Moluska, Arthropoda, dan Echinodermata adalah tiga golongan hewan tingkat rendah yang akan kita bahas berikutnya. Ketiga golongan hewan ini memiliki keunikan masing-masing. Apa sajakah keunikan-keunikan tersebut? Mari kita bahas bersama-sama.

Moluska, Si Hewan Lunak

Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan hewan seperti kerang, keong, siput, cumi-cumi, atau sotong. Kerang, cumi, dan sotong dapat dengan mudah kita temukan di pasar-pasar tradisional atau supermarket. Keong dan bekicot bisa kamu temukan sedang merayap perlahan-lahan di halaman depan rumahmu. Semua hewan tersebut adalah contoh hewan yang termasuk filum Moluska. Jika kamu perhatikan, semua tubuh hewan yang disebutkan di atas memiliki tubuh yang lunak. Kerang, siput, dan keong melindungi tubuh lunak mereka dengan cangkang yang keras. Banyak di antara cangkang tersebut yang memiliki bentuk maupun warna yang sangat menarik.

Ciri-Ciri Moluska

  • Moluska berasal dari kata mollis yang berarti lunak. Moluska mempunyai tubuh yang lunak.
  • Beberapa jenis Moluska tubuhnya ditutupi cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat. Cangkang ini berguna untuk melindungi organ dalam dan isi rongga perut. Siput, cumi-cumi, dan gurita adalah contoh dari hewan Moluska.
  • Lendir pada seluruh permukaan tubuh Moluska berfungsi untuk mencegah tubuh dari kekeringan.
  • Hewan ini triploblastik dan simetri bilateral.
  • Memiliki struktur berotot yang disebut kaki. Struktur berotot tersebut gunanya sebagai alat gerak atau penangkap mangsa.
  • Moluska yang hidup di perairan mengalami metamorfosis.
  • Sistem organ Moluska adalah sebagai berikut.
  • Sistem pencernaan: mulut, usus, dan anus (kecuali Pelecypoda). Mulut bergigi (radula). Cumi-cumi dan gurita memiliki rahang kuat. Anus bermuara di rongga mantel. Mempunyai kelenjar pencernaan.
  • Sistem pernapasan: insang
  • Sistem ekskresi: ginjal
  • Sistem saraf: 3 pasang ganglion (cerebral, viceral, dan pedal) yang dihubungkan oleh saraf-saraf longitudinal
  • Sistem sirkulasi: jantung, pembuluh arteri, dan vena
  • Sistem reproduksi: ada yang hermaprodit, ada yang terpisah (jantan-betina)

Klasifikasi Moluska

Berdasarkan simetri tubuh, bentuk kaki, cangkok, mantel, insang, dan sistem sarafnya, Moluska dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas Amphineura, kelas Scapopoda, kelas Gastropoda, kelas Cephalopoda, dan kelas Pelecypoda (bivalvia).

  • Kelas Amphineura

Sekarang ini, Moluska dari kelas Amphineura jumlahnya tinggal sedikit, yakni tidak lebih dari 700 spesies. Banyak di antaranya yang telah menjadi fosil pada zaman Ordovisium, sekitar 700 tahun yang lalu. Amphineura hidup di laut dekat pantai atau di pantai. Tubuhnya simetri bilateral, dengan kaki di bagian perut memanjang. Hewan ini bernapas dengan insang.

Amphineura bersifat hermafrodit (berkelamin dua) dengan fertilisasi secara eksternal (pertemuan sel telur dan sperma terjadi di luar tubuh). Contohnya adalah Cryptochiton sp.

  • Kelas Scapopoda

Anggota kelas Scapopoda ada sekitar 350 jenis. Tubuhnya kecil dengan cangkang seperti tanduk/gading terbuka di kedua ujung, karenanya disebut keong gading (tusk shell) atau keong gigi. Dentalium vulgare adalah salah satu contoh kelas Scapopoda.

Scapopoda hidup di laut dari perairan dangkal sampai kedalaman lebih dari 3000 m. Caranya dengan melubangi dan membenamkan sebagian tubuhnya di pasir atau lumpur.

