Angkatan pujangga lama sering kali menandai aktivitas kesusastraan pertama Indonesia, kehadirannya yang sempat berkembang sebelum lahirnya kesusastraan melayu lama membuatnya sedikit sulit untuk digali karena jarak waktu yang lama mengaburkan data dan fakta mengenai kesusastraan masa ini. Penamaan pujangga lama datang sebagai pengistilahan terhadap karya-karya sastra yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Kesusastraan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan agama Islam yang mulai menyebar pada masa itu, terlebih dengan berkembangnya kesultanan Islam di daerah Sumatra.

Karya sastra yang dihasilkan pada masa ini juga kebanyakan berupa hikayat, gurindam, dan syair. Beberapa hikayat yang sempat dihasilkan pada masa pujangga lama ini adalah Hikayat Abdullah, Hikayat Andaken Panurat, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya. Sedangkan untuk syair yang berkembang pada masa itu lebih berupa syair-syair Ken Tambuhan, Syair Bidasari, Syair Raja Mampang  Jauhari, dan Syair Raja Siak. Karya sastra tersebut rata-rata menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar sastra yang awam utuk digunakan. Selain karya sastra, beberapa penulis kemudian juga mulai menyadari pentingnya sistem pencatatan sejarah perkembangan melayu, dan beberapa di antaranya juga berupaya untuk menuliskan kitab agama.

Hikayat

Hikayat dalam kesusastraan pujangga lama merupakan salah satu karya sastra prosa yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa utamanya. Selain itu, hikayat juga dianggap sebagai bentuk karya sastra utama masa pujangga lama. Alur cerita yang terdapat dalam sebuah hikayat biasanya berkaitan dengan dongeng atau kisah-kisah kepahlawanan lengkap dengan keanehan dan kesaktian yang dimiliki oleh tokoh utamanya tersebut. Dalam sejarah kesusastraan pujangga lama, Hamzah Fansuri tercatat sebagai penulis angkatan pertama yang kemudian mulai diikuti oleh rekan-rekannya yang lain, seperti Nurdin Arraniri dan Syamsyudin Pasai. Meskipun cerita yang terdapat dalam sebuah hikayat tersebut merupakan cerita fiktif, namun hikayat menyimpan nilai moral yang tinggi yang bahkan dapat membangkitkan semangat juang para pembacanya.

Ciri-ciri dari hikayat adalah sebagai berikut.

  • Cerita yang disajikan biasanya mengelilingi kehidupan istana (istanacentris).
  • Peristiwa-peristiwa yang biasanya diangkatkan dalam cerita berisikan nilai-nilai Islam, bahkan penamaan karakter yang terdapat dalam sebuah hikayat juga cenderung menggunakan nama-nama dengan Bahasa Arab.
  • Karakter-karakternya di luar kewajaran.
  • Cerita yang disampaikan adalah fiktif, beberapa dari kita mungkin menemukan hikayat sebagai sebuah karya sastra yang sulit dimengerti karena sulitnya membedakan kenyataan dan khayalan yang terdapat dalam karya sastra ini.
  • Penyampaiannya dilakukan secara turun-temurun, sehingga bahasa yang digunakan biasanya menirukan bahasa dari penutur yang sebelumnya. Seringkali dalam sebuah hikayat, penggunaan bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari
  • Pengarangnya bersifat anonim.

Berikut adalah beberapa contoh hikayat yang sangat terkenal pada masa angkatan kesusastraan pujangga lama.

  1. Hikayat Hang Tuah

Karya ini berceritakan tentang kisah seorang laksamana yang termashyur pada masa kesultanan Malaka yang bernama Hang Tuah. Cerita hikayat ini dipercaya mengambil setting abad ke-14 sebagai latar utama cerita, karena terdapat banyak data kesejaraan yang di dalammnya mengimplikasikan perseteruan antara Malaka dan Majapahit yang terjadi pada abad ke-14. Hikayat ini berceritakan tentang loyalitas Hang Tuah terhadap Seri Sultan. Saking loyalnya Hang Tuah pada perintah Sultan, dia bahkan akhirnya tega membunuh sahabat karibnya sendiri demi membela Seri Sultan.

