Dalam klasifikasi sebelumnya, 3 golongan cacing ini disatukan dalam kelompok besar cacing atau Vermes. Akan tetapi sekarang, ketiganya dipisahkan berdasarkan perbedaan cirri ketiganya. Apa sajakan ciri-ciri masing-masing? Dan apa pula perbedaannya? Kita simak semuanya dalam uraian berikut ini.

Platyhelminthes, si cacing pipih

Tahukah kamu cacing yang biasa terdapat dalam daging babi? Cacing itu bentuknya pipih, panjang, dan merupakan parasit yang sangat merugikan bahkan menyebabkan penyakit. Termasuk jenis apakah cacing itu?

Ciri-Ciri Platyhelminthes

Platyhelminthes berasal dari bahasa Latin, yaitu platy yang berarti pipih, dan hemins yang berarti cacing. Sesuai dengan namanya, filum Platyhelminthes adalah takson dari sekelompok hewan cacing bertubuh pipih dengan jumlah jenis sekitar 18.500 spesies.

Platyhelminthes atau cacing pipih adalah jenis cacing yang kebanyakan merupakan parasit (sekitar 80%), sedangkan sisanya hidup bebas di air tawar, air laut, dan di tanah-tanah yang lembap.

Cacing pipih merupakan hewan triploblastik yang tidak mempunyai rongga tubuh (aselomata). Cacing Turbellaria dianggap oleh para ahli sebagai hewan bilateral yang paling awal (primitif ) dan merupakan kelompok hewan pertama yang mempunyai mesoderm.

Ciri-ciri umum cacing pipih.

  • Belum mempunyai sistem peredaran darah dan sistem pernapasan. Cacing ini bernapas dengan menggunakan seluruh permukaan tubuh.
  • Sistem pencernaannya tidak sempurna karena tidak mempunyai anus. Lubang mulut berfungsi ganda, yaitu sebagai mulut dan juga sebagai anus.
  • Memiliki organ/sel khusus yang disebut protonefridia yaitu ginjal primitif. Ginjal ini berbentuk mangkuk bersilia. Dalam keadaan hidup, silia bergerak seperti lidah api sehingga protonefridia disebut sel api atau sel obor (flame cell) yang berfungsi menjaga keseimbangan ion dan air serta membuang sisa hasil metabolisme tubuh.
  • Sistem saraf berupa tangga tali yang terdiri atas sepasang ganglion otak (anterior tubuh) dan dihubungkan oleh serabut-serabut saraf melintang.
  • Hampir semua spesies cacing pita ini bersifat hermafrodit.

Klasifi kasi Platyhelminthes

Platyhelminthes (cacing pipih) dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda.

Turbellaria

Cacing Turbellaria hanya berjumlah sekitar 3000 spesies atau sekitar 16% dari semua spesies Platyhelminthes. Berikut ini ciri-ciri umum Turbelaria.

  • Hewan dari kelas ini tubuhnya berbentuk tongkat atau rabdit (berasal dari bahasa latin, rabdit=tongkat).
  • Memiliki dua mata dan tanpa alat isap.
  • Panjangnya tidak lebih dari 1 cm.
  • Hidup di daerah lembap atau perairan.
  • Jarang hidup sebagai parasit.
  • Memiliki kemampuan regenerasi dengan cara membelah diri. Kemampuan regenerasi ini menjadikan cacing pipih sering digunakan sebagai model untuk mempelajari proses-proses pengendalian diferensiasi seluler oleh para ahli biologi.
  • Saluran pencernaan terdiri atas mulut, faring, dan usus, tetapi tidak mempunyai anus.
  • Sisa-sisa metabolisme berupa nitrogen, diekskresikan melalui permukaan tubuhnya.
  • Sistem osmoregulasi berupa protonefridia yang terdiri atas sel-sel api yang tersebar di tepi tubuh.
  • Sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali.
  • Reproduksi Planaria terjadi secara seksual dan aseksual.
  • Reproduksi seksual terjadi pada saat siang hari yang pendek dengan udara dingin melalui perkawinan silang sedangkan reproduksi aseksual terjadi pada siang hari yang panjang dengan udara hangat melalui regenerasi.

Trematoda (Cacing isap)

Ciri-ciri umum cacing isap.

