Berkurangnya pengaruh kerajaan Hindu-Budha, dan mulai bersinarnya kerajaan bercorak Islam pada abad XV Masehi, membuat keadaan populasi orang muslim menjadi lebih stabil. Proses pergeseran budaya masyarakat dari pengaruh Hindu-Budha menuju pengaruh Islam di Indonesia berjalan cukup tenang dan damai. Tidak ada perusakan bangunan-bangunan suci Hindu-Budha, malah beberapa bagian dari gaya bangunan suci Hindu-Budha menjadi inspirasi dalam pembangunan masjid.
Perdebatan Seputar Gaya Arsitektur Masjid di Indonesia

Arsitektur bangunan masjid yang berkembang pada masa kerajaan Islam di Indonesia terbilang sangat sederhana dibanding dengan arsitektur bangunan masjid di Asia Barat maupun di Asia Kecil (Turki). Padahal pada masa sebelum munculnya kerajaan Islam, di Indonesia telah berkembang arsitektur bangunan candi yang disebut oleh para ahli arsitektur sebagai masterpiece (mahakarya) arsitektur Indonesia.

Menurut W. F. Stutterheim, tidaklah mungkin arsitektur bangunan candi diterapkan pada masjid karena ketersediaan ruang yang sempit pada candi. Selanjutnya seorang sejarawan asal Belanda, H. J. de Graaf, berpendapat bahwa bangunan masjid di Indonesia meniru bentuk-bentuk masjid di Malabar India, yang beratap tingkat.

Pendapat Graaf disanggah oleh Sutjipto Wirjosuparto. Menurut Sutjipto, bangunan masjid di Indonesia merupakan pengembangan dari arsitektur pendopo. Pendapat Sutjipto ini sangat beralasan karena pada bangunan utama masjid berbentuk persegi empat dan disangga dengan tiang utama, mirip dengan bangunan pendopo. Selanjutnya G. F. Pijper menguatkan pendapat Sutjipto. Menurut Pijper, arsitektur masjid di Indonesia merupakan arsitektur khas Indonesia.

Terutama di Jawa, Pijper memperinci ciri-ciri arsitektur bangunan masjid tipe Jawa, yaitu: pondasi bangunan agak tinggi yang berbentuk persegi dan masiv, atap yang meruncing ke atas dan bertingkat, terdapat ruangan tambahan di sebelah barat sebagai mihrab, tedapat serambi, terdapat halaman bergapura, denah bangunan dan halaman berbentuk segiempat, dan terdapat parit. Apa yang disebut oleh Pijper sebagai ciri-ciri tipe Jawa, ternyata ditemukan pula pada beberapa masjid di luar Jawa. Dari ciri-ciri tersebut, yang paling mudah diamanti adalah bentuk halaman dan bangunan utama, serta atap bangunan.

Pola Ruang Bangunan Utama

Bentuk persegi panjang (segiempat beraturan) merupakan pola ruang utama bangunan yang banyak ditemui pada masjid-masjid peninggalan kerajaan Islam. Ruang utama Masjid Agung Banten berbentuk persegi panjang dengan ukuran 25 meter x 19 meter, Masjid Agung Demak 30 m x 17 m, dan Masjid Ciptarasa Cirebon 17,8 m x 13,3 m. Ada pula yang berbentuk bujur sangkar yaitu Masjid Kasultanan Sambas dengan ukuran ruan utama 22 m x 22 m. Di tengah-tengah bangunan utama, biasanya akan ditempatkan tiang utama (sakaguru), dan di sekeliling tiang utama ditempatkan pula tiang pembantu (sakawara).

Bahan utama tiang masjid adalah kayu dengan kualitas tinggi seperti kayu jati. Namun, kadang dijumpai sesuatu yang beda. Di Masjid Agung Demak, salah satu tiang utama tersusun dari potongan-potongan kayu (tatal). Masyarakat setempat menyakini bahwa tiang utama yang tesusun dari potongan kayu dibuat oleh Sunan Kalijaga. Walau kebenaran tentang cerita ini hingga kini belum dapat dipastikan karena tidak ada sumber sejarah untuk membuktikaannya, potongan kayu ini tersusun sangat kompak hingga membuat tiang ini memiliki kekuatan yang sama baiknya dengan tiang utama yang lain.