Hewan ini tidak mempunyai jantung, insang, mata, atau tentakel, tetapi memiliki radula dan mantel yang mensekresi cangkang. Darahnya tidak berwarna. Sistem ekskresi berupa kantung menyerupai ginjal yang terbuka ke dalam rongga mantel melalui nefridiofor. Hewan ini berkelamin terpisah.

  • Kelas Gastropoda

Bekicot dan siput termasuk Gastropoda. Gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi, Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak dan berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Kaki Gastropoda sebenarnya merupakan perut ang tersusun oleh otot yang sangat kuat dan dapat bergerak menyerupai gelombang. Kakinya mengeluarkan lendir yang memudahkan pergerakan.

Hewan anggota kelas Gastropoda umumnya bercangkang membentuk spiral dengan bentuk dan warna yang sangat beragam. Cangkang Gastropoda sudah ada sejak masa embrio. Namun, ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkang sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula), misalnya kelinci laut.

Tubuh Gastropoda terbagi atas kepala, leher, kaki, dan alat-alat dalam (visceral). Pada kepala terdapat sepasang tentakel pendek sebagai alat pembau dan sepasang tentakel panjang sebagai alat penglihat.

Saluran pencernaan Gastropoda terdiri atas mulut, faring yang berotot, kerongkongan, lambung, usus, dan anus. Untuk mencari makan, beberapa jenis Gastropoda menggunakan radula (gigi parut). Radula digunakan untuk mengeruk alga yang menempel di batu-batuan atau memakan dedaunan.

Alat ekskresinya berupa sebuah ginjal yang terletak dekat jantung. Sistem saraf terdiri atas tiga buah ganglion utama, yakni ganglion otak (ganglion cerebral), ganglion visceral (ganglion organ dalam), dan ganglion kaki (pedal).

Gastropoda adalah hewan hermafrodit, tetapi tidak mampu melakukan fertilisasi sendiri. Contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput air tawar (Lemnaea javanica), siput laut (Fissurella sp.), dan siput perantara fasciolosis (Lemnaea trunculata).

  • Kelas Cephalopoda

Ciri khas kelas Cephalopoda (ada sekitar 650 jenis) adalah memiliki kaki di kepala. Cephalopoda berasal dari kata cephalo yang berarti kepala dan podos yang berarti kaki. Contoh anggota kelas ini adalah cumi-cumi, gurita (Octopus), dan Nautilus. Nautilus merupakan satu-satunya anggota kelas Cephalopoda yang memiliki cangkang.

Tubuh Cephalopoda terdiri atas kepala dan badan. Sistem saraf Cephalopoda berkembang baik dan terpusat di kepala. Selain mata, di kepala juga terdapat 6-8 lengan dan 2 tentakel di  sekeliling mulut yang berahang.

Sifon yang menyedot air lewat insang terletak di bawah mantel dan digunakan untuk mengeluarkan air dan mendorong hewan bergerak cepat. Cephalopoda mempunyai cairan tinta yang berfungsi untuk melindungi diri. Warna tinta tiap Cephalopoda berbeda-beda, cumi-cumi memiliki tinta berwarna hitam kecokelatan, sotong berwarna hitam kebiruan, dan gurita berwarna hitam.

Sistem pembuluh darah Cephalopoda bersifat tertutup sehingga darah mengalir di dalam pembuluh darah. Hewan ini bernapas dengan insang yang terdapat di rongga mantel, sedangkan ekskresi dilakukan dengan ginjal. Alat reproduksinya terpisah, masing-masing dengan gonad yang terletak dekat ujung rongga mantel.

Sistem pencernaan makanan terdiri atas mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus buntu, usus, dan anus yang dilengkapi dengan kelenjar pencernaan. Makanan cumi-cumi berupa ikan, udang, dan Moluska lainnya. Seluruh anggota Cephalopoda hidup di laut , mulai dari permukaan sampai dengan kedalaman 3.000 m.

  • Kelas Pelecypoda

Pelecypoda berasal dari kata pelekis yang berarti kapak kecil, dan podos yang berarti kaki. Kelas ini disebut juga Lammelibranchiata yang berarti lempengan atau Bivalvia yang berarti bercangkang dua (bercangkok dua). Hewan Pelecypoda bisa hidup di air tawar, dasar laut, danau, kolam, atau sungai yang banyak mengandung zat kapur.