  • Semua Trematoda bersifat parasit, baik sebagai ektoparasit (di luar tubuh) maupun sebagai endoparasit (di dalam tubuh).
  • Makanannya berupa darah atau jaringan tubuh inang yang diisap melalui lubang mulutnya.
  • Tubuhnya diliputi kutikula.
  • Memiliki alat isap yang terdapat di sekitar mulut dan di bagian ventral tubuhnya. Alat isap ini dilengkapi dengan kait gigi kitin.
  • Panjang tubuhnya kurang lebih 2,5 cm dengan lebar 1 cm.
  • Mempunyai simetri tubuh bilateral.
  • Tidak bersilia.
  • Sistem ekskresi dilakukan melalui permukaan tubuh.
  • Sistem osmoregulasi terjadi di protonefridia yang terdiri atas sel api yang tersebar di tepi tubuh dan sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali.
  • Termasuk hewan hermafrodit.
  • Mempunyai siklus hidup dengan pergantian fase seksual dan aseksual.
  • Contoh Trematoda adalah cacing hati atau Fasciola hepatica (parasit pada hati domba), Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi), serta cacing hati parasit pada manusia (Chlonorchis sinensis), dan Schistosoma japonicum (cacing darah)

Berikut ini daur hidup cacing hati (Fasciola hepatica).

  1. Cacing dewasa bertelur di sapi atau domba, keluar melalui feses, dan menetas menjadi larva bersilia (mirasidium).
  2. Telur cacing terbawa air.
  3. Telur menjadi mirasidium yang siap masuk ke tubuh siput air tawar.
  4. Di tubuh siput, mirasidium berubah menjadi sporokista yang menetap di tubuh siput selama 2 minggu, lalu menjadi redia dan kemudian menjadi serkaria yang mempunyai ekor.
  5. Serkaria berekor, keluar dari tubuh siput dan berenang di dalam air lalu menempel di rumput.
  6. Rumput berserkaria ini dimakan domba, sapi, atau manusia.
  7. Kista serkaria menembus dinding usus sapi, domba, atau manusia, lalu masuk ke hati, saluran empedu, dan tumbuh dewasa selama beberapa bulan.
  8. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.

Cestoda (Cacing pita)

Ciri-ciri umum cacing pita.

  • Anggota Cestoda di Indonesia biasa disebut cacing pita.
  • Tidak bersilia.
  • Tubuhnya pipih dengan panjang antara 2-3 meter, bahkan bisa mencapai 10-12 meter.
  • Cacing pita terdiri atas bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila).
  • Kepala umumnya dilengkapi alat pengisap dan kait.
  • Strobila disusun oleh segmen-segmen yang disebut proglotid. Setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Semakin ke posterior, segmen semakin melebar dan setiap segmen merupakan satu individu yang bersifat hermaprodit.
  • Cacing pita adalah hewan parasit di dalam tubuh inang (internal parasit) sehingga mereka disebut juga sebagai cacing endoparasit.
  • Cacing pita hidup dalam usus halus hewan Vertebrata.
  • Cacing ini tidak memiliki mulut ataupun saluran pencernaan.
  • Sistem ekskresi terdiri atas saluran pengeluaran yang berakhir di sel api.
  • Sistem saraf sama seperti Planariadan cacing hati, yaitu system saraf tangga tali, tetapi kurang berkembang. Contoh cacing pita adalah Taenia saginata, Taenia solium, Choanotaenia  infudibulum, Echinococcus granulosus, dan Dipylidium latum.

a) Taenia saginata

Taenia saginata merupakan parasit dalam usus halus manusia dengan inang perantaranya adalah sapi. Pada skoleks Taenia saginata, terdapat alat pengisap tanpa kait. Berikut ini daur hidup dari cacing pita (Taenia saginata).

  1. Telur/proglotid keluar dari usus manusia bersama feses.
  2. Telur menempel pada rumput dan termakan sapi.
  3. Di dalam tubuh sapi, telur menetas menjadi larva onkosfer dan menembus dinding usus.
  4. Larva onkosfer tumbuh dan berkembang di dalam pembuluh darah, pembuluh limpa, kemudian sampai ke jaringan otot dan membentuk kista yang disebut cysticercus bovis (larva cacing). Kista akan membesar dan membentuk gelembung yang disebut cysticercus atau sistiserkus.
  5. Sistiserkus masuk ke tubuh manusia ketika daging sapi mentah yang terinfeksi termakan oleh manusia. Dinding sistiserkus akan dicerna di lambung, sedangkan larva dengan skoleks menempel pada usus manusia.

b) Taenia solium

Daur hidup Taenia solium sama dengan daur hidup Taenia saginata. Hanya saja, inang perantaranya adalah babi. Kista yang dihasilkan Taenia spilum berada di otot lurik babi. Namanya cysticercus sellulose. Perbedaan lainnya terdapat pada kait-kait dari kitin. Cacing pita pada sapi tidak memiliki kait-kait dari kitin, sedangkan cacing pita pada babi memiliki kait.

c) Coanotaenia infudibulum

Cacing pita yang lain adalah Coanotaenia infudibulum yang hidup parasit pada usus ayam. Inang perantara cacing ini adalah Arthropoda, seperti kumbang atau tungau.