  1. Hikayat Abdullah

Karya ini merupakan autobiografi dari Abdullah Bin Abdulkadir yang merupakan keturunan Arab dan Yaman. Dalam hikayat ini, Abdullah menceritakan bagaimana keadaan kota Malaka dan Singapura pada awal abad ke-19, lengkap dengan penggambaran kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hikayat Abdullah ini selesai dirampungkan pada pertengahan tahun 1840 dan karya ini merupakan karya hikayat pertama yang menganut aliran realisme. Selain sebagai karya realis pertama, karya ini juga terkenal karena ide-idenya yang membantah kecendrungan masyarakat melayu yang berpegang kukuh pada ajaran nenek moyang, serta struktur hikayatnya yang nyaris meniadakan pergolakan batin dalam setiap karya-karyanya.

Selain kedua hikayat di atas, masih terdapat beberapa hikayat kesusastraan pujangga lama yang termasyhur hingga sekarang ini, seperti Hikayat Budiman yang mengambil setting India, meskipun sebenarnya karya ini merupakan hasil adaptasi dari karya Kaddi Hasan dari Persia. Selain itu, ada juga Hikayat Isakandar Zulkarenain yang berceritakan mengenai raja Masedonia, Iskandar Zulkarenain, dan masih terdapat banyak hikayat lain, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Sri Ratna, Hikayat Muda Cik Leman, dan lainnya.

Syair, Pantun, dan Gurindam

Dalam perkembangannya, bentuk syair pada masa pujangga lama merupakan puisi yang mementingkan irama sajak dengan pola a-a-a-a yang setiap barisnya mengandung maksud dari penyair. Berbeda dengan syair, pantun lebih berpola a-b-a-b dengan dua baris pertama seringkali menggambarkan alam sebagai bagian dari sisipan, namun tidak memiliki hubungan dengan baris ketiga dan keempat yang merupakan bagian inti dari pantun tersebut. Baris pertama dan kedua pada pantun berfungsi sebagai pembentuk rima, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi dari pantun tersebut.  Jika pantun dan syair terdiri atas 4 baris, maka berbeda dengan Gurindam. Gurindam merupakan pusi melayu lama yang hanya terdiri atas 2 baris dengan irama akhir yang sama.

Di antara ketiga bentuk kesusastraan masa pujangga lama tersebut, pantun mengkin merupakan bentuk kesusastraan yang paling dekat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Pantun tidak hanya bicara soal adat istiadat, budaya, nilai-nilai moral saja tetapi juga terdapat dalam bentuk humor, dan percintaan sehingga penggunaannya lebih sering digunakan jika dibanding dengan syair dan gurindam.  Pantun tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menjaga suatu bahasa, tetapi juga untuk melatih alur berpikir seseorang.

Syair pada masa pujangga lama merupakan bentuk kesusastraan yang diadaptasi dari Arab, dengan Hamzah Fansuri sebagai salah satu tokoh persyairan yang terkenal pada masa itu. Selain dikenal sebagai seorang pujangga melayu terbesar masa pujangga lama, Fansuri juga dikenal sebagai salah satu pujangga sufi dengan gelar Jalaludin atau Rumi kepulauan nusantara. Karya-karyanya seringkali berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan filsafat ilmu tasawuf, sehingga syair-syairnya tersebut sulit dimengerti dan butuh pembacaan yang mendalam.

Gurindam biasanya digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan nasehat, bentuknya terdiri atas dua baris yang masing masing barisnya terdiri atas 10 hingga 12 suku kata. Meskipun terdiri atas dua baris saja, namun gurindam mampu membentuk satu kalimat yang sempurna dengan baris-baris yang berhubungan persyaratan dan konsekuensi. Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang” merupakan salah satu contoh gurindam. Dengan melihat contoh tersebut kita dapat melihat bahwa gurindam memiliki irama yang sama dengan nilai-nilai moral dan nasehat yang terkandung di dalamnya.

Pada masa pujangga lama masih terdapat beberapa bentuk kesusastraan yang disampaikan secara lisan, bukan tulisan. Namun, perkembangannya tidaklah seluas karya sastra yang mulai ditulis dan dibukukan. Penggunaan Bahasa Melayu sendiri dalam kesusastraan pujangga lama merupakan akibat dari pergesekkan budaya Melayu dan Arab serta pengaruh datangnya agama Islam, sehingga banyak sekali bentuk-bentuk kesuasatraan pujangga lama yang memang sengaja ditulis dalam Bahasa Arab Melayu.

Loading...