Aliran linguistik selanjutnya adalah aliran Kopenhagen. Dalam kajian linguistik yang dikembangkan Hjemslev, pengaruh pandangan Saussure tampak pada pemilihan expression-from, dan content-form yang keduanya menjadi bagian dari sign function. Hjemslev banyak dipengaruhi oleh ajaran Saussure, hal ini sehubungan dengan pernyataan, “Saussure put at the heart of his work the extremely problematical thesis, which was also taken up by Hjemslev in his Prolegomena to a Theory of Language” (Innis, 1985:28).

Kopenhagen sendiri adalah ibukota dari Negara Denmark. Dalam bahasa Inggris ejaannya adalah Copenhagen. Nama ini berasal dari kata Købmandshavn yang artinya pelabuhan saudagar. Dari ibukota Denmark ini lah salah satu aliran linguistik lahir dan dikenal oleh dunia.

Teori Linguistik dalam Wawasan Hjemslev

Dari sejumlah tokoh pengembang aliran Kopenhagen, tokoh yang begitu besar pengaruhnya hingga saat ini ialah Hjemslev. Bertolak dari kenyataan tersebut, kajian tentang aliran Kopenhagen lebih banyak dipusatkan pada wawasan yang dikembangkan Hjemslev. Besarnya pengaruh Hjemslev dalam kajian kebahasaan ditunjukkan terutama setelah tokoh ini mengembangkan wawasan prolegomena dalam mengembangkan teori linguistik serta setelah tokoh bersama-sama Uldall mengembangkan teori yang disebut Glosematik.

Menurut Hjemslev, bahasa sebagai objek kajian linguistik terus didudukkan sebagai struktur sui-generis (bagian dari struktur yang unik) yang memiliki totalitas, dan otonominya sendiri. Dengan kata lain, bahasa merupakan gejala ujaran manusia yang berkedudukan sebagai wahana berpikir, merasa, menyusun, serta menyampaikan wawasan, dan berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakatnya.

Sehubungan dengan pendapatnya itu, dengan tegas Hjemslev membedakan antara fungsi eksternal bahasa yang berkaitan dengan unsur-unsur non-linguistik dengan struktur internal bahasa yang mendapat istilah sebagai ‘a system of figuree’.

Selain diartikan sebagai sistem hipotetik, juga harus dibebaskan dari berbagai pengalaman empiris. Itu bukan berarti bahwa pengembangan teori dapat dilepaskan dari korpus data kajian. Anggapan ini muncul karena adanya wawasan bahwa teori harus berdasarkan pada sistem deduksi murni. Bertolak dari deduksi tersebut maka dikembangkan premis-premis yang bersifat hipotetik.

Sebab itulah, walaupun teori dalam wawasan Hjemslev dibebaskan dari pengalaman empiri, sebuah teori haruslah memadai, dalam pengertian dapat digunakan sebagai dasar dalam mengkaji serta memahami gejala. Bagi Hjemslev, penyusunan sistem dedukasi murni bukan merupakan murni imajinatif, melainkan harus diawali dengan kegiatan analisis menuju spesifikasi.

Bahasa sebagai ‘a system a figuree’ harus disikapi sebagai totalitas. Bahasa bukan natural. Dan bukan pula ada pada subtansinya tetapi ada dalam keterjalinan hubungan. Meskipun sasaran kajian terbatas hanya pada realisasi internal, keberadaan bahasa sebagai totalitas pada dasarnya ada dalam hubungan internal-eksternal.

Dalam metode ini, kita juga akan menemukan sebuah cara yaitu melalui komutasi antarsegmen, tetapi hal ini mempunyai dampak yang negatif. Dampak negatif tersebut berupa gejala sinkretisme dan gejala oplosing. Gejala sinkretisme adalah paradigma yang dapat memiliki hubungan tumpang-tindih antar satu dengan yang lainnya, meskipun mereka sebenarnya tunggal. Sedangkan gejala oplosning adalah timbulnya varian sinkretisme atau syncretism-variety yang justru dapat dijadikan pangkal otak dalam memberikan ciri penanda elemen-elemen tertentu.

Model Analisis yang Dikembangkan

Pengertian penelitian jika dilihat dari sisi masalah ini adalah pemerian objek kajian yang mengandung sejumlah unsur dalam berbagai tingkatannya, yang memiliki ketergantungan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

Butir-butir yang memiliki ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya pada strata awal disebut kelas. Antara kelas yang satu dengan yang lain lebih lanjut dapat membentuk kesatuan yang pada dasarnya juga menciptakan adanya hubungan ketergantungan pada strata selanjutnya. Kesatuan antar kelas secara demikian disebut komponen kelas. Sejumlah istilah kunci yang berkaitan dengan analisis butir-butir tersebut antara lain deskripsi, objek, dependensi, dan uniformity.

Setiap kelas pada tataran yang lebih kecil mengandung subkelas yang pada setiap sisi lain juga membentuk hierarki. Kelas sebagai bagian dari proses disebut chain. Sementara komponen dalam chain disebut bagian. Kelas sebagai bagian dari sistem linguistik disebut paradigm, sementara komponen dalam paradigm disebut anggota. Analisis yang berlangsung pada butir proses disebut partition, sedang analisis pada tahapan sistem disebut articulation.

Prosedur analisis yang ditempuh ada dalam lingkar hubungan deduksi, dan induksi, dalam cara kerja secara deduktif, setiap kelas maupun komponen dianalisis sesuai dengan keberadaannya sebagai hasil bagian dari totalitasnya. Lewat analisis secara demikian, diharapkan dapat ditemukan keselarasan konsep yang bukan hanya berlaku pada segmen, tetapi berlaku bagi segmen, antar segemen, dan totalitasnya.sedangkan analisis secara induktif, berkaitan dengan deskripsi objek dalam kelas maupun komponen itu sendiri.

Prosedur induktif, bukan lagi ditempuh secara analitis, melainkan secara sintesis. Karena tujuan akhir analisis adalah memperoleh pemerian tentang kelas, komponen, hubungan masing-masing dalam keutuhan, maupun pada ciri totalitas itu sendiri, maka antara cara kerja secara deduktif, dan induktif diharapkan saling melengkapi dan membuahkan hasil kajian yang utuh, tuntas, dan selesai.

Ada sementara anggapan bahwa teori maupun model analisis linguistik yang dikembangkan Hjemslev sangat sulit dipahami. Sampson misalnya, mengungkapkan bahwa tokoh pengembang Glosematik ini hanya menyajikan perangkat terminologi yang sangat rumit, sehingga meskipun telah dibuahkan perangkat hipotesis, arah konkrit penghubung hipotesis dengan data kajian masih sulit ditetapkan.

Glosematik yang berasal dari kota Yunani Glossa menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, yang memberikan struktur khas bahasa dan yang menganggap bahasa tidak sebagai bagian dari gejala psikologis, gejala sosial, atau gejala non-bahasa lainnya. Teori bahasa haruslah arbitrer, artinya ia harus suatu sistem deduktif. Suatu teori harus bebas dari pengalaman apapun, tetapi teori itu harus tepat (appropriate), yakni harus memenuhi syarat untuk ditetapkan pada data empiris tertentu, yaitu bahasa. Agar dapat dipakai secara empiris teori bahasa haruslah tata asas, tuntas, dan sederhana.

Dalam aliran Kopenhagen terlihat bahwa berbagai pemikiran baru terus bermunculan. Para tokoh linguistik yang mengemukakan pendapatnya tentang ilmu bahasa juga semakin banyak. Pada aliran ini, Anda akan dikenalkan dengan pemikiran dari Hjemslev dan Sampson.