Angkatan pujangga baru adalah angkatan yang hadir untuk menggantikan angkatan balai pustaka yang berjaya sebelumnya. Angkatan ini disebut dengan angkatan pujangga baru karena angkatan ini dipublikasikan lewat majalah pujangga baru. Dalam kesusastraan Indonesia, penggunaan istilah angkatan-angkatan menjadi pembagi antara suatu masa kesusastraan tertentu. Penggolongan menurut angkatan hadir sebagai akibat dari pembagian karakteristik kesusastraan suatu kelompok dengan karakteristik yang jauh berbeda dengan ciri-ciri karya sastra yang berkembang pada masanya.

Pujangga baru lahir sebagai angkatan yang mendapat pengaruh yang sangat besar dari karya sastra Belanda, berbeda dengan angkatan balai pustaka yang penekanan karya-karyanya lebih kepada pembenaran praktek kolonialisme. Pujangga baru lahir sebagai angkatan yang mulai beralih dari tema-tema seputar kawin paksa, pertentangan antara kelompok tua dan muda dan menggantikannya dengan tema-tema yang lebih bersemangat dan cita-cita yang baru. Para penulis pada masa pujangga baru juga tidak lagi didominasi oleh penulis-penulis Sumatra saja, tetapi terdapat banyak penulis dengan latar belakang budaya yang lebih beragam.

Visi dan Misi Angkatan Pujangga Baru

Sebagai angkatan pengganti masa balai pustaka, angkatan pujangga baru hadir dengan membawa visi dan misi yang jauh berbeda dengan pendahulunya. Jika angkatan balai pustaka hadir untuk menggantikan karya-karya melayu lama yang terkesan liar dan cabul, maka berbeda dengan karya-karya angkatan pujangga baru yang bervisi-misikan kemajuan ke arah modernisasi dengan nilai juang. Berikut adalah visi dan misi utama dari angkatan balai pustaka:

  1. Visi dan misi utama dari lahirnya angkatan pujangga baru adalah untuk memajukan perkembangan dari karya sastra Indonesia.
  2. Perkembangan karya sastra yang dimaksudkan oleh pujangga baru adalah menciptakan ciri-ciri keindonesiaan yang lebih merdeka dan berintelektual.
  3. Menyampaikan gelora juang yang merdeka.

Pada masa-masa perkembangan angkatan pujannga baru, karya-karya yang dihasilakan oleh para penulis golongan ini lebih bersifat idealisme tanpa harus mengurangi nilai-nilai romantisme yang terdapat di dalamnya. Karya-karya yang dihasilkan juga kebanyakan dipengaruhi oleh tulisan dan karya-karya yang dihasilkan oleh angkatan 1880 Belanda, yang pada masa itu memang lebih banyak mengambil tema-tema romantis realistik.

Sutan Takdir, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah

Tiga penulis yang memegang peranan kunci pada masa perkembangan kesusastraan Indonesia angkatan pujangga baru adalah Sutan Takdir, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah.  Ketiga sastrawan Indonesia ini merupakan para penulis yang mampu melawan aliran kesusastraan balai pustaka yang sebelumnya mengidola. Mereka tidak lagi berbicara mengenai otoritas orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka, namun mereka dengan berani mengemukakan cita-cita baru yang lebih bergairah dalam kesusastraan Indonesia.

Sutan Takdir adalah seorang penulis yang sangan lekat dengan penggunaan tema-tema yang berbau romantis idealistik. Takdir berpendapat bahwa jika Indonesia ingin maju seperti negara-negara lainnya, maka Indonesia harus mau mencontoh dari dunia barat. Dengan kata lain, Takdir melihat dunia barat sebagai sumber dari modernitas dan ilmu pengetahuan yang mampu menjawab tantangan dari masa depan. Sebagai seorang sastrawan, Takdir melihat sastra tidak hanya sebagai sebuah karya seni bahasa saja, tetapi juga sebagai alat yang berfungsi sebagai pembentuk perubahan sosial.

Sanusi Pane, merupakan penulis Indonesia selanjutnya yang juga memiliki peranan penting dalam kesusastraan pada angkatan pujangga baru. Pemikirannya mungkin sedikit berbeda dengan Sutan Takdir yang lebih melihat Indonesia sebagai pihak yang harus belajar dari dunia barat. Sanusi Pane beranggapan bahwa keseimbangan antara barat dan timur (Indonesia) sangat diperlukan dalam perkembangan kenusantaraan baik yang berhubungan dengan kesusastraan maupun kehidupan sosial. Kita boleh belajar dari dunia barat, namun jangan sampai lupa dengan akar budaya bangsa yang juga merupakan identitas kita.

Karya-karya yang dihasilkan oleh Sanusi Pane lebih menekankan kepada potensi kerohanian dan tidak meninggalkan nilai-nilai religuitas. Meskipun Sanusi Pane mengangkat topik-topik religuitas ke dalam karya-karyanya, namun bukan berarti karya-karya yang dihasilkannya lebih bersifat keagaamaan. Karena selain mengangkat tema-tema spiritual, dia juga menegaskan para pembaca karya sastranya untuk juga tidak lupa menambahkan aspek-aspek semangat keduniaan. Dengan demikian, karya-karya yang dihasilkannya melambangkan keseimbangan antara kehidupan duniawi yang bercita-cita tinggi tanpa harus melupakan bekal akhirat.

Tokoh ketiga yang juga memegang peranan penting dalam kesusastraan angkatan pujangga baru adalah Amir Hamzah. Amir Hamzah merupakan salah satu penyair andalan pada masa itu, karena sosoknya mampu menggali kembali khasanah lama Bahasa Melayu yang kemudian dirangkai menjadi suatu puisi yang romantis. Karya-karya yang dihasilkan oleh Amir Hamzah lebih bersifat melankolis romantis, dengan penggunaan tema-tema yang berkaitan dengan kerinduan, kehausan akan kasih tuhan, dan rasa cinta anak manusia.

Selain tiga tokoh kesusastraan Indonesia yang tersohor tersebut, masih terdapat beberapa penulis lain yang juga eksis dalam kesusastraan Indonesia angkatan pujangga baru, di antaranya adalah Jan Engelbert Tatengkeng, Selasih atau yang juga dikenal dengan Sariamin, I Gusti Nyoman Aak Agung Panji Tisna, Fatimah Hasan Pelais, Suman HS, dan Manus Rahim Dayoh.
Tidak semua penulis dan sastrawan yang berkiprah pada masa pujangga baru merupakan bagian dari angkatan pujangga baru.

Hal ini terjadi karena beberapa penulis memang memiliki aliran yang tidak sejalan dengan apa yang telah diusung oleh para pujangga baru. Beberapa pengarang pada masa pujangga baru memang memiliki konsep kesusastraan yang berbeda dengan angkatan yang berkembang pada masa itu, seperti Buya Hamka, Muhammad Ali Hasyim, Samadi, Rifai Ali, dan Matunoma. Kebanyakan karya sastra yang tidak menjadi bagian dari karya pujangga baru merupakan karya-karya bernilai Islami, di mana penyair-penyairnya lebih menekankan syariat Islam dalam syair-syair yang mereka buat. Bahkan, di antara mereka, selain menjadi sosok sastrawan juga menjadi tokoh keagamaan dan keislaman seperti Buya Hamka.
 

Loading...