Pada bagian sebelumnya kita telah membahas empat aliran sastra yang meliputi: romatisme, ekpresivisme, simbolisme, dan mistisisme. Pada bagian kedua ini kita akan membahas beberapa jenis aliran sastra lainnya yang juga merupakan bentuk-bentuk kecenderungan kesusastraan yang terdapat di Indonesia. Seperti yang kita bahas sebelumnya, aliran sastra terbentuk akibat kecenderungan pembangunan kesusastraan pada masa tertentu, atau bisa saja dipengaruhi oleh pandangan hidup pengarang yang membangun karya sastra tersebut. Selain sebagai suatu bentuk pengelompokkan karya sastra, aliran kesusastraan ini memungkinkan untuk digunakan dalam penganalisisan karya sastra. Aliran kesusastraan ini kemudian juga dapat diaplikasikan dalam bentuk seni lainnya, seperti pada aliran pada seni lukis, drama, dan bahkan merambah dunia filsafat.

Berikut kita akan melihat aliran keusastraan lainnya yang biasa diaplikasikan dalam penelitian kesusastraan.

1. Aliran Realisme dan Surrelisme

Aliran Realisme muncul pada abad ke-18 dengan menitikberatkan penelitiannya pada realistas kehidupan. Jika pada karya-karya sastra kita biasanya menemukan ide-ide imajitanif untuk mengutarakan apa yang ingin dimaksudkan dengan menggunakan penyimbolan dan sebagainya, maka pada aliran realisme kita hanya akan melihat suatu karya itu sebagai kumpulan data-data faktual yang dapat kita temukan di lapangan dalam kehidupan sehari-hari. Karya-karya yang dianggap merupakan bagian dari aliran realisme ini dapat berbentuk seperti; biografi, autobiografi atau kisah nyata yang kemudian diceritakan kembali. Jadi, bisa digeneralkan bahwa karya-karya yang berintikan kenyataan atau kejadian yang terjadi di sekitar kita merupakan bentuk-bentuk karya sastra yang bia dikategorikan kedalam aliran realisme. Karena karya-karya tersebut haruslah merupakan fakta atau realita yang kemudian dituliskan kembali dengan menggunakan bahasa yang indah.

Meskipun aliran ini muncul pada abad ke-18, namun penggunaannya lebih sering dalam penganalisisan karya-karya yang populer di abad ke-19, terutama pada karya-karya yang berbentuk prosa fiksi. Alasan kenapa aliran ini lebih sering digunakan dalam penganalisisan karya sastra abad ke 19, karena  abad tersebut bentuk prosa fiksi seringkali berintikan kejadian nyata yang terjadi di sekitar pengarang sehingga karya-karya tersebut tidak semata-mata dianggap sebagai karya imajinatif, tetapi juga merupakan penggambaran realita mengenai kejadian yang terjadi pada masa itu. Selain berbicara soal fakta, Aliran ini juga seringkali digunakan untuk melihat bagaimana penggambaran mengenai kehidupan yang kemudian dituangkan dalam karya sastra. Seperti yang terdapat dalam beberapa karya sastra seperti: novel Fatimah oleh Titie said atau Bilik Bilik Muhammad oleh A R Baswedan.

Jika pada aliran realisme kita melihat karya sastra sebagai penggambaran realitas kehidupan dengan mengindahkan kenyataan dan fakta yang ada, maka pada aliran surealisme kita lebih melihat karya sastra sebagai bentuk kebebasan berkreativitas dan berimajinasi sehingga hasil karya yang dihasilkan akan lebih bersifat anti realitas karena nilai imajinatif yang tinggi yang terdapat dalam karya sastra tersebut. bahkan seringkali, nilai imajinatif yang terdapat dalam karya sastra yang beraliran surelisme menyentuh nilai radikal yang membuat karya sastra tersebut bertentangan jauh dengan kenyataan dan fakta yang ada dalam masyarakat. Beberapa karya sastra dengan aliran surelisme dapat kita lihat dari beberapa sajak yang dihasilkan oleh Rendra seperti; Khotbah dan Nyanyian Angsa atau pada karya Godlob dan Kecubung Pengasihan yang ditulis oleh Danarto.

2. Aliran Filsafatisme dan Nihilisme

Filasafat seringkali menjadi bahan acuan dasar dalam pembangunan tubuh sebuah karya sastra, beberapa pengarang Indonesia seperti R A Kartini, Putu Wijaya dan Iwan Simatupang merupakan beberapa penulis Indonesia yang memasukkan nilai-nilai filsafat kedalam karya-karya yang mereka hasilkan. Nilai-nilai filsafat yang biasanya diangkatkan dalam karya sastra mereka biasanya meliputi pemaknaan terhadap hidup baik yang sifatnya humanis ataupun lebih mengarah kepada pandangan religius yang datang dalam individu diri mereka masing-masing.

Jika Filsafatisme merupakan aliran kesusastraan dengan nilai-nilai filsafat tinggi, berbeda dengan aliran nihilisme yang mengangkat nilai-nilai kenihilan. Aliran Nihilisme merupakan aliran kesusastraan berikutnya yang juga merupakan salah satu golongan penting dalam pengkajian kesusastraan Indonesia. Aliran ini pada dasarnya hampir mirip dengan aliran filsafatisme yang sudah kita bahas sebelumnya di atas, karena pada penggunaan aliran ini  biasanya peneliti kesusastraan diminta untuk mengekspose kejadian kejadian yang ada dalam kehidupan kita dengan menggunakan pendekatan penganalisisan tubuh karya sastra yang menyentuh nilai-nilai filsafat yang terkandung didalam karya sastra tersebut. Namun, bedanya pada karya-karya nihilisme, nilai-nilai filsafat tersebut tidak didasari nilai moral kemanusiaan apalagi nilai-nilai ketuhanan sehingga karya-karyanya lebih bersifat atheisme.  Salah satu karya sastra yang terkenal dengan aliran nilihisme nya adalah karya Atheis oleh Achidiat Kartamihatdja.

3. Aliran Naturalisme dan Determinisme

Dalam aliran naturalisme, kita akan menemukan bagaimana penggambaran kehidupan manusia. Memang terdengar seperti aliran realis memang, namun bedanya jika pada aliran realis penggambaran tersebut merupakan data faktual yang disalinkan kembali maka pada aliran naturalisme penggambaran yang terdapat dalam karya sastra tersebut lebih bersifat negatif. Tujuan utama dari aliran ini adalah untuk mengambarkan apa yang ada di dalam karya sastra tersebut secara terus terang tanpa mempedulikan dampak-dampak yang terjadi akibat aspek-aspek negatif yang terdapat dalam karya sastra. Dalam proses membangun sebuah karya sastra yang bersifat naturalis, para pengarang tidak segan-segan menggambarkan kemesuman sehinggal lebih mengarah kepada pornografi atau praktik-praktik mengenai skandal dengan penggunaan bahasa yang tajam dan bebas.

Sementara aliran Determinasi merupakan cabang atau aliran peranakan dari naturalisme. Dalam aliran determinasi karya-karya yang dihasilkan cenderung menggambarkan penderitaan seseorang yang diakibatkan oleh keadaan masyarakat yang bobrok. Jika ditarik secara garis besar maka, aliran ini berupaya menjelaskan bahwa suatu peristiwa disebabkan oleh satju kondisi tertentu yang mengakibatkan peristiwa itu terjadi. Pandangan aliran ini lebih memerhatikan hubungan sebab akibat, yang menekankan bagaimana sebab-sebab tertentu menghasilkan akibat pada masa sekarang. Aliran determinisme ini juga deringkali disebut dengan istilah “paksaan nasib” yang menggambarkan bagaimana karakter-karakter yang terdapat dalam karya sastra tersebut dikuasai oleh nasib yang dideritanya sehingga mereka tidak mampu melawan takdir yang ada pada diri mereka.

Selain dari aliran-aliran tersebut diatas masih terdapat beberapa aliran lainnya yang juga memungkinkan untuk diaplikasikan dalam penganalisisan kesusastraan seperti beberapa aliran dibawah ini:

  • Aliran idealisme: aliran yang mengungkapkan ide-ide idealisme dalam karya sastra yang menggambarkan perasaan dan cita-cita
  • Aliran Ironisme: aliran yang lebih bersifat mengejek-ngejek dengan menggunakan sindiran-sindiran seperti yang terdapat dalam karya Melaut Benciku karya Amir Hamzah atau Kisah Sebuah Celana Pendek yang ditulis oleh Idrus.
  • Aliran melankolisme; sama seperti namanya, aliran ini lebih mengedapankan kesuraman, kemuraman, tragis, dan kesedihan yang berlarut-larut dalam sebuah karya sastra. Beberapa karya sastra yang mengusung aliran ini adalah karya Tenggelamnya Kapat Van Der Wijk, Di bawah Lindungan Ka’bah, dan Buku Harian Seorang Pengganggur.
  • Aliran absurdisme; merupakan aliran yang lebih fokus pada hal-hal yang ada di luar logika manusia yang berhubungan dengan dunia imajinatif, ketidaksadaran dan terkadang cenderung terkesan mengada-ada.

Penjelasan di atas adalah jenis-jenis aliran yang dapat diaplikasikan dalam penganalisisan karya sastra dan bentuk kesenian lainnya, aliran-aliran tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan teori atau metode penganalisisan karya sastra, namun keberadaannya mampu sedikit banyak mempengaruhi hasil penelitian yang akan kita lakukan. Aliran kesusastraan dapat menggambarkan kecenderungan bentuk karya sastra yang ada pada suatu masa tertentu yang tergambarkan dalam tubuh karya sastra.

Meskipun aliran kesusastraan itu lahir dan berkembang pada masa-masa tertentu yang kemudian mendominasi pandangan para penulisnya masa itu, namun sebuah karya sastra tidaklah harus menganut aliran kesusastraan yang sama dengan aliran kesusastraan yang populer dan mendominasi pada masanya. Misalkan karya sastra aliran naturalisme tidak harus merupakan karya-karya yang lahir pada abad ke-19, bisa saja karya-karya naturalisme tersebut merupakan karya sastra yang lahir setelah abad ke-19 atau bahkan jauh sebelum aliran tersebut muncul.

Kunci dari aliran kesusastraan pada sebuah karya bergantung kepada pola pikir dominan pengarang si pembangun tubuh karya sastra yang kemudian menjadikan pemikiran-pemikiran tersebut menjadi tonggak dasar aliran kesusastraan pada karya sastra itu, jadi memungkinkan bagi seorang pengarang abad 21 untuk membangun karya sastra dengan menggunakan aliran naturalisme yang berkembang pada abad ke-19 atau jenis aliran kesusastraan lainnya.