Puisi adalah karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa secara khas. Kegiatan membaca puisi pada dasarnya merupakan kegiatan apresiasi sastra. Secara sederhana, apresiasi sastra dapat menjadi suatu usaha untuk memperoleh makna. Jadi, upaya untuk mendapatkan makna merupakan hal yang penting bagi seorang pembaca. Puisi adalah karya sastra yang padat akan makna, oleh karena itu perlu bagi kita untuk mengetahui cara dan metode dalam menginterpretasikan makna puisi. Proses interpretasi dan penafsiran yang dilakukan tidak hanya dalam artian sempit, tetapi juga penafsiran dalam artian luas. Intinya dari semua proses itu disebut sebagai pemaknaan.

Pemaknaan merupakan proses dalam memaknai suatu karya sastra. Puisi merupakan aktivitas bahasa. Dalam puisi, kata-kata yang digunakan adalah singkat, padat, dan terikat oleh aturan tertentu. Ciri khas puisi adalah mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda. Puisi menyatakan satu hal dengan memaksudkan hal lain. Dalam pembacaan puisi, “hal lain” inilah yang diungkapkan atau disebut juga dengan makna puisi tersebut.

Sebelum memaknai sebuah puisi, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Dunia puisi dan segala teori-teori yang lazim digunakan untuk menganalisis sebuah puisi. Seseorang tidak akan bisa memperoleh makna sebuah puisi apabila tidak pernah bersentuhan dengan dunia puisi itu sendiri. Apalagi tidak pernah memahami teori-teori yang digunakan dalam menganalisis puisi akan menjadi hambatan dalam pemaknaan puisi.
     
  • Perspektif sejarah. Berdasarkan jiwa zamannya, sifat-sifat puisi cenderung berganti arah karena kondisi kesejarahan atau periode tertentu. Misalnya, puisi-puisi periode pujangga baru sangat berbeda dengan tema puisi angkatan 45.
     
  • Puisi sebagai hasil kebudayaan. Puisi terbentuk dari hasil kebudayaan masyarakat yang ada di sekitarnya. Konteks sosial pengarang tidak akan lepas dari pemaknaan puisi itu sendiri karena pengarang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakat di mana pengarang itu berada.

Pemaknaan puisi secara ilmiah harus menggunakan teori-teori yang relevan. Tidak semua teori sastra bisa diterapkan sebagai pisau dalam menganalisis sebuah puisi. Hal ini disebabkan struktur puisi yang berbeda dengan prosa atau drama. Ada beberapa teori yang lazim digunakan dalam membongkar makna tersirat yang ada dalam puisi, di antaranya adalah sebagai berikut.

Analisis Strata Norma

Teori ini dikemukakan oleh Roman Ingarden, bahwa karya sastra tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri atas beberapa lapis norma (Pradopo, 2007: 14). Lapis norma tersebut adalah lapis bunyi, lapis arti, lapis dunia, dan lapis metafisik.

Lapis bunyi (sound stratum) adalah lapis pertama. Puisi merupakan satuan bahasa yang memperhatikan aspek bunyi sebagai fungsi estetiknya. Lapis bunyi dalam puisi adalah semua bunyi yang berdasrkan konvensi bahasa tertentu. Biasanya dalam bahasa Indonesia, aspek keindahan bunyi terdapat pada bunyi akhir yang sama. Misalnya kata memancar-si pacar dipadankan di akhir kalimat sehingga efek puitis bunyinya sangat terasa.

Lapis arti (units of meaning) merupakan lanjutan setelah lapis pertama. Fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat semuanya itu adalah satuan-satuan arti. Dalam hal ini, pencarian makna mulai dilakukan. Mulai dari satuan terkecil, yaitu fonem sampai pada kalimat yang utuh adalah lapis arti yang dapat menimbulkan makna.

Lapis ketiga adalah dunia pengarang. Maksud lapis ini adalah berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang. Dunia pengarang adalah ceritanya, merupakan dunia yang diciptakan oleh pengarang.  Hal ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya. Lapis keempat adalah lapis “dunia” yang tidak perlu dinyatakan, tetapi sudah implisit. Lapis kelima adalah lapis metafisik. Lapis ini berupa sifat-sifat metafisis (gaib, suci, sublim, dan sebagainya) yang bertujuan dapat menimbulkan nilai seni dan dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Tidak semua puisi ada lapis metafisik di dalamnya.

Analisis strata norma menurut Roman Ingarden ini hanya berupa analisis puisi secara formal dan sederhana. Nilai seni puisi belum dikemukakan secara mendetail. Oleh karena itu, analisis strata norma harus ditingkatkan ke analisis berikutnya dengan menggunakan teori yang lebih mendalam.

Analisis Stuktural

Sebuah puisi dibangun atas unsur-unsur yang menjadi kesatuan yang utuh. Pembahasan puisi berdasarkan strata norma tidaklah cukup. Pemaknaan hendaklah dilanjutkan agar tercipta koherensi yang padu. Norma-norma puisi atau unsur-unsur sajak yang saling berkaitan tersebut perlu dianalisis secara struktural.

Analisis struktural adalah analisis yang melihat unsur-unsur struktur sajak itu saling berkaitan. Sebuah unsur tidak lepas maknanya dengan unsur yang lain. Strukturalisme merupakan cara berpikir tentang dunia dan kaitannya dengan struktur-struktur. Kodrat tiap unsur dalam struktur tidak mempunyai makna dengan sendirinya, tetapi ditentukan oleh hubungan antarstruktur (Hawkes, 1978: 17-18).

Berdasarkan pengertian struktural, maka analisis difokuskan hanya terhadap struktur puisi itu sendiri. Ada 3 ide dasar dalam analisis struktural, yaitu kesatuan, transformasi, dan pengaturan diri sendiri (self regulation). Pertama, kesatuan maksudnya adalah struktur merupakan keseluruhan yang bulat. Bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua, transformasi maksudnya adalah bahwa struktur itu tidak statis, ada gagasan transformasi di dalamnya. Ketiga, pengaturan diri sendiri maksudnya adalah tidak memerlukan bantuan dari luar dirinya.

Karya sastra merupakan suatu struktur yang kompleks. Antara unsur-unsur struktur ada koherensi atau pertautan yang erat. Jadi, untuk memahami sajak puisi, haruslah diperhatikan jalinan atau hubungan unsur-unsurnya sebagai bagian dari keseluruhan. Hal inilah yang menjadi ciri khas pemaknaan struktural. Akan tetapi, pemaknaan ini masih belum sempurna karena hanya terbatas pada otonom puisi sendiri. Makna yang utuh akan diperoleh jika puisi dikaitkan dengan faktor luar (ekstrinsik) seperti lingkungan pengarang, intertekstual, dan periode sejarah puisi itu dilahirkan.

Analisis Semiotik

Semiotika (semiotic) didefenisikan oleh Ferdianand de Saussure di dalam Course in General Lingusitic, sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Maksudnya adalah bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social code) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. 

Menurut Eco (1979: 3), semiotika secara umum mencakup dua pengertian, yaitu tentang kode-kode (a theory of codes) dan teori tentang produksi tanda (a theory of sign production). Jadi, semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana tanda-tanda (sign) dan berdasarkan pada sistem tanda (sign system/code). Dalam pemaknaan karya sastra, semiotika memegang peranan penting karena karya sastra merupakan fakta semiotika. Semiotika cenderung berorientasi pada jagad simbolik, memandang seluruh fenomena kebudayaan sebagai sistem penandaan yang bersifat kognitif (Faruk, 1999: 9).

Karya sastra merupakan struktur tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan tanda, sistem tanda dan konvensi tanda, karya sastra tidak dapat diketahui maknanya secara optimal (Pradopo, 1995: 118). Makna karya sastra dibentuk berdasarkan susunan bahasa. Bahasa dapat dipelajari sebagai sebuah sistem semiologis tanda-tanda yang mengungkapkan berbagai macam gagasan, dan dapat dipahami secara tepat dengan cara membandingkannya dengan sistem-sistem tanda lain (Strinati, 2010: 152). Bahasa itu sendiri merupakan sistem semiotika tingkat pertama yang sudah memiliki arti leksikal sebelum diterapkan pada karya sastra. Bahasa dalam karya sastra merupakan sistem semiotika tingkat kedua yang maknanya ditentukan berdasarkan konvensi sastra.

Dalam memaknai puisi, Michael Riffaterre dalam bukunya Semiotic of Poetry, telah memberikan metode dan langkah kerja yang jelas dan bertahap. Tujuan proses pemaknaan adalah untuk menemukan makna dari meaning (arti) ke significance (makna). Pemaknaan dilakukan dengan adanya ketidakkarenaan ekspresi puisi (penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti), pembacaan heuristik dan hermeneutik (retroaktif), matriks, model, dan varian-varian serta hipogram. Semua itu menjadi proses signifikansi (pemaknaan) terhadap puisi.

Cara kerja pemaknaan puisi dengan metode Riffaterre memiliki hubungan dan keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Langkah-langkah kerja yang diawali oleh ketidakkarenaan ekspresi, lalu dilanjutkan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Proses penafsiran yang menjadi jembatan antara heuristik dan hermeneutik adalah interpretan. Pembacaan dilakukan secara bolak-balik untuk menemukan maknanya. Matriks, model, dan varian menjadi gambaran umum sekaligus kata kunci makna puisi. Kemudian, keberadaan teks lain menjadi hipogram yang menambah kekayaan makna secara intertekstual. Hubungan cara kerja Riffaterre tersebut saling terkait, misalnya antara model dan varian, matriks dan model, serta hipogram dan matriks. Dengan demikian, makna yang utuh akan ditemukan dalam puisi.

Pemaknaan puisi dilaksanakan dalam rangka membongkar makna tersirat yang terdapat di dalamnya. Puisi mengandung sesuatu yang tidak gramatikal sehingga artinya terpecah dari pengertian semestinya. Oleh karena itu, dibutuhkan proses penafsiran yang lebih mendalam dengan menggunakan teori-teori untuk menemukan maknanya yang sempurna. Hal itu dilakuan agar keindahan puisi dan kedalaman maknanya bisa kita rasakan bersama.