Zat kapur pada hewan ini digunakan untuk membuat cangkoknya. Dua cangkok Pelecypoda ini dapat membuka dan menutup. Proses ini dilakukan dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkok Pelecypoda ini juga berfungsi untuk melindungi tubuh. Cangkok ini terdiri atas tiga lapisan berikut ini.

  • periostrakum (lapisan terluar dari zat kitin yang berfungsi sebagai pelindung,
  • lapisan prismatik, tersusun dari kristal-kristal kapur yang berbentuk prisma, serta
  • lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan paralel.

Pelecypoda tidak memiliki kepala, tentakel, dan radula. Sistem sarafnya terdiri atas ganglion serebra dan pleura. Mulut dilengkapi labial palp, tanpa rahang atau radula. Terdapat dua sifon yang berfungsi sebagai pengontrol aliran air yang masuk ke dalam rongga mantel.

Kerang bernapas dengan insang (ada di mantel). Pencernaan dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan akhirnya bermuara pada anus. Makanan hewan kerang ini adalah hewan-hewan kecil berupa Protozoa dan diatom. Pelecypoda memiliki kelamin terpisah atau berumah dua. Umumnya, pembuahan dilakukan secara eksternal.

Arthropoda, Si Hewan Berbuku-buku

 

Sekitar 75% dari seluruh jenis hewan yang telah dikenal saat ini merupakan anggota dari filum Arthropoda. Kupu-kupu, capung, caplak, belalang, laba-laba, kalajengking, kelabang, udang, kepiting, dan kutu air merupakan anggota dari filum tersebut.

Apa yang membuat semua hewan yang disebutkan tadi dikelompokkan ke dalam filum Arthropoda? Simak terus uraiannya.

Ciri-ciri Arthropoda

Arthropoda memiliki tubuh beruas-ruas yang terdiri atas kepala (caput), dada (toraks), dan perut (abdomen). Bentuk tubuh anggota Arthropoda simetri bilateral, triploblastik, dan terlindung oleh rangka luar dari kitin. Kitin sendiri pada Arthropoda berfungsi untuk proteksi, pendukung, dan pergerakan. Arthropoda memiliki rongga tubuh utama yang disebut homocoel.

Sistem peredaran darah pada Arthropoda tersusun dari jantung dan pembuluh darah yang terbuka. Darah dipompa oleh jantung menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Ujung pembuluh darah terbuka sehingga darah mengisi rongga homocoel. Darah kemudian kembali masuk ke jantung.

Alat pencernaan Arthropoda sudah sempurna, pada mulutnya terdapat rahang lateral yang beradaptasi untuk mengunyah dan mengisap. Anus terdapat di bagian ujung tubuh.

Arthropoda yang hidup di air bernapas dengan insang, sedangkan yang hidup di darat bernapas dengan paru-paru buku atau permukaan kulit dan trakea.

Sistem sarafnya berupa sistem saraf tangga tali. Arthropoda memiliki alat indra seperti antenna yang berfungsi sebagai alat peraba, mata tunggal (ocellus) dan mata majemuk (facet), organ pendengaran (pada Insecta), dan statocyst (alat keseimbangan) pada Crustacea.

Alat ekskresi berupa kelenjar hijau atau saluran Malpighi. Alat reproduksi biasanya terpisah dan fertilisasi kebanyakan internal (di dalam tubuh).

Klasifikasi Arthtropoda

  • Crustacea

Udang-udangan termasuk Crustacea. Tubuh Crustacea terdiri atas kepala, dada, dan perut. Namun, bagian kepala dan dada terlihat bersatu karena dilapisi oleh eksoskeleton yang disebut karapaks.

Pada kepala terdapat 5 pasang anggota tubuh, yaitu antennula (antena ke 1), antena antena ke 2), mandibula, satu pasang maksiliped, dan satu pasang maksila. Mandibula berfungsi untuk menangkap mangsa. Maksila dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut.

Sebagian besar anggota Crustacea hidup di perairan, terutama di laut. Ada juga beberapa jenis yang hidup di darat. Sebagian besar Crustacea dapat bergerak bebas karena memiliki kaki jalan dan atau kaki renang, ada juga yang bersifat planktonik dan ada pula yang sesil (menetap).

Sistem pencernaannya terdiri atas kerongkongan, perut, dan anus. Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indra yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan), dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.

Sistem peredaran darah Crustacea disebut peredaran darah terbuka. Artinya darah beredar tanpa melalui pembuluh darah. Darah tidak mengandung haemoglobin, melainkan hemosianin yang mempunyai daya ikat terhadap O2 (oksigen) rendah.

Pada umumnya, Crustacea bernapas dengan insang. Alat reproduksinya terpisah, kecuali pada beberapa Crustacea rendah. Dalam pertumbuhannya, udang mengalami ekdisis atau pergantian kulit.

  • Arachnida

Kalajengking, laba-laba, tungau, atau caplak termasuk Arachnida. Kelas ini memiliki lebih dari 70.000 jenis yang hidup di darat. Tubuh Arachnida terbagi atas kepala-dada (sefalotoraks) dan perut yang dapat dibedakan dengan jelas bagiannya, kecuali Acarina.

Arachnida mempunyai mata tunggal (ocellus), mulut, kelisera, dan pedipalpus. Sistem pernapasannya menggunakan paru-paru/trakea. Pada abdomen terdapat lubang yang disebut spirakel, tempat keluar masuknya gas.

Beberapa Arachnida, terutama laba-laba (ordo Aranae) memiliki spinneret (penghasil benang jaring). Sistem sarafnya berupa tangga tali. Alat kelamin jantan dan betina terpisah. Contoh hewan yang termasuk Arachnida antara lain kalajengking, ketonggeng, laba-laba, caplak, dan tungau (Dermacentor sp.).

  • Myriapoda

Myriapoda merupakan hewan berkaki banyak dengan tubuh beruas-ruas. Contohnya kelabang dan kaki seribu. Pada kepala Myriapoda terdapat mata tunggal (ocellus), antena, dan alat mulut. Susunan sarafnya tangga tali, sedangkan sistem pernapasannya dengan trakea. Sistem peredaran darahnya terbuka. Alat kelamin jantan dan betina terpisah, dan berkembangbiak dengan bertelur.

Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Chilopoda dan Diplopoda. Chilopoda adalah karnivora yang bergerak cepat, habitatnya pada tempat lembap, tanah, humus, dan rumah. Diplopoda memiliki anggota sekitar 10.000 jenis. Hidup di tanah atau humus dan merupakan dekomposer.

  • Insecta

Insecta atau serangga, hidup di berbagai habitat di permukaan bumi, kecuali di laut dalam. Insecta sering disebut Heksapoda. Heksapoda berasal dari kata heksa yang berarti enam dan kata podos yang berarti kaki (hewan berkaki enam).

Diperkirakan jumlah Insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Serangga yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, kemampuan menyebar, kemampuan memanfaatkan sumber makanan, dan kemampuan menghindari predator telah diidentifikasi dan ada sekitar satu juta jenis.

Tubuh serangga terdiri atas 3 bagian, yaitu kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Pada kepala terdapat sepasang antena (alat sensor), satu pasang mata facet (majemuk), atau mata tunggal (ocellus, jamak ocelli).

Insecta memiliki mulut (disesuaikan untuk mengunyah, merobek, mengisap, menjilat, dan menggigit) yang terdiri atas rahang belakang (mandibula), rahang depan (maksila), dan bibir atas-bibir bawah (labium). Sayap melekat di bagian dada.

Sistem pernapasan serangga disebut sistem trakea (udara memasuki tubuh melalui spirakel, kemudian ke saluran trakeatrakeolus dan menyebar ke seluruh tubuh). Ekskresi pada serangga dilakukan pada tubulus Malphigi yang berjumlah sekitar 250 buah, sedangkan sistem reproduksi terjadi secara seksual, dengan fertilisasi internal.

Proses perkembangan larva dibagi menjadi dua macam, yaitu hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna) dan holometabola (metamorfosis sempurna). Contoh hewan Hemimetabola adalah capung, belalang, lipas, jangkrik, dan kepik. Sedangkan contoh hewan Holometabola kupu-kupu, lalat, lebah, dan rayap.

Echinodermata, Si Hewan Berkulit Duri

Echinodermata berasal dari bahasa Yunani, yaitu echinos artinya duri dan derma artinya kulit. Jadi, Echinodermata dapat diartikan sebagai hewan berkulit duri. Jika kamu meraba kulit hewan ini maka akan terasa kasar karena kulitnya mempunyai zat kapur dengan duri-duri kecil. Karakteristik utama dari kelompok ini adalah tubuhnya yang simetri radial pentamerus, yaitu tubuh terbagi menjadi lima bagian dan tersusun mengelilingi sumbu pusat.

Ciri-ciri Echinodermata

Kelompok hewan Echinodermata seluruhnya hidup di dasar laut. Karakteristik lain Echinodermata adalah terdapatnya saluran kanal unik yang tersusun dari sistem vaskular air (ambulakral). Sistem ini digunakan untuk bergerak, bernapas, atau untuk membuka mangsa yang bercangkang.

Sistem ambulakral sebenarnya merupakan sistem saluran air yang terdiri atas madreporit (lubang tempat masuknya air dari luar tubuh), saluran batu, saluran cincin, saluran radial yang meluas, saluran lateral, ampula, dan kaki tabung.

Echinodermata memiliki rongga tubuh (selom) yang berkembang dengan baik. Echinodermata tidak memiliki organ ekskresi, tetapi diganti dengan struktur pertukaran gas. Sistem pencernaan makanan hewan ini sudah sempurna. Mulai dari mulut (berada di bawah tubuh), diteruskan ke faring, kemudian kerongkongan, lambung, usus, dan terakhir di anus. Saluran reproduksi Echinodermata sangat sederhana, yaitu melalui pembuahan eksternal di air laut.

Echinodermata bernapas dengan paru-paru kulit atau dermal branchiae (papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernapas menggunakan kaki tabung.

Sistem peredaran darah Echinodermata banyak yang tereduksi sehingga sukar untuk diamati. Akan tetapi, umumnya terdiri atas pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan.

Sistem saraf terdiri atas cincin saraf dan tali saraf pada bagian lengan-lengannya. Ciri umum lainnya adalah pada waktu masih larva, tubuhnya berbentuk bilateral simetri. Namun, setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi radial simetri. Fertilisasi terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Telur yang telah dibuahi akan membelah secara cepat menghasilkan blastula.

Klasifikasi Echinodermata

Berdasarkan bentuk tubuhnya, Echinodermata dapat dibagi menjadi lima kelas, yaitu kelas Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Crinoidea, dan Holoturoidea.

  • Asteroidea

Asteroidea disebut juga bintang laut. Jenis hewan ini berbentuk bintang dengan lima lengan. Lengan tersambung dengan cakram pusat. Celah ambulakral terbuka, dan ruang selom yang besar terdapat dalam lengan-lengan yang relatif lebar. Beberapa jenisnya ada yang memiliki kaki pengisap.

  • Echinoidea

Echinoidea tubuhnya bersimetri radial dengan bentuk loboid atau cakram, dan tanpa lengan. Sebagian besar menempel pada substrat. Tubuhnya dipenuhi duri tajam. Duri ini tersusun dari zat kapur. Contoh Echinoidea adalah landak laut.

  • Ophiuroidea

Ophiuroidea biasa disebut bintang ular. Hewan jenis ini tubuhnya memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak-gerakkan sehingga menyerupai ular.

  • Crinoidea

Hewan ini biasa disebut lili laut atau bintang bulu. Jenis hewan Crinoidea mirip tumbuhan, bertangkai, dan melekat di dasar laut. Crinoidea juga memiliki lima lengan yang bercabang-cabang menyerupai bunga lili.

  • Holothuroidea

Holothuroidea disebut juga timun laut. Hewan jenis ini kulit durinya halus sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya tidak mempunyai lengan dan mirip mentimun sehingga banyak disebut mentimun laut atau juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, dan lembut.