Selain terdapat mimbar dan mihrab pada ruang utama bangunan, biasanya pada masjid-masjid kerajaan, kadang dijumpai tempat khusus untuk raja. Tempat untuk raja ini disebut maksurah. Di Masjid Agung Yogyakarta, maksurah dibuat dari kayu dengan ukir-ukiran yang rumit.

Atap

Bentuk yang paling sering dijumpai pada masjid-masjid peninggalan kerajaan islam di Indonesia adalah bentuk atap limas segiempat bertingkat. Jumlah tingkat atap bisa dua hingga lima buah. Bentuk atap ini lebih sering disebut sebagai atap tumpang, karena tampak seperti beberapa limas segiempat yang ditumpang (ditumpuk) satu sama lain. Di sela-sela tumpukan atap tersebut, terdapat kisi-kisi untuk aliran udara.

Bentuk atap tumpang sangat mirip dengan bentuk atap bertingkat pada pura-pura di Bali. Pada Masjid Agung Banten, bentuk atap tumpang sedikit menyerupai bentuk atap pagoda. Penggunaan atap tumpang ternyata memang tidak hanya ditemui pada masjid di Jawa. Bentuk atap tumpang ditemui pula di Masjid Kesultanan Sambas (Sambas, Kalimatan Barat), Masjid Sultan Abdurahman Pontianak (Pontianak, Kalimantan Barat), dan Masjid Sultan Ternate (Ternate, Maluku Utara).

Penggunaan atap tumpang sangat cocok diterapkan pada bangunan di daerah beriklim tropis. Sirkulasi udara yang lancar dan cepat, membuat suhu ruangan di dalam bangunan utama tetap dingin. Penggunaan kisi-kisi juga memungkinkan tidak adanya burung atau kelelawar yang masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Pintu Gerbang dan Pola Halaman

Pada beberapa masjid peninggalan kerajaan Islam, ditemukan pintu gerbang/gapura yang cukup unik. Di Masjid Agung Sumenep, gapura dibangun cukup megah dan memiliki dua tingkat. Dan terbuat dari tembok. Gaya bangunan gapura ini sangat mirip dengan gaya bangunan Tionghoa. Pada bagian tengah terdapat pintu masuk berbentuk setengah lingkaran.

Di kaki gapura ada dua ruangan pada kanan dan kiri yang berukuran 7,7 m x 7,45 m. Tampaknya ruangan ini menjadi semacam pos jaga untuk keamanan masjid.Gaya bangunan Tionghoa juga ditemukan pada gapura di Masjid Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon). Gapura ini tidak sebesar seperti yang ada di Masjid Sumenep, namun tetap khas karena bagian atas gapura berbentuk tiga pasang sayap yang bertumpuk.

Konsep tentang halaman dan gapura yang lebih komplek dapat dijumpai pada Masjid Agung Mataram Kotagede (Yogyakarta). Halaman pada Masjid Agung Mataram Kotagede terbagi dalam beberapa bagian. Antar bagian dipisahkan oleh gapura. Gapura pertama yang memisahkan halaman masjid dengan bagian luar berbentuk candi bentar. Candi bentar adalah gapura tanpa atap.

Memasuki halaman berikutnya, akan dijumpai gapura berbentuk paduraksa, yaitu gapura dengan atap di atasnya. Halaman kedua lebih tinggi dari halaman pertama. Pola keruangan semacam ini seperti pola keruangan pada Candi Panataran, yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit. Demikian pula dengan gapura-gapura yang berbentuk candi bentar dan paduraksa.