Nemathelminthes, si cacing gilik

Nemathelminthes berasal dari kata nematos yang artinya benang dan hemins yang artinya cacing. Cacing ini juga sering disebut cacing gilik, sesuai bentuk tubuhnya yang gilik atau seperti batang. Seorang ahli pernah menyebutkan bahwa jumlah spesies cacing gilik lebih banyak dibandingkan Arthropoda. Hasil estimasi ini mungkin mengejutkanmu karena kamu mungkin belum pernah melihat salah satu spesies cacing ini. Padahal, sebenarnya habitat Nemathelminthes ada di mana-mana, di darat, air tawar, air laut, daerah kutub, hingga daerah tropis.

Ciri-ciri Nemathelminthes

Nemathelminthes banyak hidup sebagai parasit pada makhluk hidup lain, pada tumbuhan, hewan, atau manusia. Bahkan, mungkin hampir setengah jumlah manusia di dunia terinfeksi oleh cacing gilik.

Nemathelminthes merupakan hewan yang memiliki selom semu atau pseudoselom. Saluran pencernaan pada Nemathelminthes sudah sempurna mulai dari mulut sampai anus. Cacing ini tidak memiliki sistem peredaran darah dan jantung, tetapi tubuhnya mengandung cairan semacam darah yang dapat merembes ke bagian tubuh akibat kontraksi tubuh. Tubuhnya tidak bersegmen. Permukaan tubuhnya dilapisi kutikula sehingga tampak mengilat. Beberapa jenis Nemathelminthes memiliki kait. Sistem respirasinya melalui permukaan tubuh secara difusi.

Alat kelamin pada Nemathelminthes terpisah. Alat kelamin cacing betina lebih besar dari cacing jantan. Gonad berhubungan dengan saluran alat kelamin dan telur dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin. Hewan ini tidak berkembang biak secara aseksual. Ascaris lumbricoides (cacing perut), Ancylostoma duodenale (cacing tambang), dan Trichinella spiralis (cacing otot) adalah contoh-contoh dari cacing gilik.

Macam-macam Nemathelminthes

  • Ascaris lumbricoides (Cacing perut)

Ascaris lumbricoides (cacing perut) merupakan jenis Nemathelminthes yang terkenal. Hidupnya parasit di dalam usus manusia. Infeksi terjadi melalui makanan atau air yang mengandung telur cacing perut ini.

Bentuk tubuh Ascaris bulat panjang dengan bagian ujung-ujung yang meruncing. Mulutnya terletak di ujung anterior dan dilengkapi dengan 3 buah bibir. Tubuh cacing betina ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari pada cacing jantan. Diameternya ± 0,5 cm dengan panjang 10-20 cm. Tubuh cacing jantan ujung posteriornya melengkung.

Telurnya menetas menjadi larva yang dapat menembus dinding usus kemudian masuk ke dalam sistem peredaran darah. Setelah sampai di paru-paru, larva akan menuju kerongkongan. Larva akan tertelan dan sampai di usus halus lagi, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa. Di usus halus, larva mengambil sari-sari makanan yang sudah tercerna. Contoh Ascaris lainnya adalah Ascaris megalocephala, yang merupakan parasit pada usus kuda dan Ascaris suilae yang merupakan parasit dalam usus halus babi.

  • Oxyuris vermicularis (Cacing kremi)

Kamu pasti sudah tidak asing lagi jika mendengar kata cacing kremi. Cacing kremi (Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis) mempunyai panjang antara 9 - 15 mm. Cacing ini termasuk ke dalam golongan Nemathelminthes.

Cacing kremi bisa menimbulkan rasa gatal di anus. Pada saat bertelur, cacing betina menuju anus untuk memperoleh oksigen yang diperlukan larva untuk pertumbuhan. Gerakan cacing inilah yang menyebabkan rasa gatal. Jika digaruk, telur cacing ini akan melekat di kuku. Kemudian, jika tidak dicuci telur ini akan tertelan dan masuk ke dalam saluran pencernaan.

