidak hanya terjadi pada sektor pertanian, tetapi juga ekstor ekstraktif dan industri pengolahan.

4. Pengangguran konjungtur

Penganggurang konjungtur terjadi dikarenakan adanya perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian. Pada waktu kegiatan ekonomi mengalami kemunduran, maka pihak perusahaan akan mengurangi produksinya sehingga berakibat kepada pengurangan tenaga kerja yang menimbulkan pengangguran.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut semoga dapat dijadikan pelajaran oleh kita, bahwa alangkah lebih baik tidak menjadikan diri kita sebagai tenaga kerja pada perusahaan orang lain, tetapi menjadi tenaga kerja pada perusahaan yang kita kelola sendiri meskipun itu sangat kecil.