Tahukah Anda pengertian dan dalil tentang aqdhiyyah (kehakiman)? Kata qadha artinya adalah ‘menguatkan dan menyelesaikan’. Imam Al-Jauhari mengatakan, “Qadha artinya menuntaskan dan menyelesaikan, dan qadhi adalah orang yang menuntaskan serta menyelesaikan masalah.dengan menentukan hukumnya.”

Dasar Kehakiman

Dasar mengenai kehakiman adalah firman Allah Swt. dan hadis Rasulullah saw.

1. Firman Allah Swt

2. Sabda Nabi Saw

Berikut ini sabda-sabda Nabi berkaitan dengan kehakiman.

  • “Apabila hakim berijtihad dalam menetapkan hukum lalu ia salah, maka ia mendapat satu pahala, dan kalau ia benar maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • “Apabila hakim duduk di tempatnya maka turunlah kepadanya dua malaikat yang membetulkan dan menunjukkanya ke jalan yang lurus selama ia tidak menyimpang. Kalau ia menyimpang, maka dua malaikat tersebut akan naik dan meninggalkannya.” (HR. Al-Baihaqy)

Syarat Menjadi Hakim

Di dalam disiplin ilmu fikih, syarat seseorang boleh menjadi hakim ada lima belas, yaitu sebagai berikut.

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Adil
  6. Laki-laki
  7. Mengetahui hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
  8. Mengetahui hukum-hukum yang terkandung di dalam hadis.
  9. Mengetahui hukum-hukum yang disepakati dan yang berbeda di kalangan ulama.
  10. Mengetahui cara-cara berijtihad.
  11. Mengerti bahasa Arab.
  12. Bisa mendengar.
  13. Bisa menulis.
  14. Bisa melihat.
  15. Sadar

Kondisi Hakim

Di dalam kitab fikih juga disebutkan ada tiga belas larangan untuk hakim saat memutuskan perkara, yaitu sebagai berikut.

  1. Tidak boleh dalam kondisi marah.
  2. Tidak boleh dalam kondisi lapar atau kehausan.
  3. Tidak boleh dalam kondisi kurang tidur.
  4. Tidak boleh dalam kondisi sangat sedih.
  5. Tidak boleh dalam kondisi sangat bergembira.
  6. Tidak boleh dalam kondisi sakit keras.
  7. Tidak boleh dalam kondisi sangat ingin buang air, baik besar maupun kecil.
  8. Tidak boleh dalam kondisi sangat mengantuk.
  9. Tidak boleh dalam kondisi cuaca sangat panas.
  10. Tidak bo;eh dalam kondisi cuaca sangat dingin.
  11. Hakim tidak boleh menanyai terdakwa kecuali setelah selesai dakwaannya.
  12. Hakim tidak boleh meminta terdakwa bersumpah, kecuali setelah pendakwa memintanya.
  13. Hakim tidak boleh mendiktekan alasan kepada salah satu pihak dan tidak boleh melecehkan para saksi.

Di dalam persidangan, hakim hanya boleh menerima kesaksian dari orang yang keadilannya sudah jelas. Tidak diterima kesaksian musuh terhadap musuhnya, kesaksian ayah terhadap anaknya, dan kesaksisan anak terhadap kedua orangtuanya.
Surat seorang hakim kepada hakim lain yang berisi keputusan-keputusan hukum tidak dapat diterima kecuali setelah ada kesaksian dua orang saksi yang menyaksikan isi surat tersebut.

Sunnah bagi Hakim

Ada beberapa norma susila bagi hakim dalam memutuskan perkara, yaitu sebagai berikut.

  1. Hakim hendaknya berkantor di pusat kota atau daerah. Tujuannya agar tercipta keadilan.
  2. Hakim hendaknya memiliki kantor yang luas agar tidak banyak orang yang bisa menyaksikan keputusan yang diambilnya
  3. Hakim hendaknya tidak menutup pintu saat keputusan yang diputuskannya.
  4. Hakim tidak boleh menggunakan masjid sebagai tempat untuk memutuskan perkara.

Nah, itulah ulasan seputar al-aqdhiyyah (kehakiman) berdasarkan ilmu fikih. Semoga bermanfaat!

Loading...