Pola ruang halaman pada Candi Panataran merupakan salah satu keunikan dalam arsitektur candi periode Jawa Timur (Abad X – XV Masehi). Pola keruangan ini memanjang ke belakang, dan dibagi dalam tiga tingkatan. Halaman pertama merupakan halaman profan, halaman kedua merupakan halaman semi profan, dan bagian ketiga adalah bangunan candi yang merupakan bangunan sakral. Candi bentar dibangun untuk memisahkan halaman pertama dengan lingkungan luar candi, sedang paduraksa merupakan gapura untuk menuju halaman semi profan dan bangunan sakral.

Sebelum memasuki halaman kedua, di dekat paduraksa akan dijumpai kelir, yaitu semacam bangunan penghalang yang umum dijumpai pada bangunan venakular Asia. Fungsi kelir selain agar bangunan utama tidak terlihat langsung dari luar, kelir dimaksudkan sebagai tolak bala. Pada kelir di Masjid Agung Kotagede terdapat relief kala. Kala merupakan makhluk khayangan dalam mitologi Hindu yang dipercaya dapat menangkal setan ataupun roh jahat. Relief kala umum dijumpai pada candi-candi Hindu yang ada di Indonesia.

Penggunaan gapura dengan bentuk candi bentar maupun paduraksa tidak hanya ditemukan di Masjid Agung Kotagede. Beberapa masjid menggunakan pula candi bentar maupun paduraksa, yaitu Masjid Mantingan (Jepara, Jawa Tengah) dan Masjid Sendang Duwur (Lamongan, Jawa Timur). Masjid Mantingan selesai dibangun pada tahun 1418 Saka (1559 M) oleh keluarga dari Ratu Kalinyamat (anak Sultan Trenggana, Sultan Demak yang memerintah pada tahun 1504 -1546 M) dan Pangeran Hadiri (Adipati Jepara). Sedangkan Masjid Sendang Duwur selesai dibangun pada tahun 1483 S (1561 M) oleh Sunan Sendang (atau Sunan Rahmat), salah satu penyebar agama Islam di Jawa Timur.

Pengaruh dari Berbagai Budaya

Gaya arsitektur Hindu dan Tionghoa merupakan gaya arsitektur yang sangat berpengaruh pada beberapa masjid peninggalan kerajaan Islam di Indonesia. Pengaruh Timur Tengah dan Eropa juga ditemukan, namun pada beberapa masjid di Sumatera peninggalan kerajaan Islam yang berkembang pada abad XVIII hingga XX Masehi. Pada abad XVIII hingga XX Masehi, persentuhan dengan orang-orang Eropa dan Asia Barat sudah sangat intens. Bangunan masjid yang didirikan kemudian bergaya Eropa dan Asia Barat. Salah satu contohnya adalah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Nangroe Aceh Darussalam).

Bangunan Masjid Raya Baiturahman sekarang merupakan pengembangan dari bangunan masjid yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1879. Bangunan masjid ini dimaksudkan sebagai pengganti bangunan Masjid Baiturrahman lama, yang dibangun tahun 1292 oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah I, namun habis terbakar pada tahun 1874 saat terjadi pertempuran antara Belanda dan pejuang Aceh. Bentuk atap tidak lagi segiempat bertingkat (tumpang), namun sudah seperti kubah (seperti bentuk awan).

Mempelajari arsitektur masjid di Indonesia berarti pula mempelajari perkembangan Islam di Indonesia. Pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia dapat diamati melalu bangunan masjid yang dibangun. Masjid-masjid di Demak, Kotagede, Cirebon, Yogyakarta, dan Banten merupakan masjid yang dibangun pada masa-masa awal perkembangan kerajaan Islam.

Unsur budaya sebelumnya masih tampak dan tidak bisa serta merta dihilangkan karena proses pergeseran budaya memerlukan waktu yang tidak singkat. Bentuk-bentuk bangunan masjid dengan berbagai unsur Hindu yang terdapat di dalamnya, kiranya dapat menguatkan hipotesis bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia berlangsung dengan alami dan damai.