Cacing ini hidup di dalam usus besar. Di dalam usus besar, cacing kremi akan tumbuh dewasa, berkembang biak, dan daur hidup pun berlanjut kembali.

  • Ancylostoma (Cacing tambang)

Ancylostoma atau cacing tambang merupakan parasit di usus manusia dan banyak  dijumpai pada daerah pertambangan, terutama di daerah beriklim panas. Cacing ini mengisap darah sehingga dapat mengakibatkan kematian.

Cacing tambang berukuran + 1-1,5 cm dengan mulut kait berupa gigi dari kitin yang dapat melekat dan melukai dinding usus halus inangnya. Cacing tambang ada dua macam, yaitu Ancylostoma duodenale (banyak terdapat di daerah tropis Asia dan Afrika) serta Necator americanus (terdapat di daerah tropis Amerika).

Cacing tambang masuk ke tubuh manusia dari larvanya yang menembus kulit kaki. Dari kaki, larva akan mengikuti aliran darah, menuju jantung, paru-paru, faring, dan tenggorokan. Kemudian, tertelan dan masuk ke dalam usus. Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap bertelur. Telur keluar bersama feses. Di tempat lembap dan becek, telur menetas menjadi larva yang disebut rhabditiform dan dapat masuk ke dalam kulit manusia kembali.

  • Wuchereria bancrofti (Cacing filaria)

Kamu pasti pernah mendengar penyakit kaki gajah (elephantiasis). Penyakit yang menyebabkan kaki bengkak dan membesar ini disebabkan oleh cacing filaria atau nama ilmiahnya Wuchereria bancrofti.

Cacing filaria mempunyai inang sementara hewan Arthropoda, misalnya nyamuk Culex. Adapun inang tetapnya adalah manusia. Larva cacing filaria pada siang hari berada di paru-paru atau di pembuluh darah besar. Pada malam hari, larva cacing ini pindah ke pembuluh arteri

atas dan vena tepi di dekat kulit. Jika populasinya sudah terlalu banyak, pembuluh getah bening akan tersumbat sehingga terjadi pembengkakan (filariasis).

Annelida, si cacing gelang

Kamu tentu pernah melihat cacing tanah, bukan? Cacing tanah merupakan contoh hewan yang termasuk ke dalam filum Annelida. Perhatikanlah tubuh cacing tanah tersebut! Tubuhnya memiliki ruas seperti gelang-gelang. Itu sebabnya, cacing tanah dikelompokkan ke dalam Annelida (cacing gelang).

Ciri-ciri cacing gelang

Cacing yang termasuk Annelida memang berciri tubuh silindris memanjang dan beruas-ruas seperti gelang. Segmen-segmen ini disebut metamer. Nama Annelida sendiri berasal dari bahasa Latin annulus yang berarti cincin atau gelang dan eidos yang berarti bentuk.

Cacing ini hidup di berbagai tempat, yaitu di air tawar, air laut, dan daratan. Annelida umumnya hidup bebas, jarang ada Annelida yang hidup sebagai parasit.

Annelida telah mempunyai rongga tubuh sejati sehingga dikelompokkan ke dalam selomata. Sistem sarafnya terdiri atas ganglion otak dihubungkan dengan tali saraf yang memanjang sehingga berupa tangga tali.

Alat ekskresinya disebut nefridium. Saluran pencernaan lengkap berbentuk tabung, terdiri atas mulut, usus, dan anus. Mulut dilengkapi gigi kitin yang berada di ujung depan, sedangkan anus berada di ujung belakang.

Annelida berespirasi menggunakan epidermis seluruh permukaan tubuhnya secara difusi. Sistem peredaran darah Annelida tertutup. Darah mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh kapiler yang bercabang-cabang. Darah berwarna kemerahan karena mengandung haemoglobin. Hewan ini bersifat hermafrodit dan memiliki klitelum sebagai alat kawin.

Setiap ruas pada Annelida memiliki alat ekskresi, otot, dan pembuluh darah. Permukaan tubuhnya dilapisi kutikula tipis yang terletak di atas epitelium. Pada beberapa jenis Annelida,

permukaan tubuhnya dilengkapi serta berkitin kaku yang berfungsi sebagai alat gerak.

Klasifikasi Annelida

Dulu, beberapa ahli Zoologi mengelompokkan Annelida ke dalam satu filum yang disebut Vermes. Kata Vermes dalam bahasa Latin berarti cacing. Filum ini menampung seluruh anggota cacing dari berbagai kelas. Cacing yang termasuk ke dalam Vermes adalah cacing dari kelompok Platyhelminthes, Nemathelminthes, Nematoda, dan Annelida. Namun, sekarang Vermes tidak lagi digunakan sebagai tingkatan takson tertinggi bagi kelompok cacing. Masing- masing kelompok sudah menjadi filum, yaitu Platyhelminthes, Nemathelminthes, dan Annelida.

Cacing Annelida dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea. Kelas Polychaeta merupakan kelas yang jumlah anggotanya paling banyak. Kelas ini terdiri atas kelompok-kelompok yang paling beragam jika dibandingkan dengan cacing dari kelas yang lain dalam filum Annelida.

  • Polychaeta

Ciri khas Polychaeta adalah tubuhnya yang memiliki banyak bulu (setae). Polychaeta itu sendiri berasal dari kata poly berarti banyak dan chaeta berarti bulu kaku.

Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang surut air laut. Banyak di antara anggotanya memiliki warna menarik, seperti merah, merah muda, hijau, atau campuran dari berbagai macam warna.

Polychaeta tubuhnya memanjang dan bersegmen. Setiap segmen mempunyai parapodia dan setiap parapodia bersetae, kecuali pada segmen terakhir.

Contoh cacing Polychaeta adalah Nereis, Arenicola, Spirobranchus, Progmatopora, Eunice viridis (cacing palolo), dan Lysidice sp. (cacing wawo). Cacing palolo dan cacing wawo biasa dimakan manusia. Cacing palolo terdapat di Pasifi k Selatan (Kepulauan Fiji dan Samoa), sedangkan cacing wawo terdapat di Kepulauan Maluku.

  • Oligochaeta

Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Cacing ini berasal dari kata oligos yang artinya sedikit dan chaeta yang artinya bulu kaku. Oligochaeta merupakan cacing yang memiliki sedikit bulu pada ruas-ruas tubuhnya. Oligochaeta hidup di air tawar, air laut, darat, dan ada pula yang sebagai parasit.

Oligochaeta tidak memiliki parapodia di antara ruas-ruas tubuhnya. Tubuhnya silindris memanjang dan terbagi menjadi banyak ruas yang berjumlah antara 115-200. Tubuhnya juga dilengkapi otot memanjang maupun melingkar. Pada setiap ruas terdapat setae. Kepala cacing ini berukuran kecil, tanpa alat peraba (tantekel) dan mata, serta terdapat beberapa setae pada setiap ruas.

Hewan ini bersifat hermafrodit. Pernapasan umumnya dilakukan melalui permukaan tubuh. Seperti halnya pada Polychaeta, organ ekskresi Oligochaeta adalah metanefridium. Oligochaeta umumnya mempunyai daya regenerasi yang tinggi. Contoh Oligochaeta, di antaranya adalah Pheretima posthurna (cacing tanah-Asia), Lumbricus terrestris (cacing tanah-Eropa dan Amerika), Perichaeta (cacing hutan), dan Tubifex (cacing air).

  • Hirudinae

Hirudinae yang terkenal adalah lintah. Hirudinae hidup di lingkungan akuatik dan daratan. Hirudinae tidak memiliki rambut, parapodia, dan setae. Tubuh Hirudinae pipih memanjang. Di kedua ujung tubuhnya terdapat alat isap. Contoh Hirudinae adalah Hirudo, Hirudinaria, Erpobdella, Pontobdella, Branchellion, Clepsine, dan Enchytraeus.

Hirudinae ada yang bersifat predator (misalnya memakan cacing; memakan organisme lain yang sudah mati; serta ada yang mengisap darah). Jenis Hirudinae yang memakan organisme lain makan dalam jumlah banyak. Sebaliknya, Hirudinae pengisap darah sedikit makan. Hal ini disebabkan ketika mengisap darah, dia akan mengisapnya dalam jumlah yang sangat banyak. Hirudo medicinalis (lintah) bahkan dapat tahan untuk tidak makan selama satu setengah tahun. Hirudo medicinalis ini sering dimanfaatkan untuk terapi mengeluarkan darah atau nanah dalam usaha membersihkan luka.

Hirudinaria (lintah) mempunyai kelenjar ludah yang berkhasiat sebagai antikoagulan (pencegah penggumpalan darah). Hirudinaria sekarang banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran.