Bagaimanakah awal masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia? Pertanyaan ini tentu pernah keluar dari mulut pembaca, bukan? Nah, untuk menjawab pertanyan tersebut, penulis sudah menyiapkan sebuah bahasan menarik yang bisa Anda baca.

Mengenal Agama Hindu dan Buddha

Agama Hindu berasal dari India. Agama ini mengalami perkembangan sekitar tahun 1500 SM. Peradaban lembah Sungai Indus di India turut berperan melahirkan agama Hindu. Agama ini tumbuh dan berkembang ketika bangsa Aria melakukan ekspansi ke kota kuno Mohenjodaro dan Harappa, serta mendesak bangsa Dravida. Kemudian, bangsa Aria yang sudah menganut Politheisme memadukannya dengan kepercayaan bangsa Dravida. Perpaduan ini menghasilkan Hiduisme. Istilah Hindu sendiri berasal dari daerah asal perkembangan agama ini, yakni Lembah Sungai Indus.

Kitab suci Weda yang terdiri atas empat samhita (himpunan) merupakan sumber ajaran agama Hindu. Empat samhita dari kita Weda, antara lain Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Reg Weda isinya tentang syair puji-pujian untuk dewa. Sama Weda isinya soal nyanyian-nyanyian suci. Yajur Weda isinya tentang mantra-mantra untuk sebuah upacara keselamatan. Atharwa Weda isinya soal doa-doa untuk menyembuhkan penyakit.

Agama Hindu menyembah banyak dewa (Politheisme). Di antara banyak dewa itu, ada yang disebut Trimurti (Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi), yakni Dewa Brahmana yang berkedudukan sebagai pencipta alam semesta, Dewa Wisnu yang bertugas sebagai pemelihara dan pelindung, dan Dewa Siwa sebagai dewa perusak.

Di samping Trimurti, masih ada dewa yang dipuja, seperti Dewa Agni yang bertugas untuk memasak saat upacara keagamaan, dan Dewa Indra yang bertugas sebagai pembawa hujan. Selain kitab Weda, agama Hindu mengenal kitab sucia lain, yakni Kitab Upanishad dan Kitab Brahmana. Kitab Upanishad isinya mengenai ajaran makna hidup dan ketuhanan. Sedangkan Kitab Brahmana isinya soal ajarang tentang sesajian.

Agama Hindu mengenal sistem kasta untuk membagi masyarakat. Kasta atau tingkatan ini disebut juga Caturwarna, antara lain Kasta Brahmana, Kasta Ksatria, Kasta Waisya, dan Kasta Sudra. Kasta Brahmana terdiri atas kaum agamawan; Kasta Ksatria terdiri atas kaum bangsawan, raja dan keluarganya; Kasta Waisya terdiri atas kaum saudagar; dan Kasta Sudra terdiri atas buruh rendahan, petani, dan budak. Di luar kasta-kasta tadi, ada juga golongan Candala dan Pharia. Golongan ini merupakan orang-orang yang sudah melanggar batas-batas aturan kasta. Tempat suci bagi umat Hindu, yaitu Sungai Gangga dan Benares.

Buddha bermakna seseorang yang sudah lepas dari samsara (sengsara) dan sudah sadar. Sidharta Gautama mengajarkan agama Buddha di India sekitar tahun 531 SM. Dia awalnya adalah seorang pangeran dari Kerajaan Kapilawastu. Awalnya, Sidharta menyaksikan domunasi kaum Brahmana atas ritual agama di India. Belum lagi, kaum Brahmana turut campur juga dalam kegiatan pemerintahan. Selain itu, kaum hanya kaum Brahmana yang menguasai kitab suci Weda, sedangkan kasta lainnya hanya tahu kitab ini dari kaum Brahmana tanpa boleh mempelajarinya sendiri.

Di samping itu, Sidharta melihat jika sistem kasta di agama Hindu bisa memecah belah rakyat. Sistem kasta, menurutnya, mencerabut derajat dan martabat manusia yang sesungguhnya punya kedudukan sama. Sidharta juga menyadari, manusia itu kelak akan tua, sakit, dan mati. Sidharta melihat kalau kehidupan cuma penderitaan (samsara). Manusia menurutnya harus lepas dari samsara. Sidharta lalu memilih meninggalkan istana kerajaan dan melakukan semedi di bawah pohon Bodhi. Akhirnya, dia memperoleh pencerahan, dan ketika itu tercipta agama Buddha.

Tripitaka merupakan kitab suci agama ini. Artinya sendiri “tiga keranjang” dan ditulis dalam bahasa Poli. Kitab ini berisi beberapa ajaran, yakni Winayapitaka, Sutrantapitaka, dan Abdhidarmapitaka. Winayapitaka isinya tentang aturan dan hukum yang wajib dipraktikkan oleh penganut agama Buddha. Sutrapitaka isinya tentang nasihat dan ajaran sang Buddha. Abdhidarmapitaka isinya tentang penjelasan sekitar agama.

Pada perkembangannya, muncul dua aliran dalam agama Buddha. Hal ini disebabkan penafsiran yang berbeda-beda. Dua aliran tersebut, yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Hinayana. Pada dasarnya, Buddha Mahayana percaya bahwa seseorang bisa mencapai nirwana melalui usaha bersama. Sedangkan Buddha Hinayana percaya bahwa seseorang bisa mencapai nirwana atas usahanya sendiri.

Setiap agama pasti memiliki tempat suci. Jika agama Hindu menjadikan Sungai Gangga di India sebagai tempat suci mereka, agama dalam Buddha ada Kapilawastu, tempat lahirnya sang Buddha; Bodh Gaya, tempat sang Buddha bertapa dan memperoleh pencerahan; Benares atau Sarnath, tempat sang Buddha untuk pertama kalinya mengajarkan ajarannya; dan Kusinagara, tempat wafatnya sang Buddha.

Dalam agama Buddha, supaya bisa mencapai nirwana diwajibkan mengikuti Astavidha (delapan jalan kebenaran), antara lain pandangan yang benar, niat yang benar, perkataan yang benar, perbuatan yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, dan bersemedi yang benar. Ada tiga kebaktian (Tri Dharma) yang wajib dijalankan oleh umat Buddha, yaitu berbakti kepada Buddha (Buddha), berbakti kepada ajaran-ajarannya (Dharma), dan berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha (Sangga).

Berbagai Teori Masuknya Agama Hindu-Buddha

Awal Masehi, ada dua bangsa yang peradabannya maju di Asia, yakni bangsa India dan bangsa Cina. Dua bangsa ini berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan di sekitar mereka. Dua bangsa ini juga menjalin kerja sama perdagangan yang baik. Mereka berdagang pula melintas benua. Salah satu jalur perdagangan yang sering mereka kunjungi adalah Selat Malaka. Nusantara sendiri berada di dekat Selat Malaka.

Ada empat keuntungan yang bisa diambil dari aktivitas perdagangan sekitar Selat Malakan bagi Nusantara, yakni adanya kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional; adanya komunikasi atau pergaulan dengan berbagai bangsa; kunjungan bangsa-bangsa di Asia; dan adanya pengaruh asing, seperti agama Hindu dan Buddha.

Agama Hindu dan Buddha ini menjadi “agama impor” yang pertama kali dianut. Sebelumnya, bangsa di Nusantara sudah mengenal kepercayaan dinamisme dan animisme. Interaksi dengan kebudayaan bangsa India, menimbulkan bentuk kepercayaan baru. Bangsa di Nusantara yang toleran dan menerima dengan tangan terbuka berbagai pengaruh asing memudahkan agama Hindu dan Buddha meresap cepat. Bentuk kepercayaan baru ini membawa perubahan dalam hal kehidupan keagamaan, semisal soal upacara-upacara keagamaan, tempat ibadah, dan tata krama.

Menurut para ahli, ada beberapa teori yang bisa dikemukakan perihal proses masuknya agama Hindu dan Buddha ke Nusantara. Pertama, hipotesis Brahmana. Dalam teori ini diterangkan, kalau kaum Brahmana atau agamawan lah yang punya peran besar penyebaran agama Hindu ke Nusantara.

Pencetus teori ini adalah J. C. Van Leur. Menurutnya, ada beberapa alasan yang menguatkan teori ini, yaitu kaum Brahmana merasa yang paling memiliki agama Hindu dan memahami ajarannya; karena kepala suku di Nusantara merasa memiliki kedudukan seperti raja-raja di India, mereka sengaja mengundang kaum Brahmana untuk menggelar upacara tobat dan mensahkan kedudukan sebagai raja; tulisan Sansekerta yang ditemukan di prasasti-prasasti kerajaan bercorak Hindu hanya digunakan dalam kitab Weda, tidak sembarang orang bisa membaca dan menulis dengan bahasa Sansekerta kecuali yang memiliki hak akses kepada Weda, yakni kaum Brahmana.

Teori ini diperkuat bukti adanya daerah koloni India di Malaysia dan pantai timur Sumatra. Daerah tersebut banyak ditemui orang-orang Keling yang berasal dari India Selatan, mereka sangat memerlukan kaum Brahmana untuk memimpin upacara keagamaan. Namun, teori dipatahkan oleh beberapa hipotesis, seperti raja-raja di Indonesia tak mungkin membuat prasasti dengan bahasa Sansekerta, sebab mempelajari bahasa itu sangat suli walaupun sudah mendapatkan kitab Weda; dan dalam ajaran Hindu kuno kaum Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan dan meninggalkan negeri mereka, hak kasta mereka akan hilang jika mereka melakukan itu.

Kedua, teori Ksatria yang dikemukakan oleh FDK Bosch. Teori ini menjelaskan kalau kaum Ksatria atau golongan bangsawan dari India yang menyebarkan agama Hindu ke Nusantara. Ada tiga alasan yang menguatkan teori ini, yaitu raja dan bangsawan dari India datang untuk menaklukan suku-suku di Nusantara, setelah itu mereka menyebarkan agama Hindu; adanya kekacauan politik di India yang menyebabkan mereka menyeberang ke Nusantara dan membentuk koloni, lalu menyebarkan agama Hindu; dan raja dan bangsawan dari India yang kalah perang menyeberang ke Nusantara, dan mendirikan kerajaan baru, serta menyebarkan ajaran Hindu.

Teori yang juga dikenal sebagai teori kolonisasi ini memiliki kelemahan, yaitu kalau kolonisasi terjadi, sudah bisa dipastikan segala unsur budaya India, semisal sistem kasta, tata kota, bahasa, adat istiadat dan lain-lain dimasukkan secara total ke dalam masyarakat Indonesia. Namun, jika kita lihaat, kehidupan masyarakat Indonesia tak sama persis dengan India, yang ada hanya akulturasi budaya saja; tidak mungkin orang asing (pelarian kaum Ksatria dari India) memperoleh kedudukan tinggi di daerah orang lain; dan tak ada bukti yang menguatkan di India maupun Indonesia kalau ada penaklukan dan penyebaran agama Hindu dari kaum Ksatria.

Ketiga, teori Waisya yang dikemukakan oleh NJ. Krom. Teori ini mengemukakan bahwa kaum pedagang (Waisya) dari India merupakan penyebar agama Hindu ke Nusantara. Krom berpendapat, setidaknya ada dua kemungkinan kalau pedagang dari India menyebarkan agama Hindu ke Nusantara, yakni pedagang-pedagang dari India melakukan interaksi dengan rakyat di Nusantara sembari menyebarkan agama Hindua; dan para pedagang dari India mendirikan pemukiman sementara untuk menunggu pemberangkatan mereka kembali ke India. Dari sini, mereka berinteraksi dengan penduduk sekitar, kalau ada yang tertarik, mereka menikahi penduduk sekitar.

Agama Hindu mereka sebarkan melalui interaksi atau menikahi penduduk sekitar. Lagi-lagi para ahli ada yang membantah teori ini, dengan beberapa alasan, yaitu sudah jelas motif mereka ke Nusantara hanya untuk berdagang, bukan menyebarkan agama, jadi hubungan antara konsumen dan pedagang cuma berkutat masalah dagang; mereka yang menetap atau bermukim di Nusantara memiliki kekuatan ekonomi yang tak jauh berbeda dengan penduduk sekitar, sehingga tak ada perubahan pengaruh budaya yang mereka bawa dari India; prasasti-prasasti yang ada di Nusantara menggunakan bahasa Sansekerta yang hanya bisa dipelajari oleh kasta Brahmana; tak ada hak kaum Waisya menyebarkan agama Hindu, hak itu hanya dimiliki kaum Brahmana; dan kebanyakan pedagang dari India singgah di sekitar pantai untuk memudahkan aktivitas perdagangan, sedangkan kerajaan Hindu yang ada di Nusantara letaknya ada di pedalaman.

Keempat, teori Sudra yang dikemukakan oleh Van Feber. Teori ini berpendapat kalau kasta Sudra dari India yang menyebarkan agama Hindu ke Nusantara. Menurut Feber, ada dua alasan kuatnya teori ini, yakni kasta Sudra dari India ingin mengadu nasib di tanah yang baru untuk mencari kehidupan yang lebih baik, dan mereka datang ke Nusantara berharap mendapatkan kedudukan yang lebih mulia dibandungkan di India yang dianggap budak atau orang buangan.

Teori ini dibantah oleh para ahli, dengan mengemukakan bahwa kasta Sudra tak memahami ajaran Hindu sebab mereka tak paham bahasa Sansekerta; jika tujuan mereka keluar dari India adalah mewujudkan memperbaiki kehidupan, pastilah mereka fokus kepada tujuannya itu; posisi kasta Sudra berada pada tingkatan terendah, secara logika tak mungkin mereka mau menyebarkan agama Hindu yang menjadi hak kasta Brahmana, kasta yang berada jauh di atasnya, sebab usaha itu justru akan menganggungkan kasta Brahmana dan semakin mengecilkan posisi mereka.

Dari teori-teori tadi, yang paling disepakati oleh para ahli ialah teori Brahmana. Melalui jalur perdagangan, para penyebar agama Hindu dari kaum Brahmana punya misi untuk menyebarkan pengaruh ke Nusantara. Ketika di Nusantara, mereka menggelar upacara pengembalian kasta. Tujuannya agar mereka punya hak menyebarkan agama. Kemudian, mereka mengadakan kunjungan ke penguasa lokal yang ada di Nusantara. Kalau ada penguasa lokal yang tertarik, maka proses mengajarkan agama Hindu menjadi lebih mudah. Lalu, mereka dinobatkan menjadi raja dan di-Hindu-kan. Melalui cara ini proses penyebaran agama jadi lebih mudah. Prosesnya tidak instan, namun memerlukan waktu lumayan panjang.

Sementara itu, agama Buddha disebarkan, menurut para ahli, juga lewat para bhiksu (pendeta). Mereka melakukan misi Dharmadhuta, sebuah misi khusus untuk menyebarkan agama Buddha. Para pendeta Buddha ke Nusantara melalui dua jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan, yakni dari jalur lau dan darat. Sesampainya di Nusantara, mereka menemui penguasa lokal yang ada di sini, dan meminta izin untuk menyebarkan agama Buddha.

Mereka lalu membentuk sebuah jemaat Buddha. Beberapa orang yang tertarik mendalami ajaran Buddha, ada yang pergi ke India dan belajar langsung di sana. Sekembalinya dari sana, mereka membawa banyak hak baru untuk diajarkan di Nusantara. Ajaran Buddha di Nusantara berpadu dengan unsur budaya asli di Nusantara, sehingga terbentuk akuturasi, bukan murni India. Yang menjadikan agama ini menyebar cepat, karena Buddha tak mengenal sistem kasta dan kitab sucinya ditulis dalam bahasa sehari-hari.

Selain teori-teori tadi, para ahli mengemukakan teori baru yang dinamakan teori arus balik. Teori ini mengemukakan, agama Hindu-Buddha di Nusantara dibawa oleh para pendeta dari India, namun yang menyebarkannya adalah orang-orang Indonesia yang diutus oleh raja di Nusantara untuk belajar agama Hindu-Buddha di India. Setelah mereka menguasainya, mereka kembali dan menyampaikan apa yang didapat di India kepada raja. Raja kemudian memerintahkan mereka menyebarkan dan mengajarkan agama tersebut kepada rakyatnya.

Selain agama, pengaruh bangsa India juga mengarah ke sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Seiring menyebarnya agama Hindu-Buddha, muncullah kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara.